Bolak balik jatuh cinta pada seorang wanita dewasa, sudah menjadi hal biasa bagi Reno Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fithria sulaeman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Copet gak punya nyali.
Matahari sudah muncul sejak tadi. Dengan perut yang sudah terisi nutrisi, aku berpamitan pulang kepada Mama Rio.
Ya, semalam aku menginap di rumah Rio. Mau izin pulang, ternyata Mama Rio tak mengizinkan. Minta izin saja buat menginap. Hubungi orang rumah." Begitu kayanya berucap. Eh, terdengar seperti menyuruh sih. Dan aku melakukan apa yang mama Rio suruh.
Ku kabari si Mbok. Memberitahu, jika malam ini, aku menginap di rumah Rio.
"Kasih tau Mama ya, mbok. Aku nginep rumah Rio."
Setelah si mbok mengatakan ya. Aku langsung mematikan sambungan telepon. Dan sekarang, saat matahari sudah menyapa, aku akan kembali pulang ke rumah sendiri. Rumah yang selalu terasa sunyi.
"Hati hati ya?" pesan mama Rio saat aku sudah berada di depan rumah Rio. Dengan motor yang sudah kunaiki.
"Jangan lupa, bro! Nanti, eh besok maksudnya, jemput gua lagi ya? Lagi males bawa motor," ujar Rio setengah berteriak.
Gak usah teriak juga kali. Orang aku masih Deket dengannya. Bisa kudengar, walau ia bicara sambil berbisik.
"Ogah!" balasku sambil melajukan motor. Membawanya melewati jalan. Tentunya, setelah aku berpamitan pada mama Rio.
Melewati jalanan, tak ada yang aneh dengan suasananya. Pohon pohon beringin, kulalui. Pohon mangga di persimpangan jalan, yang dulu sering ku ambil buahnya bersama dengan Rio, kini sudah tinggal namanya.
Tak ada yang aneh
Motor pun terasa biasa saja. Hingga, tiba tiba saja netraku menangkap sesuatu yang membuatku harus berhenti saat ini juga.
"Rena," ucapku sambil menghentikan motor.
Ku lihat wanita itu tengah melakukan aksi tarik menarik tas, dengan seorang pria.
"Lepasin!" teriak Rena.
Tak mau hanya jadi penonton saja. Aku turun dari motor. Berlari menghampiri Rena dan lelaki yang berusaha merebut tas Rena.
Lelaki itu memakai masker. Hingga, aku tak bisa melihat bagaimana rupanya.
"Woy! Lepasin, woy!" teriakku kencang, seiring dengan langkahku yang kian dekat dengan mereka.
Rena menoleh. Lelaki dengan masker di wajahnya itu pun sama. Keduanya sama sama menoleh ke arahku. Hingga, tanpa aba aba, ku tendang tubuh lelaki bermasker itu dengan sekuat tenaga. Membuat tubuhnya langsung terjungkal ke belakang.
Mata Rena membulat seketika. Lalu, dengan gerakan cepat, ia memeluk tasnya dan menjauh dari lelaki yang saat ini berusaha untuk bangun dan berdiri. Namun, baru juga ia hendak berdiri. Aku kembali menendangnya, hingga ia terjatuh ke tahan untuk kedua kalinya.
"Beraninya sama cewek! Sini lo, lawan gua kalau bisa. Itu pun, kalau elo punya nyali!" ujarku dengan suara menantang. Kupasang wajah garang, menunjukkan padanya, kalau ucapanku tak main main.
Lelaki itu. Ah, aku tak mau memanggilnya dengan sebutan lelaki. Lelaki kok beraninya sama cewek! Pakai rok aja sekalian.
Copet itu berdiri. Kali ini, kubiarkan dia membenarkan posisinya.
Rena sudah menjauh. Berada dekat dengan motorku. Menjadi penonton, setelah tadi aku menonton dirinya tarik tarikan tas dengan si pencopet.
"Maju lu!" tantangku dengan tangan yang kuangkat ke depan. Menyuruhnya untuk maju dan mendekat, melawanku. Itu pun, kalau dia bisa.
Dengan posisi siap berkelahi, aku sudah bersiap memasang kuda kuda.
Walau aku tak pernah ikut latihan bela diri. Setidaknya aku punya nyali. Lagi pula, aku sudah pasang kuda kuda. Tinggal kuda aslinya aja kubawa.
