Indonesia
NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: tamat
Genre:Vampir / Thriller / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

Vol. 1: Arc 1 - 3 (Complete)

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 22: Sosok Misterius, Bloen

Dipotong lalu dirobek bagian gaun berwarna ungu yang mengembang menutupi kakinya, ia yang memotongnya tidak teratur dan merobeknya hingga selutut, ia juga membolongi beberapa bagian di pinggang, memotong sedikit bagian ditengah dekat dengan dadanya tanpa memperlihatkan dadanya dibalik gaun tersebut, lalu lengannya.

Setelah terlihat sesuai dengan keinginannya, ia mengambil potongan tadi—menggigitnya dengan kuat.

"Jikalau kamu ingin hidup, gunakan cara apapun untuk hidup."

Kali ini, ia akan berusaha untuk tetap hidup dengan cara apapun. Tidak peduli apakah ia harus menggunakan cara licik dan kejam, ia tidak peduli sama sekali.

Asalkan ia hidup, itu sudah lebih dari cukup.

"Ugh!"

Goresan pertama di bahu kanan dilakukan dengan sedikit dalam. Darah sempat keluar diikuti dengan rasa sakit, ia mengerang dalam diam karena mulutnya tersumpal oleh kain dari potongan gaun yang dia lakukan sebelumnya.

"Bertahanlah, Diriku! Ini demi kebaikanmu!" Pikirnya, berusaha untuk tetap tegar dengan melanjutkannya.

Goresan kedua dan ketiga dilakukan dengan jarak masing-masing sekitar 2 sentimeter, dengan panjang sekitar 5 sentimeter.

"Jika musuhku menggunakan cara seperti ini, aku juga harus melakukan cara yang serupa."

Sekali lagi, ia menggores paha kirinya dengan pisau belati yang lurus memastikan untuk melukainya dengan cara yang sama.

"Huff... huff..."

Tidak ingin menyerah sampai disini, ia segera melangkah keluar dari tempat ini ke depan yang terdapat dua altar dengan masing-masing tulisan yang berbeda.

Altar sebelah kanan membuka sihir teleportasi ke kedalaman hutan, sedangkan altar sebelah kiri bertuliskan untuk ritual.

Apapun itu, ia membawa belati di tangan kanannya untuk berdiri diatas altar terdapat lingkaran sihir berukuran sedang. Cahaya tersebut yang awalnya berwarna navy yang tidak aktif menjadi aktif dengan warna persian blue membuat pandangannya tersilaukan oleh cahaya persian blue yang ia tutupi dengan kedua tangannya didepan wajahnya.

Saat cahaya memenuhi pandangan dan ruangan sekitar, ia tidak bisa merasakan kakinya seolah-olah ia melayang lalu beberapa detik kemudian ia merasakan pijakan dengan suara desiran angin yang mengenai ranting pohon dan bunyi gemerisik dedaunan dari rerumputan.

"Berhasil?"

Tahu kalau ia ada di kedalaman hutan, ia bersembunyi dibalik semak belukar lalu meninggalkan jejak melalui darah yang ia basahi di tangan kirinya ke tiap-tiap pohon dengan tulisan...

"Pembunuh!"

"Blood Queen!"

"Aku akan memburu kalian!"

"Darah keluarga kerajaan sangat lezat!"

Seolah-olah itu merupakan tindakan seseorang yang tidak mereka duga.

"Sekarang, sentuhan terakhir!"

Samar-samar ia merasakan pandangannya memudar, ia tidak ingin kehilangan kesadaran sebelum akhirnya ia memukul pipinya berkali-kali dan dahinya dengan sekuat tenaga menggunakan ujung belati.

Setelah berhasil, ia mengeruk permukaan tanah dengan ujung belati yang tajam untuk dikuburkan.

"Sekarang tinggal... menunggu... waktu yang... tepat...."

Ia menggunakan sihir air yang di tangan kanannya yang basah layaknya kolam setinggi 10 sentimeter, ia membersihkan darah di telapak tangan kirinya untuk menghilangkan bukti.

Begitu selesai, ia tersungkur ke tanah memperlihatkan sedikit kepalanya didalam semak belukar.

Hanya itu yang diingat olehnya.

Padahal ia bertaruh pada persentase 50:50, ia tidak menyangka kalau ia benar-benar diselamatkan dan disembuhkan.

Dugaannya adalah ia sangat berharga untuk mati jadi mustahil orang-orang disekitarnya untuk membiarkan mati begitu saja karena ia adalah penerus tahta kerajaan berikutnya, sebagai ratu masa depan.

"Setidaknya, gambaran rencanaku berjalan lancar."

Sisanya yang dipikirkan olehnya adalah orang-orang akan menanyakan tentang apa yang terjadi padanya, ia harus sebisa mungkin menjawab pertanyaan mereka dengan tenang nanti.

"Tidak ada pilihan lain selain menggunakan cara yang digunakan oleh Klub Pentas Drama."

Terpaksa, ia harus melakukan sandiwara supaya semuanya terlihat murni kejadian yang di rencana agar Edi dan bawahannya tidak dipojokkan oleh Lisa dan Gerald, sekaligus mereka tidak akan menduga kalau orang lain berniat untuk mengincarnya.

•••••

"Sayang, apakah kamu baik-baik saja?"

Disaat cuaca menjelang siang terlihat dari jendela dengan jam kayu mini di atas rak baju menunjukkan pukul 10:00, Luna yang memasuki kamar dengan spontan berlari memeluk putrinya.

"Ya, aku baik-baik saja, Bu."

"Syukurlah."

Tangisan memecah keheningan saat ibunya memeluk putrinya. Ia merasa lega setelah tahu kalau putrinya baik-baik saja, tanpa terluka dan tersakiti seperti sebelumnya berkat penjelasan dari suaminya.

"Ya ampun. Kau benar-benar terlalu khawatir, Sayang."

Suaminya memasuki kamar dengan wajah kecewa, mengeluh pada sikap istrinya yang masuk secara spontan ketimbang mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Mau bagaimana lagi, putriku membutuhkanku jadi ia harus ada di sisiku."

Senyum pahit terlihat di bibirnya sesaat, ia tidak menyangka kalau sifat ibunya lebih persis seperti kakeknya ketimbang ayahnya yang tenang.

