Benang merah menghubungkan takdir dua insan, mereka memulai kisah cinta dengan cara yang berbeda.
Emily Lohia, seorang istri yang sangat mencintai suaminya, suatu ketika dia menemukan fakta perselingkuhan yang selama ini ditutupi suaminya.
Tak pikir panjang, Emily menyewa gadis dari satu agensi yang memang khusus menyelesaikan masalah-masalah internal maupun eksternal dari keluarga konglomerat.
Mampukan Emily mengembalikan cinta suaminya?
Selamat membaca^-^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fuji Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...- Selamat Membaca -...
...*...
...*...
Ely sedang membalas chat suaminya, dia terlihat senang sekali, entah apa isi chatnya, intinya dia tersenyum lebar membuat siapapun pasti iri melihatnya.
Akhir-akhir ini wanita cantik itu memang sudah sering tersenyum, dia memutuskan membuka hati lagi untuk suaminya, sepertinya dia merasa sudah cukup menyiksanya.
Kegiatannya pun jadi lebih menyenangkan karna dia tidak harus menyembunyikan perasaannya lagi.
Seperti biasa dia menyiram bunga-bunga yang selama ini dirawatnya dengan sepenuh hati.
Sore hari memang waktu yang tepat menyiram bunga, itu juga waktu yang pas menghabiskan waktu sambil menunggu kepulangan suaminya.
Tak lama, Edwin datang membawa buket bunga besar, bibirnya yang tersenyum lebar membuat Emily senang, betapa tulus senyum suaminya, membuatnya luluh lagi dan lagi.
Dia berjalan mendekati Edwin, mereka saling menatap "Makasih Edwin, aku suka bunganya" Pujinya senang.
"Iya istriku, bagaimana? Besok jadi kan?" Pertanyaan Edwin mengundang rona merah dipipi Ely.
"Kenapa kamu malu istriku? Inikan bukan pertama kalinya kita bulan madu!" Goda Edwin, dia sengaja menjahili istrinya.
"Tapi ini kan pertama kalinya kita akan melakukan hal "itu" lagi, seingatku sudah tiga bulan berlalu dan masa-masa itu sangat sulit jadi jantungku terus berdebar karna aku sangat menantikannya" Jawab Ely malu-malu, dia tidak menyembunyikan perasaannya.
"Ooh, istriku ternyata sangat menantikannya yah? Bagaimana kalau kita percepat saja jadi hari ini?" tawar Edwin, mendengar itu Emily semakin merona dia memukul pelan dada suaminya.
"Iih curang" Celetuknya
"Curang? Kok bisa?" Tanya Edwin penasaran.
"Sepertinya cuma aku yang menantikan bulan madu besok, kamu terlihat biasa saja" Komentar Ely tak senang.
Wajahnya menggelap, dia memanyunkan bibirnya membuat Edwin terkekeh gemas.
"Haha imutnya, coba pegang dadaku, apa aku masih terlihat biasa saja? Padahal jantungku berdetak kencang seperti ini" Ungkap Edwin senang, dia menarik tangan Ely, menuntunnya agar menyentuh dadanya.
Lagi-lagi Emily merona, Edwin mengecup tangan istrinya, lalu memeluknya hangat, aroma maskulin pria itu memabukkannya, Ely semakin mengeratkan pelukannya, rasanya rugi kalau dia tidak menikmati suasana itu.
...*...
...*...
Sudah sebulan berlalu sejak Feli digantikan oleh Verta artis dengan peringkat yang cukup dekat dengannya, kini bukan lagi dia yang menemani Jeff untuk bertukar pendapat dan juga mengajarkan hal yang belum dipahami pria itu.
Namun dia sedikit lega, perasaan yang tidak seharusnya ada lebih baik dihilangkan saja sebelum semakin besar dan menggorogitinya.
"Parasit seperti ini memang harus dihilangkan, sangat tepat tidak bertemu pria itu lagi, sekarang aku sudah lebih tenang, memang benar saat bertemu dia waktu itu watakku yang memalukan muncul dan aku benci terlihat seperti itu" Gerutunya kesal.
Feli memutar-mutar pulpen hitam ditangannya demi menghilangkan rasa bosan yang ada.
Hari ini dia tidak begitu sibuk, mungkin karna Jeff sudah tidak mempersulit kerjaannya lagi, dia masih ingat bagaimana pria itu mengacak-acak jadwal kliennya bahkan assisten andalannya sampai kewalahan.
"Hm, aku keluar saja deh, kerjaanku juga sudah beres-
tok-tok-tok
"Masuk" Perintah Feli tiba-tiba.
Kai masuk dengan gayanya yang tenang dia berjalan mendekat "Ada apa?" Tanya Feli penasaran.
"Hari ini kita kedatangan klien, beliau ketua Mayer, perusaahan yang sekarang sedang meningkat pesat, ini tangkapan besar" Jelasnya, Kai terlihat senang begitupun Felisha.
"Benarkah? Lalu dimana beliau sekarang?" Tanya Feli kembali bersemangat.
"Saya sudah mengantarnya keruang VIP" Jawab Kai bangga.
"Baiklah ayo kita kesana" titahnya tak sabar.
Felisha dan Kai berjalan keluar menuju ruangan nyonya Mayer, jantungnya berdegup kencang saat masuk dan melihat sosok anggun dan elegan yang sedang duduk menantinya.
