Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu buta memanglah benar adanya. Seseorang yang telah di buatkan oleh cinta tidak hanya membuat kedua matanya tertutup untuk melihat mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, mata hatinya pun akan tertutup untuk membedakan mana cinta yang baik dan mana cinta yang menyesatkan.
Cinta seperti itulah yang dirasakan dirasakan oleh seorang wanita bernama Asmara Pradipta (31 tahun). Mata hatinya telah dibutakan oleh cintanya kepada seorang laki-laki bernama Edward yang merupakan seorang raja Vampir terkuat di rasnya.
Asmara sama sekali tidak menyadari bahwa laki-laki yang dicintainya itu akan membawa hidupnya dalam kesengsaraan yang abdi karena sebuah dendam masa lalu yang disebabkan oleh leluhurnya sendiri.
Seperti apa perjalanan Asmara dalam mengendalikan rasa cintanya kepada laki-laki bernama Edward? Akankah dia sadar bahwa Edward adalah raja Vampir yang sengaja mendekatinya hanya karena sebuah dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Yang Tidak Seimbang.
Edward segera melesat dengan kecepatan tinggi menuju rumah dimana dia tinggal setelah, mendengar kabar dari burung Gilbert bahwa Asmara Pradipta sedang berada dalam bahaya.
Hatinya nampak dipenuhi rasa khawatir, bola matanya yang memerah nampak mengeluarkan cahaya terang menunjukan bahwa raja yang baru saja dilengserkan itu sedang dalam keadaan murka.
Si kembar dan dua Vampir lainnya bahkan terlihat kewalahan dalam mengimbangi kecepatan Tuannya, begitu pun dengan burung Gilbert yang saat ini terbang di belakang mereka.
"Bertahanlah, Mara. Saya yakin kamu wanita kuat, tunggu saya." Gumam Edward di sela langkah kakinya.
Wuuus ....
Grep ....
Akhirnya, Edward mendarat dengan selamat tepat di atap rumah Mara dan segera turun dan hingga tepat di halaman dan di susul oleh ke empat Vampir lainnya juga burung Gilbert yang telah menjelma menjadi sosok manusia.
Sepi dan hening. Rumah Asmara Pradipta itu terlihat terang benderang tapi, tidak terdengar ada orang di dalamnya. Bahkan Edward tidak merasakan hawa manusia di sekitar sana.
Dia pun hendak melesat masuk ke dalam rumah namun, di tahan oleh si kembar.
"Tenang yang mulia, tenang. Saya takut Bruno sudah menyiapkan jebakan untuk kita di dalam sana." Axelo memperingati.
"Tapi, Mara pasti sedang dalam bahaya di dalam." Jawab Edward terlihat semakin emosi.
"Iya saya tau tapi, kalau kita salah langkah bukan hanya nyawa dia yang dalam bahaya, nyawa anda juga akan berada dalam bahaya, Tuanku.''
Edward seketika terdiam merasa geram. Dia menatap sekeliling menelaah keadaan.
"Sebaikanya anda tunggu di sini. Biar kami yang masuk ke dalam.'' Pinta Axela.
"Tidak, mana mungkin saya membahayakan nyawa kalian semua. Kalau ada yang harus masuk kita masuk bersama. Atau, saya saja yang masuk, saya tidak mau kalian dalam bahaya dan terluka nantinya."
"Ya sudah, kita masuk sama-sama saja."
Mereka pun mengangguk tanda setuju.
Perlahan, Edward dan yang lainnya pun mulai membuka pintu dan hendak masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam sana terasa mencekam dan juga tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Edward nampak mendengus'kan hidungnya, mencoba membaui aroma tubuh kekasihnya dan tidak dapat mencium aroma sang kekasih dimanapun di rumah ini. Akan tetapi, dia dapat mencium aroma Grace yang tergeletak di balik tembok.
"Grace ..." Gumamnya melesat menghampirinya dan segera diikuti oleh yang lainnya juga.
"Astaga Grace ... Grace ... Bangun ..." Edward mengguncangkan tubuhnya mencoba untuk membangunkan.
Akan tetapi, usahanya nampak sia-sia karena salah satu pengikut setianya itu sudah tidak lagi bernyawa kini.
"Grace, bangun ... Katakan apa yang terjadi dengan Mara? Kenapa dia tidak ada di sini, hah?" Teriak Edward histeris lalu memeluk tubuh Grace.
Tidak hanya Edward yang merasakan duka yang mendalam. Si kembar Axela dan Axelo, Lucia dan juga satu rekan lainya pun nampak menunjukkan kesedihan yang mendalam atas perginya salah satu rekan yang paling berharga bagi mereka.
