Kanaya hanya gadis SMA biasa. Dia ada namun terabaikan. Sifatnya yang tertutup membuat teman-temannya enggan berteman dengannya.
Kanaya hanya tidak ingin semua orang yang dekat dengannya terkena sial. Semua ini karena kemampuan istimewanya. Andai kata kemampuan itu menghilang, mungkin ia dapat hidup dengan tenang dan bahagia.
Apa daya, Kanaya hanya gadis sebatang kara dengan segala ketertutupannya. Semua orang takut padanya, takut bila sewaktu-waktu kemampuannya keluar dan membuat kekacauan.
Bisikan-bisikan selalu terdengar, hingga membuat telinganya terasa pecah. Suara hati mereka membuat sosok Kanaya tidak bisa tenang. Belum lagi kemampuan yang ia miliki—kemampuan yang bisa membaca alur masa depan seseorang. Semua hal itu membuat Kanaya merasa jauh dari kata normal.
Di saat semuanya mulai normal, berbagai kejadian mulai berdatangan. Dia hanya sendirian, hanya dibantu oleh sosok arwah perempuan yang kini menjadi temannya, arwah itu bernama Clara.
Hingga kedatangan siswa baru sukses membuat kehidupan Kanaya terombang-ambing. Jika dulunya hidupnya terasa monoton, kini semenjak kedatangan lelaki itu mampu membuatnya merasakan debaran-debaran aneh.
Hanya Kenzo yang bisa membuatnya merasakan perasaan melankolis itu. Namun sayang, saat hubungannya telah berjalan normal, ada saja halangan yang merintang. Latar belakang kehidupan Kanaya dipertanyakan, ketidak setujuan pihak Kenzo, juga muncul sosok baru yang mengaku menjadi tunangan dari lelaki itu.
Ingin sekali Kanaya membaca masa depan Kenzo, namun selalu tidak bisa. Ia hanya bimbang, apakah mempertahankan hubungannya dengan lelaki itu adalah hal yang tepat atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septiyan Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Kanaya hanya menatap Rayhan dingin setelah mengatakan hal itu. Ia tahu kali ini Rayhan akan marah, namun apa ia peduli? Jelas tidak. Kanaya tidak akan mau repot-repot peduli masalah perasaan Rayhan ataupun orang lain. Terluka atau tidak semuanya saja sama; tidak ada artinya.
"Kamu dengar, kan?" sentak Kenzo disertai senyuman miring andalannya. Matanya menatap Rayhan dengan tatapan mengejek, merasa senang atas kekalahan pria itu. "Mulai sekarang kamu bukan lagi wali dari kekasihku. Kamu benar, panggilan 'Om' memang kurang pantas karena usiamu yang masih muda. Maka sudah aku putuskan untuk memanggil dengan informal saja."
"Diam kamu!" ujar Rayhan menatap Kenzo tajam. Lalu tatapannya beralih pada Kanaya. "Apa kamu sudah gila, Kay? Bagaimana bisa kamu melakukan padaku, huh?"
"Aku tidak gila. Aku hanya merasa tak nyaman. Kamu sangat posesif juga memaksaku untuk mengikuti kemauanmu. Ahh, bukan, tapi kamu selalu mengatakan sesuatu yang tak bisa kutolak." Kanaya berujar kepada Rayhan. "Jadi mari berhenti saja. Kita urus kehidupan masing-masing."
"Oke kalau itu yang kamu inginkan. Tapi kamu tahu kalau aku mencintaimu, bagaimana dengan hal itu? Jelas kamu tidak bisa mengesampingkan urusan hati orang lain, kan?" tanya Rayhan menggebu.
"Urusan hati apa yang kamu maksud?" tanya Kanaya balik. Ia tidak tahu. Ia bingung.
"Heh, kamu dengan mudahnya menerima Kenzo. Tapi aku? Apa kamu menerimaku dengan begitu mudahnya? Aku harus mendekatimu dengan perlahan, bahkan bertahun-tahun, tapi apa kamu menoleh?!" sentak Rayhan tajam.
