Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22 Acara amal khusus kolega bisnis
Asisten Leon memberinya sebuah undangan jamuan makan malam privat "Ini undangan jamuan makan malam untuk Tuan," ucap asisten Leon sambil menyodorkan sebuah undangan berwarna coklat gelap itu. Leon mengambil undangan itu dan membukanya Leon menutup kembali undangan itu dan berkata pada asistennya " Aku akan datang," ucapnya. Asisten Leon mengerutkan keningnya menatap Leon "Tapi Tuan, bagaimana dengan keamanan Nyonya Luna?" tanya asisten itu pada Leon. "Aku akan memperketat penjagaan selama kita berada di sana nanti." Asisten itu menganggukan kepalanya.
Leon keluar dari ruang kerjanya dan berjalan ke kamar Emily untuk menemui Luna yang sedang menemani Emily tidur.
Leon menghentikan langkahnya saat tiba di depan pintu kamar putri kecilnya itu "Tok,tok,tok," Leon mengetuk pintu kamar Emily tapi tidak ada jawaban dari dalam dengan perlahan Leon membuka pintu kamar itu, dia melangkah perlahan masuk ke dalam kamar dan di atas tempat tidur terlihat Luna tertidur sambil memeluk Emily yang juga tertidur pulas.
Sejenak Leon terdiam melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya itu, Leon menghela napas panjang dia sadar betul kalau Luna memang sangat menyayangi Emily selama ini dan Emily juga merasa sangat nyaman kalau bersama Luna. Tiba-tiba Emily menggeliat membuat Luna terbangun dan betapa terkejutnya Luna saat melihat Leon yang sudah berdiri di samping tempat tidur itu "Tuan," pekik Luna menatap Leon kaget. "Ya, maaf aku terpaksa masuk karena tadi aku ketuk pintunya tidak ada yang menjawab," Leon menjelaskan pada Luna. "Maaf saya tadi tertidur juga," ucap Luna sungkan.
"Tidak apa-apa, aku tahu kamu kecapekan seharian mengurusi acara ulang tahun Emily, aku ke sini cuma mau ngasih tahu kalau besok malam aku akan menghadiri undangan jamuan makan malam privat dengan kolega bisnis dan aku berniat untuk mengajak kamu untuk menemani aku," kata Leon.
"Saya?" tanya Luna pada Leon tidak percaya.
"Ya, aku mengajak kamu untuk menemani aku di acara itu," Leon menegaskan sekali lagi.
Luna menganggukkan kepalanya pelan tapi masih dengan perasaan heran
Besok malamnya di dalam kamar utama mansion, Luna sedang bersiap untuk mendampingi Leon ke acara jamuan makan malam, Luna mengenakan gaun pesta yang di pilihkan dan di belikan oleh Leon dengan menyuruh asistennya kemaren.
Leon yang sudah siap menunggu Luna di ruang keluarga tampak sangat terkejut sekali saat melihat Luna yang datang menghampirinya, mata Leon membulat melihat penampilan Luna yang sangat anggun itu.
Luna tampak cantik dan anggun mengenakan gaun berwarna pastel tanpa lengan dan panjang hampir menyapu lantai dengan menggunakan sepatu haighells berwarna putih dan dengan rambut curlynya yang hitam panjang itu.
"Saya sudah siap Tuan," ucap Luna pada Leon tapi Leon terlambat merespon ucapan Luna saking tak percayanya dia melihat penampilan Luna yang sangat mempesona malam ini "Oh ya," ucap Leon saat tersadar dari keheranannya tadi.
Kemudian mereka berjalan bersama menuju ke mobil mewah Leon yang sudah siap di halaman mansion sejak tadi, seorang pengawal yang siap di samping mobil itu dengan segera membukakan pintu mobil untuk Leon dan Luna, Luna dan Leon duduk bersebelahan di kabin tengah mobil itu sepanjang perjalanan menuju tempat jamuan makan malam itu tidak komunikasi yang tercipta di antara Leon dan Luna mereka sama-sama diam.
Leon terpaksa menghadiri sebuah jamuan malam privat yang dijaga sangat ketat untuk melunakkan isu keamanan usai insiden penyusupan. Demi memperkuat citra keluarga yang harmonis di mata para kolega, Leon memboyong Luna sebagai pendamping resminya. Luna tampil sangat anggun dengan gaun malam sederhana yang memikat perhatian banyak pasang mata.
Luna berdiri seorang diri di dekat meja hidangan gourmet, memegang gelas minumannya sambil mengamati interior ballroom yang megah. Tak jauh dari sana, Leon tampak sibuk berdiskusi dengan beberapa sekutu seniornya. Tiba-tiba, seorang pria bertubuh jangkung bersetelan jas navy mendatangi Luna dengan senyum ramah.
"Selamat malam. Maaf kalau saya mengganggu, tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menghampiri wanita paling memesona di ruangan ini."
Luna terkejut pelan, lalu memasang senyum sopan namun agak canggung.
"Oh, selamat malam. Terima kasih atas pujiannya, Tuan..."
"Julian. Julian Vance," pria asing itu mengulurkan tangan dengan hangat. "Dan Anda pasti Nyonya Luna, bukan? Senang akhirnya bisa bertemu langsung."
