Romansa cinta remaja yang dipertemukan di bulan Ramadan.
Ramadhan dan Laila dua insan yang saling jatuh cinta. Namun, perbedaan kedudukan sosial membuat orang tua Rama, meminta Rama mengihindari Laila, akankah Rama dan Laila bersatu?
"Kamu boleh berteman dengan Laila, tapi kamu harus berjanji pada ibu, untuk tidak jatuh cinta padanya!"
Apa yang membuat sang ibu bersikeras meminta Rama untuk tidak jatuh cinta pada Laila, benarkah hanya karena status sosial saja, atau ada alasan lain?
Rama di buat dilema saat sang ibu memintanya menjalin hubungan dengan Nur, gadis cantik dan baik pilihan sang ibu.
Rama begitu sangat menyayangi ibunya. Apa yang akan dia lakukan dalam dilema ini?Memilih ke inginan hatinya atau menuruti kemauan sang ibu?
Yuk ikuti kisahnya hanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iis Siti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Fauziah dan Aditama
"Apa maksud kalian? Radit calon suami Laila," jelas Nesa.
"Ra--Radit. bukan Radit, Bun, tapi Rama," kata Laila.
"Ya, Rama," sambung bi Ira.
"Rama!" Nesa terkejut.
"Akan tetapi, anak teman ayahmu, itu namanya Radit, bukan Rama. Ibu tidak mungkin salah dengar, berkali-kali ayahmu menyebut nama Radit," kata Nesa.
"Apa Radit dan Rama orang yang sama?" lanjut Nesa kebingungan.
"Teman ayah!" Laila terkejut kebingingan. Perasaan laila mulai tidak enak, ia segera berlari memestikan siapa yang ada di bawah sana.
Nesa dan bi Ira mengikuti Laila.
Dengan cepat Laila menuruni anak tangga. Laila terkejut luar biasa tak ada Rama diantara mereka.
"Ayah, dimana Rama?" tanyanya dengan suara yang lemah.
"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat panik sekalli? Sini Nak! Sapa calon suami dan mertuamu," kata sang ayah.
Deg!
Laila panik, mata Laila mulai berkaca-kaca.
Semua heran melihat Laila. Hanya bi Ira yang mengerti kepanikan Laila.
"Dimana calon suami, Laila?" tanya Laila yang mulai meneteskan air mata.
"Ini calon suamimu Laila. Radit." Tunjuk sang ayah pada Radit.
Laila meggelengkan kepalanya, air mata terus membasahi pipinya, "Bukan, dia bukan calon suami Laila." Laila semakin terlihat panik.
"Tenangkan dirimu, Laila!" kata bi Ira.
"Bibi, dimana Rama, Bi." Laila berhambur kepelukan sang bibi.
"Ada apa ini Adi? Siapa Rama?" tanya ayah Radit yang merasa bingung.
Radit dan sang ibu salilng tatap. Ibu Radit mengusap punggung Radit. Radit pun tampak gelisah, Mendengar nama Rama yang tak asing baginya.
"Pak Adi, Ada orang nekat menerobos masuk, saya sudah melarangnya, memberitahu keluarga sedang tidak bisa diganggu sedang ada acara lamaran, tapi mereka nekat masuk," kata satpam.
"Siapa mereka?" tanya Adi.
"Satu orang pemuda dan seorang ibu, Pak," jelas satpam.
"Rama!" Laila langsung berlari keluar diikuti yang lainnya.
"Rama!" Panggil Laila yang lega melihat kedatangan Rama dan bu Fauziah. Namun Rama dan bu Fauziah berdiri tampak kecewa.
"Apa ini, Laila? Siapa yang melamarmu selain aku?" tanya Rama dengan kecewa.
Laila menggelengkan kepalanya, air mata mengalir kembali di pipinya. "Tidak ada, kamu satu-satunya, Rama," jelas Laila lalu menyeka air matanya.
"Laila akan menikah dengan Radit," suara menggelegar Adi muncul di arah pintu.
"Bu Fauziah!" seru bi Ira.
"Fa-Fauziah!" Adi terkejut melihat perempuan yang berdiri dihadapannya adalah mantan istrinya.
"Aditama!" bu Fauzih lebih terkejut melihat Aditama.
"Rama!" seru Radit.
"Radit!" seru Rama.
"Ada apa ini? Kalian saling mengenal? Siapa kalian?" tanya Nesa.
Tidak ada yang menjawab. Semua dalam keterkejutan mereka masing-masing.
"Ayo, Rama kita pulang saja," ajak bu Fauziah dengan berderai air mata.
Sesak kembali menyeruak di dada Fauziah. Setelah bertahun tahun lamanya tidak bertemu Aditama. Kini dipertemukan dengan kenyataan yang mengejutkan, dia adalah ayah dari Laila perempuan yang dicintai putranya, Belum acara lamaran Laila dengan Radit yang ternyata teman kuliah Rama.
Hati Fauziah semakin hancur teriris pedih, ia menarik Rama pergi dari sana.
"Tunggu Fauziah!" Aditama mengehentikan langkah Fauziah.
"Berani sekali kamu datang kesini!" ucap Aditama penuh penekanan.
Deg!
Fauziah tidak menyangka Aditama melontarkan kata seperti itu.
"Aku tidak tau ini rumahmu, tampaknya kamu sudah sukses, pindah kerumah baru bersama keluarga barumu, selamat Aditama," ucap Fauziah menahan sesak.
