Meski bapaknya seorang hansip kelurahan yang nyambi kerja menjadi penjaga malam di sebuah komplek perumahan, Jono tidak pernah malu bergaul dengan anak-anak komplek yang bersebelahan dengan kampung tempat tinggalnya. Anak-anak komplek perumahan juga menerima Jono sebagai teman mereka. Apalagi ketika Jono yang jaga malam menggantikan bapaknya, anak-anak komplek selalu ngumpul di pos jaga dekat pintu gerbang masuk ke areal perumahan yang bernama Citra Regency.
Jono yang luwes bergaul serta rajin bila disuruh apa saja oleh orang-orang komplek perumahan, memang disukai hampir semua anak-anak di komplek itu, tidak terkecuali anak-anak cewek. Meski bergaul akrab dengan mereka, Jono biasa saja kecuali dengan Daniella, cewek blasteran Indonesia-Belanda yang baru pindah di Citra Regency, komplek perumahan yang terletak di sebelah perkampungan tempat tinggal Jono. Pemuda sederhana itu jatuh hati setengah mati kepada Daniella meski ia tak berani menyuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jono Viral
Cerita tentang Jono jadi anak angkat keluarga Van Dijk menjadi viral di kalangan anak-anak komplek perumahan Citra Regency. Teman-teman yang akrab dengan Jono atau yang sekadar tahu, jadi sering melintas di depan rumah Daniella. Apalagi taman dan danau buatan yang berada di seberang rumah keluarga Van Dijk, cukup menjadi alasan bagi mereka untuk melintas sambil mencari-cari keberadaan Jono di sekitar rumah mewah bergaya arsitektur mediteranian itu.
Lama-kelamaan membuat papi dan mami Daniella merasa terganggu juga, karena rutinitas mereka jika waktu senggang, duduk berdua di teras depan sambil minum teh dan melempar pandang ke seberang rumah memperhatikan suasana taman dan danau buatan yang membuat sejuk mata memandang. Namun, sejak berita Jono jadi anak angkat di rumah itu, membuat anak-anak komplek yang umumnya berteman atau yang sebatas mengenal Jono jadi sibuk berburu info yang lebih valid. Menyatroni rumah keluarga Daniella setiap sore hari. Bahkan ada yang nekad memanggil-manggul nama Jono dari luar pagar. Gile bener! Jono udah kayak penyanyi dangdut koplo yang lagi viral.
Ketika Daniella akhirnya tahu fenomena yang tidak biasa, banyak anak-anak komplek datang silih berganti menyambangi rumahnya hanya sekedar ingin tau kebenaran berita bahwa Jono telah jadi angkat dan tinggal di rumah mewah itu.
"Lo, lagi viral sekarang ya, Jon?" Daniella mengkonfirmasi pada Jono.
"Pilar, pilar apaan, sih?" Jono yang masih rada ngantuk pagi itu menjawab asal-asalan.
"Viral, kok pilar, sih?" Daniella menahan tawa.
"Gak tau, ah. Ngantuk!" balas pemuda itu tanpa mau ambil pusing.
Jono yang bermaksud berbalik dan masuk kembali ke kamarnya tertahan oleh tangan Daniella yang mencekal baju belakangnya.
"Eit! Eit! Jogging, nggak boleh tidur lagi, kasih tau Mami sama Papi, nih?" ancam Daniella.
"Ya, 'kan masih gelap?" Jono berdalih.
"Gelap apaan, lu pikir ini masih malam? Sudah lewat subuh, tau!" balas Daniella.
Jono akhirnya bablas juga masuk ke kamarnya ketika Daniella melepaskan cekakan tangannya di bahu Jono.
"Mamiii!" teriak Daniella memanggil maminya.
Tubuh Jono yang baru saja menyentuh kasur empuk yang disangga pegas nomor wahid, kembali mencelat dan berdiri tegak.
"Buset, dah!" Jono kembali melangkah keluar.
Pintu kamar yang masih terbuka dan Daniella masih berdiri di luar, tersenyum senang memandang Jono ketakutan seperti itu.
