Bercerita mengenai Alisya dan semua sahabatnya, berjuang melawan para zombie yang tiba-tiba saja menggegerkan kampus mereka, mereka berhasil keluar dari kampus tapi tidak sedikit pula yang menjadi monster itu (zombie). Apakah kami bisa menemukan tempat yang aman, melewati setiap rintangan dan juga konflik asmara? Penasaran dengan cerita selanjutnya. Ayo ikuti terus novelku yang berjudul "A World Full Of Zombies" 😄👍
Dan dukung aku dengan cara LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😊
Terimakasih 😊👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi Dila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Merah Hati F & A.
Setelah kami semua meninggalkan zombie-zombie tersebut didekat jurang dan berjalan melewati pepohonan yang tinggi, berjalan menanjak naik dan menurun, melihat tanda panah yang dibuat oleh Fadli sebelumnya mengunakan cat semprot berwarna putih, dan jarak yang sudah kami lewati lumayan jauh sekitar 30 menit lamanya barulah kami sampai ke perkemahan.
Fadli menyuruhku beristirahat didalam tenda dan akan menjawab semua pertanyaanku besok pagi, aku pun mengikuti perkataannya dan masuk ke dalam tenda bersama dengan beberapa teman cewekku, sedangkan Fadli bersama keempat teman cowokku berada di satu tenda yang sama, sedangkan yang lainnya berada di tenda satunya lagi. Untungnya kami memiliki tiga tenda sekaligus, dan tidak membuat kami kesempitan ketika tidur.
* * *
Setelah melewati malam yang panjang dan tidur yang tidak nyenyak tapi kami semua harus bangun untuk bersih-bersih dan mengambil wudhu,sholat berjamaah yang di pimpin oleh Fikri (imam). Setelah sudah selesai kami pun melakukan aktivitas masing-masing seperti mencari ikan di sungai dan membuat api untuk membakar, setelah ikan sudah di ambil oleh Rizqi, Alwi, dan Zulham. Kami pun mulai membakar ikan bersamaan dengan sosis dan NuGet yang hanya tinggal sedikit lagi tapi untungnya ikannya yang di dapatkan oleh mereka lumayan banyak dan besar, selain memasak makanan kami pun membuat teh panas mengunakan ceret yang terbuat dari alumunium.
Suasana di dekat sungai sangatlah sejuk, tapi air sungai mengalir lumayan deras sedangkan suara burung berkicau terdengar sangat merdu di sekitar sungai, ini adalah pagi yang sangat cerah serta ceria selain aku sudah berkumpul dengan mereka semua dan sekarang Fadli telah datang menemuiku. Aku sangat bahagia sekali bisa melihat senyum dan tawa dari mereka semua, Nia sekarang sudah seperti dulu tidak cuek dan bisa menerimaku, tertawa bersama, bahkan bercanda denganku. Mereka semua menerima Fadli dengan sangat baik tapi tidak dengan Fikri, Fikri terlihat biasa saja dan melihat kearah Fadli dengan tatapan yang tidak senang.
Kami semua menyantap hidangan yang lezat dan masih hangat sambil bercanda-gurau, Fadli masih sama seperti dulu yang cepat sekali bergaul dengan orang baru. Bukan hanya itu saja, Fadli bahkan mampu dengan cepat mengambil hati ibu dan abang Rasyid, sampai-sampai ibu dan abang Rasyid selalu bertanya mengapa Fadli tidak pernah lagi datang ke rumah setelah sudah tamat SMA. Tiba-tiba saja Fikri berbicara kepadaku di depan mereka semu mengenai peristiwa semalam, terlihat wajahnya yang sangat cemas.
"Apa yang kau lakukan tadi malam, Alisya? Aku sudah menyuruhmu untuk nggak kemana-mana. Tapi mengapa kau malah pergi kedalam hutan, apakah kau nggak berpikir terlebih dahulu sebelum kau masuki hutan itu. Dan kalau terjadi sesuatu hal kepadamu. Aku tidak bisa memaafkan diriku, Alisya." jelas Fikri kepadaku yang sedang duduk tepat di hadapanku.
Aku menundukkan kepala dan berkata, "maafkan aku, Fikri. Dimalam itu aku sangat mencemaskan Nia. Jadi tanpa berpikir panjang aku langsung berlari kedalam hutan."
