Pertemuan singkatnya dengan seorang gadis cantik bernama Jessica, menghantarkan 'Lucas' seorang detektif muda nan berbakat pada masalah yang rumit.
Demi menyelamatkan gadis itu dari perjodohan yang bisa mengancam hidupnya. Lucas rela menyamar sebagai calon suami gadis itu.
Dan siapa yang menyangka, jika laki-laki yang hendak di jodohkan dengan gadis itu adalah salah satu anggota dari organisasi gelap yang sedang dia tangani.
Lalu bagaimana akhir dari kisah mereka berdua? Apakah Lucas akan jatuh cinta pada gadis itu atau malah sebaliknya?! Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
.
.
Cerita ini masih on going, mohon tinggalkan like komen setelah membaca. Satu like dan komen teman-teman sekalian adalah penyemangat author 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tak Butuh Alasan
Lucas dan Jessica telah tiba di rumah gadis itu setelah sebelumnya mereka pergi ke rumah sakit. Luka-luka di tubuh dan wajah Lucas telah diobati dan ditutup perban.
"Omo? Lu , apa yang terjadi pada wajahmu?" Jia yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat Lucas datang ke rumah Jessica dalam keadaan babak belur. Dan perban membalut pelipis serta plaster menutup bawah mata kanannya.
"Terjadi insiden tadi. Aku diculik , dan dia datang menyelamatkanku. Dia, dihajar habis-habisan karena diriku." Sahut Jessica dari arah belakang. Gadis itu datang membawa minuman untuk Lucas.
"Benarkah? Tapi kau tidak apa-apakan?" Jia bangkit dari duduknya dan memastikan bila sahabatnya itu baik-baik saja.
Jessica tersenyum tipis. Meskipun Ia kini sebatang kara, namun Jessica merasa beruntung memiliki sahabat seperti Jia yang selalu ada untuknya, begitu juga dengan Lucas yang ada setiap Ia berada dalam bahaya.
Dan Jessica tidak perlu merasa kesepian lagi jika harus tinggal di rumah megah peninggalan ayahnya, karena ada Jia yang menemaninya. Jia terkejut saat Jessica tiba-tiba saja memeluknya, namun berikutnya senyum tercetak di wajah cantiknya.
"Terimakasih, Jia. Aku sungguh beruntung bisa mengenal sahabat sepertimu." Ujar Jessica sambil mengeratkan pelukannya.
Jia tersenyum lalu membalas pelukan Jessica. "Sama-sama, Sica. Aku juga beruntung bisa bertemu dan mengenal gadis sehebat dirimu. Kau sahabat terbaikku pokoknya." Jessica melonggarkan pelukannya sambil tersenyum. "Ya sudah, temani pangeranmu itu. Sepertinya dia sangat membutuhkanmu. Aku ada urusan dan baru pulang besok pagi."
"Tidak masalah, aku akan baik-baik saja meskipun sendiri dirumah." Ucapnya.
"Jangan sedih seperti itu. Aku rasa Lucas tidak akan keberatan jika malam ini harus menginap disini, lagi pula dia terlihat kurang sehat."
"Aku juga berfikir begitu. Lu, menginaplah disini. Masih ada banyak kamar kosong yang bisa kau tempati. Kau benar-benar terlihat kurang sehat." pinta Jessica.
Dan Lucas juga tidak bisa menolak, bukan karena mau ambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi kondisinya memang tidak memungkinkan untuk berkendara. Kepalanya seperti ingin pecah ditambah rasa sakit pada sekujur tubuhnya.
Selepas kepergian Jia, di rumah itu hanya menyisakan Lucas dan Jessica. Gadis itu menghampiri Lucas kemudian duduk disampingnya, mata Hazel-nya mengamati wajah tampan yang penuh luka itu, dan lagi-lagi rasa bersalah menyerbu perasaan Jessica.
"Ada apa?" Lucas menatap Jessica penuh keheranan.
"Maaf." Ucapnya penuh sesal, air mata kembali menetes dari pelupuk matanya.
Lucas mendesah, diraihnya bahu Jessica dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Semua yang Ia lakukan semata-mata karena Lucas tidak ingin ada orang lain yang menyakiti gadis itu. Lucas ingin selalu melindunginya dan berada disamping Jessica apa pun keadaannya, Lucas bersikap seperti ini karena Ia peduli.
