Sinopsis “Kisah Cinta Dua Arah”
Rinantha Tidak Mendapatkan Restu Dari Mamahnya Demikian Juga Angger Yang Justru Diusir Oleh Bapak Kandungnya Sendiri Karena Dianggap Telah Melanggar Adat Dan Merusak Tatanan Keluarga. Tetapi Keduanya Pantang Menyerah Memperjuangkan Kisah Mereka Terlebih Lagi Ada Dukungan Dari Pakdhe Wiro, Kakak Kandung Bapaknya Angger. Mereka Kemudian Saling Berjanji Untuk Terus Memperjuangkan Semuanya Segalanya Yang Telah Mereka Rajut Dari Semenjak Masa Sekolah Dan Meyakininya Hingga Saat Ini.
Angger Mengantar Rinantha Untuk Kembali Ke Pondok Pesantren Di Klaten. Ia Mendukung Rencana Rinantha Untuk Kembali Ke Pondokan Sembari Menjalankan Usaha Bersama Ustadzah Menik Yang Ternyata Memiliki Hobi Sama Yaitu Kuliner.
Perjuangan Mereka Masih Sangatlah Panjang. Satu Satunya Pegangan Yang Mereka Miliki Adalah Keyakinan. Dengan Keyakinan Itulah Lantas Keduanya Mampu Bertahan Dan Terus Berjuang Hingga Ke Arah Kehidupan Yang Sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tan Mahardhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsultasi Pernikahan, Kemudian Menikah Di Bawah Tangan Tanpa Restu Orang Tua
Bab : Konsultasi Pernikahan Dengan Pakdhe Wiro
“Iki Le Surat Surate. Kertu Keluargane Yo Wis Ning Njero Kabeh”.
Ujar Mbokdhe Parni Sembari Menyodorkan Amplop Besar Waarna Coklat.
“Maturnuwun Mbokdhe”. Jawab Angger. Duduk Lagi Dihadapan Pakdhe
Wiro Diruang Tamu.
“Le. Opo Kirane Ora Iso Tho Nek Nikah Kyai Seg Wae Le?”. Tanya
Pakdhe Sambil Menyeruput Kopi.
“Jane Geh Saget Pakdhe. Gampang Malahan Wong Ten Pondok Pesantren
Pak Kyai Njeh Mpun Nawari”.
“Lha Kok Ora Mbok Iyani Wae Tho Le. Nek Ngono Rak Ora Perlu Repot
Repot Ngene Le”. Sambil Tersenyum.
“Mboten Dhe. Angger Pingin Mbuktike Kalih Wong Tuane Dek Rina Nek
Angger Mboten Dolanan Nek Angger Tenanan Kalih Anake”.
“Tenanan Kepiye Maksudmu?”. Tegas Pakdhe Lagi.
“Nggeh Tenanan. Tenanan Omah Omah Dhe. Nikah Kangge Seumur Hidup.
Dadose Nggeh Nikah Ten Kantor Urusan Agama. Angger Geh Mboten Pingin Damel
Wirang Bapak. Mboten Pingin Bapak Kraos Diwirangke Mergo Angger Mbeta Anake
Uwong Dhe”.
“Le Le. Pakdhe Yo Ora Ngiro Nek Awakmu Ki Tenanan Koyo Ngene. Jane
Yo Tak Etungke Nekat Tenanan Awakmu Kui. Nonjak Nanjuk, Nabrak Tatanan Umume”.
“Hembuuh Dhe Dhee. Angger Geh Bingung Kok”.
“Terus, Opo Yo Wis Mbok Siapne Kabeh Biaya Biaya Sing Arep Nggo
Bancaan Le”.
“Sampun Dhe. Nek Soal Biaya Mpun Ten Mbokdhe Sedaya. Insha Allah
Cekap”.
“Yowes Kono, Ndhang Nyang Nggone Lek Karso Gen Diuruske Surat
Surate. Gen Awakmu Kari Budhal Nyang Kantor Urusan Agama. Jak En Sisan Gendhuk
Rinane Le!”.
