Anna adalah gadis yang kasar dan penuh dengan amarah. Namun dibalik sikapnya tersebut, tersimpan rasa sakit yang tidak diketahui oleh semua orang.
Bayu ditugaskan atasannya yang merupakan Ayah Anna untuk mengubah sikap Anna menjadi lebih baik.
Anna yang sejak awal menaruh curiga terhadap Bayu pun berusaha menemukan cara agar ia dipecat oleh sang ayah. Tanpa Anna sadari, ia telah masuk ke perangkap yang dibuat oleh Bayu. Anna menjadi pelayan di hotel ayahnya sendiri.
Apakah dia akan menyadarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Chef Ina kini berakhir satu mobil dengan Bayu. Bayu memberi tumpangan, karena memang tujuannya searah. Di dalam mobil, Chef Ina tak henti-hentinya tersenyum. Rasanya seperti mimpi, berada di mobil yang sama dengan Bayu.
“Kau mau ke mana Chef Ina di daerah itu?” tanya Bayu yang langsung memecah keheningan.
“Emm .... saya mau ke perumahan xxx, Pak.” jawabnya Chef Ina.
“Oh ya, kebetulan sekali. Aku juga mau ke sana.” Bayu menatap Chef Ina tak percaya.
“Benarkah? Anda ada urusan apa di sana?” tanya Chef Ina.
“Oh itu, temanku baru pulang dari luar negeri. Dia memintaku datang. Sebenarnya aku tidak enak meninggalkan hotel saat semua sedang sibuk. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau tidak dituruti, dia yang akan datang ke hotel. Dan kalau ada dia, pasti jadi rusuh.” ujar Bayu menjelaskan, namun tetap fokus menyetir. Sesekali dia menoleh ke samping, untuk beradu pandang dengan Chef Ina.
Sementara Chef Ina, hanya diam mendengarkan. “Kamu sendiri ada keperluan apa di sana?” tanya Bayu lagi.
“Rumah saya di daerah sana. Saya hanya perlu mengambil beberapa pakaian, sepertinya malam ini saya tidak pulang, Pak.” jawab Chef Ina sambil tersenyum.
“Jadi rumahmu di sana,” ujar Bayu sambil menatap Chef Ina yang hanya tersenyum. “Ngomong-ngomong ..... bisa tidak, jangan memanggilku, Pak.” pintanya.
Chef Ina kini nampak bingung, “Bukankah saya selalu memanggil Anda, Pak. Memang ada yang salah ya ?”
“Tidak salah, kalau sedang di hotel. Di sini ‘kan hanya ada kita berdua, rasanya terlalu aneh. Lagi pula, ini di luar pekerjaan. Jadi tidak perlu terlalu formal, kamu bisa langsung memanggil namaku.” ujar Bayu sambil tersenyum.
“Tapi, Pak ..... ” Chef Ina nampak tidak enak.
“Jujur, aku tidak suka jika di panggil Pak, Pak. Wajahku apa setua itu, aku rasa belum keriput.” Bayu memasang wajah kesalnya, sementara Chef Ina hanya bisa menahan tawanya mendengar penuturan Bayu.
Tiba-tiba Bayu mendekatkan wajahnya pada Chef Ina, tapi arah pandangannya tetap fokus ke depan. Chef Ina dibuat terkejut karenanya, matanya juga terbelalak.
“Coba perhatikan baik-baik wajahku. Apa aku setua itu?” tanya Bayu. Chef Ina memegangi dadanya. Jantungnya berdegup kencang melihat wajah Bayu sedekat itu. Dia bahkan sampai menahan napasnya sendiri.
Ya Tuhan ...... jantungku.
“Bagaimana? Apa aku setua itu?” tanya Bayu lagi, kali ini dia menatap Chef Ina.
Seketika Chef Ina langsung tersadar, dia lalu mengalihkan pandangannya ke depan. “Tidak tua juga sih,” jawabnya kemudian.