"Yasudah kalau begitu. Tapi lain kali kau harus berhati-hati dan jangan mengambil keputusan yang salah," ucap Fikri kepadaku, dan aku melihat kearahnya sambil menganggukkan kepala. Terlihat mereka semua melihat kearah kami berdua dan berhenti bergosip.
Aku melihat kecemasan dari wajah Fikri tapi aku masih sangat penasaran mengapa mereka bisa berjumpa dengan Fadli. Bukan hanya itu saja aku pun ingin bertanya banyak hal kepada, Fadli? Tapi sebelum itu aku akan bertanya terlebih dahulu mengenai Nia dan barulah nanti aku kan bertanya kepada Fadli. Batinku.
Aku melihat Fikri dan bertanya kepadanya "Fik. Kau menemukan Nia dimana? Apakah dimalam itu Nia baik-baik saja?"
"Iya. Nia baik-baik saja dan aku melihatnya sedang menangis" jawab Fikri kepadaku, kami semua melihat kearah Nia yang terlihat sedang mengelak keadaan dan bicara dengan sangat tergesah-gesah.
"Iya!! Aku baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu hal kepadaku. Iya semua baik-baik saja." jelas Nia yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, Semua orang melihat kearah Nia dengan keheranan.
"Tapi mengapa kau masuk ke dalam hutan dan mengapa, Alisya dan Fikri mengejarmu, Nia. Apakah ada sesuatu hal yang kau sembunyikan dari kami?" tanya Nasywa kepada Nia dengan penuh keheranan.
Terlihat Nia sedang berpikir dan terdiam sejenak, setelah itu barulah Nia bicara kepada kami semua yang berkata, "gelang. Ak, Aku...!! Tidak sengaja menjatuhkan gelang ketika mencari ranting pohon di hutan. Dan, mungkin saja Fikri mengejar ku setelah...!!" Nia berhenti bicara sambil melihat ke arahku dan berkata lagi, "setelah Fikri selesai berpelukan di tepi sungai bersama, Alisya." Semua orang termasuk Fadli melihat ke arah aku dan Fikri.
"Cie, cie...!! Apakah kalian berdua sudah jadian. Kalian menyembunyikan ini dari kami lagi?" tanya mereka semua dengan nada merayu, kecuali Amel, Fikri, dan Fadli. Aku melihat kearah Fadli dan terlihat raut wajah yang sangat kesal.
Nia melanjutkan pembicaraannya kepadaku dan berkata lagi, "ditengah-tengah perjalanan menuju perkemahan kami berdua berjumpa dengan, Fadli. Dan dia ikut bersama kami ke perkemahan, sesampainya di sini Fikri mencari mu, Alisya. Tapi tidak ada satupun yang tahu termasuk, Amel. Dengan cepat Fikri pun mencari mu kedalam hutan dan disusul oleh kami semua, Fadli memberi tanda ke setiap pohon yang sudah kami lalui agar nantinya kami tidak tersesat. Setelah sudah cukup lama kami mencari mu, barulah terdengar suara yang sedang meminta tolong. Kami langsung menghampiri sumber suara tersebut sampai ke dekat jurang dan ketika kami menembak semua zombie-zombie itu terlihat kau mulai berdiri di tengah-tengah para mayat zombie yang bergelimpangan. Dan kau tahu, Alisya? Semua senjata ini, Fadli lah yang membawanya," jelas Nia kepadaku.
Aku menoleh kearah, Fadli. Yang masih memasang raut wajah kesal dan aku mulai bertanya kepadanya, "kau dapat dari mana senjata ini? Dan jelaskan semua kepadaku mengapa kau tidak bisa di hubungi kembali setelah kita bicara didalam telpon dengan sangat tergesah-gesah, dan mengapa zombie-zombie itu sampai mengejarmu dan suara tembakan apa itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kau harus menjawab semua pertanyaan ku, Fadli." Tanyaku kepadanya dengan sangat penasaran.