Mendengar suara berisik, Annastasia terbangun dari tidur dengan wajah mengantuk. Senyum kecil menghiasai wajahnya saat tahu kalau gadis kecil itu baik-baik saja membuat kekhawatirannya sirna.

"Syukurlah anda sadar, Alice-sama."

"Ya."

Keduanya saling tukar senyum kecil memperlihatkan bahwa mereka memahami satu sama lain melebihi pemahaman siapapun.

"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Ditatapnya dengan wajah penasaran, ibunya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya. Ia yang memahami kalau ibunya khawatir padanya tidak mempermasalahkannya melainkan memakluminya, mengangguk dan tersenyum kecil padanya.

"Itu...."

Ada ketakutan terlihat di sorot mata crimson miliknya, ia tidak yakin apakah ia harus memberitahu ini pada ibu, ayah, dan kepala maid disini atau tidak.

"Sayang, tidak apa-apa jikalau kau tidak mau memberitahu kan, Sayangku?"

Ditatap ayahnya dibelakang ibunya, ia hanya mengangguk pada istrinya dan tersenyum kecil padanya. Mengetahui suaminya setuju padanya, ia kembali menatap ke putrinya yang mengepalkan tangannya di dadanya dengan kuat. Ia menghela nafas panjang untuk menenangkan diri lalu menatap ke ibunya.

"Tidak. Aku harus jelaskan agar mengantisipasi hal tak terduga."

"Baiklah."

Diberi ruang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya, ia mengangguk dan "berterimakasih" pada ibunya untuk dipersilahkan untuknya menjelaskannya.

"Haruskah aku kembali?"

"Tidak, kamu harus tetap disini."

"Baik."

Padahal kepala maid ingin meninggalkan kamarnya karena takut mengganggu, tapi perintah gadis kecil itu keberatan untuknya untuk pergi karena ia juga harus tentang ini meskipun ia adalah pemimpin maid yang tidak ada kaitannya dengan masalahnya.

Dijelaskan olehnya kalau ia melihat sosok yang diselimuti oleh bayangan kegelapan malam yang memasuki kamarnya, tidak tahu apakah ia pria atau wanita tapi dari siluetnya terlihat seperti sosok itu berambut panjang.

Sosok tersebut awalnya bersikap ramah dan perhatian padanya, kemudian mengajaknya untuk bermain di luar kamar di kejauhan dari kastil yang mengarah ke hutan.

Awalnya ia pikir sosok itu merupakan sosok yang sangat baik, peduli dan perhatian padanya layaknya ibu dan ayahnya. Jadi, ia mengikutinya tanpa berpikir panjang dengan terbang di langit-langit selagi membawanya—menggendongnya layaknya menggendong putri kerajaan.

Itu pertama kalinya ia merasakan terbang di langit-langit malam yang dingin, dipenuhi dengan bintang menghiasi langit di kegelapan, dan bulan purnama berwarna putih yang menerangi gelapnya malam.

Mereka terbang di ketinggian dimana awan-awan terlihat jelas.

"Bagaimana? Kamu menyukainya?"

"Ya, ini indah sekali."

"Syukurlah."

Sosok itu tersenyum lega padanya. Tidak disangka kalau gadis kecil yang digendongnya terlihat senang selagi mengulurkan tangannya layaknya terbang di langit-langit, membuat sosok itu tertawa melihat kelucuannya yang begitu polos.

Beberapa saat kemudian, sosok itu mendarat di permukaan. Sayapnya yang sebelumnya melebar di punggung sosok tersebut sirna memasuki punggungnya, tanpa ada bekas kalau sayap miliknya muncul.

"Tempat apa ini?" Tanyanya, kebingungan.

Didepannya, terlihat mansion yang cukup besar dengan batu bata abu-abu, marmer putih yang ketinggiannya sekitar 3 lantai dengan luas sekitar 5 meter persegi yang terlihat gelap, dengan halaman depan kumuh, berlumut di beberapa dinding, ada keheningan disekitarnya.

"Masuklah. Ada banyak mainan didalam."

"Baik."

Tidak memikirkan kalau ada niat buruk dari sosok itu, ia mengikutinya memasuki pintu ganda mansion berwarna coklat metalik. Begitu memasuki pintu depan mansion, ia terkejut saat melihat dalamnya sangat gelap tanpa ada penerangan selain dari cahaya bulan yang masuk melalui sela-sela jendela.

"Maaf, ini berdebu. Aku akan bersihkan terlebih dahulu. Kamu tutup matamu."

Di anggukan kepalanya, ia memejamkan mata sesuai perkataan sosok tersebut.

Saat matanya terpejam, sosok yang tersenyum mulai menggunakan sihirnya dengan jentikan jari untuk membersihkan seluruh koridor mansion dengan sihir angin berkekuatan sedang dicampur dengan air untuk membilas lantai keramik amber untuk membersihkan kotoran.

Setelah melakukannya, sosok itu menjentikkan jarinya sekali lagi. Kali ini bukan untuk membersihkan seluruh mansion, tapi untuk menyalakan tiap-tiap lilin yang ada di dinding, diatas rak panjang dan rak baju di sepanjang koridor dan tiap-tiap kamar.

"Bukalah matamu, Gadis Kecil~"

Dengan nada lembut, sosok itu tidak ingin gadis tersebut terlihat takut padanya. Sebisa mungkin, ia tetap bersikap ramah dengan niat terselubung dalam hatinya.

Saat mata crimsonnya terbuka, matanya terbelalak kaget melihat seluruh area didalam mansion sudah sepenuhnya bersih, mengkilap, dan terang yang tidak seperti sebelumnya yang gelap, berdebu, kotor, dan terdapat jaring laba-laba dimana-mana layaknya mansion yang sudah ditinggalkan cukup lama.

"Mari kita pergi ke lantai dua. Aku sudah menyiapkan mainan untukmu."

"Baik."

Diikuti sosok yang berjalan disepanjang koridor, ia melihat kulit putih yang mulai terlihat dari sosok didepannya yang memperlihatkan punggungnya yang terbuka dari gaun lolita berwarna merah gelap dan hitam yang berenda dan mengembang.

"Ngomong-ngomong, kita belum memperkenalkan diri satu sama lain, Gadis Kecil."