“Maka dari itu, di luar pekerjaan kamu bisa memanggil nama saja.” kata Bayu
Chef Ina kini memberanikan diri menatap Bayu. “Baiklah, Bayu.” ucapnya sedikit ragu.
“Itu lebih baik.”
Bayu kemudian tersenyum sambil menatap Chef Ina.
Lagi-lagi, Chef Ina dibuat meleleh karena senyuman itu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi kegugupannya. Jantungnya semakin berdegup, sangat kencang.
Hari semakin siang, namun tak berpengaruh apa pun bagi karyawan di hotel itu. Semuanya masih terlihat sibuk, mempersiapkan ini dan itu. Tamu yang datang juga lumayan banyak, hingga pekerjaan mereka bertambah lagi.
Hari itu, Anna sedang membersihkan lantai bagian depan. Namun perhatiannya teralihkan saat melihat sebuah mobil yang amat dia kenali. Dan benar saja, keluarlah Bayu dari dalam mobil itu diikuti Chef Ina dari arah samping.
“Bayu, terima kasih atas tumpangannya.” ucap Chef Ina sembari tersenyum.
“Iya sama-sama. Tidak perlu sungkan.” Bayu membalas senyuman itu.
“Cih, dasar!” Anna menatap Bayu sinis. “Apa-apaan itu, semuanya sibuk. Tapi dia malah enak-enakan pacaran.” Anna menatap Bayu penuh kebencian.
Dia tidak pernah senyum setulus itu padaku. Semuanya terlihat palsu.
“Aduhh ...... wow wow wow ... pasangan yang serasi.” suara seseorang yang terdengar heboh sendiri.
Anna menoleh ke sumber suara itu, kemudian menghela napas kasar.
“Yang satu cantik, yang satu tampan.” imbuhnya lagi. Anna memutar bola matanya jengah.
“Manager dan Chef, cocoklah. Dibandingkan dengan ......... ” wanita itu menggantungkan ucapannya, tapi tatapannya mengarah kepada Anna.
“Apa?” Anna menatap tajam wanita itu.
Wanita itu tersenyum, “Apa kamu tidak mendengar tadi, Chef Ina bahkan memanggil Pak Bayu dengan nama langsung. Bukankah berarti hubungan mereka lebih dari itu?” wanita itu seperti sengaja memanas-manasi Anna.
Kita lihat, bagaimana reaksi Anna.
“Dengar ya, Sasa!” benar, wanita itu adalah Sasa. “Aku tidak peduli dengan hubungan mereka.” ujar Anna, lalu mengemas peralatannya.
Dia terlihat tidak suka. Sebenarnya apa hubungan dia dengan Pak Bayu?
Keluarga?
Jika dilihat dari gelagatnya, rasanya mustahil.
“Kenapa kau terlihat tidak suka melihat kedekatan mereka?” Sasa memancing lagi saat Anna berniat pergi.
“Mau kamu apa sebenarnya? Aku tahu kamu berusaha memancingku.” ucap Anna yang mulai geram.
Sementara Sasa masih bersikap santai. “Sebenarnya aku hanya ingin tahu hubungan kalian. Entah mengapa, aku merasa kamu memiliki hubungan dengan Pak Bayu.” ucapnya, yang Anna terdiam.
“Tapi aku tidak peduli apa pun hubungan kalian. Yang pasti, aku berada di pihak chef Ina. Aku tidak akan membiarkan pelayan rendahan sepertimu, bersanding dengan Pak Bayu. Kamu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan chef Ina.” ujar Sasa yang terdengar meremehkan Anna.
Anna semakin geram dengan ucapan Sasa itu. Tangannya meremas peralatan yang dibawanya, sementara matanya menatap Sasa dengan tajam.
“Ada apa dengan kalian? Jangan buat kacau lagi!” Bu Laras datang di antara mereka. “Sasa, ini bukan tempatmu. Kembali sekarang!” titahnya.
Seketika Sasa berbalik pergi.
