Patah hati akibat penghianatan yang dilakukan oleh tunangan yang telah tiga tahun menjalin hubungan dengannya, mempertemukan Aurora dengan Alwi Yudhistira, seorang musisi yang sedang viral dan tenar serta menjadi idola karena ketampanan dan kepiawaiannya dalam bersenandung dan memainkan alat music.
Pertemuan pertama itu langsung menumbuhkan benih-benih cinta dihati Alwi terhadap Aurora, gadis yang memiliki kebiasaan bersenandung setiap kali merasa galau dan stress untuk menenangkan diri dan membuatnya rileks.
Namun tanpa Alwi ketahui, ternyata Aurora memiliki masa lalu yang pahit dengan keluarganya, yang berhubungan dengan musisi maupun music.
Masa lalu apakah yang dimiliki Aurora, yang bisa menjadi rintangan bagi cintanya dengan Alwi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23- Berusaha Melupakanmu
Dengan nada suara datar, Divia menegaskan pada putrinya yang masih berdiri mematung membelakanginya. Dua bulir cairan bening lolos dari sepasang pelupuk mata Aurora, dan mengalir membasahi pipinya yang mulus, saat dia mendengar keputusan Mamanya.
Sejak awal dia sudah menduga kalau Mamanya pasti akan bersikap seperti ini, begitu mengetahui semuanya. Karena itulah dia memutuskan untuk backstreet.
Aurora menyeka air mata yang mengalir diwajahnya dengan kedua telapak tangannya, sebelum dia berbalik badan menatap Mamanya dengan mata berkaca-kaca.
"Mama tenang saja. Apapun yang membuat Mama bahagia, pasti akan aku lakukan. Sekalipun itu tidak membuatku bahagia. Aku pernah mencoba untuk melupakan Alwi. Tapi ternyata aku tidak bisa. Karena aku sudah terlanjur mencintainya. Kami pikir, kami bisa berjuang bersama-sama untuk mendapatkan restu dari Mama. Aku pikir cepat atau lambat, Mama bisa luluh demi kebahagiaanku.
Ternyata aku salah. Ternyata mengenang masa lalu jauh lebih penting bagi Mama, dibandingkan dengan kebahagiaanku. Tapi tidak apa-apa. Aku akan berusaha sekali lagi untuk melupakan dia, demi Mama. Meskipun, aku sangat berharap supaya Mama bisa berhenti menengok kebelakang, dan menatap masa depan.
Aku sangat berharap agar Mama bisa memaafkan Papa, dan berdamai dengannya demi aku. Dan Mama bisa menyadari bahwa tidak semua orang, terutama musisi akan sama seperti Papa, yang akan menghianati pasangannya. Semua orang memiliki hidup, sifat dan takdir yang berbeda. Mau sampai kapan, Mama terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu?" Tutur Aurora sendu dengan air mata yang kembali menitik.
Puas mengungkapkan uneg-uneg yang ada dihatinya, dia berbalik kembali dan melanjutkan langkah lebarnya, menuju tangga yang akan membawanya kelantai dua dimana kamarnya berada.
Meninggalkan Divia yang berdiri mematung menatapnya. Ucapan Aurora membekas dihatinya. Membuatnya serasa tertampar.
Benarkah selama ini dia sudah bersikap terlalu egois dan otoriter terhadap putrinya sendiri? Benarkah dia sudah membuat Aurora terkekang, hanya karena dia tidak bisa melupakan masa lalunya yang sudah terjadi sepuluh tahun silam?
🦋 🦋 🦋 🦋 🦋
Insiden malam itu membuat hubungan Alwi dan Aurora kembali bermasalah. Mereka harus kembali menjaga jarak dan saling menjauh. Aurora tidak menghubungi ataupun membalas pesan Alwi. Tampaknya gadis itu tidak bisa membantah perkataan Mamanya.
Alwi dilanda perasaan bimbang. Haruskah dia juga bersikap seperti itu? Membiasakan diri untuk jauh dari wanita tercintanya? Jujur dia juga tidak ingin jika karena dirinya, hubungan Aurora dengan orang tuanya sampai merenggang.
Karena dia tau betapa gadis itu sangat menyayangi Mamanya. Dan betapa Tante Divia sangat anti terhadap profesinya yang seorang musisi. Ditambah lagi dirinya masih memiliki hubungan relasi dengan mantan suaminya.
Tapi, sanggupkah dia untuk melupakan Aurora? Arrgghhh! Kenapa cinta ini begitu sulit?! Saat cintanya sedang berbunga-bunga, kenapa harus profesinya sendiri yang menjadi penghalangnya?!
Selama seminggu ini, Alwi berusaha keras untuk mengalihkan pikirannya dari Aurora. Biasanya kalau dia sedang tidak ada jadwal manggung, dia akan pergi jalan-jalan bersama Aurora ketempat-tempat wisata yang ada diluar kota.