"Ah, benar," tersadar kalau apa yang dikatakan oleh sosok itu benar, ia lupa untuk memperkenalkan diri padanya.

"Namaku adalah Nishimura Alice, aku dari keluarga kerajaan, penerus tahta kerajaan di Kerajaan Thijam."

Sesaat, seringai senyuman yang terdapat makna kejam dan sadis terlihat di ekspresi sosok yang jalan jauh didepannya tanpa diketahuinya. Kemudian, ia kembali bersikap tenang seolah-olah memasang topeng ramah di wajahnya, menatap ke arahnya di belakangnya.

"Salam kenal, Alice. Namaku adalah Bloen."

"Bloen, nama yang cukup cantik."

"Terimakasih banyak."

Ia dan wanita itu menaiki tangga menuju ke lantai dua yang berada di ujung koridor di sisi kiri-kanan dari pintu masuk depan mansion.

Untuk tangganya, pegangan tangga memiliki warna coklat tua yang terlihat mengkilap, dengan permukaan lantai keramik—sama seperti lantai di sepanjang koridor.

Setibanya di lantai kedua, ia berjalan beberapa langkah mengikutinya yang memimpin jalan didepan sambil berbincang-bincang tentang keseharian mereka sehari-hari.

Disana, Bloen memberitahu padanya kalau ia selalu kesepian di mansion ini tanpa ada yang menemaninya sama sekali. Baik itu suaminya dan anaknya, mereka semua pergi meninggalkannya dalam kondisi tiada disaat peperangan terjadi pada saat itu, menyisakannya seorang diri dalam kondisi kesepian tanpa ada siapapun disini.

Sedangkan Alice, ia menceritakan semua keseharian pada wanita itu tanpa ditutupi. Berpikir kalau ia adalah sosok wanita yang sangat cantik, perhatian, ramah dan peduli padanya jadi ia tidak keberatan mengatakan apapun dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Ketika keduanya berhenti didepan salah satu pintu setinggi 2 meter dengan warna dasar putih dan gagang pintu keemasan, keduanya berhenti berbicara.

Wanita itu membuka pintu—mempersilahkannya untuk masuk terlebih dahulu lalu dirinya. Ia yang memasuki ruangan yang terlihat seperti kamar, ada kasur kanopi berwarna pink, gorden pink, boneka kayu berwarna crimson diatas rak baju yang memanjang sepanjang 3 meter dengan tinggi sekitar 1 meter, dan pedang kayu berwarna crimson yang tergantung di gantungan di dinding berwarna coklat dengan besi berwarna perak.

"Bagaimana? Kamu menyukainya?"

"Ya, ini terlihat luar biasa."

Senyum terlihat di bibirnya, ia benar-benar tidak menduga kalau gadis kecil ini kagum pada isi di kamar yang disiapkan khusus untuknya.

Awalnya ia berpikir kalau gadis kecil itu tidak menyukainya karena ia adalah orang asing, ada kemungkinan gadis kecil ini akan takut, khawatir dan panik atas penampilannya seperti ini. Tapi, siapa sangka kalau ia benar-benar menyukainya. Hal inilah yang entah bagaimana ada sedikit kehangatan yang memasuki hatinya yang dingin dan tak berperasaan menjadi hangat dengan sikap gadis itu.

"Jadi, kita mau main apa?"

"Ah, aku tahu."

Berjalan kearah rak panjang 3 meter dengan tinggi 1 meter, ia mengambil boneka kayu berwarna crimson sebanyak empat boneka. Ia mendekati kembali wanita itu yang bingung untuk mengetahui apa yang dipikirkan oleh gadis kecil yang tersenyum ceria didepannya.

"Kita main boneka kayu, Onee-chan."

"Ya, kurasa itu ide bagus."

Keduanya duduk dengan jarak 3 meter, saling berhadap-hadapan satu sama lain selagi masing-masing dari keduanya memegang dua boneka kayu crimson di tangan mereka.

"Baiklah. Kurasa, aku akan menyebutkan judul permainan yang kita mainkan."

"Apa?" Ada rasa penasaran di ekspresinya, ia ingin tahu apa yang ingin dimainkan oleh gadis kecil didepannya.

"Kita akan mainkan Petualangan Sang Pahlawan."

Sekilas, keterkejutannya terlihat dari wajahnya. Sesaat, ada ekspresi gelap memperlihatkan sorot mata penuh dengan haus darah namun beberapa detik kemudian tergantikan oleh cahaya kehidupan yang terlihat bersahabat tanpa diketahui oleh gadis kecil didepannya.

"Baik."

Keduanya bermain permainan "petualangan sang pahlawan" dengan kedua boneka kayu crimson di tangan mereka masing-masing.

Waktu berlalu dari pukul 10:00 hingga 12:00 malam. Ia yang terlihat senang setelah bermain tiba-tiba mengantuk, mengusap matanya yang tidak bisa mempertahankan kesadarannya.

"Tidurlah, Sayang~"

Dielus-elus pipinya, Bloen yang memiliki kulit putih pucat dengan tangannya yang dingin terasa jelas di pipinya namun ia tidak merasakan dingin melainkan lebih seperti kehangatan.

"Ya, aku akan tidur... Ibu."

Tiba-tiba ia yang tertidur, tubuhnya hampir terjatuh ke lantai dalam posisi duduk namun wanita itu menangkapnya lalu menggendongnya untuk dibawa ke kasur kanopi berwarna pink, menyelimutinya—membiarkannya tertidur pulas.

"Tetaplah disini."

Dikecupnya dahinya, ia pergi meninggalkan kamar yang dikhususkan untuk gadis kecil itu—tidak ingin mengganggu ketenangan dari tidur damainya.

Ia yang turun dari lantai dua kembali ke lounge di mansion. Ia duduk di sofa berwarna crimson pada bantalan, dengan ukiran kayu jati berwarna coklat tua pada kayu tersebut selagi menyandarkan kakinya diatas meja persegi panjang dengan panjang 4 meter, lebar 2 meter dengan keempat kakinya dari kayu sedangkan bagian alas meja dari kaca yang kukuh.

"Keluarlah, aku tahu kalau kamu sedang kebingungan."

"Ya."