"Baiklah, Alisya. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu," ucap Fadli yang sedang duduk disebelah, Alwi. Dan berkata lagi, "setelah kita selesai bicara di telpon dan mengetahui kejadian didalam perpus saat itu, aku melajukan motor besar ku menjauh dari rumah sakit dan mengambil jalan pintas untuk menuju kantorku. Setelah sudah sampai di gedung kantor, aku masuk kedalam gedung kantor dan terlihat kekacauan berada di mana-mana. Terlihat semua karyawan ku mulai menggila dan mengigit siapa saja yang berada didekat mereka, aku langsung berlari menuju parkiran dan melajukan motor besar ku ke kampusmu. Tapi aku melihat kampusmu sudah sangat kacau, aku kembali melakukan motor besar ke arah rumahmu dan ketika di alun-alun kota. Aku melihat begitu banyak Polisi bahkan Tentara sudah menjadi zombie, aku melihat begitu banyak senjata api yang berserakan dimana-mana, aku pun mengumpulkan beberapa senjata dengan cara mengendap-endap dari segerombolan zombie itu dengan cara mengolesi dara di sekujur tubuh dan melingkarkan usus zombie di leherku setelah itu barulah aku berpura-pura menjadi zombie dengan cara itu aku bisa mengumpulkan senjata api," jelas Fadli kepadaku dan mereka semua. Semua orang termasuk aku merasakan jijik dengan penjelasan dari Fadli.
"Kau bilang apa tadi? Mengoleskan dara di sekujur tubuhmu dan melingkarkan usus zombie di lehermu?? Dan kau menjadi bagian dari mereka!! Apakah kau tidak merasa jijik, tapi mengapa di pakaianmu hanya sedikit noda darah?" tanya Nasywa kepada Fadli yang mulai mual.
"Kau serius, telah melakukan itu semua?" tanya kami semua dengan serentak.
"Iya, aku melakukan itu semua. Dan mengapa pakaianku masih bersih!! Itu karena aku menutupi tubuhku dan kedua tangan mengunakan jas Dokter dan sarung tangan. Barulah aku mengoleskan dara itu ke sekujur tubuh dan melingkari usus di leherku," jelas Fadli kepada kami semua.
Aku melihat kearah Fadli dengan sangat jijik dan berkata, "kau melakukan strategi itu? Aku kira hal semacam itu hanya ada didalam film yang menceritakan tentang zombie, tapi itu berlaku di dunia nyata juga ya?"
Fadli tersenyum melihatku sambil berkata, " iya Alisya."
"Kau harus menjawab pertanyaan ku yang satunya lagi, Fadli. Apa yang terjadi dimalam itu? Kau baik-baik saja kan, apa ada goresan atau cakaran?" tanyaku kepadanya dengan sangat cemas.
"Aku tahu kalau kau sangat mencemaskan ku sampai begitunya, Alisya. Alhamdulillah, aku tidak terkena cakaran ataupun goresan sedikitpun," jawab Fadli dan tersenyum manis kepadaku.
"Tapi mengapa dengan goresan atau cakaran, itu nggak masalahkan? Yang seharusnya kita hindari cuma gigitan kan, we??" tanya Nita kepada kami semua.
"Virus itu akan menyebar di gigitan kan, bukan cakaran apa lagi goresan?" ucap Kirana kepada kami semua.
"Gak we...!! Cakaran atau goresan itu sama saja. Kalau sampai terkena kita juga akan menjadi zombie," jelas Rizqi kepada kami semua.
"Tapi, bagai mana bisa?" tanya Dea dengan ketakutan.
"Karena virus itu akan tetap menyebar bagaimana cara zombie itu melakukannya, mau itu gigitan, cakaran, atau hanya goresan sedikit itu tidak akan menolak kemungkinan. Tapi perbedaannya adalah gigitan zombie lebih cepat menyebar di bandingkan cakaran atau goresan dari mereka, itu tergantung pertahanan imun di tubuh kita. Kalau kita sering terkena penyakit kita akan lebih cepat menjadi zombie dan sebaliknya, kalau kita tidak gampang terkena penyakit virus itu akan lama menyebar. Tapi selama-lamanya virus itu menyebar hanya perkirakan tidak sampai setengah hari, yang ini berlaku pada cakaran atau goresan ya tapi tidak dengan gigitan. Mau imun kita kebal atau tidak (pertahanan tubuh) kalau terkena gigitan akan bertahan hanya sekitar beberapa menit saja," jelas Rizqi lagi kepada kami semua, semua orang terlihat sangat ketakutan sambil melihat satu sama lain. Tapi tidak halnya dengan aku, Fadli, Fikri, dan Rizqi.