"Hati tidak bisa dipaksa, Ray." Kanaya berujar lemah.
Napas Rayhan semakin memburu. "Jadi maksudmu kamu sudah mencintai Kenzo?!"
Kanaya terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Cinta? Bahkan ia tidak tahu apa itu cinta. Dirinya hanya merasa nyaman dengan Kenzo, tapi apakah perasaan nyaman itu bisa dibilang cinta?
"Aku---"
"Heol, jelas dia mencintai diriku. Kalau tidak, mana mungkin dia menjadi kekasihku. Di mana sebenarnya otakmu?" tukas Kenzo cepat.
"Apa aku bertanya padamu?" sinis Rayhan.
"Cukup. Ray, kamu tahu aku. Cinta apa yang kamu maksud? Kalau kamu mengartikan rasa nyaman adalah cinta, maka ya, aku mencintai Kenzo. Seperti itu?" ujar Kanaya mulai lelah dengan tingkah Rayhan yang menurutnya sudah kelewat batas. Mungkin pada awalnya ia memaklumi sikap Rayhan yang seperti ini, tapi semakin lama sikap Rayhan semakin keterlaluan.
"Cinta? Aku ragu kalau kamu mencintai Kenzo. Tahu apa kamu tentang cinta, selama ini kamu tidak pernah berhubungan dengan orang lain, lalu dari mana kamu menyimpulkan bahwa rasa nyaman adalah cinta?" sungut Rayhan kesal.
"Apa kamu tidak bosan berbicara terus-menerus seperti itu? Apa mulutmu tidak berbusa? Diamlah dan pulang, hari ini kami sibuk mengurus Sarah dan mengantarnya ke sekolah. Ini masih pagi, sebelum Sarah bangun lebih baik kamu pergi sekarang!" sentak Kenzo tajam.
Rayhan diam dan menurut. Pria itu pergi dengan marah. Dia kesal karena melihat Kanaya diam saja saat Kenzo berkata demikian. Seharusnya Kanaya mencegahnya, meminta maaf kepadanya. Namun semua yang ia harapkan nyatanya sia-sia. Tak ada hasil. Bullshit!
Masih dengan amarah yang menggebu, Rayhan menuju ke rumahnya. Dia langsung ke kamar, membanting semua barang-barang di sana. Emosi kini sudah menutup hatinya, rasa cemburu kini telah menggerogoti jiwanya. Entah sampai kapan efek Kanaya akan berakhir. Nyatanya semakin lama, Kanaya semakin berbahaya bagi kewarasan pikirannya.
"Marah lagi huh?" ujar hantu Jack yang tiba-tiba datang.
"Aku sangat marah dengan Kanaya dan Kenzo. Bukan, tepatnya kepada Kenzo. Anak kecil itu selalu membuatku kalah dan selalu menjadi pengecut," sungut Rayhan dengan kesal.
"Apa kamu baru saja mengeluh? Dia hanya anak kecil. Bahkan cintanya mungkin hanyalah cinta monyet. Mereka masih remaja, belum lulus SMA. Dan kamu akan menyerah karena hal sepele itu?" cerca Jack dengan nada cemoohan yang kentara.
"Mana mungkin seorang Rayhan menyerah. Mimpi! Aku akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku. Bahkan jika harus menjadi munafik pun, aku tak peduli." Rayhan berujar disertai senyuman miring.
"Jadi?" tanya Jack.
"Lihat saja nanti."
Inilah sisi jahat dari Rayhan. Pria yang selalu memaksakan kehendaknya tanpa meminta persetujuan takdir. Sisi ambisiusnya mungkin akan membuat semuanya menjadi lebih rumit, membuatnya menjerat kehidupan seseorang yang enggan bersamanya. Namun apa Rayhan peduli? Tentu tidak. Pria itu tidak akan memikirkan perasaan kemanusiaan seperti itu dalam mencapai apa yang ia inginkan. Sungguh iblis sejati.