Dibalik bayang-bayang gelap, seorang pria dengan setelan jas hitam dengan dalaman kemeja putih panjang ala pelayan cafe, ia memiliki rambut side part kearah kanan berwarna abu-abu yang usianya terlihat muda tanpa ada janggut dan kumis di wajahnya, berlutut dihadapannya.

"Katakan saja. Aku tidak suka bertele-tele."

"Baik," angguk pria itu dengan wajah menunduk kebawah, patuh pada perkataan wanita didepannya.

Ia memberitahu padanya kalau di radius 20 kilometer terdapat tiga grup petualang yang masing-masing dari mereka memiliki tingkatan masing-masing di tingkat petualang yang ada.

Satu petualang tingkat dasar, Bronze. Mereka memiliki satu party beranggotakan 5 orang, terdiri dari; Swordsman, Cleric, Archer, Magician, dan Warrior.

Satu petualang lagi tingkat menengah, Silver. Mereka memiliki satu party beranggotakan 3 orang, terdiri dari Swordmaster, Sorcerer, dan Hunter. Untuk Hunter, orang tersebut adalah wanita elf berambut pirang panjang yang terlihat cantik, seksi dan menggoda.

Sedangkan yang terakhir adalah petualang tingkat tinggi, emas. Mereka memiliki satu party beranggotakan 9 orang, terdiri dari; Monk, Best Knight, Summoner, Necromancer, High Wizard, Assassin, High Priestess, High Archer, dan Beast Tamer. Untuk wanita di party tersebut, mereka ialah Bishop, High Wizard, dan Beast Tamer, sedangkan sisanya adalah pria.

"Tsk... mereka benar-benar menyusahkan."

"Haruskah kita mengerahkan semuanya?"

"Tidak perlu!" Tegasnya, tidak ingin repot-repot bermain dengan mereka yang mengirimkan jumlah pasukan miliknya untuk menyergap mereka. "Biar aku saja yang turun tangan," lanjutnya, yang berdiri menyudahi waktu santainya menikmati keheningan dari kesendirian di lounge yang memiliki sedikit cahaya dari lilin.

"Tapi, saya takut anda kenapa–"

Tatapan tajam diarahkan olehnya ke pria yang tetap berlutut didekat sofa dimana ia duduk sebelumnya. Pria tersebut terdiam, ia menunduk kebawah karena tahu ekspresi wanita itu mengisyaratkan bahwa "apakah kamu meremehkan kemampuanku?" Membuatnya tidak lagi melanjutkan perkataannya melainkan terdiam hingga wanita itu sirna di kegelapan.

"Semoga engkau baik-baik saja, Mistress."

Harapan pria itu adalah wanita itu kembali kemari tanpa terluka maupun mati oleh mereka agar ia dan pasukannya tidak kehilangan pemimpin sama sekali.

•••••

Di kegelapan malam yang hening, terlihat banyak orang yang bersembunyi dibalik pepohonan, semak belukar. Mereka siap untuk menunggu tanda-tanda dari pasukan yang dapat membahayakan dunia, pasukan monster girl.

"Kenapa ia tidak muncul?" Salah satu diantara party tingkat menengah, Silver Adventure, seorang pria yang mengenakan zirah hitam mengkilap dengan garis-garis keperakan, Swordmaster yang bingung tidak ada tanda-tanda kemunculan target mereka.

Ketika semuanya menegang dalam sikap waspada, masing-masing dari mereka saling melindungi satu sama lain tanpa putus pandangan mereka untuk saling memperhatikan kondisi rekan mereka agar mereka tidak menjadi sasaran empuk untuk target mereka.

Tiba-tiba siluet muncul dari kegelapan berada di tengah-tengah dari kepungan mereka. Saat cahaya rembulan dari balik awan menyinari kegelapan di sekitar—memperlihatkan siluet dengan penampilan wanita berkulit putih pucat, berambut long layer wavy berwarna merah gelap, dengan gothic lolita dress sepanjang lutut dengan hiasan renda hitam, warna dasar merah gelap, dengan singlet di bagian atas.

"Sepertinya aku salah tempat ya."

Mata crimson milik sosok tersebut mengitari area, tidak melihat ada satupun orang yang disebutkan oleh pria yang berlutut dihadapannya sebelumnya.

"Ya sudah. Aku akan cari ke tempat la–"

Sebelum dapat menghilang, sosok itu yang tidak lain ialah Bloen terikat oleh rantai keemasan yang berkilau membuatnya tidak bisa bergerak karena kekangan tersebut sangat kuat.

"Sekarang!"

Diberi aba-aba pada Swordmaster, pemimpin dari party tingkat menengah, Silver Adventure, High Priestess mengangguk lalu mulai melafalkan mantra didalam batinnya.

"Wahai dewi suci, berkati kami. Berikanlah kami cahaya ke illahi-an supaya kami tidak tersesat dalam kegelapan."

Saat mata High Priestess berwarna keperakan terbuka, ia dengan tongkat sihirnya berbentuk bulat di ujung tongkatnya yang memancarkan aura keemasan mulai melafalkan mantra dari skillnya.

"Holy Light!"

Cahaya tiba-tiba menghujani tubuh wanita itu dengan warna hijau rumput.

Sakit dan sesak, itulah yang dirasakan olehnya—membuatnya meringis kesakitan saat dirinya dipaksa untuk menerima kemurnian dari skill High Priestess, Holy Light.

Saat cahaya hijau rumput terhenti, tubuhnya lenyap bagaikan abu dihadapan mereka. Mereka semua terlihat senang akhirnya mereka membunuh targetnya tanpa perlu berhadapan dengan cara brutal dan kejam, keluar dari tempat persembunyian mereka.

"Kita berhasil?"

"Ya, kita berhasil." Sepasang gadis saling berpelukan dari party tingkat dasar, Petualang Tembaga. Bagi mereka, ini merupakan anugrah karena mereka tidak perlu menghadapi target mereka yang dikatakan kejam, tak berperasaan, sadis dan menakutkan.

"Mari kita periksa mansion di sana."

"Ya!"

Semua orang mengangguk setuju pada Swordmaster, kecuali gadis Cleric yang tampaknya ceria selagi mengangkat tangannya seolah-olah rasa takut yang dipikulnya sirna.

