Vita Kavita dan Dimas Ahmadin merupakan sepasang suami istri yang sangat harmonis dan bahagia. Usia pernikahan mereka sudah hampir 10 tahun. Namun walaupun begitu, belum ada kehadiran malaikat kecil titipan tuhan pada mereka. Itu bukan berati karena ada masalah dengan mereka. Hingga suatu ketika, Ada suatu kejadian tepat di anniversary mereka, Suaminya tak kembali semalaman yang menyebabkan Vita menunggu semalaman di udara malam yang dingin itu. karena kejadian itu, Vita berfikir bahwa suaminya berselingkuh. namun kecurigaan itu Vita singkirkan karena di saat yang sama dia berhasil mengandung, mereka pun berbahagia. Bahkan sangat bahagia, namun di saat itulah dia mengetahui semua kebenaran bahwa suaminya memiliki istri lain bahkan mereka juga telah memiliki 2 orang putra di belakang Vita.
Apa yang di lakukan oleh Vita? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Rahasia Suamiku.
“Ya sudah, lihat saja ini"
Ku geser foto-foto yang di tunjukan oleh lita. Entah bagaimana cara dia mendapatkan foto ini. Aku juga tidak tahu yang di foto ini siapa? Seorang wanita dengan rambut keriting Tak terlalu tinggi, bertubuh mungil, berkulit sawo matang. “Siapa ini?” tanya ku.
“Mm, Pemilik rumah itu vit,” Jawab lita.
“Pemilik rumah? Rumah yang mas Dimas singgahi?”
“Iya vita, Kemarin aku coba cari tau ke lokasi, aku lihat di sana ada mobil Dimas kayak nya mereka habis dari luar. Awal nya sih aku nggak ngeh kalau itu Dimas tapi pas dia turun mobil baru aku Nggeh dan yakin kalau itu memang dia. Tapi, nggak nyangka ternyata turun lagi si cewe itu. Ku tanya sama orang di warung depan komplek itu katanya nama nya dia sudah bersuami tapi suami nya kerja ke luar kota, begitu. Trus gue coba cari info lain di medsos dan ada. Itu tuh liat aja medsos ig nya namanya amelia juga kan? Nah ku ambil foto nya satu biar lu bisa liat juga gitu.” Jelas lita padaku.
“Benar itu? Apa itu sepupu mas Dimas ya? Dia keliatannya masih muda. Tapi mas Dimas bilang sepupu nya itu ada di daerah selut bukan ada di daerah paku bumi itu.” ucap ku bingung.
“Dimas ngomong nya ke rumah sepupu nya gitu bukannya Dimas cuma punya sepupu cowo ya? kalau keponakan mungkin bisa cewe.” Sahut Mita padaku.
“Ya, ku tau nya dia cuma punya sepupu laki-laki aja 3,”
“Nah, itu tuh. Lu tau, dulu waktu di nikahan adek gue yang cowo tuh. Pernah kan kita bertiga ngobrol terus dia tuh nyeletuk kalau adek gue itu ganteng dan kalau dia punya sepupu cewe pasti dia mau jodohin sama adek gue. Lu ingat nggak ta? Dia bilang gitu loh, itu artinya kan dia memang nggak punya sepupu cewe,” jelas mita lagi.
Entah kenapa aku semakin yakin bahwa mas Dimas telah berselingkuh. Tapi aku ingin lebih meyakinkan diriku, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri pastinya dengan bukti yang lebih menyakinkan dari foto ini.
“Vita, gue tau perasaan lu. Tapi gue rasa bukti ini masih ada tanda tanya deh, kita perlu bukti lain,” lanjut lita.
“Iya lita, Kalau penjelasan itu masih ambigu, aku perlu melihat sendiri mereka sedang berselingkuh,” jawab ku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Gimana kalau besok kita ke paku bumi? Pertama kita memata-matai aja dulu,”
“Iya gitu aja,”
“Terus, ini beneran lu mau tetap pulang ke rumah?”
“Iya bener gitu aja gimana,”
“Ya sudah, ntar ku bilang aja ke dimas lu nginep rumah ku, gitu ya,”
“Iya,”
Kami pun sepakat untuk ke perumahan itu besok, beberapa jam kemudian obat pun diantar.
“Permisi bu, mau beritahu kalau obat nya bu Vita sudah siap,” ucap perawat itu.
“Oh iya, oke,”
Lita pun pergi mengikuti perawat itu, “Vita, jangan sampai stress ya?” ucap lita padaku.
