Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pukul delapan pagi, Regantara sudah melangkah pergi meninggalkan kediaman Benedict tanpa pesan panjang.

Ia hanya menyuruh Zara datang ke kantor, pada siang hari sambil membawa bekal makan siang.

"Ini aneh, kenapa Regantara tiba-tiba menyuruhku untuk membawa bekal?"

Zara memandangi pantulan dirinya di dalam cermin rias. Perintah itu terasa aneh dan tidak masuk akal untuk pria sekelas Regantara.

Di dalam pantulan kaca, Zara menatap wajahnya sendiri.

Ia memiliki garis wajah yang lembut, mata jernih yang tenang, dan bibir yang mengukir kesan manis alami.

Sepintas, siapa pun yang melihatnya akan mengira Zara adalah wanita lugu yang gampang dimanipulasi, tipe korban sempurna yang pasrah pada takdir.

.

Siang harinya, jam menunjukkan pukul dua belas lewat sedikit ketika Zara akhirnya melangkah keluar dari lift khusus eksekutif di lantai tertinggi.

Kotak bekal kain tersimpan rapi di lipatan tangannya.

Alaric yang sudah menunggu di depan pintu langsung menunduk hormat.

"Nyonya, silakan masuk. Tuan sudah menunggu."

Alaric membukakan pintu.

Saat Zara melangkah masuk, pandangannya langsung membeku. Suasana ruangan yang hening itu ternyata tidak kosong.

Di hadapan meja kerja milik Regantara, duduk seorang wanita cantik berpenampilan elegan.

Mereka berdua tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius sebelum pintu terbuka.

Zara terpaku di ambang pintu. Bingung.

Situasi apa ini? Apakah ia salah datang? Apakah ia justru mengganggu pertemuan penting suaminya?

Namun sebelum Zara sempat melangkah mundur, Regantara mengangkat pandangannya.

Regantara menggerakkan jemarinya, sebuah isyarat pelan yang menyuruhnya untuk mendekat.

Zara menahan napas, lalu melangkah kembali menuju meja kerja suaminya.

Begitu Zara berada di samping kursi besarnya, Regantara tanpa ragu mengulurkan tangan. Hingga lengan kokohnya melingkar erat di pinggang Zara.

Wanita itu menatap Zara dari bawah sampai atas dengan pandangan menilai, lalu mengumbar senyum tipis yang amat kaku.

"Perkenalkan aku, Natasha. Teman masa kecil Regantara." ucap wanita itu tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya yang lentik dengan kuku terawat sempurna.

Zara menyambut uluran tangan itu, menjabatnya dengan singkat.

"Zara, istri Regantara." sahut Zara, sambil mengukir senyum manis alami di wajah lembutnya.

Natasha menaikkan sebelah alisnya, matanya berhenti pada kotak bekal yang dibawa Zara sebelum kembali menatap Regantara.

"Aku tidak tahu kalau kamu sekarang punya kebiasaan makan siang di kantor bawa bekal dari rumah, Regan. Setahuku kamu paling benci formalitas seperti ini."

Regantara tidak melepaskan cengkeramannya di pinggang Zara, justru makin mempereratnya seolah menegaskan kepemilikan.

"Orang bisa berubah setelah menikah, Natasha. Terutama saat ada yang menyiapkannya secara khusus." ucap Regantara datar, matanya menatap Natasha tanpa ekspresi hangat sedikit pun.

Regantara lalu mendongak sedikit, menatap Zara dari samping.

"Letakkan bekalnya di meja, Zara."

Regantara menghirup aroma Zara.

"Wangi sekali, aku suka parfum yang kamu pakai sayang."

"..."

Natasha mengepalkan tangannya di bawah meja, tatapannya kembali tertuju pada Zara.

Ia sadar bahwa wanita berwajah lembut di hadapannya ini bukanlah sekadar hiasan atau jaminan utang seperti rumor yang beredar di luar.

Zara menatap tak enak situasi ini.

"Aku, sebaiknya aku keluar." bisiknya pelan seraya mencoba melepaskan tangan Regantara di pinggangnya.

Namun, Regantara justru memperketat lingkar tangannya. Ia menahan tubuh Zara tetap berada di sisinya, menolak membiarkan wanita itu melangkah sejengkal pun dari jangkauannya.

"Tidak perlu." potong Regantara, matanya yang tajam menatap Natasha. "Natasha sudah mau selesai. Lagipula, pembicaraan profesional kita sudah berakhir, bukan?"

