Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

Beberapa hari kemudian.

Paginya, halaman utama SMA Garuda didekorasi dengan megah. Panggung besar berdinding kain putih dan biru berhiaskan bunga-bunga segar berdiri kokoh di tengah lapangan. Spanduk raksasa bertuliskan "Pelepasan & Wisuda Siswa-Siswi Kelas XII SMA Garuda Angkatan XLVIII" terbentang di atas gerbang utama. Udara pagi yang sejuk diiringi riuh gembira ratusan murid yang mengenakan toga dan kebaya.

Masa-masa ketegangan Ujian Nasional, simulasi komprehensif, hingga intrik penilaian akhirnya selesai. Hari ini adalah hari selebrasi, hari di mana seluruh batas dan aturan ketat sekolah akan dilepaskan satu per satu.

Di area pendaftaran wisudawan, Kirana berdiri anggun mengenakan kebaya modern berwarna merah muda lembut dengan paduan kain batik Jawa. Rambut hitamnya disanggul modern dengan hiasan bunga melati kecil di sisinya. Maya yang berdiri di sebelahnya tak henti-hentinya berdecak kagum.

"Sumpah ya, Kir!" puji Maya seraya merapikan lipatan kain kebayanya sendiri. "Lo cantik banget hari ini! Gue yakin kalau Kenan liat lo dari panggung wisuda, konsentrasi dia sebagai perwakilan lulusan terbaik langsung buyar!"

Kirana tertawa pelan, pipinya merona merah. "Ada-ada aja lo, May. Kenan kan lagi gladi bersih sama Pak Suryo di belakang panggung."

Di lorong samping panggung, Kenan berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam formal berpadu kemeja putih dan dasi maroon. Toga hitam terpasang rapi di kepalanya, dengan kalung medali kelulusan berwarna emas melingkar di lehernya. Penampilannya yang sangat tampan dan berwibawa menarik perhatian hampir seluruh murid perempuan dan para orang tua yang hadir.

Mata Kenan menerobos kerumunan murid, mencari sosok yang paling berharga dalam hidupnya. Begitu pandangannya mengunci Kirana yang tampil begitu jelita dalam balutan kebaya, Kenan tertegun sejenak. Senyum tipis yang sarat akan rasa kagum dan cinta terukir di bibirnya. Dari kejauhan, Kenan memberikan tanda hormat kecil dengan menyentuhkan jemarinya ke ujung toga, lalu tersenyum hangat khusus untuk Kirana. Kirana membalasnya dengan lambaian tangan kecil dan senyuman paling manis.

Prosesi wisuda berjalan sangat khidmat. Satu per satu nama wisudawan dipanggil ke atas panggung untuk menerima ijazah dan medali. Ketika nama Kenan Alister dipanggil sebagai Lulusan Terbaik Paralel Utama, gemuruh tepuk tangan membahana di seluruh lapangan.

Kenan melangkah ke podium utama, berdiri di depan mikrofon untuk menyampaikan pidato kelulusan mewakili seluruh angkatan.

"Selamat pagi kepada yang terhormat Bapak/Ibu Yayasan, Kepala Sekolah, para guru, orang tua, dan rekan-rekan angkatan XLVIII," buka Kenan dengan suara baritonnya yang mantap dan menggema indah melalui pengeras suara.

Di barisan kursi murid, Kirana menatap pria itu dengan mata berbinar penuh rasa bangga.

"Masa-masa tiga tahun di SMA Garuda telah membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh," lanjut Kenan, pandangannya menatap ke seluruh lapangan sebelum akhirnya berhenti tepat pada Kirana. "Di sekolah ini, kita belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang angka di atas lembar kertas, melainkan tentang keberanian untuk mempertahankan prinsip, kejujuran dalam berjuang, dan kesetiaan dalam menjaga komitmen."

Kenan jeda sejenak. Sorot matanya yang biasa dingin kini memancarkan kehangatan yang amat dalam.

"Untuk seseorang yang selalu menjadi alasan saya bertahan di tengah himpitan beban dan tanggung jawab... terima kasih telah percaya pada saya. Hari ini, garis akhir di sekolah ini adalah awal dari janji masa depan yang baru."

Meski seluruh hadirin menganggap kalimat terakhir itu adalah ungkapan puitis umum untuk orang tua atau sahabat, Kirana tahu persis bahwa setiap kata dalam kalimat itu ditujukan khusus untuk dirinya. Air mata haru menetes pelan di pipi Kirana, yang segera diusapnya dengan sapu tangan.

Setelah acara formal usai pukul 12.00 WIB, lapangan sekolah berubah menjadi area foto bersama dan perpisahan. Para murid saling berpelukan, meminta tanda tangan di kain kenangan, dan mengabadikan foto bersama keluarga.