Mereka semua pergi meninggalkan tempat dimana mereka bersembunyi untuk menyergap Bloen menuju ke mansion yang ada di kedalaman hutan. Tapi, baru beberapa meter mereka berjalan, mereka mendengar salah satu dari rekan mereka berteriak.

"Kyaaaaaa!"

Teriakan tersebut datang dari salah satu wanita di party tingkat menengah, Silver Adventure, Hunter dari ras elf.

"Ada apa?"

"I-Itu...."

Ditunjuk oleh elf berparas cantik yang melihat salah satu rekannya, Swordmaster yang tergeletak di tanah dengan kepala yang tidak lagi terlihat melainkan hanya ada tubuhnya yang bersimbah darah melalui lehernya.

"Mustahil."

Ekspresi semua orang menegang. Mereka semua saling membelakangi satu sama lain, takut kalau ada bahaya yang mengintai disekitar mereka tanpa mereka ketahui.

"Dimana musuhnya?"

"Sial. Aku tidak bisa mendeteksinya menggunakan Detection Area!"

Ada rasa frustasi yang memenuhi hati dari pria dengan seluruh penampilannya tertutup oleh pakaian yang mirip seperti Ninja dengan warna hitam, kecuali mata dan batang hidungnya—karena tidak bisa mendeteksi area sekitar untuk mengetahui siapa yang menyerang mereka.

"Bang!"

"Bang!"

Dua tembakan melesat dengan kecepatan tinggi menargetkan dua kepala. Salah satunya adalah Assassin, satunya lagi adalah Hunter.

Ekspresi mereka memucat melihat rekan mereka gugur. Panik dan takut memenuhi hati, keringat dingin mengalir di punggung mereka seolah-olah insting mereka menyuruh mereka untuk lari namun tubuh mereka tidak mendengarkannya.

"Yah, tadi itu lumayan juga."

Raut wajah mereka menegang begitu tahu kalau sosok yang mereka pikir sudah mati oleh mereka, keluar dari dalam bayang-bayang. Sosok itu tidak lain adalah Bloen, ia tersenyum sadis dengan mata crimson yang menampilkan haus darah sekaligus kekejaman di dalam sorot matanya.

"Sekarang, mari kita lanjutkan ke permainan berikutnya."

Dijentikkan jarinya, jarum-jarum sepanjang 2 meter dengan kedua ujung lancip melayang di udara dalam jumlah banyak membuat semua orang tercengang.

"Tsk...."

Dipasang gerakan dengan kedua tangannya memegang pedang besar miring ke sisi kiri, ia menggunakannya sebagai perisai didepannya. Tubuhnya memancarkan aura merah gelap selama beberapa detik—mengaktifkan Provoke untuk membuat serangan wanita itu tidak mengenai mereka melainkan mengarah padanya, Best Knight.

"Sepertinya kamu meremehkan aku ya."

Tahu kalau Best Knight tidak ingin wanita itu menargetkan yang lain, ia menjentikkan jarinya untuk membuat jarum sepanjang 2 meter dengan kedua ujungnya yang tajam, di ujung depannya diberikan spiral angin berwarna chartreuse.

"Peri, gunakan sihir kalian untuk melindungi kita!"

"Baik."

Kedua peri yang dibaluri aura keemasan yang suci—keluar dari sekitar tubuh Beast Tamer, mereka segera mengulurkan kedua tangannya ke depan untuk melakukan membuat pelindung dengan lingkaran sihir sebesar bola bekel berwarna keemasan yang menyilaukan yang terlihat suci.

"Holy Shield!"

Cahaya muncul menjalar dari lingkaran sihir suci yang dilakukan oleh sepasang peri dengan aura keemasan silau di tubuhnya, membentuk kubah yang melindungi mereka, termasuk dirinya.

"Hanya ini kemampuanmu?"

"Tidak!" Bantah Beast Tamer, ia segera mengerahkan makhluk kontrak lainnya; Twin-golem yang lebih mirip seperti sepasang golem dengan cahaya putih menyilaukan yang muncul tiba-tiba dari sekitar Beast Tamer.

Kedua golem suci itu berpencar ke kedua sisi dengan berlari. Bisa dikatakan lari mereka cepat dibandingkan ukuran golem biasanya yang lambat. Saat keduanya memutar lalu menuju ke wanita itu, keduanya siap untuk beradu tinju agar mereka bisa melenyapkannya.

"Menyedihkan."

Tapi, bukannya ketakutan—reaksi darinya justru terlihat kecewa atas pasukan yang dikerahkan oleh Beast Tamer.

Dalam sekejap, ia menembakkan beberapa jarum sepanjang 2 meter dengan ujung depan terdapat spiral angin berwarna chartreuse langsung mencabik-cabik tubuh dari sepanjang golem bercahaya suci saat tertusuk di tubuh mereka, dengan tebasan kecepatan tinggi layaknya teknik pedang tingkat dewa dengan elemen angin yang menyayat mereka.

Saat kedua golem tumbang dengan tubuh mereka lenyap di udara, Beast Tamer tercengang melihat pasukannya dikalahkan. Tidak ingin sepasang peri mengalami hal serupa, ia menatap ke peri tersebut dengan wajah panik dan khawatir.

"Kalian, kembali ke alam kalian!"

Sayangnya, peringatannya terlambat begitu sulur berwarna crimson berduri menyebar di permukaan tanah—memakan kedua peri kecil dengan aura keemasan silau dalam sekejap.

"Mustahil....."

"Yang benar saja..."

"Dia... dia bukan manusia, tapi monster...."

Semua orang yang menyaksikan itu, pikiran mereka setuju kalau yang dihadapi mereka bukanlah ras vampir, tapi juga makhluk yang memiliki rata-rata kemampuan yang diluar akal sehat manapun, melebihi kemampuan dari ras di dunia ini.

"Hehehe...."

Sebelum mereka dapat bergerak, ia menghilang dalam sekejap membuat semua orang kebingungan, panik dan takut kalau tiba-tiba ia tidak hanya pergi melainkan berencana untuk melakukan sesuatu pada mereka.

"Semuanya, berjaga-jaga!" Tegas Best Knight memerintahkan mereka semua.

Semua orang yang menegang dalam sikap waspada, tidak tahu apa yang akan dilakukan olehnya kepada mereka selagi mereka menunggu kemunculannya.