Tapi sekarang, dia rasa momen seperti itu tidak akan terjadi lagi pada mereka, selama hati Tante Divia masih keras dan belum bisa dilunakkan. Dan dia harus membiasakan diri dengan situasi seperti ini.
Dan untuk itu dia selalu menghabiskan waktunya diclub malam, setiap kali dirinya sedang tidak ada job. Dengan menenggak minuman champagne bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari Aurora. Meskipun tidak sepenuhnya, karena melupakan wanita itu bukanlah hal yang mudah.
Namun dia tidak ingin sampai kehilangan semuanya, karena perasaannya yang terus terbelenggu pada wanita yang sama. Dia merasa sudah kehilangan Aurora, cinta pertamanya.
Dan dia tidak ingin sampai harus kehilangan karirnya juga. Karena bagaimanapun juga, semua ini adalah impiannya bersama mendiang ayahnya yang sudah sudah payah dia raih.
Jadi dia tidak boleh sampai mengecewakan ayahnya yang sudah tenang dialam sana, hanya karena seorang wanita yang belum tentu akan berakhir sebagai pasangannya, karena duri yang menghalangi mereka untuk bersatu terlalu besar.
Dan karena itulah, Alwi tetap berusaha untuk fokus dan konsentrasi pada karirnya yang sudah jelas-jelas berada dalam genggamannya. Bernyanyi dan menghibur para fans fanatiknya dengan performance yang memuaskan. Biarlah waktu yang akan menjawab kelanjutan hubungannya bersama Aurora.
🦋 🦋 🦋 🦋 🦋
Ponsel Aurora berdering. Dia mengambil benda pipih diatas nakas dan melihat layarnya. Ternyata Papanya yang menghubunginya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan lelaki itu.
Selama dua bulan ini dia dengar Papanya keluar negeri bersama istrinya, karena keperluan bisnis. Karena itulah dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alwi, sebelum kepergok oleh Mamanya yang kini menghancurkan segalanya.
Aurora meletakkan ponsel didaun telinganya. "Iya Pa?"
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Arifin diseberang sana dengan suara lembut.
"Iya Pa, aku baik-baik saja kok" Jawab Aurora hambar.
Sebenarnya apa yang dia katakan tidak sepenuhnya benar. Karena sejak malam itu, dirinya tidak sepenuhnya dalam keadaan baik-baik saja. Perasaan rindu terhadap Alwi senantiasa menghantamnya setiap detik. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk pria itu dengan erat. Menyalurkan segala kerinduan yang membuncah didadanya.
Namun dia harus berusaha keras untuk menahan diri. Karena dia sudah terlanjur berjanji pada Mamanya, akan meninggalkan lelaki itu.
"Kok suaramu terdengar sedih begitu? Beda dari biasanya?" Arifin meragukan jawaban yang diberikan oleh putrinya.
"Mungkin karena aku sedang kurang enak badan saja Pa" Kilah Aurora.
"Kamu sakit? Kamu sakit apa sayang?" Suara Arifin terdengar khawatir setelah mendengar ucapan Aurora.
"Tidak kok Pa, aku hanya kurang enak badan saja. Oh ya, ada apa Papa telpon?" Aurora mengalihkan pembicaraan, karena enggan terus dicecar dengan jawaban yang hanya akan mengingatkannya pada Alwi.
"Ya apalagi, kalau bukan karena Papa sangat merindukan putri kesayangan Papa. Sekarang Papa sudah kembali dari luar negeri. Kita bertemu yuk. Kan sudah lama kita tidak ketemu. Memangnya kamu tidak merindukan Papa?"
"Tentu saja aku juga sangat merindukan Papa. Ya sudah, kita ketemu direstoran biasa saja ya?"
"Oke sayang, Papa akan segera kesana sekarang. Sampai ketemu" Suara Arifin terdengar ceria.
Percakapan mereka melalui panggilan suara pun berakhir, setelah keduanya sepakat untuk bertemu. Aurora kembali meletakkan ponselnya diatas nakas. Lalu dia beranjak dari ranjangnya yang empuk menuju lemari pakaian. Dia mengenakan kemeja berwarna hijau kiwi, dipadukan dengan denim skirt. Serta sepatu sneakers.
Aurora menuruni tangga dengan luwes. Sesampainya dilantai bawah, dia berpapasan dengan Mamanya.
"Aurora, kamu mau kemana?" Tanya Divia heran saat melihat putrinya yang sudah bersiap-siap untuk keluar, dengan tas selempang yang disampirkan dipundaknya.
"Aku hanya ingin keluar untuk menemui Papa sebentar. Kalau Mama tidak percaya, Mama boleh ikut" Jawab Aurora dingin sebelum berlalu dari hadapan perempuan itu.