Apakah kau punya sebuah penyesalan ?
Bagaimana kalau kau di berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalumu?
Rafa tiba-tiba saja kembali ke masa sekolahnya untuk mencegah penyesalannya di masa depan.
Akankah Rafa berhasil memperbaiki semua penyesalannya?
Akankah seperti yang dia rencanakan?
seperti apakah perjalanannya kembali ke masa lalu?
baca kisah selengkapnya hanya di ANGKOT
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Living3BunaL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMIKAZE
Recommended playlist : sheila on 7 - berhenti berharap.
Gw kevin, dari kelas X jurusan multimedia 1, teman sekelasnya arum. tentu saja aku pertama kali melihat nya saat MOS. dia begitu menarik pandangan ku sejak awal, dengan rambut lurus berponi dengan kaca mata bulat, kulit putih dan pandangan matanya yang tajam.
aku terus memperhatikan nya, namun aku menyadari satu hal, bahwa sepertinya aku tidak lah sendirian. ada seseorang yang selalu menjaga nya. entah bagaimana dia bisa selalu ada di saat arum butuh.
aku pertama kali menyadari nya saat tiba-tiba ada yang menitipkan arum seragam olahraga saat dia tidak membawa nya. orang itu adalah Rafa, kakak kelas XI dari jurusan desain grafis. sangat populer di kalangan siswi-siswi, anggota OSIS, pintar, dan sangat ahli bermain basket.
saat ku tahu arum sedang sakit di UKS, aku berniat membawakan obat dan makanan untuknya. tapi sesampainya di UKS, ada Rafa di sana memberikan makanan. bahkan dia sudah akrab dengan arum. sejak saat itu mereka sering pulang bersama naik angkot.
hal di luar nalar pernah terjadi, dimana saat bola liar mengarah ke arum. dengan sigap dia menghentikan bola itu di udara, dan melempar masuk bola itu dari jarak 3/4 lapangan. itu adalah momen yang sangat gila, teriakan den tepuk tangan orang-orang saat itu membuat ku merinding.
lalu kulihat beberapa hari arum pulang sendirian, seperti nya arum sedang marah dengan Rafa. aku hendak mengajak arum untuk pulang bersama dengan motor ku. saat aku akan menemuinya di terminal, yang kulihat malah mereka sedang berpelukan. mereka jadi semakin dekat sampai arum mulai mengenakan topi Rafa ke sekolah setelah hari ulang tahun nya. tapi entah kenapa mereka tidak berpacaran
dengan sabar aku menunggu saat-saat dimana aku bisa mengantarnya pulang. momentum itu baru muncul saat akan ujian semester ganjil, sepertinya Rafa sedang sibuk. karena beberapa hari kulihat arum selalu pulang sendirian.
aku berhasil membujuknya untuk pulang bersama ku, kami mengobrol sepanjang perjalanan. dia sungguh orang yang menyenangkan. kupikir aku punya peluang untuk bersama dengan nya suatu saat nanti. selama beberapa hari kami pulang bersama, sampai satu ketika Rafa telah selesai dari kesibukannya. mereka kembali bersama, malah menjadi semakin dekat lagi.
tahun baruan arum mengajak ku dan beberapa teman sekelas lainnya untuk ikut acara bakar-bakar di rumahnya. ternyata Rafa dan teman-temannya juga datang. aku mencoba terus mendekati arum, tapi selama ada Rafa, aku bukanlah siapa siapa.
saat detik-detik terakhir tahun baru tiba. kulihat arum mengajak Rafa ke dalam rumahnya menuju rooftop. aku mulai mengikuti mereka dari belakang, mengikuti mereka adalah hal yang paling aku sesalkan. karena hatiku sangat hancur saat kulihat arum mencium Rafa. aku mulai putus asa dan ingin menyerah dengan perasaan ini.
jadi kupikir tahun baru ini aku juga akan membuka lembaran baru. sampai satu ketika tiba-tiba saja setelah malam tahun baru itu mereka tidak lagi saling bertemu dan bicara. entah apa yang sedang terjadi, tapi sepertinya Rafa coba mengakhiri hubungan mereka.