"Bang!"

"Bang!"

Sesuatu melesat dengan kecepatan tinggi tanpa bisa dilihat oleh mata telanjang, menembakkan dua kepala yang meledak dengan darah muncrat dari leher mereka—mengenai anggota party lain di ketiga kelompok yang tercengang saat mengetahuinya.

Apalagi setelah tahu kalau dua orang yang kepalanya meledak adalah High Priestess dan Assassin dari party tingkat tinggi, Gold Adventure.

"Dua masalah selesai," sosoknya muncul di kejauhan layaknya kelelawar crimson terbentuk menjadi wujudnya, menyeringai pada mereka.

"Tsk...."

Terlihat frustasi karena tidak bisa mengatasi serangan darinya, Best Knight kebingungan kenapa skill Provoke tidak bekerja padanya untuk menargetkannya malah menargetkan yang lain seolah-olah skill Provoke tidak berguna untuk menghadapinya.

"Wahai roh bumi, berikanlah saya berkah untuk menghadapi rintangan yang menghadang saya. Pastikan rintangan tersebut tidak lain adalah ujian saya. Keluarlah, Earthquake!"

Tiba-tiba getaran gempa terjadi di pijakan kakinya. Ia yang menyadari hal tersebut—melompat dan salto di udara yang mundur lebih jauh dari tempatnya sebelumnya sejauh 1 kilometer.

Tepat saat ia melompat jauh dari tempatnya, urat-urat di permukaan muncul berwarna merah layaknya lahar lalu gundukan tanah menyebar seperti bunga yang mekar seluas 5 meter dengan tinggi gundukan tanah setinggi 3 meter menjatuhkan pepohonan yang kukuh ke sisi sehingga menciptakan kawah besar.

"Sekarang, lari!"

Tidak memiliki pilihan lain selain lari, Best Knight memerintahkan semuanya lari demi keselamatan mereka. Mereka mengangguk—memutuskan untuk lari, ada perasaan takut, khawatir, dan panik yang memenuhi hati mereka berharap mereka tidak dikejar olehnya di kejauhan.

"Cara klasik ya."

Tahu kalau musuhnya menggunakan cara klasik dengan membuatnya menjaga jarak lalu kabur dari pertempuran, seringai lebar terlihat di bibirnya yang memikirkan ide kejam untuk dilakukan pada mereka.

"Sekarang, permainan diubah."

Menyayat pergelangan tangan untuk membuatnya terluka, darah mengalir di pergelangan tangannya—terjatuh ke permukaan. Darah tersebut tiba-tiba membentuk suatu wujud monster sebanyak lima monster, mereka adalah Hound, Twin-snake yang menyatu dengan dua kepala dan ekor, Lion, Gargoyle, dan Griffin, semua tubuh mereka berwarna crimson.

"Kejar petualang tingkat rendah , sedangkan yang kuat buru petualang tingkat tinggi yang merepotkan."

Kelima monster crimson menundukkan kepala mereka sebagai hormat kepada majikannya, mereka segera pergi ke arah dimana mereka berlari.

•••••

"Sial. Apa-apaan dia? Bagaimana bisa dia memburu kami dengan mudah?"

Tidak dapat memahami melalui akal logika, setahu High Archer mana ada makhluk sekuat itu tanpa melafalkan mantra maupun menggunakan aba-aba dalam menggunakan kemampuannya.

Ini lebih seperti monster. Tidak, lebih diluar akal sehat manapun. Itulah yang dipikirkan olehnya.

Tiba-tiba High Archer berhenti, ia merasakan sesuatu melalui Detection Area yang mengikutinya.

"Tsk... apakah aku terkejar olehnya?" Frustasi memenuhi wajahnya, ia tidak tahu apakah orang yang mengejar adalah wanita itu atau bukan.

Begitu Detection Area merasakan radius musuh sangat dekat, instingnya segera berbalik lalu memegang busur dan menggunakan anak panah sihir untuk membidik siapa yang mendekatinya.

"Huh?"

Terperangah melihat yang datang bukan wanita berambut crimson panjang dengan gaun gothic lolita perpaduan antara merah gelap dan hitam yang seimbang dan berkulit putih pucat, Elf tersebut hanya melihat seekor ular yang memiliki dua kepala dan ekor dengan satu tubuh berwarna crimson.

"Hanya ini saja mudah," entengnya saat berbicara, siap untuk membidik Twin-snake dihadapannya.

Saat anak panah berwarna cinnamon dipegang dan ditarik di busurnya, Elf itu memperlihatkan seringai senyuman percaya diri kalau ia akan membunuh monster itu dihadapannya.

"Matilah!"

Begitu anak panah berwarna cinnamon ditembakkan ke Twin-snake, Twin-snake tertusuk oleh gundukan tanah setinggi 2 meter yang tajam, kejang-kejang lalu tak bergerak memperlihatkan bahwa ia sudah mati.

"Mudah sekali."

Tanpa disadari oleh Elf, Bloen berada dibelakangnya yang menebas kedua tangannya dalam gerakan cepat membuatnya tercengang melihat darah keluar dari kedua sisi dimana tempat lengannya berada dalam waktu lambat.

Rasa sakit menjalar di sekitar tempat dimana pergelangan tangannya berada. Sakit dan perih, keduanya dirasakan, Elf tersebut menjerit kesakitan dalam keputusasaan.

"Tanganku! Tanganku!"

"Fufufu... sekarang begini lebih baik."

Sekali lagi, ia menggunakan darahnya untuk menciptakan Twin-snake dihadapannya sebanyak lima ekor.

"Lakukanlah."

Mengikuti perintah majikannya, kelima Twin-snake bergerak mengerumuni kaki wanita Elf. Elf itu berusaha untuk menendang mereka namun mereka tidak terlempar jauh, tetap bergerak dari kakinya ke tubuh lalu tangannya.

"Tunggu... apa yang kamu–"

Tiba-tiba voltage tinggi membuat Elf itu kejang-kejang tanpa bisa berkata apa-apa maupun mempertahankan kesadarannya hingga akhirnya ia tumbang di permukaan dalam kondisi gosong dengan pakaian compang-camping, matanya tidak lagi terlihat karena sepenuhnya putih.