"Selamat juga untukmu, tampaknya kamu bahagia bersama Hendra, tidak kusangka kamu menghianantiku dengannya," ucap Aditama.
Deg!
"Apa maksudmu Aditama?" Fauziah tersudut emosi.
"Aku tau kamu menikah dengan Hendra, dan aku yakin anak dalam kandunganmu dulu adalah anaknya, buah dari perselingkuhanmu dengan Hendra," tuduh Aditama.
Plak!
Bu Fauziah menampar Aditama.
Aditama memegang pipinya menahan sakit.
Tak ada seorang pun yang melerai, mereka diam menyaksikan perdebatan Aditama dan Fauziah yang mereka tidak pahami.
"Kamu menuduhku, setelah kamu menghianantiku, Aditama. Laki-laki macam apa kamu ini," kata Fauziah.
"Aku tidak menuduhmu, aku heran kenapa kamu begitu mudah menandatangani surat cerai itu, aku mencarimu kemana-mana, tampaknya kamu malah menikah dengan Hendra. Saat itu aku mengerti, kenapa Hendra selalu mengejarmu, aku yakin karena dia telah menanamkan benih dirahimmu, dengan alasan itu pula kamu menandatangani surat cerai itu tanpa pikir panjang," tuduh Aditama lagi.
Plak!
Satu tamparan mendarat lagi di pipi Aditama.
"Aku menyesal bertemu denganmu lagi. Tuduhanmu ini sangat menyakitkan, Aditama. Entah siapa yang meracuni pikiranmu? Ayo, kita pergi, Rama!" tanpa bicara apapun lagi bu Fauziah mengajak Rama pergi dan menuntun tangannya.
"Rama!" Laila menahan tangan Rama saat akan pergi. Ini pertama kalinya Laila menggenggam erat tangan Rama. Namun, Rama sangat kecewa melihat jari manis Laila yang sudah di sematkan cincin permata indah.
Hal yang harusnya membuat Rama bahagia, malah membuatnya kecewa.
Dengan berat hati Rama pun melepaskan genggaman tangan Laila, dan melanjutkan langkahnya.
"Rama!" teriak Laila lagi saat akan mengejarnya. Namun, Aditama menghalanginya.
Rama dan bu Fauziha terus melangkah tanpa menghiraukan Laila yang memanggilnya. Rama melangkah dengan memandang wajah sang ibu yang penuh kecewa. Ia ingat benar nama Aditama yang sempat diceritakan sang ibu adalah ayahnya. Rama pun ikut merasakan kekecewaan sang ibu dibalik kekecewaannya terhadap Laila. Bahkan dirinya yang dianggap anak hasil perselingkuhan, padahal dengan jelas sang ibu mengatakan bahwa dirinya adalah anak Aditama.
"Ayo! Kita lanjutkan acara lamarannya!" kata Aditama.
"Tidak, ayah. Laila mencintai Rama. Laila ingin menikah dengan Rama," keluh Laila.
Aditama menarik paksa tangan Laila masuk kedalam.
"Kak Adi, jangan kasar sama, Laila. Biar aku yang membawanya," ucap Bi Ira dengan penuh rasa iba.
Aditama pun melepaskan tangannya dari Laila.
Laila langsung memeluk bi Ira.
Sementara Nesa menahan rasa penasarannya, atas apa yang terjadi di hadapannya tadi.
Dengan tanpa persetujuan Laila, lamaran tetap dilanjutkan, dan acara pertunangan akan dilakukan dua hari lagi, dengan uang yang mereka miliki, semua bisa dilakukan dengan cepat.
Setelah Radit dan keluarganya pergi.
Laila yang menyimpulkan setiap perdebatan Ayahnya dan bu Fauziah bertanya pada bi Ira di kamarnya.
"Bibi, apa Laila dan Rama Adik kaka?" tanyanya.
"Bibi tidak tau sayang. Bibi sendiri bingung," kata bi Ira yang sedang mendekap Laila.
"Jika Laila dan Rama Adik kakak, itu artinya Laila tidak bisa menikah dengan Rama, apa yang harus Laila lakukan? Laila sangat mencintai Rama," kata Laila.
"Kita serahkan semuanya pada Allah, kita tidak bisa berbuat-apa, Laila," kata bi Ira.
"Laila berharap tuduhan ayah sama bu Fauzih itu benar," ucap Laila.
"Laila!" bi Ira terkejut.
"Laila tau bu Fauziah orang yang baik, tapi saat ini Laila ingin egois bi, berharap Rama bukan anak Ayah. Laila ingin menikah dengan Rama, Bi," ucapnya mulai terisak.
"Itu tidak baik sayang. Sama saja kita berpikiran buruk sama bu Fauziah," kata bi Ira.
"Lila tidak mau berpisah dengan Rama, Bi. kenaps semua ini tiba-tiba terjadi pada Laila, apa salah, Laila?"
"Kamu tidak salah apa pun, Laila. tenangkan dirimu," kata bi Ira.
"Tampaknya takdir sedang mempermainkanku, Bi," ucap Laila dengan sedih.
Bi Ira terus mengusap punggung Laila mencoba menenangkannya.
bersambung ....
Terimakasih sudah berkenan membaca karya Author yang sederhana ini🙏
Jangan lupa like, komen, fav dan ratenya, ya reders❤❤❤