Indonesia
NovelToon NovelToon
Weapon Holder's The Academy

Weapon Holder's The Academy

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Akademi Sihir / Fantasi Isekai / Barat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fikri Rahman Al Farisi (Koga)

Kisah ini bercerita tentang seorang pemuda dari keluarga sederhana. Riza Fernisia merupakan anak pertama dari keluarga sederhana yaitu, ayahnya seorang petani buah-buahan yang sebelumnya pernah menjadi prajurit biasa di kerajaan Moghapasia, sedangkan ibunya seorang pedagang buah-buahan. Riza berkeinginan menjadi seorang kesatria biasa bijaksana yang dapat menolong orang banyak serta menaikkan martabat kedua orang tuanya kembali. Riza masuk ke akademi yang mana di akademi tersebut mempelajari teknik penggunaan senjata. Walaupun keadaan di benua timur raya sudah stabil. Akan tetapi, masih ada tindak kejahatan, monster atau teroris yang masih mengincar setiap kerajaan dan negara di benua tersebut. Oleh karena itu, akademi ini ditujukan untuk mendidik para siswa agar mampu menjadi kesatria baru di kerajaan dan mampu menghadapi ancaman dari kejahatan, monster dan serangan teroris. Apakah Riza bisa berjuang untuk sebuah impiannya tersebut dan bagaimana kisah perjuangnya di akademi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fikri Rahman Al Farisi (Koga), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil dan Turnamen

Kesatria khusus kerajaan merupakan kesatria yang bekerja dibalik layar dan melakukan pekerjaan rahasia. Mereka bekerja dibalik bayang-bayang dan bergerak secara diam-diam tanpa diketahui oleh masyarakat atau kesatria kerajaan dan kesatria wilayah. Tugas yang dilaksanakan berasal langsung dari raja dan para penasihatnya. Pekerjaan kotor seperti membunuh, penggelapan dan lainnya yang bertujuan untuk kestabilan kerajaan Moghapasia. Jumlah kesatria khusus tidak sebanyak kesatria kerajaan, mereka hanya berjumlah 20 orang dan bisa berkurang tergantung situasi. Walaupun jumlahnya sedikit, kemampuan seorang kesatria khusus sangatlah luar biasa. Mereka mampu melawan puluhan ribu pasukan tanpa bantuan senjata besar atau meriam. Satu orang kesatria khusus mampu mengalahkan seribu kesatria. Mereka dipilih bukan kerana latar belakang sebagai bangsawan akan tetapi, memiliki bakat dan kemampuan sejak dini.

Informasi terkait kesatria khusus belum aku ketahui karena aku tidak menemukan satu pun buku yang membahas tentang kesatria khusus. Ayahku tidak memberi tahuku tentang hal ini. Yodi yang merupakan anak jendral di wilayah pulau Suma mengetahuinya karena ada sepupunya yang bekerja sama dengan kesatria khusus. Yodi mendapat informasi ini secara diam-diam dan mendengar pembicaraan kakak sepupunya dengan salah kesatria khusus yang tidak diketahui identitasnya.

Saat mengetahui bahwa Yodi memiliki keunggulan dan pengetahuan yang luas tentang kesatria khusus, aku menjadi sedikit frustasi. Saat Yodi ingin membicarakan tentang strategi, tiba-tiba aku langsung bergerak untuk menghadapi guru Jayta. Yodi dan Nita terkejut melihat tindakanku, akan tetapi mereka akhirnya menghela nafas dan bersiap dan memperhatikan aku dan guru Jayta berhadapan.

"Baiklah setidaknya aku mencoba untuk mengetahui kemampuannya", itulah yang ada dipikiranku. Yodi dengan wajah kebingungan berkata.

"Tak kusangka dia sedikit ceroboh dalam bertindak, tapi, setidaknya ini menjadi kesempatan bagi kita, ayo Nita !!", ucap Yodi sambil memasang posisi bertarung dan mengajak Nita untuk bersiap.

Aku berlari cepat dan melesat bagaikan angin langsung menuju ke arah guru Jayta. Aku mengayunkan pedangku dan mencoba menyerang pundak guru Jayta.  Saat mengayunkan pedang secara miring mengarah ke pundak, tiba-tiba dengan sangat cepat guru Jayta menghilang dari pandanganku.

