Lahir dari keluarga biasa. Berlatar belakang miskin dan hidup dengan penuh kekurangan. Alesia kebingungan saat ibunya jatuh sakit dan harus melakukan tindakan operasi di rumah sakit. Dokter memvonis adanya sel kanker di dalam tubuh Amora, ibunda dari Alesia.
Biaya yang harus dikeluarkan tentunya tidak sedikit. Hal inilah yang membuat Alesia berputus asa. Sampai akhirnya gadis itu pun bekerja di sebuah club malam sebagai pengantar minuman alkohol. Namun sayangnya, lagi-lagi ia terkena musibah.
Tidak sengaja menabrak seorang pria kaya. Dan harus menggantikan baju mahal dari pria itu dengan jumlah yang tidak sedikit. Alesia lalu berhutang pada nya. Dengan catatan harus mau menjadi ibu pengganti untuk anaknya.
Ya, Alesia harus mengorbankan rahimnya untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu sekaligus mengandung anak dari pria itu. Akankah gadis itu setuju?
IG: erickaghaniya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ericka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pembohong Besar
"Bajunya sudah di pakai, ya?" gumam Harison lagi, saat menyadari Alesia memakai baju tipis lingerie yang di belikan oleh sekretaris Jo.
Sebenarnya tugasnya dia tuh sebagai sekretaris atau apa sih? Sampai baju lingerie pun dia beli buat Alesia.
Alesia malu-malu menatap pria yang ada di hadapannya sekarang. Baju lingerie terbaru yang sudah di siapkan oleh sekretaris Jo baru-baru ini. Dan sekarang semua baju itu sudah di pindahkan ke rumah utama ini. Alesia memakai lingerie dengan motif macan berwarna cokelat.
"Aku suka yang ini. Kau jadi lebih berani." Harison bergumam seraya mengendus lekukan tubuh Alesia.
Sebelumnya membicarakan pasal shampoo. Sekarang tentang baju lingerie macan yang di pakai oleh Alesia. Setelah ini akan apa lagi?
"S-suamiku ... aku ... khawatir dengan dia," tutur Alesia gugup. Harison berubah mengernyit menatapnya.
"Dia? Siapa yang kau maksud? Kau memikirkan pria lain di belakangku?!" Alesia menggeleng cepat, lalu mengelus lembut wajah tampan pria itu.
"Tidak, bukan. Tapi ini ... si kecil yang di dalam sini." Alesia menunjuk ke bagian perutnya.
Cup!
Harison mengecup lembut perut Alesia. Agak lama, dia menenggelamkan kepalanya di area sana.
"Ku pikir siapa. Tapi ternyata itu kau. Mahluk kecil ini sudah membuat perhatianmu beralih padanya ya, sekarang."
Alesia mengulum senyum kecilnya. Harison mencemburui janin yang ada di perutnya. Padahal itu adalah anak yang selama ini dia tunggu.
'Bisa-bisanya kau cemburu pada bayimu. Karena kau juga aku jadi begini, kan?' gumam Alesia dalam hati terkekeh geli.
"Makan malam nanti, kau makan disini saja. Aku akan meminta pelayan untuk membawakannya kesini." Harison berucap tiba-tiba mengenai acara makan malam di rumah ini.
"K-kenapa? Kan, aku sudah baik-baik saja," ujar Alesia sambil mengedipkan kedua matanya berulang kali.
"Tapi kau baru saja mengalami sesuatu tadi. Aku akan memerintah pelayan di rumah ini untuk membawakan semuanya ke kamar. Kau cukup berdiam diri saja."
'Aku tahu kau tidak ingin aku hadir disana karena ada Ara yang akan datang malam ini. Seharusnya kau tak perlu mengatakan hanya akulah satu-satunya,' gumam Alesia dalam hati sedu.
Wajah cerianya langsung berubah murung. Tatapan nya sedu, Alesia melengos tak berani menatap Harison lebih lama lagi.
"Y-ya, Suamiku benar. Aku tiba-tiba jadi lelah sekarang." Alesia berkata seraya membaringkan tubuhnya membelakangi Harison.
GREP!
Harison mendekapnya dari arah belakang sambil mengelusi perut Alesia yang masih terlihat datar. Dia tak tahu kalau mood Alesia saat ini berubah kacau.
"Aku sudah katakan sejak awal, kalau kau cukup berdiam diri saja disini. Kau butuh sesuatu? Aku bisa menyuruh semua pelayan untuk melayanimu," tutur Harison. Spontan Alesia menggeleng pelan. Tanpa membalikkan tubuhnya menatap pria itu.
Serigala gila ini mana paham, wanita yang sakit hati karena ulahnya sendiri.
.........
Malam pun tiba, suasana di rumah utama Perdana Group. Semuanya tampak sudah hadir di dalam ruang makan itu. Ada tuan besar beserta istrinya, yakni ibu tiri Harison. Lalu ada Aluna sendiri, dan satu orang lain yang tiba-tiba ikut hadir.
