Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAUDARA, TEMPAT SALING BERSANDAR
Di dalam kamar, Kirana mengunci pintu. Ia duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pintu. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya sendiri dari saku, lalu menekan satu nama di daftar kontak, 'Kak Arka'.
Panggilan tersambung setelah nada ketiga.
"Kak, kau bisa pulang cepat hari ini?" tanya Kirana dengan suara yang ia tahan agar tidak pecah.
Namun di seberang, Arka bisa mendengar isakan halus, ia tahu betul kebiasaan adiknya. "Sesuatu terjadi?" tanya balik Arka, singkat dan datar, khasnya yang tak suka berbasa-basi.
Kirana menggigit bibir, air matanya kembali jatuh semakin deras. "Kau... apa kau tidak sakit hati dengan kelakuan Ayah?" tanyanya lirih dengan suara yang jelas bergetar.
"Kirana, pekerjaanku masih banyak. Tolong katakan langsung saja," sahut Arka.
Emosi Kirana akhirnya meledak. "Hari ini mereka datang ke sekolah Dara bersama, sebagai pasangan! Aku muak melihat wanita itu berlagak seperti ibu di samping Ayah! Dia pasti sengaja menggunakan Dara sebagai alasan untuk bisa mengendalikan Ayah!" cerocos Kirana tanpa jeda dengan isak yang pecah.
"Kau tahu, Kak?" lanjut Kirana. "Bahkan tadi Ayah membentakku, alih-alih membelaku! Sakit, Kak, aku benar-benar membenci wanita itu!" teriaknya.
Di seberang panggilan, hening sesaat. Hanya terdengar helaan napas Arka yang berat.
Arka bersandar di kursi kerjanya. Di hadapannya, di atas meja, terdapat bingkai foto dirinya bersama sang ibu dan kedua adiknya. Foto yang diambil beberapa bulan sebelum ibunya berpulang. Wajah ibunya tersenyum hangat di foto itu, dan semua wajah tampak bahagia, termasuk dirinya.
Rahang Arka mengeras, tangannya mengepal kuat-kuat. 'Aku juga tidak suka melihat wajah Ibu dimiliki oleh wanita asing itu, tapi aku bisa apa?' batinnya.
"Kau mau aku melakukan apa?" tanya Arka pada akhirnya. Suaranya masih dingin, seolah tidak peduli. Padahal dadanya ikut sesak mendengar tangis adiknya.
Kirana terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya ingin seseorang memihaknya, seseorang yang merasakan sakit yang sama. "Kak... aku ingin Ibu kembali," bisik Kirana merasa hancur.
Arka memejamkan mata, kali ini rasa sakit itu menyelusup semakin jauh ke dasar hatinya. Ia tak tega membayangkan betapa hancur adiknya saat ini, meski di sisi lain, ia berharap adik bungsunya benar-benar kembali sehat dan ceria. Sungguh dilema yang luar biasa.
"Aku akan pulang. Tunggu di rumah, dan jangan lakukan apa pun sebelum aku sampai."
Panggilan terputus.
Kirana memeluk lututnya, dengan tangis yang masih terdengar memilukan.
............
Empat puluh menit setelah panggilan terputus, suara deru mobil yang familier terdengar masuk ke pelataran rumah.
Kirana yang masih duduk di lantai kamarnya langsung berdiri. Ia mengusap air matanya dengan kasar, membuka pintu lalu berlari turun.
Arka sudah berdiri di tengah ruang keluarga. Jas kerjanya masih ia pakai. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap tenang dan dingin seperti biasanya.
Tanpa berkata apa-apa, Arka meletakkan tas kerjanya di atas sofa.
Waluyo dan Sutami yang berada di ruang makan langsung berdiri. Dara yang sudah berganti baju, berlari kecil menuju Arka.
"Kak Arka!"
Arka mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Dara dengan lembut. Namun tatapannya langsung beralih pada Kirana yang berdiri di depan anak tangga dengan mata sembab.