'Cantik sekali' Feli membatin.
Wanita yang sangat cantik, umurnya sekitar 40-an tapi tidak begitu terlihat, sultan memang beda, auranya saja sudah membuat merinding sampai kepala rasanya ingin terus menunduk.
Felisha menyambut kliennya dengan tenang, mereka sedang berbincang tentang apa saja masalah klien yang ingin diselesaikan.
"Bagaimana? Apa kamu bisa?" Tanya sang klien.
"Kasus baru seperti ini mungkin akan memakan waktu yang lama, mungkin sekitar 1 bulan lebih dan dananya mungkin tidak sedikit" Jawab Felisha, dia tahu akan kewalahan dengan kasus satu ini.
"Dana tidak menjadi masalah, kamu bisa pastikan semua akan selesai bulan depan?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja nyonya" jawab Feli percaya diri.
"Baiklah, sisanya biar sekertaris saya yang urus, semoga berhasil" Ucap wanita itu, dia tersenyum lagi, segera kakinya melangkah meninggalkan Felisha yang terlihat serius, masalah yang dihadapinya sebenarnya bukan hal yang mudah.
"Bagaimana caraku menangani pria yang tergila-gila dengan ****, aku bahkan tidak bisa menahan gairah saat bersama Jeff, sampai-sampai aku kehilangan perawanku, dan sekarang malah diberi tugas gila begini? Hah andai saja aku bisa menolak, sayangnya tidak bisa, itu akan mencoreng nama baikku" Gumamnya, dia merasa pusing.
Felisha sedang memikirkan cara ampuh agar masalah yang diminta klien segera terselesaikan, dan saat dia sibuk berfikir ternyata dia kedatangan tamu yang sangat ingin dihindarinya.
"Lama tidak berjumpa Felisha" Sapa Jeff setelah tanpa pemberitahuan masuk ke ruang pribadi Feli.
Jantung gadis itu berdebar, padahal dia sudah mengontrol perasaannya sebulan ini dan Jeff malah menghancurkan pertahanannya.
Bagaimanapun dia semakin jatuh cinta melihat pria dihadapannya itu, bahkan dia tidak bisa memarahi Jeff, pikirannya kosong, dia tidak tahu harus menjawab apa, setengah hatinya berkata abaikan saja tapi setengahnya lagi tidak sanggup mendiamkan pria itu.
"Hm, kau terlihat sehat yah, kukira kau akan menemuiku lagi, ternyata kau sangat sabar" Ejek pria itu, kalimatnya keluar begitu saja membuat Feli mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti maksud ucapan itu.
"Apa anda mabuk? Sepertinya anda tidak sadar sedang melantur disini" Tegur Feli yang segera menutup dokumennya.
"Hahaha tidak, aku kesini karna rindu denganmu" Ungkap Jeff tiba-tiba.
Feli meragukan pendengarannya "Rindu? Sama saya? Kenapa?" Tanyanya mencoba tenang.
Sebisa mungkin dia menahan rasa senangnya mendengar kata rindu yang keluar dari mulut pria yang disukainya.
Jeff mendekat ke samping Feli, mereka saling menatap, membagikan teka teki yang sepertinya akan segera terjawab, bisakah perasaan Feli tersampaikan? sepertinya Jeff sudah memberikan lampu hijau.
"Aku tau, kau menyukaiku kan?" Tebaknya.
Dia bilang begitu tanpa memedulikan raut wajah terkejut Feli, sepertinya dia juga agak jijik, ya memang kalimat itu terkesan agak narsis.
"Hah?" hanya itu yang bisa dikatakan Felisha, Jeff terkekeh mendengar responnya, entah mengapa dia sangat suka melihat ekspresi yang ditunjukkan Feli, apapun itu.
"Anda mengerjai saya?" Tanya Feli berubah kesal, dia menarik dasi Jeff membuat wajah mereka berdekatan.
"Baiklah akan saya jawab, ya saya menyukai direktur, saya ingin sekali memiliki tubuh anda ini, kita bahkan sudah berbagi ranjang yang sama, tidak ada satu haripun saya melupakan desahan menggemaskan anda direktur, saya ingin merasakannya lagi, bagaimana, anda mau?" Jelasnya tak sabar lagi, tangan Feli membuka kancing kemeja Jeff.
Jeff yang niatnya hanya bercanda menjadi shock, dia tidak bisa bereaksi untuk sementara, untung saja tangannya reflek menghentikan kegiatan Feli "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya panik, Feli terkekeh "Hahaha, saya hanya bercanda direktur" sahutnya cepat.
Jeff merona, dia melangkah meninggalkan Felisha yang hanya tersenyum kaku, nampaknya kalimat Feli tidak terdengar seperti gurauan bagi pak direkturnya.
Jauh didasar hati Feli dia menyesal mengatakan kalau itu hanya gurauan karna sebenarnya itu adalah isi pikirannya dan dia tidak sanggup menahan kalimat itu untuk tidak keluar.
...*...
...*...
Salam kenal.
Pas liat judul mu, aku langsung tertarik lhoo
Mampir juga DI BALIK LAYAR
Rate 5, Fav, n ku pasti baca dan like
Pada tiap eps mu
Mari saling dukung
Terima kasih🙏🙏