“Akan aku pastikan, bahwa aku pantas bersanding dengannya.” kata Anna, yang seketika membuat Sasa langsung berbalik lagi, dan bertatapan dengan Anna.
“Chef itu, sama sekali bukan tandinganku. Dia tidak ada apa-apanya bagiku. Termasuk kau sekalipun !”
Anna menunjuk tepat di wajah Sasa, yang membuatnya menjadi geram.
Sementara Bu Laras sampai tercengang dengan penuturan Anna.
Anna lalu berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Sasa mengepalkan tangannya, dengan sorot mata tajam mengarah pada punggung Anna yang semakin jauh. Tidak lama setelah itu, dia juga beranjak pergi meninggalkan Bu Laras yang masih mematung.
Sementara disela-sela langkahnya Anna.
“Oh my God ! Apa yang aku katakan tadi. Bagaimana bisa aku mengatakan itu semua? Pasti mereka berpikir aku tergila-gila dengan manusia aneh itu.
Padahal aku hanya ingin membalas ucapan Sasa. Aku tidak suka dibanding-bandingkan. Apalagi sampai meremehkan aku.
Ah sudahlah, terlanjur.”
Anna baru menyadari ucapannya, entah mengapa kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya. Ia hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri.
Di sisi lain, ada seseorang yang juga menyaksikan kebersamaan Bayu dan chef Ina tadi. Chef Angga berlalu dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Bayu dan Randy saat ini berdiri di depan meja resepsionis. Mereka mendapat kabar kalau Melisa si selebgram yang mengadakan acara ulang tahunnya di hotel itu akan hadir lebih awal, untuk meninjau tempat serta persiapan acaranya.
Bayu melirik jam di tangannya, hingga seruan Randy mengalihkan pandangannya pada dua wanita cantik nan elegan, dengan penampilan modis kekinian yang datang beriringan memasuki hotel. Semua pasang mata dibuat terpesona karenanya. Lain halnya dengan Bayu, dia nampak biasa-biasa saja.
Cantik .... Tapi tidak lebih cantik dari Gadis Kasar itu.
Bayu tersenyum, matanya mengarah pada mereka tapi tidak dengan pikirannya. Ia justru membayangkan Anna. Terlintas pertemuan pertamanya dengan Anna waktu itu. Wajah dingin tanpa ekspresi, yang fokus pada layar ponsel. Namun tidak mengurangi kecantikan yang melekat pada dirinya. Wajah putih berseri, hidup mancung, bulu mata lentik serta bibir tipis dengan warna merah muda yang terlihat alami. Benar-benar perpaduan yang sangat indah dipandang. Walau tanpa polesan make up sekalipun.
Sesat kemudian Bayu tersadar. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat untuk menghilangkan bayangan Anna dari pikirannya.
Ada apa denganku? Aku pasti tidak waras, membayangkan gadis itu.
Bayu melangkah sambil menarik kasar lengan Randy, yang langsung menyadarkannya dari lamunan karena pesona wanita itu. Bayu berjalan mendekati kedua wanita itu yang diyakini salah satunya adalah Melisa.
Di sela-sela langkahnya, dia menangkap sosok lain yang baru hadir di antara mereka. Kini ketiganya asik dengan percakapan mereka, sambil sesekali terlihat tertawa ria. Bayu belum melihat wajah wanita yang baru datang itu. Langkah demi langkah hingga jarak mereka semakin dekat. Entah mengapa dia sangat penasaran dengan wanita satu itu. Saat sudah semakin dekat, ia bisa mendengar suara wanita itu yang familiar di telinganya.
Hingga di detik kemudian, barulah terlihat wajah wanita itu yang membuat Bayu terkejut bukan main. Matanya membelalak, namun masih terlihat tenang. Dia bisa menutupi keterkejutannya.
Dia di sini?
Kenapa tidak terpikirkan olehku?
**
Kira kira siapa ya ?
Jangan jangan mantannya Bayu....