Eh.
Ku tarik napas perlahan. Copet itu sudah siap. Siap untuk kuhajar.
Dia mendekat. Ku ambil ancang-ancang bersiap. Dan kukira, dia akan melawanku. Nyatanya, dia lari ke belakang tubuhku, secepat kilat. Di mana, di sana baru saja datang sebuah motor dengan satu orang yang mengendarainya.
Sama sama memakai masker. Ia lalu naik ke atas motor tersebut, tanpa bisa ku cegah.
"Si-al!" gerutuku kesal. Ku kira, aku akan beradu jotos dengan copet itu. Ternyata, nyalinya cuma sama cewek aja. Dia-- copet itu, sudah kabur dengan temannya tanpa mendapatkan apa apa.
Gak ada harga dirinya.
"Kamu gak apa apa?"
Pertanyaan konyol, keluar dari mulut Rena. Aku tau dia khawatir. Tapi, kepanikan membuatnya sedikit iin. Ups!
"Pada sakit semua nih badan. Ini, ini sama ini." Aku menunjuk bagian bagian tubuhku.
Entah karena kewarasannya datang, atau karena merasa di permainkan olehku, Rena langsung memukulku dengan tas yang tadi jadi bahan rebutannya dan copet itu.
"Aduh, aduh!" Aku mengaduh. Beberapa kali Rena memukulku dengan gemas. Segemas ekspresi wajahnya saat ini. Loh!
"Orang gak berantem juga," katanya sambil merengut. Gemas aku jadinya.
"Nah. Itu tau. Jadi, kenapa musti tanya lagi. Orang gak berantem juga. Tau sendiri, copetnya lari sebelum berkelahi. Nyali ban*ci emang!" balasku sambil menatap ke arahnya.
Dia menggigit bibir. Seperti ingin berkata sesuatu. Namun, seperti enggan mengatakan.
"Emh, makasih ya?" ucapnya sedikit terdengar pelan.
"Buat apa?" tanyaku sok tak tahu.
"Makasih. Udah dua kali kamu nolong aku. Aku gak tau, gimana nasib aku, kalau tas aku ini di ambil copet tadi," katanya sambil menunduk.
"Hem. Santai aja kali. Lain kali, kalau jalan itu hati hati. Ini jalanan sepi," balasku dengan tenang.
Beberapa detik kami berada dalam keheningan. Sunyi sepi, seperti hati ini yang belum juga dapat pengganti, selepas putus dari Sonya. Hingga tiba tiba aja, aku penasaran akan sesuatu.
"Kamu, naik apa? Aku gak lihat ada motor atau mobil di sini," ucapku bertanya. Mata ini celingukan ke kiri dan kanan. Mencari sebuah kendaraan yang di pakai oleh Rena. Namun, tak ada.
"Aku jalan kaki. Tadi, aku naik ojek. Eh, bensinnya abis. Jadi, kusuruh dia duluan buat beli bensin. Nyatanya, aku malah di datengin sama copet," balasnya bercerita, awal mula ia di copet.
Eh, maksudnya hampir aja di copet. Kalau saja aku tak datang.
Entah nasib atau takdir, telah mempertemukan lagi aku dengannya.
"Ya udah. Aku anterin," kataku menawarinya tumpangan. Ah, lebih tepatnya, aku bukan menawari. Tapi, memaksanya untuk ku antar.
Rena tak menolak. Walau wajahnya menunjukkan rasa tak enak. Dia tetap naik motorku juga.
"Udah?" tanyaku. Padahal, tak perlu kutanya juga, bisa kurasakan, ia sudah naik ke atas motorku.
"Udah."
"Pegangan. Takut jatuh!" suruhku pada Rena.
"Iya." Lagi lagi Rena menjawab singkat. Tak ada bantahan atau apa darinya.
Kulirik kaca spion, tangannya memegang ke belakang, bukan padaku, atau jaket yang aku kenakan. Ah, si-al! Ngarep apa aku?
Motor pun kulajukan dengan kecepatan sedang. Membawa Rena dari jalanan sepi nan sunyi, ke jalan yang ramai. Di mana, di jalan ini berlalu lalang kendaraan. Tidak seperti tadi. Lalu, tak lama mataku menangkap sosok yang tadi lari, saat aku mengajaknya berkelahi secara jantan.