Pernikahan yang terjadi antara Genio Alfiano dan Egidia Clarissa, membuat keduanya terikat secara sah namun tak pernah sepenuhnya menjalani peran sebagai suami dan istri. Mereka justru membuat kesepakatan untuk tidak membicarakan masalah cinta dalam kehidupan rumah tangga yang dijalani.
Sebenarnya, Egidia menyimpan sebuah perasaan yang telah bersemi dan tumbuh indah di lubuk sanubari terhadap lelaki yang dijodohkan dengan dirinya. Sementara itu, Genio yang kini menjadi imam hidupnya, justru masih setia memelihara cinta pada sosok lain yang selalu menjadi pusat perhatiannya.
Sebuah badai ujian datang memorak-porandakan impian Egidia untuk tetap bertahan dalam pernikahannya. Vonis dari dokter yang sangat mengejutkan, membuat wanita itu berani berbuat nekat demi mempertahankan harga dirinya.
Akankah ikatan sakral yang telah mengikat keduanya berakhir bahagia? Ataukah selamanya akan tetap menjadi mahligai cinta yang hampa hingga embusan napas yang terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisha Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. HARUS JUJUR
Kematian! Itulah yang pertama kali melintas di pikiranku saat dokter menyampaikan vonis atas penyakitku. Untuk sejenak aku merasa kehilangan harapan dan semangat untuk melakukan apa-apa. Aku hanya ingin menangis sejadi-jadinya, lalu pulang dan bercerita pada suamiku. Meskipun aku tidak yakin, dia akan bersikap seperti yang kuharapkan dan bisa menjadi kekuatan dan tempatku bersandar untuk mengurangi segala beban di hati.
***
“Ada sel kanker yang berkembang di bagian otak Ibu dan kondisinya sudah sampai pada stadium lanjut.”
Dokter Kai yang sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu saja, masih merasa berat untuk menyampaikan dengan hati yang turut bersedih, apalagi Egidia yang mendengarkan dan mendapatkan vonis tersebut.
Untuk sesaat dia terpaku tanpa ekspresi sama sekali. Wajahnya masih tegak lurus menghadap sang dokter yang tak lepas memperhatikan dan mengkhawatirkan dirinya, tapi tatapan wanita itu kosong dan menerawang entah ke mana.
Kasihan sekali dia! Seharusnya ada suami atau keluarganya yang ikut menemani, sehingga bisa menjadi kekuatan dan tempat bersandar di saat-saat sulit dan terberat seperti ini.
Beberapa detik kemudian, Egidia mengerjap lalu air matanya tumpah. Mengalir membasahi wajah cantik yang kian pucat dan semakin tirus. Sekuat apa pun dirinya ingin terlihat kuat dan tidak menangis, nyatanya dia tidak sanggup untuk berpura-pura.
Tak peduli tatapan terenyuh dari Dokter Kai dan perawat, dia terus menangis untuk meredakan sesak yang mengimpit dada hingga dirinya kesulitan untuk bernapas. Sang perawat mengambilkan air mineral dalam gelas kemasan yang sudah diberi sedotan, lalu memberikannya pada Egidia.
Dengan isyarat kepala yang mengangguk sebagai tanda terima kasih, wanita bernasib malang itu menerima dan meneguk habis tanpa sisa. Kembali perawat yang sama membantu membuang kemasan kosongnya ke keranjang sampah, lalu mendekatkan kota tisu yang ada di atas meja.
Dokter Kai meluruskan posisi badan dengan bersandar pada kursi putarnya. Kedua tangan dilipat di depan dada dengan tatapan iba yang tak lepas dari sang pasien. Sepanjang praktiknya yang sudah berizin lebih dari tiga tahun tersebut, baru kali ini dia mendapati pasien dengan kasus berat datang seorang diri tanpa sekali pun didampingi oleh pihak keluarga.
Sesibuk apa suaminya sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk istrinya sendiri?
Sejak Mutia menceritakan padanya bahwa mereka adalah pasangan pengantin baru yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga, Dokter Kai menaruh empati pada wanita yang usianya jauh lebih muda darinya itu.
Setelah beberapa menit berlalu, sedu-sedan tangisan Egidia mulai mereda. Wanita anggun itu membersihkan wajahnya lalu, mengatur napas sebaik mungkin untuk kembali memfokuskan pikiran pada penyakit yang diderita.
“Apakah itu artinya sudah tidak ada harapan bagi saya untuk sembuh, Dok?”
Egidia tidak mau berandai-andai dan berharap tanpa kepastian. Lebih baik mengetahui semua di awal dan mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan ke depan.
“Harapan itu selalu ada!” yakin sang dokter untuk menyugesti pikiran dan perasaan pasiennya.
“Kami selaku tim medis tidak akan pernah berhenti berusaha untuk membantu semampu kami, supaya pasien bisa mendapatkan pengobatan dan perawatan terbaik yang masih bisa dilakukan dan diupayakan!”