“Njeh Pakdhe”. Kemudian Berdiri Bergegas Kedapur Mengajak
Rinantha.^^^^^^^^^^^
Bab : Menikah Di Bawah Tangan
Hari Yang Ditunggu Tunggupun Telah Tiba. Angger Dan Rinantha Telah
Bersiap Diruang Nikah Kantor Urusan Agama Sewon. Angger Tampak Gagah
Menggunakan Beskap Lengkap Warna Hitam Putih Dengan Kopyah Jawa Dikepalanya,
Sementara Rinantha Nampak Cantik Anggun Dan Dewasa Mengenakan Busana Lengkap
Dengan Kebaya Corak Kawung Busana Renda Renda Putih Dibalut Dengan Kerudung
Muslimah. Sungguh Pasangan Yang Serasi Dan Membuat Bahagia Setiap Orang Yang
Melihatnya.
“Sah !
“Sah !
“Sah ! ??” Terdengar Dari Ruangan Kantor Itu. Kemudian Dijawab
Secara Bersamaan”Saaaah”. Riuh Rendahpun Terdengar. Tawa Bahagia Nampak Dari
Seisi Ruangan Yang Begitu Besar. Ruangan Khusus Dari Kantor Urusan Agama Yang
Digunakan Untuk Menikahkan Calon Pasangan Pengantin.
Senyum Bahagia Terpancar Dari Raut Wajah Cantik Rinantha. Seolah
Olah Hilang Semua Beban Hidupnya Yang Selama Ini Membelenggunya. Hilang Segala
Gundah Gulana Yang Hampir Setiap Malam Hadir Dalam Mimpinya.
Demikian Pula Angger, Ada Kebahagiaan Yang Terpancar Dari Sorot
Matanya Karena Ia Merasa Telah Menjadi Lelaki Yang Dewasa Karena Menikahi
Rinantha Dengan Pernikahan Yang Sah Tanpa Harus Membawa Lari Seperti Permintaan
Rinantha Sebelumnya. Namun, Ada Tanggungjawab Jauh Yang Lebih Besar Karena Ayah
Rinantha Telah Menitipkan Anaknya Kepadanya. Ia Juga Masih Teringat Pesan Dari
Bapak Kandungnya Bahwa Untuk Menjadi Lelaki Sejati Tidaklah Gampang Tidak Cukup
Dengan Mampu Menghidupi Anak Orang Saja Tetapi Ada Hal Hal Yang Lebih Komplek.
Mba Menik, Winda, Mba Shinta Dan Beberapa Kawan Yang Bekerja
Dipercetakan Milik Angger Turut Hadir Menjadi Saksi Pernikahan Mereka. Semuanya
Turut Berbahagia Dan Melebur Dalam Riuh Rendah Dipagi Itu. Selesai Akad Nikah
Di Kantor Urusan Agama, Semuanya Lantas Kembali Kerumah Pakdhe Wiro Untuk
Bancaan Atau Kenduri Untuk Mengucapkan Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sementara Itu, Mbokdhe Parni Dibantu Sanak Kerabat Telah
Mempersiapkan Semuanya Dirumah. Tetanggapun Diundang Untuk Turut Merasakan
Kebahagiaan Itu.
Rinantha Terkejut, Anggerpun Demikian Melihat Simbok Sudah Menanti
Diteras Rumah Pakdhe Wiro Dengan Busana Khas Jawa. Keduanya Agak Berlari Kecil
Menghampiri Simbok. Angger Bersimpuh Dikaki Simbok Di Ikuti Rinantha.
“Pangapunten Dalemsewu Mbok. Angger Terpaksa”. Angger Menangis.
Simbok Juga Tak Kuasa Menahan Airmatanya.
“Iyo Le. Iyo. Simbok Mung Iso Ndongake Le”. Ucap Simbok Terbata
Bata Karena Menahan Isak Tangisnya.
“Rina Nyuwun Pangapunten Mbok, Nyuwun Pangestunipun”. Masih
Menunduk Dikaki Simbok.
“Iyo Ndhuk. Sing Sabar Yo Ndhuk. Wis. Ayo Gek Mlebuo”. Ajak Simbok
Menarik Tangan Keduanya Untuk Bangun, Berdiri.
Seisi Rumah Larut Dalam Keharuan Itu. Sejenak Suasana Menjadi
Hening. Ada Diantara Mereka Yang Kemudian Juga Meneteskan Airmata. Tidak
Terkecuali Dengan Winda, Shinta Juga Mba Menik. Setidaknya Mereka Menjadi Saksi
Hidup Perjuangan Cinta Yang Benar Benar Rumit.