Apakah Hubungan itu memiliki Awal dan Akhir. Memiliki Sebuah Hubungan berarti Kita harus siap memiliki komitmen.
Siapkah Seorang Rahesa Wijaya Bagaskara Memberikan Sebuah Komitmen kepada Arumi Mawardi Dengan Semua ketidak sengajaan Yang ada Begitupun sebaliknya
Ayo Silahkan Mampir untuk membaca dan Jangan Lupa Tinggalkan jejaknya Yahhh
Happy Reading 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.
Arumi dan Ratna baru saja selesai makan di kantin tiba - tiba seorang mahasiswa datang menghampiri mereka.
"Permisi ini dengan ka' Arumi Yah" tanya mahasiswa itu sambil menatap Arumi
"Bukan dia gue yang bernama Arumi, ada apa mencari ku" ucap Ratna ketus.
"Maaf Ka' aku di suruh menyampaikan pesan dari pak Ashari, kakak di suruh menghadap ke ruangannya"
Mendengar hal itu Arumi dan Ratna langsung saling bertatapan.
"kalau begitu aku permisi kak"
"Ah iya makasih infonya" ucap Arumi
Arumi berjalan menuju ruangan pembimbingnya itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. dalam hati ia terus berdoa agar semua yang ia pikirkan salah.
"Jangan gugup, semua akan baik-baik saja"
Ratna berusaha menenangkan sahabatnya itu, walaupun dia juga tidak bisa memungkiri rasa deg degannya.
Sampailah Arumi di depan pintu Ruangan dosen pembimbingnya itu, perlahan Arumi mengetuk pintu setelah di persilahkan untuk masuk Arumi membuka pintu perlahan.
"Silahkan duduk"
"Terimakasih pak"
"Apa kamu tahu kenapa bapak memanggil mu menghadap"
"Tidak Pak"
"Kamu tidak perlu gugup seperti itu, bapak tidak akan membahas masalah percintaan mu yang heboh kemarin. Bapak Hanya ingin bertanya kepada mu bahwa benar kamu akan menjadi MC di acara amal sebuah perusahaan ternama"
"Iya Pak, teman Pak Dekan yang menawarkan waktu itu"
" Bapak Tahu hal itu. Bapak tidak melarang mu melakukan apapun tapi kamu harus mengingat kewajiban mu sebagai mahasiswa sebentar lagi kamu akan mengerjakan tugas akhir dan melakukan magang jadi bapak harap kamu bisa membagi waktu"
"Iya Pak" ucap Arumi penuh semangat
"Baguslah kalau kamu paham apa yang bapak katakan"
Arumi mengangguk paham, ia tahu apa pesan yang tersirat dari perkataan dosen di depannya ini. Arumi keluar ruangan itu dengan raut wajah yang lesu, melihat wajah
sahabatnya yang murung Ratna langsung menghampirinya.
"Neng..."
"Pulang yuk Na"
Ratna hanya mengangguk dan mengikuti Arumi menuju parkiran motor.
"Na' ngopi yuk"
"Hemm"
Arumi melajukan motornya menuju kafe yang biasa ia datangi bersama Ratna jika sedang suntuk, tempat itu menjadi favorit Arumi karena letaknya yang tidak jauh dari kampus serta suasananya yang nyaman dan tidak lupa harganya ramah di kantong mahasiswa sepertinya.
"Seperti Biasa yah mbak" ucap Ratna kepada waiters.
"Oke mbak Ratna cantik" jawab si waiters.
Setelah memesan Arumi dan Ratna berjalan menaiki tangga menuju lantai dua ia sangat menyukai pemandangan dari atas balkon kafe tersebut. Para pegawai di kafe sudah mengenal Arumi serta Ratna bagaimana tidak mereka berdua selalu datang ke tempat ini walaupun hanya memesan dua cangkir kopi.
Di sudut lain dalam kafe ada seseorang memandang wajah Arumi yang sendu namun menenangkan hati.
"Apa yang terjadi dengannya, kenapa wajahnya terlihat murung" gumam orang tersebut dalam hati.
Orang itu masih memperhatikan Arumi dan Ratna yang sedang berbincang - bincang sampai tidak menyadari bahwa ada seorang yang menyapanya.
Karena tidak ingin Sahabatnya khawatir Arumi menceritakan apa yang di sampaikan oleh dosennya hal itu membuat Ratna merasa bersalah karena dirinyalah Arumi mendapat teguran halus dari dosen.
Perhatian Arumi, Ratna serta beberapa pengunjung kafe di alihkan oleh sepasang kekasih yang sedang ribut, dari percakapan itu si wanita memergoki pacarnya sedang berselingkuh dengan wanita lain.
Ratna hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Apa sesulit itu yah menetap pada satu hati saja" tanya Arumi kepada Ratna.
"Sepertinya tidak Neng jika kita memiliki pendirian"
Karena Langit di ufuk barat sudah berwarna jingga Arumi serta Ratna memutuskan untuk pulang meninggalkan sepasang kekasih yang masih berdebat.