Kemudian, pelan-pelan dokter rupawan berkacamata itu mulai menjelaskan tentang seluk-beluk penyakit yang diderita Egidia dan menyampaikan rangkaian pengobatan yang akan dilakukan sebagai upaya mereka dalam berikhtiar demi kesembuhan, apa pun hasil terakhir dari Sang Ilahi.
Egidia hanya terdiam dan menyimak dengan saksama. Tak ingin melewatkan sedikit pun satu per satu kalimat yang diucapkan oleh sang dokter. Dia bertekad untuk sembuh atau setidaknya bisa tertahan hidup lebih lama lagi.
Dia tidak ingin menyerah kalah dan pasrah begitu saja. Selama tim medis masih bisa berupaya, maka selama itu pula dia akan berjuang hingga mencapai garis finis.
“Saya akan melakukan semuanya, Dok!”
“Tolong, bantu saya untuk mengatur jadwal pengobatan supaya bisa lekas dimulai dan dilakukan sesegera mungkin!”
Sekecil apa pun harapan yang masih bisa digenggam, Egidia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Meskipun mulai dibayang-bayangi kegagalan dan kematian, wanita berhijab sahaja itu tetap bertekad untuk melanjutkan ikhtiar.
Dokter Kai salut dengan kepercayaan diri yang masih dimiliki sang pasien. Walaupun tampak terpuruk, Egidia kembali bangkit dan meneguhkan niat untuk terus berobat.
“Kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga untuk melanjutkan pengobatan terhadap Ibu!”
“Ma-Maksud Dokter, suami saya?”
Mau tak mau sang dokter mengangguk dan membenarkan. Sebenarnya, tim medis masih bisa bergerak dan melakukan tugas sepanjang pasien menyetujui dan telah menandatangani berkas administrasi yang harus dipenuhi.
Namun, dia tetap mengutamakan kerja sama pasiennya dengan pihak keluarga, terutama dalam hal ini adalah suami Egidia. Dokter yang masih terbilang muda secara profesi itu, selalu mengutamakan kondisi psikis pasiennya yang membutuhkan banyak dukungan yang pada tingkatan tertingginya adalah dari keluarganya sendiri.
Pertemuan pagi itu akhirnya ditutup dengan pemberian resep untuk mengatasi keluhan harian Egidia, sambil menunggu sang pasien berdiskusi dengan keluarganya sebelum menandatangani berkas persetujuan untuk melakukan tindakan medis selanjutnya.
Dokter Kaivan melepas kepergian pasien pertamanya hari itu dengan rangkaian doa tulus dalam hati.
Semoga Tuhan memberimu kekuatan dan keyakinan untuk bertahan dalam menghadapi ujian sakit ini!
***
Egidia kembali menumpahkan tangisan di musala rumah sakit. Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, sementara tidak ada satu pun yang menemani dan melipur lara hatinya.
Apakah aku akan segera mati? Apakah sesingkat ini hidupku dalam garis takdir yang telah Dia tetapkan?
Wanita itu terus menangis tersedu-sedu di ruangan suci dan tenang tersebut. Dia ingin melepaskan segala beban di hati, sebelum pulang dan harus menceritakan semuanya pada sang suami.
Aku harus jujur kepada Mas Gen! Apa pun reaksinya, itu urusan nanti. Aku tidak ingin dianggap salah jika menyembunyikan hasil ini dari dirinya. Dia harus tahu!
Usai menuntaskan kesedihan atas vonis penyakitnya, Egidia merapikan penampilan termasuk mengulang riasan tipis di wajahnya untuk menyamarkan wajah sendunya. Kemudian dia keluar untuk mengambil obat yang sebelumnya sudah diantrekan resepnya di bagian farmasi.
Setelah membayar dan menerima kantong obat dengan isi yang lebih banyak dari sebelumnya, wanita yang mulai merasakan nyeri di kepalanya itu turun ke lantai bawah untuk menunggu taksi pesanannya.
Tidak perlu menunggu lama, sebuah mobil sedan dengan nomor polisi yang sesuai dengan yang tercantum dalam aplikasi di ponsel Egidia sudah menjemput di lobi. Dia segera naik dan duduk di bagian belakang.
Di tengah perjalanan yang melewati beberapa titik keramaian di ruas jalan raya yang padat perkantoran, perhatian Egidia tertuju ke arah luar saat mobil berhenti sejenak di sebuah persimpangan yang lampu lalu-lintasnya tengah menyala merah.
Bermaksud untuk menghibur diri dengan memperhatikan suasana yang lain, hatinya justru semakin terasa sakit dan lebih lemah saat melihat pemandangan yang mengejutkan sekaligus menyakitkan.
Good byeeeee GENIO😡😡😡
meski harus seorang diri menjalani masa2 sulit ini
bukan nya perperan selayak nya suami,tapi ini malah sibuk menghabiskan waktu bersama wanita lain😔