Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Terlahir sebagai seseorang yang hampir memiliki segalanya, Kaiser jadi tahu satu hal. 

Kebanyakan orang mendekatinya dengan tujuan tertentu. 

Awalnya Kaiser benar-benar muak dengan itu, mereka yang menunjukkan kepalsuan terlihat seperti badut yang sedang mengolok-olok dirinya—seperti menganggapnya mudah untuk ditipu.

Padahal Kaiser akan lebih menghormati mereka, kalau mereka bicara dengan jelas apa yang mereka inginkan.

Tapi kakaknya juga begitu. 

Aidoneus seakan memiliki banyak topeng dan tahu kapan harus memakai yang mana. Dia tidak berusaha menjadi datar seperti Kaiser, dia mencoba untuk menjadi seperti mereka. 

Memainkan permainan yang sama.

Bahkan terkadang, hingga ke tingkat yang benar-benar di luar akal manusia. 

Anehnya Kaiser tidak keberatan dengan itu. Aidoneus melakukannya karena dia ingin melindungi keluarga mereka, ingin melindunginya juga. Itu alasan yang Kaiser bisa terima.

Tapi jika kasusnya sampai menyangkut Airin—

Pemuda bermata biru itu beralih pada gadis di depannya. 

—ia tidak akan mengampuni siapapun.

“Haha.” Ophelia tertawa kecil. Senyum palsu yang dia pakai berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih tajam tapi entah kenapa, lebih tulus. 

Akhirnya.

“Ada sih yang kumau darimu,” ucapnya. “Tapi tidak sekarang.” 

Kaiser menyipitkan mata. “Meremehkanku? Kamu pikir sedang bicara dengan siapa sampai berani berkata begitu?” 

“Dari awal aku tidak meremehkanmu lho.” Sirat mata itu menunjukkan kejujuran. 

Ophelia terlihat bersandar pada dinding di sebelah mereka, sembari memainkan topi di tangannya, dia kembali bicara. “Kaiser, kamu yang terang-terangan dekat dengan Airin begitu, apa disengaja?” 

“Maksudnya?” 

“Bukan berarti tidak boleh, tapi bagaimana ya?” Ophelia melepas dan memasang perekat yang ada belakang topinya. “Itu seperti, kamu sengaja melambaikan daging segar di depan predator yang kelaparan.” 

“Aku membahayakan dia, begitu?” balas Kaiser. 

Itu tidak mungkin. 

Hanya dekat dengannya saja, hanya tahu kalau nama Airin selalu terucap di mulutnya, orang-orang akan langsung segan. Dengan Kaiser yang ada di samping gadis itu dia memberikan perlindungan juga keuntungan yang tidak bisa ditawarkan siapapun.

Selama ada dirinya, Airin akan aman. 

Jadi kenapa gadis ini berkata sebaliknya?

“Yah,” Ophelia memakai kembali topinya. “Untuk hal itu kamu mesti sadar sendiri.” 

Kaiser menyipitkan mata.

“Maaf lama, aku ke toilet dulu tadi.” 

Hm. Airin menelan ludah. Kenapa situasinya lebih tegang dari sebelum dia pergi? 

Wajah datar Kaiser berubah menjadi kekesalan, sedangkan senyum Ophelia entah kenapa menjadi lebih tulus—seperti dia sedang terhibur. 

Mereka tidak bertengkar ‘kan ya? 

Kalau bertengkar Airin mesti ada di pihak siapa? Ia tidak bisa memilih! 

“Katanya kita mau liat ruang ekskul?” Ophelia merangkul tangannya. “Ayo. Kaiser, jalannya kemana?”

Pemuda itu menghela nafas panjang. “Kemari.”

Dia dijadikan seperti pemandu wisata. 

Airin berjinjit sedikit, mencoba berbisik langsung pada telinga Ophelia. “Ada yang terjadi? Kalian ngobrol apa?”

“Kayaknya aku agak membuat dia kesal,” balas Ophelia. 

“Serius?” Airin berkedip. “Kaiser tidak semudah itu kesal pada orang baru lho.” 

“Berarti aku memecahkan rekor.” 

“Bisikan kalian kurang keras,” ujar Kaiser yang berjalan cuma dua langkah di depan mereka. “Kedengaran tahu.” 

Wah, dia benar-benar kesal.

Tapi entah kenapa Ophelia terlihat semakin senang. 

Gadis di sebelahnya terlihat tidak terpengaruh dengan kesalnya Kaiser dan bertanya dengan natural. “Kamu mau masuk ekskul apa?”

“Aku pengennya masuk voli, tapi dengan tinggi badanku kayaknya aku cuma bisa jadi libero.” ringisnya. “Paling aku masuk ekskul drama. Kamu apa?” 

Ophelia terlihat berfikir sebentar, “Aku pengen ekskul bela diri. Kayak taekwondo atau semacamnya.” 