Dulu sebelum wabah zombie menyebar ke seluruh dunia kami sangat suka yang berkaitan dengan zombie, bahkan ketika kami pulang kampus dan pergi ke bioskop aku, Fikri, dan Rizki lebih memilih film yang berkaitan tentang zombie. Dan ketika aku masih pacaran dengan Fadli pun dimasa SMA dulu kami lebih sering nonton film yang berjudul zombie di rumahku, jadi sedikit banyaknya kami tahu yang berkaitan tentang zombie.
"Terus, bagaimana kalau itu semua sampai terkena kepada kita? Apa ada cara lain untuk mengatasinya!? Aku tidak mau mati tercabik-cabik apa lagi menjadi bagian dari monster itu (zombie)," tanya Nasywa kepada kami semua.
"Hanya ada satu cara!!" ucapku kepada mereka semua.
"Bagaimana caranya?" tanya Nita.
"Potong...!!" balas Fikri.
"Ma... Mak... Sutnya?" tanya Alwi.
"Tangan atau kaki yang terkena gigitan, cakaran, atau goresan akan di potong disaat itu juga." jelas Fadli kepada mereka semua.
"Apa...!!?" jawab mereka semua dengan sangat serentak, kecuali aku, Fikri, Fadli, dan Rizqi.
Suasana pagi yang awalnya ceria kini menjadi tegang, terlihat teman-temanku memasang raut wajah yang sangat panik. Walaupun aku dan ketiga temanku tahu soal kenyataan itu, tapi kami tetap sangat ketakutan dan cemas. Yang tadinya terdengar suara tawa dan canda, sekarang terdengar suara yang sedang berbisik-bisik dari mereka semua. Walaupun wabah zombie ini sudah terjadi beberapa hari yang lalu tapi aku masih saja tidak menyangka dengan kenyataan, bahwa aku dan semua umat manusia yang masih selamat dari ancaman monster yang berbahaya itu (zombie) akan terus dihantui oleh rasa ketakutan setiap saat.
"Memikirkannya saja membuat aku ketakutan apa lagi kalau itu sampai terjadi. Sebaiknya aku menenangkan pikiran sambil berendam di sungai," ucap Zulham yang terlihat takut sambil berdiri meninggalkan kami dan berjalan ke arah sungai.
Mereka semua satu persatu pergi ke sungai untuk bersenang-senang atau yang lebih tepatnya menenangkan pikiran sambil menikmati dinginnya air sungai yang berarus tenang. Amel mengajakku untuk bergabung bersama teman cewek yang lain dan kami saling menyiram satu sama lain, sedangkan teman cowok sedang merebahkan tubuhnya di batu-batu besar.
Untungnya selain menyediakan stok makanan dan memiliki tas kemping yang lengkap kami juga memiliki baju ganti yang sudah kami ambil di mobil-mobil yang sebelumnya pernah menghalangi jalan menuju bukit. Semua orang memiliki caranya sendiri untuk menenangi pikiran masing-masing, setelah aku merasa kedinginan aku pun menyudahi bermain air di tepi sungai dan berjalan menuju tenda untuk mengganti pakaian mengunakan celana, baju kaos, dan hijab pashmina.
Setelah sudah selesai berganti pakaian aku pun keluar dari dalam tenda dan terlihat Fadli sedang duduk di dekat api unggun. Aku melangkahkan kaki ke arahnya dan duduk tepat di samping kanannya, Fadli menoleh ke arahku dan tersenyum manis.
Aku pun membalas senyumannya dan berkata, "kau sudah selesai bermain air di sungai?" tanyaku kepadanya, tapi Fadli hanya tersenyum tanpa berbicara satu katapun dan terlihat dia sedang memikirkan sesuatu hal dan aku bertanya lagi, "apa yang terjadi kepadamu, Fadli? Semenjak pembicaraan disaat kita semua sedang sarapan, kau terlihat sangat aneh!! Apa yang sedang kau pikirkan, apa semua ini berkaitan dengan dimalam ketika kita hilang kontak? Dan iya. Kau belum menjelaskan mengapa zombie-zombie itu mengejar mu dan suara tembakan apa yang berada di sekitar mu?" tanyaku yang sangat penasaran.