Di area pameran Mading dekat gazebo utama, Gabriel berdiri sendirian dengan pakaian kemeja rapi. Pria itu memegang sebundle berkas evaluasi akhir pertukaran pelajar yang telah ditandatangani oleh dinas pendidikan.

Kirana melangkah mendekati Gabriel secara mandiri, didampingi Maya yang menunggu di jarak lima meter.

"Kak Gabriel," panggil Kirana sopan.

Gabriel membalikkan badan. Saat melihat Kirana berdiri di depannya dengan anggun, raut wajah Gabriel yang tadinya kaku perlahan melunak.

"Selamat atas kelulusan lo, Kir," kata Gabriel ramah, menyodorkan sebuah amplop cokelat berisi sertifikat kelayakan riset nasional. "Nilai akhir Lo sempurna. Lo resmi dinobatkan sebagai penyusun laporan terbaik tingkat provinsi. Berkas ini penting untuk verifikasi ulang jalur undangan Lo ."

Kirana menerima amplop itu dengan kedua tangannya, membungkuk kecil. "Terima kasih banyak atas bimbingannya selama ini, Kak Gabriel. Tanpa koreksi dan ujian dari Kakak, gue gak akan terdorong buat belajar seteliti ini."

Gabriel menghela napas panjang, menatap Kirana dengan senyuman tulus. "Lo selalu tahu cara menyelesaikan masalah dengan elegan, Ran. Gue harus mengakui... Kenan adalah pria yang sangat beruntung, dan dia terbukti sanggup menjadi benteng yang kokoh buat lo."

Kirana menatap mentor masa kecilnya itu dengan kehangatan. "Kak Gabriel, gue juga doain semoga Lo menemukan kebahagiaan dan pasangan yang tepat di masa depan. Dan makasih udah jadi teman masa kecil gue."

Gabriel mengangguk pelan, menyodorkan tangan kanannya. "Selamat memasuki dunia perkuliahan di Unpad Bandung, Kirana. Selamat juga buat Kenan yang keterima di ITB lewat jalur prestasi. Kalian berdua pasangan yang luar biasa."

Kirana berjabat tangan erat dengan Gabriel, meruntuhkan seluruh sisa ketegangan dan konflik yang pernah ada di antara mereka.

Sore harinya, kerumunan murid mulai berkurang. Kirana mengajak Maya duduk di area taman belakang dekat kolam ikan, tempat yang tenang dan jauh dari kebisingan. Maya tampak heran saat Kirana menahan tangannya dan mengajaknya duduk berdua.

"May... ada sesuatu yang penting banget yang harus gue omongin ke lo," ucap Kirana dengan nada serius.

Maya menaikkan sebelah alisnya, mengamati raut wajah Kirana. "Kenapa, Kir? Muka lo serius banget. Soal beasiswa atau soal Kak Gabriel lagi?"

Kirana menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Selama ini, Maya adalah sahabat paling setia yang selalu ada di sampingnya, membelanya dari cemoohan Clarissa, dan membantunya di divisi Mading. Menyembunyikan kenyataan dari Maya selalu membuat Kirana merasa bersalah.

"Ini soal gue... dan Kak Kenan," bisik Kirana.

Maya terkekeh kecil. "Yaelah Kir, kalau soal lo sama Kenan ada rasa, semua orang di Mading juga udah curiga kali. Tatapan dia ke lo tuh beda banget."

"Bukan cuma ada rasa, May," pangkas Kirana halus. Ia merogoh saku dalamnya, mengeluarkan sebuah tempat perhiasan kecil berbahan beludru hitam, lalu membukanya. Di dalamnya melingkar dua cincin perak polos yang sederhana.

Maya terdiam, matanya menatap bingung ke arah cincin tersebut, lalu beralih menatap wajah Kirana. 

"Hahh… maksudnya?" 

"Gini, Gue dan Kenan... udah menikah May," aku Kirana jujur, menatap mata sahabatnya tanpa ada lagi kebohongan.

Deg.

Maya membeku di tempatnya. Mulutnya terbuka sedikit, matanya membelalakan kaget luar biasa. "L-lo... lo becanda kan, Kir?! Nikah?! Sama Kenan yang dingin dan ketat aturan OSIS itu... suami lo?!"

"Gue serius, May," lanjut Kirana dengan suara yang begitu tenang dan tulus. "Sebenarnya kita dijodohin dan pernikahan kita disahkan secara hukum dan agama oleh keluarga besar kita sebelum semester baru dimulai. Alasan kita merahasiakannya di sekolah semata-mata demi menjaga kelancaran belajar dan aturan sekolah. Tapi Pak Kepala Sekolah dan Yayasan sebenarnya udah tahu sejak awal."

Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan, mencoba mencerna informasi tersebut yang baru saja menghantam pikirannya. Bayangan masa-masa di mana Kenan bersikap dingin di depan umum, namun selalu secara ajaib muncul melindungi Kirana dari ancaman Gabriel dan manipulasi Clarissa, seketika tersusun rapi seperti teka-teki yang menemukan jawabannya.

"Ck, Pantas aja..." gumam Maya dengan suara bergetar karena terkejut campur takjub. "Pantas aja Kenan selalu pasang badan buat lo! Pantas aja dia rela masuk ke ruang sidang banding yayasan dan bawa berkas otentik demi ngebela nilai lo! Dia bukan cuma Ketua OSIS... dia suami lo yang lagi ngelindungin istrinya!"

Kirana mengangguk pelan, air mata haru menetes di pipinya. "Maaf ya, May... gue baru bisa cerita sekarang. Gue gak mau melibatkan lo dalam risiko kalau rahasia ini terbongkar pas kita masih berstatus murid."

Maya menatap Kirana, lalu seketika merengkuh sahabatnya itu dalam pelukan yang sangat kencang. Maya tertawa heboh berbaur dengan rasa haru.

"Gue kaget banget, Kir! Sumpah, ini plot twist terbesar dalam hidup gue!" seru Maya sambil melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Kirana. "Tapi gue seneng banget... Gue bangga sama lo. Lo bisa bertahan melewati semua drama sekolah sambil nanggung beban seluar biasa ini. Dan Kenan... dia bener-bener laki-laki sejati. Gue salut sama kalian"

Kirana tersenyum lega luar biasa. Beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat sepenuhnya setelah kejujuran itu terucap.

"Makasih ya, May, udah selalu jadi sahabat terbaik gue," bisik Kirana tulus.

"Jelas lah! Tapi inget ya, nanti kalau lo udah di Bandung, gue wajib main ke rumah kalian!" ancam Maya becanda seraya menyapu air mata bahagia di sudut matanya.

….

Tiga hari berlalu sejak acara kelulusan. Suasana rumah Kirana di Jakarta tampak sibuk. Koper-koper besar, kardus berisi buku-buku referensi, dan pakaian telah tertata rapi di lorong tengah.

Selama tiga hari pasca kelulusan itu, Kirana dan Kenan memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan seluruh administrasi akhir sekolah, mengurus legalisasi ijazah sementara di SMA Garuda, serta merapikan berkas pendaftaran ulang.

Sore itu, di ruang tamu rumah keluarga Kirana, Ayah Kirana dan Papa Kenan duduk berhadapan dengan lembar dokumen verifikasi kampus.

"Semua pengumuman jalur undangan prestasi udah keluar secara resmi," ujar Ayah Kirana sambil memeriksa dokumen di tangannya. 

"Kenan resmi masuk Teknik Industri ITB lewat SNBP dengan predikat nilai tertinggi, dan Kirana diterima di Ilmu Komunikasi Unpad Jatinangor."

Kenan yang duduk di samping Kirana mengangguk sopan. "Iya, Yah. Berkas verifikasi fisik dan daftar ulang kampus sudah kami isi secara daring kemarin. Jadwal penyerahan berkas langsung dan pengenalan kampus baru dimulai minggu depan."

"Rumah kalian di Dago juga sudah siap 100 persen," sambung Papa Kenan dengan senyum bangga. "Kunci, surat kepemilikan atas nama kalian berdua, dan renovasi interiornya sudah dirapikan oleh tim arsitek. Jadi kalian ke Bandung bukan cuma buat kuliah, tapi buat betul-betul membangun rumah tangga mandiri."

Ibu Kirana melangkah mendekati putrinya, mengusap lembut sanggul Kirana. "Ibu pasti bakal kangen banget sama kamu, Ran. Tapi Ibu tenang karena kamu udah ada suami yang sangat bertanggung jawab."

"Kirana bakal sering-sering telepon Ibu," janji Kirana seraya memeluk ibunya erat. 

Setelah seluruh pamitan dan doa bersama keluarga besar usai, Kenan memasukkan koper-koper terakhir ke dalam bagasi sedan hitamnya. 

Kirana melangkah mendekati mobil, memandang rumah masa kecilnya untuk terakhir kali sebelum memulai hidup baru. Kenan berjalan mendekatinya, menggenggam tangan kiri Kirana dan mengecup punggung tangannya yang kini sudah bebas mengenakan cincin pernikahan mereka secara terbuka.

"Siap menuju Bandung, sayang?" tanya Kenan dengan suara baritonnya yang amat mesra dan hangat.

Kirana mendongak, menatap mata hitam suaminya yang sarat akan cinta dan kepastian masa depan.

"Siap, dong," jawab Kirana mantap dengan senyuman paling bahagia di wajahnya.

Sedan hitam Kenan perlahan bergerak membelah jalanan Jakarta, memasuki gerbang tol Purbaleunyi menuju Kota Bandung. 

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!