“Kaiser juga masuk taekwondo,” ucap Airin sumringah. “Ya ‘kan Ser?” 

“Hm.”

“Tahun lalu waktu ada pertandingan, dia hampir masuk ke perempat final lho.” 

Ophelia tersenyum, “Berarti kalah di babak penyisihan ya?” 

Kaiser langsung menoleh ke belakang dengan cepat. Tatapannya seakan berkata, kalau ingin tertawa tertawa saja.

Tapi Ophelia tetap mempertahankan senyumnya. 

Pemuda itu berbalik, menarik lembut tangan Airin agar dia berjalan bersamanya. Meninggalkan Ophelia sendirian di belakang. 

“Gedung sana itu biasanya dipakai buat voli sama basket,” tunjuknya. 

“Satu gedung ternyata ya?” Ophelia sedikit berlari agar dia berada di samping Airin lagi. “Lapangannya berbeda atau bergiliran?” 

“Lapangannya berbeda,” Kaiser menarik Airin lebih dekat dengannya. 

Ophelia kembali menggandeng tangan Airin. “Oh, gedung sebelahnya itu apa?” 

“Gedung teater.” 

Airin yang ditarik dari sisi kiri dan kanan hanya bisa meringis. Kenapa dia malah diperebutkan begini? 

Gadis itu menghela nafas dan menggandeng Kaiser dengan tangan kirinya, sedangkan ia juga menggandeng Ophelia di tangan kanan. 

“Kalau begini kalian nggak akan rebutan,” ujarnya mantap. 

Kaiser memalingkan muka, menutupi rasa kesalnya sedangkan Ophelia tetap tersenyum. “Aku nggak keberatan.” 

“Kalau masuk ke gedungnya, apa diperbolehkan?” tanya Airin. 

“Biasanya hari libur begini dikunci,” jawab Kaiser. “Ruang ekskul yang bisa dimasuki sekarang mungkin cuma OSIS.”

“Kami boleh kesana?” 

“Boleh. Tapi mungkin kebanyakan anggotanya sudah pulang.” 

“Kamu mau kesana? Lia—”

Gadis di sebelahnya terlihat menatap tajam ke tanah. Tidak terlalu terlihat karena topi yang menutupi hampir setengah wajah, tapi Airin yakin kalau tatapan itu menyiratkan sesuatu yang dalam, seperti amarah.

Atau mungkin, rasa takut?

Ophelia juga tiba-tiba melepaskan rangkulannya dan seakan memijat telapak tangannya itu.

“Kamu nanti mau masuk OSIS?” tanyanya pelan.

“Aku? Nggak,” jawab Ophelia cepat. “Kayaknya aku mau fokus di taekwondo.” 

Dia seperti ingin menghindari sesuatu.

Ophelia tiba-tiba menghentikan langkah dan membuka ponsel. “Sori, aku kayaknya nggak bisa ikut ke tempat OSIS. Ibuku bilang ada urusan mendadak, aku mesti pulang.”

“Yah.” Airin terdengar kecewa. “Kalau gitu aku masukin WA-ku padamu. Jadi kita bisa chattingan.” 

“Boleh.”

Airin menuliskan nomornya di ponsel Ophelia lalu berhenti. Ia beralih menatap Kaiser selama beberapa detik kemudian kembali mengetikkan sesuatu. 

“Nah, aku masukin juga nomer Kaiser.” 

Ophelia menahan tawa ketika melihat pemuda itu mengerutkan hidung. 

“Kalau gitu kita ketemu lagi di semester baru,” ucap Ophelia. “Sampai jumpa.” 

“Hati-hati.”

Airin tetap melambaikan tangan bahkan ketika Ophelia menghilang di balik tangga sana sampai Ia tidak sadar kalau pandangan Kaiser tertuju padanya sedari tadi. “Airin.” 

“Ya?” 

“Kalau bisa, jangan dekat-dekat dengan gadis itu.” 

Airin meringis. “Dia agak misterius ya? Tapi tidak tau kenapa aku yakin kalau dia nggak ada niatan buruk.” 

“Niat buruk atau bukan, dia tetap punya sesuatu yang dia sembunyikan,” gumam Kaiser. “Aku paling tahu soal hal itu.” 

“Tapi Ophelia itu orang yang jujur.” 

Kaiser mengangkat sebelah alis. Dia terdengar ingin tertawa, walau tidak jadi. “Jujur dari mananya? Senyum dia palsu begitu.” 

“Senyum kak Aiden juga sering palsu,” ucap Airin. “Tapi dia bukan orang jahat.” 

Kaiser terdiam, ia menatap jauh ke lorong sana sebelum kembali bergumam. “Yah, mereka memang mirip sih.” 

Tanpa mereka ketahui, Ophelia tetap berada di balik tangga dengan tangan yang masing-masing memeluk bahunya. Ia berlutut, dengan mata yang terbuka lebar dan nafas tersenggal. 

Reine sialan.

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!