"Tiba-tiba menghilang, cepat sekali !!, padahal aku sudah bergerak cepat dan mencoba menyerang dengan ayunan pedang yang cepat !!", kemudian, aku merasakan hawa yang tipis dibelakang dan saat menoleh kebelakang, tiba-tiba ada kemunculan pedang kayu dan menghantam punggungku. Aku terpental dan mencoba bertahan dengan merenggangkan kedua kakiku.

"Bagaimana bisa !!, cepat sekali dan aku tidak menyadari sama sekali !!, inikah kemampuan seorang guru yang pernah bekerja sebagai kesatria khusus ??", ucap didalam pikiranku.

"Riza !!, jangan terburu-buru !!, kita harus bekerja sama untuk mengalahkannya, kita harus berkumpul dulu untuk buat strategi !", ucap Yodi yang berada tepat dibelakangku.

Saat melihat Yodi dengan wajah yang sudah mantap, aku berjalan ke arah mereka dan bersiap untuk strategi yang akan dijalankan. Sementara, guru Jayta melihat kami berkumpul dan mengamati kami. Guru Jayta merasakan bahwa kami bertiga memiliki keserasian yang unik padalah kami baru kenal selama di akademi. Guru Jayta tersenyum tipis dan berkata kepada kami.

"Baiklah, cukup satu goresan saja !, jika kalian bisa menyerangku dan menggores lengan kiriku maka aku bersedia menjadi guru pendamping kalian !!", ucap guru Jayta sambil memasang wajah serius.

Mendengarkan perkataan dari guru Jayta, membuat kami sedikit tersinggung karena guru Jayta meremehkan kami. Akan tetapi, Yodi dengan santai menanggapi apa yang dikatakan oleh guru Jayta dan berfokus untuk melanjutkan strategi. Kami berdiskusi untuk melancarkan serangan kepada guru Jayta. Yodi yang mengusulkan rencana hanya diam belum berbicara sedikit pun sejak mendengarkan perkataan guru Jayta. Nita menjadi jengkel dan berkata kepada Yodi.

"Ayo katakan !!, katanya kamu punya rencana atau strategi ??", ucap Nita dengan wajahnya yang mulai memerah.

Aku perhatikan tingkah laku Yodi. Sepertinya Yodi bingung untuk menyampaikannya. Kemudian aku mencoba mengambil alih dan berkata kepada mereka.

"Bagaimana kita menyerangnya dari sisi yang berbeda dan memberikan pengalihan saat menemukan celah ??", ucap diriku yang tiba-tiba dengan semangat memberi saran.

Yodi tersenyum tipis dan sepertinya apa yang direncanakannya sesuai dengan apa yang aku katakan. Yodi memasang wajah yang puas karena rencanaku dan berkata.

"Terima kasih Riza, seperti yang kamu katakan, strateginya seperti itu !!", ucap Yodi dengan wajah puas.

"Ohhh seperti itu, kenapa kamu tidak bilang dari tadi Yodi !!, apa kamu bingung dalam menyampaikannya ??", ucap Nita secara terus terang dan menunjuk wajah Yodi.

Yodi memiliki kecerdasan akan tetapi tidak bisa menyusun kata-kata dalam menyampaikannya. Sebenarnya aku dan Yodi sedikit mirip, dari segi kecerdasan dan juga perilaku. Akan tetapi, aku suka berkomunikasi dengan orang-orang karena aku pernah membantu ibuku berjualan buah apel dan berbicara kepada orang-orang untuk menjualnya. Mungkin hal inilah yang jadi perbedaan antara aku dan Yodi.

Kami bertiga berdiri dan bersiap-siap pada posisi untuk menghadapi guru Jayta. Di ruangan yang lapang dan ada sedikit hembusan angin, kami memegang senjata kami dan menggenggam dengan erat. Pada saat bersamaan kami langsung bergerak.

