Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 : Imbalannya, Nyawa
Semua kepala terangkat bersamaan.
Tatapan mereka mengarah ke lantai atas gudang, bagian gudang yang gelap karena sejak tadi tak tersentuh cahaya. Di sana, sebuah siluet berdiri diam, seolah memang sengaja menunggu saat yang tepat.
Daniel mengerutkan kening. Ia maju satu langkah, menajamkan pandangan.
“Siapa di sana?” serunya.
Sosok itu bergerak. Langkah kaki perlahan terdengar menuruni tangga besi.
Tok. Tok.
Suara hak sepatu menggema, memantul di dinding kosong gudang yang tiba-tiba terasa jauh lebih sempit. Cahaya lampu tunggal di tengah ruangan mulai menyentuh tubuhnya sedikit demi sedikit.
Jas hitam rapi. Rambut panjang tergerai. Bahu tegak. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja muncul di tengah konflik.
Emily membeku.
“Itu…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Gadis itu berhenti di bawah tangga, tepat di area cahaya. Bibirnya melengkung tipis, nyaris ramah.
“Tenang,” katanya lembut. “Aku cuma lewat.”
Suaranya jernih, nyaris sopan. Ia menatap mereka satu per satu sebelum melanjutkan, “Namaku Blair.”
Kata itu menggantung di udara.
“Dari dunia hukum,” tambahnya, santai. “Dan sepertinya aku… tidak sengaja mendengar pertengkaran yang cukup menarik.”
Ia memiringkan kepala. “Ada masalah? Siapa tahu aku bisa membantu.”
Hening.
Emily menelan ludah, lalu melangkah maju dengan cepat, terlalu cepat, seperti ingin segera menutup situasi ini.
“Aku bisa bayar,” katanya tanpa basa-basi. “Berapa pun.”
Blair mengangkat alis.
Emily mendekat lagi, suaranya direndahkan. “Aku bisa membiayai hidupmu. Sekarang, nanti, kapan pun. Asal kamu lupa apa yang kamu dengar.”
Blair menunduk. Bahunya sedikit bergetar. Lalu terdengar tawa.
Bukan tawa keras, melainkan tawa pelan yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia mengangkat kepalanya kembali, rambutnya bergeser dari wajahnya, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Jangan khawatir,” katanya sambil melangkah mendekat. “Aku tidak berniat memberi tahu siapa pun.”
Emily hampir menghela napas lega.
Blair berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka sangat dekat.
“Dan aku juga,” lanjut Blair pelan, “tidak butuh uang untuk menutup mulut.”
Emily mengerutkan kening. “Tapi… harus ada imbalannya,” katanya cepat. “Aku tidak bisa membiarkan ini tanpa—”
Blair tertawa lagi. Kali ini lebih rendah.
Ia mencondongkan tubuhnya, mendekat ke telinga Emily, lalu berbisik sangat pelan,
“Kalau kamu memaksa…”
Ia berhenti sejenak.
“aku ingin…imbalannya, nyawa.”
Wajah Emily langsung pucat. Matanya terbelalak, tubuhnya menegang.
Namun Blair sudah berpaling.
Tatapan tajamnya menyapu sekelompok pria di belakang Daniel. Ia menghitung mereka dalam diam. Delapan.
“Cukup banyak,” gumamnya hampir tak terdengar.
Dalam sekejap, Blair melesat. Tidak ada aba-aba. Tidak ada waktu bereaksi.
Tangannya mencengkeram wajah salah satu pria dengan brutal, jari-jarinya menekan rahang dan tengkorak. Dengan satu gerakan keras, ia membanting tubuh itu ke dinding beton.
DUM!
Suara benturan menggema di seluruh gudang. Pria itu terjatuh, terkapar, darah mengalir dari sudut bibirnya.Teriakan kaget pecah di antara mereka.
Tubuh pria itu terhantam dinding dengan keras hingga beton di belakangnya merekah halus. Suara retakan terdengar jelas sebelum tubuh itu meluncur jatuh dan menghantam lantai dengan bunyi berat, tak bergerak.
Hening menyambar gudang itu.
Blair berdiri tegak di tempatnya. Ia merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan, seolah baru saja menyelesaikan hal sepele. Gerakannya terlalu santai untuk seseorang yang baru saja melumpuhkan orang lain.
Lalu ia menoleh.
Tatapannya tertuju pada Daniel dan sisa teman-temannya. Mata gelap itu tenang, dingin, seakan sedang menilai barang yang cacat.
Emily membeku di tempat. Kakinya terasa berat, napasnya tertahan. Teman-temannya tak jauh berbeda, wajah mereka pucat, mata membelalak, otak mereka seolah menolak menerima apa yang baru saja terjadi.
Blair tersenyum. Senyum yang sama. Tipis namun tidak ramah.
“Jangan diam saja,” katanya ringan, hampir terdengar seperti bercanda. “Aku jadi merasa tidak sopan.”
Daniel tanpa sadar melangkah mundur setapak. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, tetapi tubuhnya menolak maju.
Blair memiringkan kepala, menatap reaksi itu dengan rasa geli.
“Kenapa?” tanyanya pelan. “Bukankah tadi kalian ramai sekali?”
Ia melangkah satu langkah ke depan.
Daniel mundur lagi.
Blair tertawa kecil, lalu membuka kedua tangannya sedikit, seolah memberi kesempatan.
“Tenang,” katanya. “Kita masih punya waktu.”
Tatapan Blair kembali menyapu ruangan, menghitung, menilai, memilih.
Lalu matanya berhenti pada Daniel.
“Jadi…” ucapnya sambil menatap lurus ke arahnya, “siapa selanjutnya?”