Natasha meremas tali tas mewahnya, usahanya mempertahankan senyum elegannya kini berada di ambang batas.

Tatapan dingin Regantara dan sikap protektifnya terhadap Zara, adalah sebuah penolakan mentah-mentah atas masa lalu mereka.

Natasha perlahan berdiri dari kursinya, sambil merapikan gaunnya dengan gerakan yang agak kaku.

"Kamu benar, Regan. Urusan proyek gabungan kita untuk kuartal ini sudah jelas. Aku tidak ingin mengganggu waktu makan siangmu."

Natasha lalu menatap Zara. "Senang bertemu denganmu, Nyonya Benedict. Sampai jumpa di acara tahunan The Sapphire Club minggu depan."

"Ah, iya senang bertemu denganmu juga, Natasha," balas Zara.

Setelah itu Natasha melangkah keluar meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan di antara Regantara dan Zara.

Zara menoleh pada Regantara.

"Jadi... membawa bekal ini hanya pertunjukan untuk mengusirnya?"

Regantara tidak langsung menjawab.

Ia justru menarik pinggang Zara hingga wanita itu duduk di pangkuannya, ia mengunci tubuh Zara dalam dekapannya yang terkesan posesif.

"Pertunjukan?" bisik Regantara seraya mendaratkan dagunya di bahu Zara.

Pria itu menghirup aroma wangi lembut yang menyeruak dari leher wanita itu.

"Kalau cuma untuk mengusir Natasha, aku cukup menyuruh Alaric menyeretnya keluar."

Zara menahan napas saat merasakan napas hangat Regantara menerpa kulit lehernya.

"Lalu kenapa kamu menyuruhku membawa bekal ke sini?"

"Karena aku ingin." sahut Regantara singkat.

Jempolnya perlahan mengusap bibir Zara yang dipoles lipstik tipis.

"Dan aku ingin wanita itu, serta siapa pun yang bermimpi menggantikan posisi ini melihat dengan mata kepala mereka sendiri siapa yang sekarang memegang kendali atas Regantara Benedict."

"Jadi aku dijadikan alat pameran kekuasaanmu?" balas Zara.

"Kamu istriku, Zara." potong Regantara.

Ia menatap lurus ke dalam mata Zara dari jarak yang begitu dekat hingga napas mereka beradu.

"Bukan sekadar alat. Natasha datang membawa tawaran investasi dari keluarganya, sekaligus berniat memanfaatkan celah dari gosip pernikahan kita yang beredar di luar. Dia pikir kamu cuma pion rapuh yang gampang disingkirkan."

Regantara meraih kotak bekal di meja, lalu membukanya dengan satu tangan tanpa melepaskan pelukannya pada pinggang Zara.

"Makanannya akan dingin kalau kamu tidak menyuapiku sekarang, Nyonya Benedict." ucap Regantara santai.

"Kenapa aku harus menyuapimu?" bisik Zara.

Ia merasa aneh dengan pria yang beberapa waktu lalu tampil begitu dingin, kejam, dan penuh arogansi menjadi seperti ini.

Regantara terkekeh pelan.

"Karena tangan kananku sibuk menahanmu agar tidak kabur." jawab Regantara tanpa beban.

Lingkaran tangannya di pinggang Zara justru makin mengencang, mengunci posisi mereka.

"Lagipula, bukankah ini bagian dari tugasmu sebagai istri yang baik di depan publik dan di dalam ruangan ini?"

Zara menaikkan sebelah alisnya, mencoba mempertahankan pertahanan dirinya.

"Tidak ada kamera atau orang lain di ruangan ini, Regantara. Natasha sudah pergi."

"Tapi aku ada di sini, dan aku yang membuat aturan di ruangan ini, Nyonya Benedict." potong Regantara cepat.

Zara menghela napas pasrah, ia menatap sendok di dalam kotak bekal yang baru saja di buka.

Dengan gerakan pelan, Zara menyendokkan sedikit nasi dan lauk yang disiapkannya, lalu mengarahkannya ke depan bibir Regantara.

"Makan." ujar Zara singkat, memalingkan sedikit wajahnya untuk menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya.

Regantara menyunggingkan senyum puas yang amat tipis.

Ia menerima suapan itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Zara, Regantara tampaknya menikmati setiap detik dominasi yang tengah ia bangun di antara mereka berdua.

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!