Aku bergerak lurus kedepan, menuju ke arah guru Jayta. Dengan cepat aku mengayunkan pedangku secara miring ke kiri. Guru Jayta berhasil menangkis serangan tersebut dengan pedang kayunya. Aku sedikit bingung mengapa pedang kayu tersebut tidak tergores sedikit pun saat terkena pedang asli. Padahal aku mengayunkan dengan kuat dan sedikit menggunakan aura. Saat berpikir menggunakan aura, terlintas dipikiranku bahwa guru Jayta menyelimuti seluruh pedang kayunya dengan aura.

Dengan cepat dan gesit aku langsung menyerangnya menggunakan tendangan dengan kaki kiri. Dengan posisi yang masih beradu pedang, aku berdiri dengan satu kaki dan menendang ke bagian kepalanya dengan kaki kiri. Akan tetapi, hal tersebut digagalkan dengan tepisan lengan kanan bagian atas. Aku menjadi kebingungan karena bagaimana bisa dia menepisnya pada bagian sisi kanannya, karena tangan kanannya yang menggenggam pedang. Padahal kami sama-sama beradu pedang, otomatis dia tidak bisa memindahkan peganganya ke tangan kiri. Sebaliknya, guru Jayta berhasil menepis dengan lengan bagian atasnya.

Tidak kehabisan akal, aku langsung berputar cepat untuk pengalihan dan guru Jayta termundur beberapa langkah. Di saat bersamaan di sisi kiri dan kananku ada Yodi dan Nita yang mencoba menyerang guru Jayta. Yodi dengan cepat menggunakan teknik khasnya dan langsung menusuk dengan sangat kuat. Guru Jayta dengan cepat langsung menangkisnya dengan pedang kayunya. Dan disisi kanan Nita mengangkat tombaknya dengan tinggi dan mengayunkan ke arah guru Jayta dengan sangat cepat. Tercipta bunyi dentuman yang kuat dan kami berdua termundur untuk menghindari dampaknya. Dibalik kabut yang tercipta dan kemudian mulai memudar, Guru Jayta berhasil menahannya dengan pedang kayu tersebut. Nita dengan posisi yang berdiri sambil memegang tombaknya mencoba menekan guru Jayta. Akan tetapi, guru Jayta dengan santai menahan serangan Nita dan beberapa detik guru Jayta langsung menghilang dari pandangan Nita. Saat Nita menolah ke samping kirinya, tiba-tiba ada tendangan yang melayang mengenai perutnya. Nita terlempar dan terguling kemudian mampu bangkit dengan cepat. Nita sedikit tersungkur dengan merenggangkan kakinya.

"Sepertinya guru disini bukan sekedar guru ya ??", ucap Nita dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.

"Dia mampu membaca pergerakan kita, seperti Riza yang mencoba mengamati pergerakan lawan saat bertarung", ucap Yodi dengan wajah serius.

Kami bertiga berkumpul kembali dan mencoba rencana berikutnya. Saat Yodi mengatakan bahwa guru Jayta mengamati pergerakan kami dan cara mengamatinya mirip sepertiku, aku tidak benar berpikir bahwa itu benar-benar mirip. Guru Jayta memiliki respon yang cepat dan mengetahui langsung pergerakan kami. Selain itu, guru Jayta membuat pelindung aura yang menyelimuti pedang kayunya. Aku belum bisa menggunakan teknik tersebut karena membutuhkan konsentrasi dan tenaga dalam yang stabil. Meskipun aku mampu mengeluarkan aura, aku hanya bisa mengeluarkannya dan mampu mengaliri hanya dari bagian ujung pedang sampai setengah bagian pedang. Hal tersebut juga tidak dapat bertahan lama karena kurangnya kestabilan dalam menguasai aura.

"Jadi bagaimana rencana selanjutnya Riza ?", ucap Yodi dengan santai.

"Kita hanya perlu menggoresnya sedikit kan ??", ucap diriku untuk memastikan kembali dari perkataan guru Jayta.

"Benar, terdengar mudah akan tetapi sulit untuk dilakukan !, kita harus mengalihkan perhatiannya !", ucap Yodi sambil menoleh ke arah guru Jayta.

Aku dan Yodi saling berbicara untuk membahas rencana yang akan dilakukan. Nita diam dengan wajah kebingungan melihat kami berbicara. Nita beranggapan bahwa kami ini sedikit mirip hingga keluar kata-kata didalam pikirannya.