Fadli melihat ke arahku dan berkata, "kau jangan kuatir, Alisya. Aku nggak kenapa-kenapa kok, semua baik-baik saja. Dimalam itu aku melihat mobilmu yang berwarna merah hati sedang melaju dengan kecepatan tinggi yang sedang menjauh dari pintu Tol, aku berada tidak jauh dari mobilmu dan berusaha mengejar dari arah belakang. Tapi sekelompok zombie tersebut justru menghalangi jalanku dan akhirnya aku terjatuh dari atas motor dan berlari kedalam ruko sambil mengendong tas ransel yang dipenuhi oleh peralatan kemping dan tas tali samping yang di penuhi oleh senjata api. Aku terus berlari memasuki ruko dan keluar kembali untuk menghindari dari zombie-zombie yang kelaparan itu sambil menelpon mu, hanya mendengar suaramu saja membuatku sudah sangat senang, Alisya. Tapi ketika aku hanya berbicara beberapa kata, tiba-tiba saja ponselku terjatuh dari genggaman dan zombie-zombie itu mendekatinya, aku langsung menembaki ponselku akar kau tidak cemas dan perfikir yang tidak-tidak soal diriku," Fadli menjelaskan semua kepadaku sambil menggenggam kedua tanganku dan terlihat raut wajah kecemasan.
"Mengapa kau bisa tahu kalau mobil yang berwarna merah hati itu adalah milikku? Padahal ketika kita SMA dulu, keluargaku tidak memiliki mobil yang berwarna itu," tanyaku kepadanya yang kebingungan.
Fadli tersenyum manis sambil mengelus pipiku lembut dengan tangan kanannya dan tangan kirinya masih menggenggam kedua tanganku sambil berkata, "aku masih ingat dan selalu ingat, tentang warna mobil kesukaanmu. Dan poster itu. Yang kau buat di kaca mobil, aku masih ingat semua keinginanmu, Alisya."
"Kau masih ingat semuanya?" ucapku yang tersipu malu.
Fadli yang masih mengelus pipiku dan menggenggam kedua tanganku dan mulai berkata lagi, "iya. Aku akan selalu ingat. Ketika kita sedang berduaan di taman bunga mawar yang berwarna warni sambil duduk di bangku taman melihat keindahan itu. Kau menyandarkan kepalamu dipundak ku sambil berkata, kalau ketika tamat SMA nanti kau akan pergi ke kampus menggunakan mobil yang berwarna merah hati dan menempelkan striker di kaca belakang mobilmu yang bertulisan F & A yang artinya adalah Fadli dan Alisya. Ketika melihat striker itu aku dengan senangnya masih berpikiran kalau kau masih memiliki perasaan untukku, tapi...!! Ketika mendengar perkataan Nia barusan, aku tidak percaya tentang apa yang aku pikirkan." ucap Fadli yang menundukkan kepalanya sambil melepas genggamannya.
Perkataan Nia. Perkataan yang mana? Atau jangan-jangan, mengenai aku yang berpelukan dengan Fikri!!? Oo... Tidak!! Kau salah faham. Batinku.
"Apa yang dibilang Nia itu, nggak seperti yang kau pikirkan. Apa lagi yang mereka katakan, itu semua nggak lah benar. Aku tidak jadian sama Fikri," aku yang berusaha menjelaskan itu semua kepada Fadli yang terlihat raut wajahnya sangat kesal.
Fadli melihat ke arahku dan berkata lagi, "apakah semuanya. Atau salah satunya?" Aku terkejut mendengar pertanyaan Fadli, dan masih terdiam membisu sambil melihat kedua matanya yang sedang bertanya-tanya, "kalau kau nggak mau bicara juga nggak papa, aku mengerti kok, Alisya."
"Memang benar aku berpelukan dengannya, tapi aku nggak berpacaran dengan, Fikri," aku yang terus menjelaskan kepada Fadli mengenai hubungan kami berdua.