Luna menyambut uluran tangan Julian sejenak "Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Vance."
"Panggil saja Julian," ucap pria asing sambil melihat sekeliling lalu tersenyum ramah. "Pesta malam ini sangat kaku dan membosankan, bukan? Terlalu banyak obrolan tentang saham dan wilayah kekuasaan. Saya lihat Anda berdiri sendirian di sini sejak tadi. Mau saya temani mencoba hidangan penutup di sebelah sana? Koki malam ini kabarnya didatangkan langsung dari Prancis."
Luna tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana "Anda bisa saja, Tuan maksudku, Julian. Hidangannya terlihat sangat menarik, tapi aku sedang menunggu suami..."
Julian memotong dengan nada bercanda yang akrab "Leon pasti sangat beruntung punya istri sehebat dan seanggun Anda, Luna. Pria kaku seperti dia rasanya terlalu beruntung mendapatkan seseorang yang begitu hangat dan manis di sisinya."
Julian melangkah sedikit lebih mendekat, bermaksud memperjelas gestur akrabnya pada Luna. Luna reflek mundur setengah langkah, merasa suasana mulai tidak nyaman.
"Leon adalah pria yang sangat baik dan bertanggung jawab, Julian. Saya..."
Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan tinggi besar mendadak muncul dari belakang. Aura dingin dan mencekam seketika menyeruak di antara mereka.
Tadi saat Luna berbincang dengan Julian, Dari kejauhan, radar Leon langsung menangkap momen tersebut. Rahangnya mengeras dan tatapan matanya berubah begitu tajam hingga memutus percakapan bisnisnya secara sepihak. Rasa panas dan tidak nyaman yang asing sebuah kecemburuan yang membakar memenuhi dadanya saat melihat Luna tersenyum sopan pada pria tersebut.
Tanpa membuang waktu, Leon melangkah tegas mendekati mereka. Dengan dominasi yang sangat terasa, Leon merangkul pinggang Luna secara posesif dan menarik tubuh wanita itu makin rapat ke sisinya. Lewat gertakan halus berbalut ancaman tersirat, Leon membuat pria itu merasa terintimidasi hingga akhirnya undur diri dengan canggung.
"Kurasa kamu terlalu banyak bicara untuk seseorang yang berkunjung di wilayahku, Vance." Suaranya rendah, berat, dan dipenuhi ancaman berbahaya.
Julian tersentak kecil, membenahi posisi berdirinya sembari mencoba mempertahankan senyum tenang meski kebingungan membalas aura intimidatif Leon.
"Ah, Leon. Senang melihatmu bergabung. Saya hanya sedang menjamu istrimu agar tidak merasa bosan saat kamu sibuk dengan para senior."
Leon menatap Julian dari atas ke bawah dengan tatapan dingin yang mampu membekukan darah "Pekerjaanmu merawat 'tamu' tidak ada dalam daftar investasimu malam ini, Julian. Dan Luna...." Leon mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Luna, menunduk sedikit berbisik di dekat pelipis istrinya sebelum kembali menatap Julian "bukan seseorang yang butuh hiburan dari pria lain."
Luna menahan napas, terkejut dengan kehangatan dan ketegangan mendadak dari tubuh Leon "Leon, kami hanya..."
Leon memotong lembut namun tegas, jemarinya mengusap pinggang Luna "Diam sebentar, sayang."
Leon kembali memfokuskan tatapan tajamnya pada Julian. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan.
"Bagaimana kabar bisnis kargo keluargamu di pelabuhan timur, Julian? Kudengar izin pelayarannya sedang bermasalah minggu ini. Sangat disayangkan kalau sampai ada 'gangguan tambahan' yang membuat kapal-kapalmu tenggelam sebelum berlabuh."
Wajah Julian seketika pucat pasi. Ia paham betul pesan tersirat di balik ancaman halus tersebut satu jentikan jari Leon bisa menghancurkan bisnis keluarganya dalam semalam.
Julian mundur satu langkah, mengangguk canggung dengan peluh dingin di tengkuknya "T tentu saja, Leon. Saya tidak bermaksud mengganggu. Nyonya Luna, maafkan saya jika kelakuan saya kurang berkenan. Permisi."
Julian berbalik dan dengan terburu-buru menghilang di antara kerumunan tamu, meninggalkan Leon dan Luna yang masih berdiri dalam posisi teramat rapat.
Leon tersenyum di satu sudut bibirnya menatap kepergian Julian.
Di sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa sangat tegang. Ketika Luna mempertanyakan sikap Leon yang dinilainya terlalu berlebihan dan posesif, Leon justru memojokkan Luna dengan tatapan penuh dorongan emosi. Tanpa menyebut kata 'cemburu', Leon menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menatap atau menyentuh wanita yang kini berada di bawah naungannya.
"Kenapa Tuan bersikap seperti itu pada Julian, Dia tidak melakukan apapun pada saya dan sepanjang perbincangan dia pun sangat sopan tadi," protes Luna tentang sikap Leon yang menurutnya kasar pada Julian tadi.
"Aku tidak mau ada orang lain yang mendekati ataupun mencoba merayu apa yang menjadi milik aku, dan mulai sekarang jangan panggil aku Tuan, panggil aku Leon," ucap Leon menoleh pada Luna yang duduk di sampingnya itu.