"Kalian ini mirip ya ??", ucap NIta sambil tersenyum manis.

"Kenapa tiba-tiba bilang begitu disaat kita sedang bertarung !", itulah yang kami katakan.

Kami berdua dengan tidak sengaja serentak mengucapkannya di depan wajah Nita. Saat melihat kejadian itu, Wajah Nita yang tersenyum manis berubah menjadi tawa yang membuat mulutnya terbuka lebar.

"Aku tidak menyangka melihat respon kalian yang sama persis !!, mirip sekali !!", ucap NIta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Di saat tengah pembicaraan, tiba-tiba muncul ide didalam kepalaku. Aku mendapatkan ide untuk mengalahkan guru Jayta. Kemudian, aku berkata kepada mereka tentang ide ini.

"Bagaimana kalau kita menyerangnya dengan gerakan serupa dan mirip, akan tetapi saat dia lengah, kita langsung berikan serangan mendadak !!", ucap diriku dengan wajah yang serius.

Yodi dan Nita sedikit kebingungan dengan apa yang aku bicarakan. Mereka berusaha mencerna apa yang aku katakan. Yodi dengan tanpa pikir panjang langsung berkata kepadaku.

"Gerakan serupa ini, apa maksudnya ??, bisa kau jelaskan dulu Riza ??", ucap Yodi sambil memegang dagunya.

Aku dengan cepat langsung menjawab pertanyaan Yodi, "Begini !, maksudku, kita harus menyerangnya menggunakan gerakan yang sama dengan yang disebelahnya, seperti aku dan Yodi yang sama-sama menggunakan pedang dan kita harus bergerak dengan langkah dan teknik yang sama. Tidak harus sama, yang penting terlihat sama atau serupa. Sehingga guru Jayta menjadi kebingungan melihat kita yang bergerak serupa. Di saat itulah, Nita langsung menerobos dengan menggunakan tombak di sela-sela pertarungan kami. Aku yakin pasti aku, Yodi dan guru Jayta terkena serangan Nita."

"Jadi, dengan kata lain, kita berdua menjadi umpan dan kemudian, Nita langsung menyerang dengan tekniknya, begitu kah Riza ??", ucap Yodi sambil menoleh ke arahku.

"Ya kurang lebih begitu, akan tetapi kemungkinan tidak sama persis dengan apa yang nantinya kita lakukan !!", ucap diriku sambil menoleh ke arah guru Jayta.

Kami bertiga berbisik-bisik dan langsung berdiri menghadap guru Jayta. Nita dengan semangat memegang erat tombaknya menunjukkan dia bersiap untuk teknik khasnya. Di saat yang bersamaan, guru Jayta mulai menunjukkan wajah seriusnya sambil menggigit sebatang rumput dan memutar pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang. Aku melihat gerakan guru Jayta yang sedikit berbeda. Aku menjadi waspada dan memberitahukan kepada mereka.

"Hati-hati !, sepertinya guru Jayta menunjukkan teknik yang luar biasa !!", ucap diriku mengamati sekitar.

Dengan cepat guru Jayta langsung muncul di antara kami bertiga. Guru Jayta menendang perutku dan terpental beberapa meter. Yodi dan Nita langsung menyerang guru Jayta dengan cepat menggunakan pedang dan tombak. Aku yang terpental langsung berdiri tegak dan bergerak ke tempat pertarungan. Serangan Yodi dan Nita berhasil ditangkis oleh guru Jayta. Tombak Nita berhasil ditahan dan dipegang menggunakan tangan kiri. Serangan Yodi yang menggunankan pedang ditangkis menggunakan pedang kayu yang digenggamnya dengan tangan kanan.

Aku dengan cepat lansung mencoba teknik tebasan tegak lurus saat guru Jayta masih menahan serangan mereka berdua. Kemudian, aku melompat ke arahnya sambil mengangkat pedang. Saat mengayunkan pedang dan mencoba menyerang bagian bahunya, tiba-tiba guru Jayta dengan cepat  menghilang dan aku langsung jatuh tersungkur karena ketidak seimbangan badan saat melompat.