Kirana tidak tahan lagi. Ia berlari dan memeluk kakaknya dengan erat.
"Kak..." isaknya pecah lagi. Semua amarah yang tadi menggebu kini berubah menjadi tangis yang tertahan.
Arka terdiam sejenak. Ia tidak langsung membalas pelukan itu. Ia hanya menghela napas panjang dan menepuk punggung adiknya dengan pelan. Satu kali, dua kali. Gerakan yang kaku, tapi penuh makna.
"Sudah," ujar Arka pelan, hanya ia tujukan untuk Kirana dengar. "Cukup. Jangan menangis seperti ini."
Arka melepaskan pelukan Kirana perlahan. Tangannya memegang kedua bahu adiknya, menatap wajahnya yang basah oleh air mata.
"Dengar," kata Arka dengan nada rendah dan terkontrol. "Kalau kau menangis seperti ini di depan semua orang, kau hanya akan terlihat seperti anak kecil yang manja. Ibu tidak pernah mengajarkanmu seperti itu, kan?"
Kalimat itu membuat Kirana tercekat. Ia mengusap air matanya lagi, tapi masih tak berani menatap balik pada wajah kakaknya itu.
"Kau membenci wanita itu, aku mengerti," lanjut Arka. Suaranya tetap dingin, namun kini ada penekanan di setiap katanya. "Aku juga tidak suka melihat wajah Ibu ada pada orang lain. Setiap kali melihatnya, dadaku juga sakit."
Kirana mendongak, matanya membulat meski masih berkaca-kaca.
"Tapi kalau kau melempar ponsel Ibu, membentak Ayah di teras, dan mengancam pergi dari rumah, apa yang akan berubah?" tanya Arka. "Ibu tidak akan kembali. Ayah hanya akan semakin jauh darimu. Dan Dara akan semakin takut padamu."
Kirana menggeleng pelan. "Tapi aku tidak sanggup, Kak..."
"Aku tahu kau tidak sanggup," jawab Arka. Ia menarik napas. "Karena itu aku pulang. Tugas kakak adalah memastikan adiknya tidak menghancurkan dirinya sendiri karena amarah."
Arka kemudian menoleh sekilas ke arah Waluyo dan Sutami yang masih berdiri mematung di ruang makan. Tatapan Arka dan Waluyo bertemu. Dingin bertemu dingin. Tidak ada kata yang terucap, tapi ada ketegangan terasa.
Arka kembali menatap Kirana. "Masuk ke kamar. Basuh mukamu, tenangkan dirimu. Biar aku yang bicara dengan Ayah. Kau tidak perlu melihat wajah siapa pun malam ini kalau kau tidak mau."
Kirana mengangguk patuh. Amarahnya yang memuncak perlahan mereda, bukan karena hilang, melainkan karena ada tempat untuk ia bersandar. "Ya, Kak," bisiknya.
Kirana kembali naik lalu masuk ke kamar, tidak lagi menutup pintu dengan bantingan keras, melainkan perlahan dan kembali tenang.
Arka masih berdiri di tengah ruangan. Kini ia membungkuk, mensejajarkan tatapan dengan Dara yang sejak tadi bersabar berdiri bergelayut di kakinya.
"Dara boleh bermain sebentar, sama ibu juga boleh, sama Bude Rini juga boleh. Kakak mau bicara dulu sama Ayah," ujarnya pelan dan bijak.
Dara mengangguk, menatap wajah kakaknya. "Hm! Tapi kakak janji ya, jangan marahin siapa pun seperti kak Kiran!" serunya polos.
"Iya, Kakak janji!"
Dara kembali berlari kecil menuju ke ruang makan, mendekat pada Sutami.
Arka kembali berdiri tegak, lalu melepas jasnya dan meletakkannya di lengan. Kemudian ia menatap Waluyo dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak. "Ayah, kita perlu bicara."
...****************...
Bersambung
rasain tuh 😏