Terlihat senyum di bibirnya dan tatapan di matanya yang terpancar kalau semua terlihat baik-baik saja, tapi yang sebenarnya terjadi Fadli masih tidak percaya kepadaku. Aku tahu kalau saat ini Fadli sangatlah kesal, tapi aku nggak bisa meyakinkan kepadanya dengan semudah itu. Fadli dan Fikri memanglah sangat pencemburu tapi tidak dengan sifatnya. Fikri adalah orang yang sangat romantis, sedangkan Fadli adalah orang yang berpikiran dewasa.
Pembicaraan kami pun sudah semakin janggal dan suasana menjadi tidak karuan, aku harus bicara kepada Fadli mengenai peristiwa 2 tahun yang lalu agar kami tidak saling diam seperti ini.
Aku melihat ke arah Fadli, dia terus saja melihat ke arah sungai dan tidak melihat ke arahku. Dengan sangat kesel aku pun berbicara kepadanya yang berkata, "kau sendiri, apa yang kau lakukan selama kita tamat SMA? Kau tidak pernah mencoba untuk mencariku!! Iya aku tau, kalau aku sudah memblokir setiap Mensos yang ada dan mengganti nomer ponsel. Tapi kau kan masih ingat dimana rumahku, mengapa kau tidak mendatangi ku?" tanyaku yang semakin kesal kepada Fadli.
Fadli melihat ke arahku, tapi aku malah menoleh kearah lain sambil berpura-pura kesal dan Fadli pun berkata, "bukannya kau sudah pindah?"
Aku melihat kearah Fadli dengan keheranan sambil berkata, "Pindah...!! Aku nggak pernah pindah kemanapun. Tapi aku hanya pergi beberapa minggu ke kota lain untuk persoalan bisnis ibuku, sedangkan abang Rasyid tinggal di hotel yang dekat dengan kantornya."
"Tapi Widia bilang, kau sudah pindah entah kemana," balas Fadli yang keheranan.
"Widia...!! Apa kau yakin dia mengatakan itu? Padahal, aku sudah memberi tahunya kalau aku pergi hanya sebentar untuk urusan bisnis ibuku. Tapi mengapa Widia berbohong padamu? Apa jangan-jangan dia masih membenciku...!!" jelas ku kepada Fadli.
"Mungkin saja. Tapi yasudah lah, yang penting kita sudah bersama lagi. Jadi sebaiknya kita lupakan saja masalah itu," balas Fadli yang tersenyum kepadaku, aku menganggukkan kepalaku sambil membalas senyumannya.
Terlihat mereka semua menghampiri kami yang duduk di dekat api dan mereka pun duduk di sekitar kami. Pakaian yang merekat di tubuh mereka masih dalam keadaan basah kuyup dan air menetes ke atas tanah, dan mulai meraih teh hangat yang berada di dekat api sambil meminumnya agar mereka tidak kedinginan lagi.
Setelah Rizqi meminum teh hangat dan masih memegang cangkir tersebut dia pun mulai bicara yang mengatakan, "sebaiknya setelah ini kita harus melanjutkan perjalanan." Kami semua menganggukkan kepala sambil meminum teh hangat.
Setelah teh yang berada didalam cangkir sudah kami habis, barulah kami semua beres-beres untuk melanjutkan perjalanan ada yang sedang mengganti pakaian, melipat tenda, mematikan api, dan mengumpulkan sampah yang berada di sekitar kami.
Setelah semua sudah siap barulah kami menyeberangi sungai dengan saling menolong satu sama lain dan akhirnya sampai juga dengan selamat, untungnya arus air sungai tidak terlalu deras dan tidak terlalu dalam hanya sampai sebetis saja. Celana jeans kami lipat agar tidak terkena air dan melepaskan sepatu, Kamipun melewati tanda dari Abang Rasyid.
Terimakasih ya sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel Thor 👍😄, kritik dan saran sangat diperlukan agar Thor lebih semangat lagi up episode terbaru. janagan lupa LIKE, VOTE dan FOLLOW ya teman-teman 😁😉
Terimakasih 😊
dan InsyaAllah, sekarang sudah mulai aktif lagi nulis😁
do'a kan ya... semoga saja Alisya bisa nulis novel yang baik 🙏🥰
boom like untuk karya terbaikmu
semangat trs menulisnya^^
Akan Ku Pantau Selalu Hehee,😉