"Apa yang akan kita lakukan yang mulia. Grace sudah tiada sekarang. Apa kita sanggup melawan Raja Bruno dengan hanya berempat saja?"
"Apa lagi, aku akan datangi tempat mereka sekarang juga. Akan aku bumi hanguskan mereka semua.'' Jawab Edward dengan suara yang berapi-api.
"Sekarang juga?''
"Kenapa? Kalian takut?"
"Tidak yang mulia, bukan seperti itu. Hanya saja, sepertinya kita harus menyusun rencana yang matang agar kita tidak hanya mengantarkan nyawa kita ke sana tapi juga bisa menyelamatkan nyawa Nona Asmara Pradipta."
"Kalau kita menunggu terlalu lama, dia keburu mati di tangan mereka dan saya tidak mau kalau sampai wanita yang saya cintai itu mati." Tegas Edward penuh penekanan.
"Tenang yang mulia, apa yang mulia lupa kalau Nona Asmara memakai liontin pelindung?"
Edward pun seketika merasa lega. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat hatinya merasa tenang kini.
"Saya yakin, Nona Asmara pasti akan baik-baik saja sekarang. Karena dia memakai Liontin itu maka, tidak ada Vampir yang akan berani mendekati ataupun melukai dia.''
"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Apa kita hanya diam di sini dan menunggu Mara mati?"
Semua yang ada di sana pun terdiam menundukkan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa lagi karena mereka sadar, sebesar apapun kekuatan yang mereka miliki tidak akan bisa menandingi kekuatan raja Bruno dan para anak buahnya.
Keheningan pun seketika tercipta. Burung Gilbert yang sedari hanya menyimak pembicara mereka pun hanya bisa mengusap wajahnya kasar, pengelihatannya memperlihatkan sesuatu yang menakutkan akan terjadi di depan, dan perang saudara yang tidak seimbang pun menanti di depan mata kini.
"Gilbert, menurut kamu. Kita harus bagaimana? Kamu 'kan pandai dalam menelaah keadaan dan menerawang masa depan."
Tanya Edward seketika membuyarkan lamunannya.
"Anda nanya sama saya, Tuanku?'' Tanya Gilbert pura-pura tidak mengerti.
"Tentu saja, sama siapa lagi?"
"Hmm ... Saya tidak tahu harus berkata apa?"
"Maksud kamu?" Edward mengerutkan kening.
"Kalau boleh saya jujur. Kekuatan yang kita miliki tidak sebanding dengan kekuatan yang mereka miliki, sekeras apapun kita berusaha kita akan tetap kalah. Maaf, bukan maksud saya membuat kalian terpuruk tapi, memang seperti itulah yang saya lihat." Dengan penuh penyesalan Gilbert terpaksa mengatakan hal itu.
"Apa maksud kamu? Apa kita tidak ada cara sama sekali untuk menyelamatkan Nona Asmara?" Tanya Lucia yang juga mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti.
"Sebenarnya, mereka menggunakan Nona Asmara untuk memancing yang mulia Edward, karena target sebenarnya adalah dia. Nona Asmara hanya dijadikan umpan meskipun akan di bunuh juga pada akhirnya."
Semua yang ada di sana nampak menatap wajah Edward dengan perasaan khawatir, jujur saja apa yang baru saja dikatakan oleh Gilbert benar-benar memukul mental semua yang ada di sana.
"Yang mulia." Gumam Axelo menatap iba wajah junjungannya.
"Kalau begitu, biar saya saja yang pergi ke sana.'' Ucap Edward akhirnya.
"Tidak yang mulia. Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Saya tidak mau membahayakan nyawa kalian semua. Sudah cukup Grace yang menjadi korban, jangan sampai ada korban lagi. Jika saya sampai mati di tangan mereka, maka kalian harus jadi pengikut Bruno dan menganggap dia sebagai raja yang sah menggantikan saya.'' Tegas Edward merasa tidak yakin kalau dirinya akan benar-benar selamat.
"Yang mulia ..."
"Sudahlah, saya akan pergi ke sana sekarang juga."
"Aku ikut." Ucap Axelo secara tiba-tiba.
"Kalau kakak ikut maka aku juga ikut," Axela pun memajukan langkahnya.
Sementara dua Vampir lainnya menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya kasar. Mereka pun saling menatap satu sama lain lalu menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Kami juga ikut, mau kalah atau menang kita harus bertarung bersama. Toh kami sudah hidup terlalu lama. Sudah saatnya kami menunjukkan abdi kami kepada anda yang mulia.'' Ucap Lucia tegas dan penuh percaya diri.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️