"Cepat sekali !!, apakah dia menggunakan aura untuk bergerak dengan cepat tak kasat mata !!", ucap diriku dengan wajah lelah.

Saat aku berdiri, tiba-tiba guru Jayta langsung berada di depan kami. Dengan kecepatan tak kasat mata, guru Jayta muncul di depan kami bertiga. Dia dengan santai berkata kepada kami bertiga.

"Inilah kemampuan jika kalian mampu mengendalikan aura, bukan hanya mengendalikan saja akan tetapi dibutuhkan kestabilan dalam mengotrol keluaran aura itu tersebut", ucap guru Jayta dengan santai sambil menarik sebatang rumput dari mulutnya.

Kami bertiga langsung berdiri dan menyerang guru Jayta. Seperti yang direncanakan, aku dan Yodi mulai melakukan gerakan yang serupa saat menyerang guru Jayta. Secara bergantian kami mencoba menyerang guru Jayta dengan cepat tanpa celah. Aku dan Yodi mengayunkan dengan gerakan yang sama dan mencoba menyerang guru Jayta. Seperti yang aku perkirakan, guru Jayta dengan cepat langsung menepis serangan kami dan fokus kepada kami berdua. Aku dan Yodi secara bergantian mulai menyerangnya dan selalu berhasil ditepis oleh guru Jayta. Kemudian, aku dan Yodi bergerak menyamping dengan cepat. Dengan cepat, aku langsung berada di samping kanannya dan mulai menghantam dengan ujung pedang. Yodi bergerak ke samping kirinya dan mulai menghantam dengan ujung pedang. Akan tetapi serangan kami berhasil di cegah oleh guru Jayta, guru Jayta melompat ke atas dengan cepat.

Saat menyerang guru Jayta dari samping kanannya, aku memberi kode dan aba-aba kepada Nita untuk bersiap-siap melakukan serangan dengan tekniknya. Akhirnya, rencana akan dijalankan. Saat guru Jayta melompat, tiba-tiba Nita dengan sigap langsung menjulurkan tombaknya dengan posisi melompat dan merenggangkan kakinya. Nita langsung mencoba menyerang gur Jayta dengan tekniknya, akan tetapi rencana kami gagal. Guru Jayta berhasil mengelak kepalanya saat ujung tombak mulai mendekati pipinya. Aku tidak membiarkan hal itu terjadi, inilah kesempatannya. Pada saat guru Jayta mencoba mendarat ke tanah, dengan kecepatan yang luar biasa aku melesat dan menebasnya.

Tercipta bunyi goresan, "crat" yang membuat mata Yodi dan Nita tertuju kepada guru Jayta. Aku berhasil menggores lengan kanannya dengan teknikku. Teknik tebasan dengan menggunakan aura yang mempercepat gerakan. Aku mengamati gerakan guru Jayta saat menghilang tiba-tiba dan mencoba menerapkan kemampuan tersebut. Aku mencoba meniru kemampuannya dengan mempelajari apa yang dikatakan oleh guru Jayta sebelumnya. Aku berhasil mencoba dalam waktu singkat.

Aku, Yodi, Nita dan guru Jayta berdiri di posisi masing-masing. Guru Jayta mencoba mengangkat lengan kananya dan melihat ada goresan kecil pada lengan bawahnya. Aku berteriak di dalam hatiku karena berhasil memberi goresan. Pada saat yang sama, guru Jayta juga mengangkat lengan kiri dan melihat bahwa ada goresan dari lengan kirinya. Aku menjadi terkejut dan hal ini membuatku yakin dan menoleh ke arah Yodi. Aku melihat wajah Yodi, wajahnya terlihat puas meski tetap datar. Seperti yang aku pikirkan, ternyata Yodi juga melakukan serangan kepada guru Jayta.

"Tak kusangka, kalian berdua berhasil menyerangku. Meskipun hanya goresan kecil, akan tetapi aturan tetap aturan. Baiklah, aku bersedia menjadi guru pembimbing kalian", ucap Jayta sambil melepaskan pelindung pada kedua lengannya yang terbuat dari silikon tipis.