Dia sudah tiada. Tiada bukan karena voltage tinggi sebelumnya melainkan proses dari penyerapan afinitas sihir ke tubuh Twin-snake yang disuruh olehnya untuk menyerap langsung pada Elf itu yang memiliki class High Archer.

"Sekarang, kalian bisa lakukan hal lain."

Kelima ekor Twin-snake menyatu membentuk perwujudan dirinya yang lain, tetap dalam seluruh tubuhnya dibungkus oleh warna crimson.

"Pergilah untuk bersenang-senang."

"Ya."

Sekarang sosok mirip dirinya berwarna crimson di seluruh tubuhnya bisa berbicara, ia membungkuk lalu pergi dalam sekejap seolah-olah keberadaannya tidak sejak awal.

Ditempat lain, High Wizard bersama Swordsman dan Beast Tamer tidak ingin berpencar karena jika mereka berpencar mereka akan mati.

"Apa-apaan makhluk itu?!"

"Dia tidak seperti yang kita pikirkan."

"Pokoknya, kita harus kembali ke kota untuk memikirkan rencana berikutnya."

High Wizard dan Beast Tamer mengangguk setuju pada perkataan Swordsman karena itu langkah yang tepat. Jika mereka paksakan bertarung maka mereka akan kalah dan berakhir dilenyapkan oleh musuh mereka, Bloen.

Tak hanya High Wizard dan Beast Tamer yang bersama Swordsman, ada juga party lain dari gold adventure dicampur dengan silver dan chopper adventure supaya mereka tidak berpencar yang dapat menyebabkan mereka mati konyol.

Menyadari kalau mereka tidak sebodoh yang dikiranya, dengan terpaksa ia mengubah rencananya dari menyerang mereka dengan monster biasa dan tingkat tinggi menjadi kloning miliknya berjumlah 4 kloning berharap dengan cara ini dapat melenyapkan mereka sekaligus tanpa kesulitan seperti sebelumnya.

•••••

"Menakutkan...."

Tercengang melihatnya yang Alice pikir baik, ramah, dan peduli padanya layaknya ibunya ternyata salah mengiranya.

Saat melihat wanita itu melenyapkan mereka tanpa ampun dan kasihan, ia melakukannya secara brutal, kejam, dan sadis yang bertentangan dengan sosok yang ia lihat sebelumnya.

"Hmmm...."

"Gawat! Dia menyadari keberadaan ku!"

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya saat bersembunyi dibalik batang pohon yang lebih besar dari dirinya. Ia mendengar langkah kaki mendekatinya menduga kalau itu adalah langkah kakinya.

Andaikan ia ketahuan diam-diam menyelinap keluar untuk melihatnya, ada kemungkinan ia akan dibunuh olehnya tanpa ampun. Sebaliknya, jikalau ia tidak keluar maka ia tidak tahu-menahu tentang apa yang diinginkan oleh wanita itu padanya—membuatnya penasaran.

"Ara... Alice-chan, apa yang kamu lakukan disini?"

"Ah, itu...."

Ekspresinya memucat saat wanita itu tersenyum lemah lembut padanya layaknya seorang ibu meskipun bercak darah ada di gaun gothic lolita berwarna merah gelap dan hitam yang sama perpaduannya, di kulit dan wajahnya yang berbanding terbalik dengan penampilannya sebelumnya.

"A-Aku... aku minta maaf!"

"Tunggu! Alice-chan...."

Sebelum dapat mengatakan apapun, ia berlari untuk menyelamatkan hidupnya. Itu wajar. Lagipula apa yang ia lihat dari sosok itu bukanlah manusia melainkan sosok monster yang jauh melampaui akal sehat manusia.

Andaikan ia ada di posisi petualang, kemungkinan besar ia akan mati adalah hal tak terbantahkan. Tapi, ia tidak tahu apa yang diinginkan oleh sosok itu padanya.

"Kenapa ia berpura-pura bersikap ramah padaku? Apa yang diinginkannya? Mengapa aku bisa sebodoh itu berpikir dia baik dan peduli padaku?" Pikirnya, terlihat frustasi di wajahnya selagi ketakutan, panik, dan khawatir memenuhi hatinya.

Begitu ia sudah cukup jauh, ia tiba-tiba berada di area yang dikenalnya yang dekat dengan gerbang menuju Ibukota Thijam. Ada rasa senang dan bangga diwajahnya, ia melangkah berharap ada ksatria yang akan membuka gerbang untuknya saat ia mencapai gerbang utama.

Tapi, sebelum Alice tiba sesuatu menahannya.

"Ah..."

Ekspresinya menegang dan pucat saat melihat kedua monster di hutan tersebut, Forest Boar dan Forest Wolf memandangnya sebagai mangsa mereka.

Ini pertama kalinya ia melihat monster seperti Forest Boar dan Forest Wolf terlihat agresif, padahal sebelumnya mereka tidak agresif memungkinkan siapapun dapat melewatinya tanpa ditargetkan oleh monster tersebut. Itulah yang dibaca olehnya di perpustakaan.

Tapi, kenyataannya tidak sesuai dengan informasi di buku.

Rasa takut, khawatir, dan panik memenuhi hati dan pikirannya. Di satu sisi, ia tidak ingin mati melainkan tetap hidup. Tapi di sisi lain, ia tahu kalau ia tak berdaya bila menghadapi Forest Boar dan Forest Wolf dengan tangan kosong karena ia hanya gadis kecil lemah dan rapuh, bukan gadis kecil yang tiba-tiba memiliki kemampuan overpower.

Seekor Forest Boar menggerakkan kaki kanan depannya seolah-olah mengeruk permukaan dengan angin yang dihembuskan dari hidungnya di kedua tanduk di sisi hidungnya, menatap tajam padanya dengan mata hitamnya.

"Kumohon, menjauh dariku!" Teriaknya, dengan nada pelan dalam keputusan dan ketakutan.

Ia yang berbalik segera berlari berharap Forest Boar tidak mengejarnya agar ia tidak terluka olehnya.

Tapi, sayangnya itu tidak seperti dugaannya.