"Mau ke mana, lu?" tanya Daniella heran.
Wajah Jono tampak kesal. "Katanya mau jogging?"
Daniella tak bisa menahan ketawanya.
"Ganti dulu sarung, lu. Kayak penganten sunat tau, nggak?"
Eit! Jono melirik ke bawah. Oh, my gosh! Ternyata dia masih mengenakan sarung. Masih pagi buta begini. Untung aja dia pakai underwear. Coba kalau tidak. Bakal berabe dunia persilatan!
"Namanya juga orang baru bangun tidur?" Jono membela diri.
"Ya, nggak sarungan juga kali? Baju piyama untuk tidur 'kan ada?" sahut Daniella membantah Jono.
"Aku 'kan orang kampung bukan orang kota. Kalau di kampung tidur ya, sarungan!" Jono mempertahankan argumennya.
"Udah, males gue debat dengan, elo. Cepetan ganti pakaian. Mami sama Papi udah duluan, tuh!" tegas Daniella.
"Nggak heran, Om sama Tante, 'kan duta perjogingan di komplek sini," ujar Jono menyindir.
...****************...
Di jalanan komplek ketika mereka sudah berlari-lari kecil, Daniella kembali bertanya kenapa Jono bisa jadi viral di komplek perumahan Citra Regency.
"Gara-garanya apa, sih? Elo bisa jadi viral dan dicari-cari anak komplek?" Daniella membuka pertanyaan.
"Dicari-cari, kayak maling saja," Jono merasa keberatan dengan pemilihan kata yang diucapkan Daniella.
"Iya, iya. Didatengin, deh!" Daniella meralat kata-katanya.
Jono manyun. "Sama aja itu."
"Sama gimana?" Daniella heran.
"Dicari-cari, didatengin. Itu sana saja, kayak maling!"
"Jadi apa, dong?" Daniella menyerah.
"Ini semua gara-gara si kembar reseh, Kayla sama Kayli," ujar Jono yang berlari-lari kecil di samping Daniella.
"Ceritanya gimana, sih?" Daniella penasaran.
Jono lalu bercerita kalau beberapa hari yang lalu, ia membersihkan dan merapikan rumput di pinggir parit depan rumah. Ketika itu Kayla dan Kayla sedang jalan-jalan sore menuju taman. Kebetulan mereka melintas dari depan rumah Daniella dan melihat Jono sedang merumput.
"Malah mereka kira aku kerja jadi tukang kebun," Jono menerangkan.
Daniella tersenyum. "Terus Lo bilang apa?"
"Aku ya, berkata jujurlah. Bahwa jadi anak angkat yang punya rumah," sahut Jono.
"Terus?" kejar Daniella tambah penasaran.
"Mereka kaget dan teriak sampai Om sama Tante yang lagi duduk di beranda ikut-ikutan kaget."
"Emang mereka teriak apa?" Daniella tersenyum geli.
"Apa, anak angkaaat?!" Jono menirukan teriakan Kayla dan Kayli waktu itu.
Mekedakkah ketawa Daniella mendengar ucapan Jono dan mimik wajahnya yang berusaha menirukan Kayla dan Kayli. Mata Daniella sampai berair karena tertawa terpingkal-pingkal. Jono yang yang berhenti berlari. Ia mengatur napasnya yang mulai ngos-ngosan. Daniella juga ikut berhenti dan masih tertawa memandang Jono.
Tidak banyak berkelit seperti cerita yang banyak menguras emosi. Rupanya aku salah, aku pikir saat kali pertama membaca bab pertama menduga jika arah novel ini ke horor ✌️. Kupikir Jono menyukai gadis jejadian. Rupanya bergenre romansa yang dikemas senatural mungkin dengan bumbu komedi. Hanya saja, open ending. Menurut aku yang suka nulis open ending seperti ini memang paling pas agar pembaca bisa mengeksplor pikiran mereka masing-masing sesuai ending yang mereka inginkan.
Terimakasih sudah menyajikan kisah ini.
Sampai jumpa di novel selanjutnya.