Saat melepas pelindung lengannya, aku dan Yodi terkejut akan hal tersebut. Karena aku dan Yodi beranggapan bahwa kami berhasil menggores lengannya ternyata hanya silikon yang menempel pada lengan bawahnya. Aku masih bingung dengan apa yang dilakukan oleh Yodi, saat aku menebas dengan kecepatan penuh dan ditambah aura, aku tidak merasakan ada yang menyerang secara bersamaan. Dengan rasa penasaran aku bertanya kepada Yodi.

"Bagaimana kau melakukannya ??, aku tidak mengetahui kau menyerang dari mana ??, ucap diriku dengan wajah kebingungan.

"Aku melakukannya saat kau juga menyerang Jayta. Aku mencoba teknikku dan menghilangkan hawa keberadaan. Tak ku sangka bahwa ini berhasil", ucap Yodi dengan sedikit tersenyum diwajahnya.

Ternyata Yodi mencoba tekniknya dan menggabungkan apa yang diberitahukan oleh guru Jayta. Saat guru Jayta berbicara tentang kesatria khusus dan kemampuan mengubah aura, Yodi mencernanya dan mencoba mempelajarinya. Aku juga cukup mengetahui kemampuan Yodi saat di Hutan Lamun Jiwa. Dia mampu mendeteksi dan merasakan daerah sekitar dan itulah yang menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuannya dengan menghilangkan hawa keberadaannya.

Sesuai dengan kesepakatan. Jayta mau menjadi guru pembimbing dan melatih kami. Setelah selesai bertarung di ruang latihan, Jayta memberikan sesuatu kepada kami. Selembaran kertas yang tertulis tentang lomba atau tunamen pertarungan antar sekolah dan akademi di wilayah kerajaan. Aku cukup terkejut dengan apa yang diberikan oleh Jayta. Jayta menjelaskan bahwa syarat untuk mengikuti turnamen ini adalah ada kelompok tiga orang dan guru pembimbing.

Jayta sudah menduga akan hal ini. Dia melihat potensi besar didalam diri kami bertiga. Nita memiliki kemampuan fisik yang hebat dibandingkan dengan perempuan lainnya. Yodi memiliki kecepatan serta analisis yang tajam serta keputusan dalam melakukan serangan. Sedangkan aku, memiliki pengamatan yang baik dan mampu berkembangan dalam penguasaan teknik. Setiap anggota ini memiliki kemampuan uniknya masing-masing. Itulah yang dikatakan Jayta kepada kami setelah selesai bertarung.

Langit yang mulai gelap. Di ufuk barat mulai mengeluarkan mega merah. Aku, Yodi dan Nita bergegas untuk ke asrama. Kami berjalan bersama-sama sambil menikmati pemandangan yang indah di akademi ini. Wajah Nita terlihat sangat puas setelah bertarung. Di samping kiri Nita, Yodi selalu memasang wajah santainya seolah tidak terjadi apa-apa. Berbeda denganku, yang berada di samping kiri Yodi. Aku memasang wajah senang bercampur dengan gugup. Jayta selaku guru pembimbing menjelaskan tentang turnamen tersebut sebelum kami bergegas untuk pulang ke asrama. Jayta berkata bahwa untuk mengikuti turnamen ini kita harus lulus dari seleksi di dalam akademi. Kami bertiga baru tingkat satu atau kelas satu. Dalam turnamen ini, sudah pasti anak kelas dua dan tiga ikut dalam turnamen ini. Terlebih siswa yang punya darah bangsawan dan memiliki kemampuan hebat ikut serta dalan turnamen ini.

Saat bejalan bersama, aku membayangkan bahwa Gheovani pasti ikut serta. Aku dengan wajah yang sedikit tersenyum penasaran bagaimana dengan kemampuan Gheovani yang merupakan keturunan dari Givari Razemann. Dan juga masih banyak orang-orang hebat diluar sana yang memiliki kemampuan unik. Dengan mengepal jari tangan sangat erat. Aku dengan semangat untuk menantikan hari esok untuk latihan bersama.

1
♥Kat-Kit♥
Ngakak abis!
Koga Jita: Terima kasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!