****
"Jaga dirimu di sekolah, nanti Kak Kay tidak bisa jemput karena harus pulang sore. Kamu sudah hafal jalan pulang, kan?" tanya Kanaya pada Sarah dengan posisi jongkok. Di sampingnya ada Kenzo yang berdiri sambil mengamati sekolah baru Sarah.
"Iya. Sarah hafal kok. Kak Kay sama Kak Ken hati-hati ya di jalan, dadah!" ujar Sarah lalu berlalu masuk ke sekolah.
"Ayo," ujar Kenzo sambil memegang tangan Kanaya erat dan menariknya ke dalam mobil. Di dalam mobil, Kanaya sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Kenzo menyetir dengan rasa dongkol. Kanaya tidak peduli atau memang tidak memiliki rasa kepekaan? Gadis itu selalu sibuk dan hanya terpusatkan pada dunianya sendiri. "Aku masih hidup dalam keadaan sehat, bisa diajak untuk mengobrol. Memangnya apa gunanya ponsel, tidak bisa berbicara," sindirnya blak-blakan.
"Setidaknya ponsel ini dapat menghasilkan uang," ujar Kanaya malas, namun tatapannya masih fokus pada ponsel.
"Kamu sedang apa sih, kok cuek banget sama aku?" tanya Kenzo sebal.
"Mengecek naskahku," jawabnya singkat.
Kenzo menganggukkan kepalanya. Sekarang ia baru ingat kalau semalam Kanaya memintanya untuk diantar ke penerbit untuk menerbitkan karyanya. Huh, lucu sekali jika ia harus cemburu dengan benda mati itu.
"Kukira kamu sedang mengirim pesan ke pria lain," ujar Kenzo sedikit menggoda.
"Tahu dari mana kamu?"
Dengan cepat Kenzo membelalakkan matanya. "Jadi kamu sedang bertukar pesan dengan pria lain?!"
"Ya."
"Apa kamu tidak memikirkan perasaanku, huh?!" bentaknya marah, lalu ia menghentikan laju mobilnya. "Aku tidak menyangka kamu akan selingkuh dariku."
"Selingkuh?" beo Kanaya bingung.
"Ya, selingkuh. Kamu benar-benar membuat aku kesal. Siapa pria itu, apakah dia tampan atau tidak!"
"Cukup tampan. Kenapa?"
Kenzo semakin marah seperti orang yang sedang kebakaran jenggot. Dia mengusap wajahnya frustasi. "Jadi kamu mengakui kalau sedang selingkuh dengan orang lain?!"
"Selingkuh apa maksudmu? Ayo jalan, aku tidak mau terlambat," titah Kanaya geram.
"Jawab dulu, siapa pria itu! Kalau sampai ketemu, aku akan memberinya perhitungan!" sentak Kenzo murka. Ia tidak terima bila ada pria lain yang mendapatkan perhatian khusus dari Kanaya selain dirinya.
"Apa sifat kekanak-kanakanmu tidak bisa hilang hingga cemburu dengan orang yang menerbitkan bukuku?!" bentak Kanaya murka. Ia sungguh kesal dengan sikap Kenzo yang satu ini. Sifat cemburunya sangat berlebihan, menjurus ke sifat posesif. "Kenapa kamu dan Rayhan memiliki sifat yang sama?! Aku sudah muak!" sentak Kanaya tajam lalu turun dari mobil Kenzo. Ia berjalan dengan cepat dan menaiki taksi yang ada di sana.
Kenzo mengacak rambutnya frustasi, ia marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia memiliki sifat posesif seperti itu? Ini kali pertamanya ia melakukan hal bodoh seperti ini. Alasannya sangat mudah, ia tidak mau kehilangan Kanaya. Kanaya hanya untuk dirinya, Kanaya adalah jodohnya, dan takdir harus menggariskan hal itu. Kenzo tak peduli jika harus dicap sebagai orang yang egois, karena menurutnya, masalah hati adalah sesuatu yang mutlak. Tak bisa dinego.