Forest Boar lari dengan kecepatan sedang di mata petualang tingkat dasar, Bronze Adventure, tapi baginya kecepatannya cukup cepat hingga ia mendorong tubuhnya sekuat tenaga ke samping, berguling-guling karena hampir saja terhantam oleh serudukan dari Forest Boar.

Forest Boar mengeluarkan suara kekesalan, ia sekali lagi berlari untuk menghantam tubuhnya. Ia yang bangkit berdiri belum sempat berlari, terkena serudukan kepala Forest Boar membuatnya terpental menjauh dari tempatnya, berguling-guling di permukaan.

"Sakit...."

Tiba-tiba perutnya terasa sakit akibat serudukan darinya membuatnya tidak mampu bangkit. Forest Boar menyeruduk kepalanya ke kepala gadis kecil itu menciptakan memar di wajahnya berkali-kali, terpelanting jauh tanpa bisa bergerak.

"Kumohon... berhenti..."

Entah bagaimana Forest Boar yang mendengar permohonan putus asa mendengarkan keputusasaannya, berhenti menyeruduk dirinya.

Disana, ia tersenyum lega karena ia tidak lagi ditargetkan oleh Forest Boar. Tapi beberapa detik kemudian, kawanan Forest Wolf datang mengepungnya—menatapnya dengan mata pemburu yang siap untuk memangsanya yang tak berdaya akibat serudukan dari Forest Boar.

"Tidak... kumohon... jangan..."

Saat ia bangkit, ia tidak bisa berdiri melainkan duduk. Itupun ia meringis kesakitan selagi memegang kepala dan perutnya akibat serudukan dari Forest Boar yang menghantam kepala dan perutnya.

Sayangnya, Forest Wolf tidak mendengar perkataannya.

Kedua ekor Forest Wolf mendekatinya. Satu didekat pundaknya, satunya lagi dekat dengan bagian pinggangnya.

"Siapapun... tolong aku!"

Sayangnya, tidak ada siapapun yang mendengar jeritan keputusasaan dalam batinnya. Hanya ada dirinya sendiri yang tak berdaya.

Kedua Forest Wolf mengangkat kaki depan mereka. Satu dekat pinggangnya mengangkat kaki depan kiri, satunya lagi dekat pundaknya mengangkat kaki depan kanannya.

"Argh..."

Jeritan dari meringis kesakitan terdengar keras.

Rasa sakit tersebut menjadi perih saat kedua cakar dari dua Forest Wolf menyayat kaki depan mereka di bahu kanan dan paha kirinya.

"Ah..."

Saat melihat kedua ekor Forest Wolf berniat untuk mencakar tubuhnya lagi, ia memejamkan mata karena tidak ingin melihat apa yang dilaluinya.

Satu detik berlalu, dua detik berlalu... beberapa menit berlalu tanpa ada rasa sakit yang dirasakan olehnya.

Mata crimsonnya terbuka memperlihatkan siluet dari sosok wanita dengan punggung yang memperlihatkan kulit putih pucat yang terbuka dari gaun gothic lolita perpaduan antara merah gelap dan hitam, berdiri kukuh tanpa bergerak sedikitpun.

"Eh?"

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Matanya terpaku pada sekelilingnya. Dimana kawanan Forest Wolf yang berkumpul mengitarinya layaknya mangsa buruan mereka tiba-tiba tergeletak di permukaan dengan kondisi menyedihkan—bersimbah darah. Ada yang kepalanya terpenggal dan jatuh, ada yang tanpa kepala, organ dalam keluar dari kulit dan bulu-bulu berwarna abu-abu dan putih, serta ada juga tangan mereka yang terpotong dan hilang.

"Sudah kukatakan jangan pergi! Aku peringatkan padamu!"

"Eh?"

Bukannya dibunuh oleh sosok didepannya, ia justru bingung atas amarah yang meledak darinya padanya seolah-olah ada rasa khawatir dan takut dari sorot matanya yang terlihat jelas menatap mata crimsonnya.

"Kenapa kamu melindungi aku?"

Pertanyaan itu masuk akal.

Lagipula, ia berpikir kalau sosok didepannya tidak lain ialah Bloen—menginginkan sesuatu darinya. Mana mungkin wanita itu tiba-tiba mengajaknya pergi meninggalkan kamar di kastil untuk kebebasan untuk bermain dengannya.

"Aku melindungimu karena kamu belum waktunya untuk mati."

"Hah?"

Tidak memahami maksud darinya, rasa bingung dan penasaran semakin terlihat di wajahnya menatap ke sosok itu.

"Singkatnya, aku takkan bunuh dirimu sebelum dirimu matang."

"Kenapa?"

"Bukankah sudah jelas? Kamu masih memiliki masa muda. Kamu harus melakukan apa yang kamu ingin lakukan sekarang."

Berbalik membelakanginya setelah menghadap padanya, ia tidak menoleh ke belakang melainkan tetap menatap ke kejauhan didepannya, bergumam dengan pelan yang lemah lembut dapat terdengar oleh gadis kecil dibelakangnya.

"Akan sangat menyedihkan bila aku membunuhmu sebelum impianmu terwujud."

Mulai memahami maksud dari perkataannya, ia tersenyum kecil selagi bangkit berdiri menahan rasa sakit dari darah di bahu kanan dan paha kirinya—berjalan tertatih-tatih mendekatinya.

"Jika aku... sudah mewujudkan impianku... apakah kamu... akan datang... la...."

Samar-samar pandangannya semakin blur, ia tiba-tiba terjatuh ke permukaan.

Sebelum dapat terjatuh, wanita itu menangkapnya lalu menggendongnya untuk diletakkan di tempat yang terlihat oleh ksatria yang sedang berpatroli yaitu di dekat semak belukar dengan tubuhnya tertutup oleh semak belukar, kepalanya kelihatan.

"Aku akan kembali saat kamu selesai mewujudkan impianmu."

Dalam sekejap, sosok Bloen sirna saat cahaya rembulan menerangi kegelapan hutan seolah-olah keberadaannya hanya ilusi untuk siapapun yang lewat di sana untuk menyelamatkannya, tapi bagi gadis kecil yang pingsan—itu adalah kenyataan sekaligus mimpi buruk yang di satu sisi terasa hangat dan lembut oleh kasih sayang dan perhatian, tapi di sisi lain terasa menyeramkan.

^^^To be continued....^^^

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!