“Iya, sesedih nya aku masih waras kok,”
“Iya ta, gue percaya. Tapi kalau memang dimas benar-benar berselingkuh, lu mau gimana?" tanya lita padaku dan membuatku terdiam sejenak.
“Gimana ya? Sejak menikah, mas Dimas sudah menjadi dunia dan fokus ku ta. Kalau benar orang yang ku cintai dan sayangi mengkhianati ku pasti aku kecewa bukan kecewa lagi, kalau benar dia melakukannya, dunia ku telah dia hancurkan. Sekuat apapun manusia pasti akan hancur jika dikhianati. “ ucap ku sambil memegangi dadaku yang terasa sesak.
“Vita, jika dunia hancur pun memiliki dunia lain. Tapi ini bukan dunia tempat tinggal ini. Kalau dunia ini hancur ya semua hancur. Ini cuma kiasan ya? Siapa tau di dunia lain itu lu akan menemukan cara untuk membentuk dunia lu lagi dari awal dengan versi terbaru mu. Alam semesta tanpa mengeluh terus mengupgrade dirinya untuk manusia, Walaupun seringkali manusia itu tak tau diri dan seenaknya sendiri. Lu pasti tau kan maksud ku?” ucap lita seperti sedang berfilsafat.
“Iya ku tau, kalau memang mas Dimas selingkuh, semua dunia ku padanya akan segera ku hilangkan. Dunia ku yang baru itu akan ku bentuk bersama anakku,”
“Iya ra, pokoknya lu harus tanam di diri lu seperti itu. jangan sampai, Yang membuat mu remuk dan hancur akan mempengaruhi cepatnya perubahan kamu,”
“Hemm, ku tau kok ta. Kalau memang benar mas Dimas punya wanita lain dan dia lebih memilih wanita itu, aku tak bisa berbuat apapun lagi. Aku akan ikhlas menerima keputusan itu dan lebih baik ku hidup dengan anakku saja,” ucap ku mengelus perutku.
Lita memelukku, “Lu kalau butuh bantuan gue tinggal telpon aja ya ra, gue siap bantu lu kok,” ucap nya lagi.
“Iya, pokoknya makasih ya ta,”
“eemm, sama—sama,”
Di saat yang sama risa datang lagi dengan membawa tote bag berisi obat dan beberapa informasi lain rumah sakit ini.
“Udah nih, yok kita beres-beres,” ajak Mita.
“Mit, biaya administrasi pake uang ku saja di dompet tolong di ambil aja,”
“Udah ah, jangan mikirin biaya. Fokus boo aja. Biar aku yang urus"
“Tapi …”
“Ssstt, udah laa. Ku ikhlas kok, ini ikan juga demi ponakan ku,”
“Makasih ya mit,” ucap ku tersenyum.
“Iya, sama-sama,”
Mita dibantu dengan lita pun membantu ku berdiri untuk duduk di kursi roda, lalu lita mendorong hingga sampai masuk ke dalam mobilnya.
"Gue pulang langsung ya? Mit, besok samperin ya? Bisa di marahi gue kalau pergi-pergi sendiri bawa mobil sendiri, hehe. Oke?”
“Yoi, ku samperin besok. Tunggu kabar dulu ya,”
“Ya udah, gue langsung ya pulang. Bye hati-hati di jalan,”
“Iya, lu juga ya,”
Lita pun pergi ke mobil nya lalu Mita juga mulai menjalankan mobil ini menuju ke rumah ku.
“Vita, sampai rumah. Lu mau acting kayak biasa lu sama dimas atau gimana?” tanyanya padaku.
“Mm, Ku biasa dulu aja mit. kalau sikap ku tiba-tiba berubah nanti dia curiga dan lebih hati—hati,”
“Iya sih,”
20 menitan kami sampai di depan rumah ku, Mita turun dan membantu ku keluar dari mobil. Setelah melewati gerbang rumah, ku dengar seseorang berteriak memanggil nama ku dan sepertinya suara itu ada di kamar atas.
“Vita !” teriak seseorang diatas.
Ku mendongakkan wajah ku ke kamar atas namun tak ada seseorang di sana.
“Dimas Vit," bisik mita padaku.
Dan benar saja setelah itu mas Dimas dengan cepat menubruk pintu hingga terdorong jatuh ke depan.
“Aww,” rintih nya.
“Lu apa-apaan sih dim? Kayak anak kecil aja jatuh-jatuh gitu,” omel Mita pada Dimas.
“Uh sakit,” rintih nya.
Dia mendongakkan wajah nya padaku lalu dengan cepat dia berdiri dan memelukku sangat erat.
Bersambung¸