lalu aku terus berfikir, apakah ini adalah waktuku? atau aku hanya akan kembali dalam kekecewaan. tapi melihat arum begitu murung membuat ku tak tahan. jadi kupikir aku bisa mulai dengan mengantar nya pulang, selama beberapa hari aku terus menemuinya di jalan. tapi sangat sial buat ku, dia bahkan tidak satu kali pun menerima ajakan pulang bersama ku.
aku sangat kesal dan marah. apa yang Rafa lakukan hingga membuat arum seperti ini.
hari ini pelajaran olahraga, arum tidak ikut karena sedang tidak enak badan di UKS. kulihat Rafa masih melempar bola di lapangan saat pelajaran hampir usai. aku pun menghampirinya dan merebut bola yang sedang dia pegang.
"ayo kak kita duel" kata ku
"duel apaan vin? " tanya Rafa.
"iya duel. siapa yang bisa memasukkan 5 poin lebih dahulu dia yang menang" kata ku.
"boleh" kata Rafa.
aku mulai Menggocek nya dan memasukkan 1 poin.
lalu giliran dia yang akan coba memasukkan bola nya. aku sudah lama memperhatikan gaya bermain Rafa. dia sangat ahli dalam mencetak poin dari jarak jauh. tapi lemah dalam mendribble bola masuk ke area dalam. jadi aku hanya akan menutup jalur lemparan nya dan merebut bola dan membuat poin.
"lu udah putus dari arum kak? " tanya ku sambil menjaga pergerakan nya.
"bukan urusan lu" kata Rafa lalu membuat gerakan tipuan untuk membuka ruang untuk melempar langsung.
aku berhasil memblokir lemparannya dan membuat 1 poin lagi.
score 2-0 untuk keunggulan kevin.
"kalau menyangkut arum, itu jadi urusan gw juga kak" kataku dengan tatapan sinis.
Rafa kembali memungut bola dan memulai lagi.
"gw takut ga bisa memberikan apa yang arum inginkan, jadi gw memutuskan buat memberikan ruang untuk orang-orang seperti lu, supaya punya kesempatan buat dekat dengan arum" kata rafa sambil mendribble bola.
"maksud lu apa kak? gw ga paham?" kataku dengan agak emosi.
"gw rasa arum butuh orang yang lebih baik dari gw, yang bisa selalu memberikan yang dia mau. karena saat ini gw bukan yang terbaik buat dia" kata Rafa.
"jangan seenaknya sendiri!!!" kataku sambil mencoba merebut bola dari Rafa.
"apa lu udah tanya ke arum apa yang dia inginkan? apa lu udah nanya ke dia apa yang dia butuhkan saat ini?" kataku sambil terus mencoba merebut bola darinya.
sampai akhirnya Rafa mati langkah dan terjatuh, lalu bola berhasil di rebut dan langsung di masukan dengan mudah. orang-orang yang menonton saat itu memberikan tepuk tangannya untuk kevin.
skor 3-0 untuk keunggulan kevin.
"memangnya lu siapa kak? bisa seenaknya memutuskan apa yang baik dan tidak untuk nya."
"itu adalah perasaannya, biar kan dia yang memutuskan apa yang terbaik untuknya" kataku dengan penuh emosi.
"kalau gw menang, gw harap lu benar-benar menjauh dari arum. arum ga butuh orang egois Kaya lu. " lanjut ku.
"hahaha" tertawa Rafa yang masih terduduk.
"terimakasih nak"
"gw harap lu ga menyesal dengan yang lu katakan" kata Rafa sambil mengencangkan sepatunya
"mungkin gw bakal bikin lu ga punya kesempatan lagi buat bisa jadian sama arum." lanjut Rafa dan mulai berdiri.
setelah itu pertandingan menjadi tidak seimbang, Rafa seperti berada di level yang berbeda. sekalipun aku tidak bisa menghentikannya saat itu.
Skor akhir 5-3 dengan kemenangan Rafa.
penonton bertepuk tangan dan meneriakkan nama Rafa.
"RAFA RAFA RAFA!!! "
lalu kulihat dia segera pergi menuju ke UKS.
aku benar-benar cemburu dan benci melihat mereka bersama, tapi ternyata aku lebih benci melihat arum tidak bahagia.
SIAL