"Hai, semuanya! Maaf, aku baru hadir sekarang." Sapa seorang wanita memakai baju gaun berwarna merah gelap, berjalan mendekati kursi yang di duduki sebelah Harison.
"Kak Ara?! Yeay! Ku kira Kakak gak akan datang kesini," sambung Aluna bersemangat.
Baru datang, tapi Amara sudah mendapat sambutan yang hangat dari adik keponakan Harison. Sementara Alesia, bahkan baru menginjakkan kakinya di depan pintu rumah ini, tapi sudah di sambut dengan cacian oleh ibu tiri serta ayahnya.
Tuan besar Perdana Group.
"Duduklah, Amara! Kita akan mulai makan malamnya sekarang," lanjut ibu tiri Harison berkata. Amara membalas dengan anggukan.
"Kau pasti terkejut, ya? Aku tiba-tiba datang kesini," tanya Amara berbisik di telinga Harison.
"Aku sudah mendengarnya." Harison menjawab tampak biasa saja.
Amara mengernyit kesal.
"Kau tidak suka? Aku datang kesini," bisiknya lagi. Harison diam dan fokus pada makanan yang ada di depannya sekarang. Amara mengerucutkan bibirnya ke depan.
Aluna terlihat memperhatikan keduanya. Gadis itu menerka-nerka dengan apa yang dia lihat. Mengenai hubungan kakak kesayangannya Harison bersama Amara.
Wanita yang juga dia sukai. Beda halnya dengan Alesia yang dia benci.
"Kakak? Ayo di makan! Atau Kakak mau makan yang lain? Aku bisa buatkan pasta brulee di dapur. Khusus untuk Kak Ara seorang." Aluna berujar dengan kedua mata yang berbinar.
Gadis itu sangat menyukai Amara rupanya. Bahkan sampai tak segan melakukan sesuatu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Ya, Aluna adalah anak yang manja.
Tidak pernah melakukan apa pun selain belajar dan berangkat ke kampus untuk mengikuti kegiatan perkuliahan nya. Tapi hari ini, di terang-terangan menawarkan diri ingin memasak sesuatu untuk seorang Amara.
"Kau cukup fokus saja pada makananmu!" ucap Harison dingin.
Aluna mendengus sebal, dia memutar kedua bola matanya. Ibu tiri Harison memperhatikan sikap Aluna yang begitu menyayangi Amara.
"Aluna, kalau Ara mau sesuatu tinggal pergi menyuruh pada pelayan. Kau tidak perlu seantusias itu, sayang." Tukas ibu tiri Harison. Aluna spontan mengangguk paham. Di sisi lain, Amara tampak kegirangan.
Sebab di rumah ini, kehadirannya bahkan sudah di anggap seperti tuan putri. Padahal yang tuan putri sedang bersembunyi di dalam goa.
Alesia masih berada di dalam ruang kamar Harison yang terletak di lantai dua. Beberapa orang pelayan dengan setia melayani nya. Harison di bawah sana sedang makan malam bersama kekasih nya, tapi istrinya tengah berdebat pada pikirannya.
Yang begitu kacau tatkala memikirkan hubungan mereka berdua.
"Eee... Bibi? A-apakah aku boleh bertanya sesuatu?" gumam Alesia ragu-ragu berkata.
"Boleh, nona muda ingin bertanya apa?" jawab salah seorang pelayan wanita yang sedang menyuapi Alesia dengan semangkuk bubur.
Itu bahkan karena atas perintah langsung dari si serigala gila itu. Walau sebenarnya Alesia tidak ingin di suapi. Tapi semua pelayan disini begitu patuh pada tuan nya.
"A-apa di bawah sana ... ada seorang tamu?" tanya Alwsia.
"Ada."
"A-apakah tamu nya itu adalah wanita?" tanyanya lagi.
"Iya."
Embusan napas terdengar cukup berat, keluar dari mulut Alesia. Kedua matanya mengerjap agak lama. Nafsu makannya sudah menghilang sekarang. Otak nya seperti berhenti memutar. Hanya ada satu nama yang ada di benaknya saat ini.
Amara. Wanita yang di cintai oleh Harison.
"Aku sudah kenyang!" sergah Alesia menolak suapan selanjutnya.
"Tapi buburnya masih ada, nona. Tuan muda pasti akan memarahi kami kalau nona tidak mau menghabiskan semuanya."
"Aku bilang tidak mau ya tidak mau!" teriak Alesia menolaknya. Kedua tangan nya membungkam mulutnya dengan sangat rapat.
Meskipun aku kau jadikan ratu di rumah ini, tapi kalau hatimu tetap bukan untukku, apa guna semua itu?
—Alesia
sementara ibunya sekarat...
kurang sreg diawal ini..