Lucas melepaskan pelukannya saat dirasa Jessica mulai tenang. Jari-jarinya kembali menghapus lelehan air mata yang mengalir membasahi wajah gadis itu. Senyum tipis tersungging di sudut bibir Lucas "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.
"Lu, kenapa kau harus menolongku dan merelakan tubuhmu dihajar demi diriku?" Jessica mengangkat wajahnya dan mengunci manik hitam milik Lucas.
Dua pasang mata berbeda warna itu saling menatap dan menyelami keindahan mata masing-masing. Alih-alih menjawab pertanyaan Jessica, Lucas malah mendekatkan wajahnya dan sedikit memiringkan kepalanya.
Tangan kanan Lucas menarik pelan tengkuk Jessica, perlahan tapi pasti, bibirnya bergerak menuju bibir Jessica dan menempelkan pada bibir gadis itu, membat mata Jessica terbelalak saking kagetnya. Jantungnya berdebar tak karuan, ia sungguh-sungguh tidak menduga jika Lucas akan menciumnya.
'Ya Tuhan inikah yang dinamakan cinta?'
Tidak sampai 10 detik, Lucas sudah mengakhiri ciuman itu. Muncul semburat merah di pipi Jessica. Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah
"I-i-itu ciuman pertamaku." Lirihnya berujar.
"Dan ini akan menjadi ciuman keduamu." Ucap Lucas dan kembali mencium bibir Jessica.
Dan ciuman kali ini tidak hanya sekedar menempel saja, bibir yang semula hanya mengecup itu berubah lumattan-lumattan lembut. Lalu ciuman itu berubah menjadi lebih panas dan liar. Jessica menutup matanya begitu pula dengan Lucas, tangan pemuda itu menekan tengkuk Jessica untuk semakin memperdalam ciumannya.
Tangan kirinya yang semula Ia anggurkan kini berpindah pada punggung yang hanya terlapisi kain tipis bermotif bunga setelah menuntun kedua tangan Jessica menuju lehernya. Jessica terhanyut dalam ciuman Lucas yang begitu memabukkan.
"Kau tau, disini." Lucas menuntun tangan Jessica menuju dadanya. "Berdebar saat menatap matamu dan melihat senyum di wajahmu. Dan disini. Rasanya sangat sesak saat melihatmu menangis. Dan saat aku mencari tau jawabannya? Disitulah aku menyadari jika aku jatuh cinta padamu." Ujar Lucas melanjutkan.
"Ini terlalu awal Lu, bahkan belum genap satu bulan kita saling mengenal." Ucap Jessica sambil mengunci mata abu-abu itu.
"Cinta tidak membutuhkan waktu, Jessica!! Selama kita meyakini perasaan itu, maka rasa yang kita rasakan akan tumbuh semakin besar. Dan maukah kau menjalani semua ini denganku?" Tanya Lucas tanpa melepaskan kontak matanya. Jessica tersenyum kemudian mengangguk.
"Ya aku mau.... kita mulai saja dulu, dan jalani seperti air mengalir!" Lucas tersenyum dan membawa Jessica ke dalam pelukannya. Jessica tersenyum, dengan senang hati Ia membalas pelukan Lucas.
Lucas melepaskan pelukannya dan kembali menatap mata Jessica. "Sudah malam, pergi tidur, gih. Kau terlihat lelah." Pintanya dengan nada lembut. Benar apa yang Lucas katakan, dia memang sangat lelah dan Jessica memang ingin segera tidur.
Gadis itu menganggukkan kepala. "Kau juga, Lu. Pasti kepalamu masih sangat pusing akibat pukulan-pukulan itu." Jessica menatap Lucas dengan cemas, lagi-lagi rasa bersalah terpancar dari sorot matanya. Karena bagaimana pun juga Lucas terluka karena dirinya.
Lucas tersenyum kemudian mengangguk."Baiklah, good night baby." Lucas mencium singkat kening Jessica sebelum keduanya sama-sama menuju kamar masing-masing.
Ada perasaan hangat yang menjalari perasaan Jessica. Hubungan pura-pura diantara mereka justru menumbuhkan benih-benih cinta di hati keduanya. Dan Jessica berharap hubungan mereka bisa langgeng sampai menuju ke jenjang pernikahan. Dan jika dia boleh berharap, dia tidak ingin berpisah dari Lucas apapun alasannya.
.
.
Bersambung.
good job💯, 🙏❤💪
dan mampir juga kecerita pemulaku 👃👃
dan mampir juga kecerita ku AYU YANG MALANG.👃👃👃