Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 Pilihan, Restu, dan Rahasia di Perjalanan

Keesokan paginya, sinar matahari yang lembut menyelinap masuk melalui celah jendela kayu, menyentuh wajah Angel yang perlahan membuka mata. Ia bangun seperti biasanya — dengan perasaan ringan dan hati yang siap menyambut hari baru. Saat melangkah keluar dari kamarnya, ia melihat sosok-sosok yang paling dicintainya sudah berkumpul di ruang tengah: Ayahnya, Yofaith; Ibunya, Rebeca; serta kedua pamannya, Lazark dan Kael. Semuanya menunggunya dengan tatapan penuh kasih sayang, namun terselip sesuatu yang lain — seakan ada hal penting yang sedang menunggu untuk diucapkan.

Angel tersenyum lebar, menyapa mereka dengan ceria.

"Selamat pagi, Ayah! Selamat pagi, Ibu! Selamat pagi, Paman Lazark dan Paman Kael!"

Rebeca membalas sapaan itu dengan senyum hangat, meski matanya tampak menyembunyikan kegelisahan.

"Selamat pagi, putriku sayang…"

Angel bergegas menghampiri mereka, duduk di samping ibunya, menatapnya dengan mata bersinar penuh tanya. Namun kali ini, ibunya tidak langsung mengajaknya bercanda atau menyiapkan sarapan. Rebeca menarik napas pelan, menatap putrinya dengan lembut namun serius, lalu bertanya dengan suara yang pelan namun jelas.

"Angel… apakah kau ingin tahu tentang keluarga Ibu? Terutama kakek dan nenekmu, Putriku?"

Angel terdiam seketika. Kata-kata itu membuatnya membeku di tempat. Selama ini, ia hampir tidak pernah menanyakan keberadaan siapa pun — kecuali satu orang: Ayahnya. Selama bertahun-tahun, satu-satunya hal yang selalu ia tanyakan, cari, dan rindukan hanyalah sosok ayahnya. Keberadaan kerabat lain, keluarga ibunya… hal itu sama sekali belum pernah terlintas di benaknya. Ia terdiam, tak bisa berkata apa-apa, hanya menatap ibunya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.

Melihat keheningan putrinya, Rebeca pun melanjutkan pembicaraannya, suaranya terdengar penuh kerinduan sekaligus kebingungan.

"Nak… sebenarnya Ibu ingin mengajakmu dan memperkenalkanmu menemui kakek dan nenekmu. Sudah begitu lama… Ibu sudah tidak pernah lagi menemui mereka. Hati Ibu merindukan mereka, dan Ibu ingin agar kau pun mengenal mereka — orang-orang yang juga menyayangi Ibu, dan pasti akan menyayangimu juga."

Ia terdiam sejenak, menatap Angel dengan tatapan bimbang.

"Namun… hal itu juga sedang berdempetan dengan pelatihanmu yang akan dimulai hari ini. Ibu bingung, Putriku… Ibu tidak tahu apa yang harus Ibu lakukan. Apakah sebaiknya kita pergi menemui mereka dulu, atau kau tetap berangkat ke akademik? Ibu benar-benar bingung…"

Angel mendengar setiap kata yang diucapkan ibunya. Namun di tengah keheningan itu, pikiran Angel berputar perlahan. Ia teringat masa-masa dulu — saat ia sendirian, merindukan keluarga yang utuh. Ia tahu betul bagaimana rasanya kesepian, bagaimana rasanya merindukan keluarga yang tak bisa ditemui. Dan kini, melihat ibunya bingung dan merindu… Angel tidak sanggup membiarkan ibunya merasakan hal yang sama seperti yang dulu ia rasakan. Baginya, keluarga adalah hal nomor satu — bagi siapa pun, tak terkecuali ibunya sendiri.

Dengan hati yang mantap namun lembut, Angel mendongak, menatap ibunya lekat-lekat, lalu berbicara dengan suara yang tulus dan penuh pengertian.

"Ibu… kalau aku bisa menunda untuk mengikuti pelatihan itu… apakah boleh? Aku juga ingin tahu siapa Kakek dan Nenekku, Ibu. Selama aku di sekolah dulu, aku sering melihat teman-temanku dijemput oleh kakek dan nenek mereka… dan aku selalu bertanya-tanya, seperti apa rasanya punya kakek dan nenek. Sekarang, kalau ada kesempatan untuk menemui mereka… aku ingin Ibu menemui mereka dulu. Aku tidak ingin Ibu merasakan kesepian dan kerinduan seperti yang dulu aku rasakan, Ibu. Apakah bisa?"

Suaranya terdengar penuh harap, matanya bersinar dengan ketulusan yang murni — bukan karena ia tak ingin pergi ke akademik, melainkan karena ia lebih mengutamakan kebahagiaan ibunya.

Rebeca mendengar itu, matanya seketika berkaca-kaca. Ia tak menyangka putri kecilnya akan berpikir sedalam itu, bahkan mempertaruhkan kesempatan yang ia impikan demi kebahagiaannya. Ia segera merangkul Angel erat-erat, menumpahkan segala kerinduan dan rasa syukur dalam pelukan itu.

"Angel… putriku yang baik…" bisiknya dengan suara bergetar penuh haru. "Ibu tidak menyangka… kau berpikir begitu dalam. Terima kasih, Nak… terima kasih sudah memikirkan Ibu."

Yofaith yang mendengar itu tersenyum lembut, matanya memancarkan kebanggaan yang mendalam. Ia melangkah mendekat, meletakkan tangan di bahu putrinya.

"Keputusan yang sangat mulia, Angel. Keluarga memang harus selalu diutamakan. Jika itu yang kau pilih, maka Ayah mendukungmu sepenuhnya. Mari kita berangkat ke akademik terlebih dahulu, untuk menyampaikan permohonanmu kepada Ellion secara langsung."

Lazark yang sedari tadi mendengarkan pun tersenyum bangga.

"Hahahaha! Itu baru Nona-ku! Berhati mulia dan berani mengambil keputusan! Kalau akademik itu keberatan menunda, biar aku yang bicara — mereka pasti paham!"

Kael tersenyum melihat kehangatan keluarga itu, lalu menambahkan pelan: "Guru benar. Keputusan Nona Angel adalah yang paling tepat. Keluarga adalah fondasi sebelum melangkah lebih jauh."

 

Tanpa menunggu lama, mereka pun bersiap berangkat. Langkah kaki mereka menuju Akademik terasa ringan, penuh harapan sekaligus ketegangan. Sesampainya di sana, Ellion sudah menunggu di depan gedung utama, dan begitu melihat kedatangan mereka, ia menyambut dengan senyum hangat sekaligus penuh hormat.

"Selamat datang semuanya," sapanya lembut, lalu memberi isyarat tangan. "Silakan masuk ke ruang kepala akademik. Kita bisa berbicara dengan tenang di sana."

Mereka pun masuk ke ruangan yang luas itu — ruangan yang penuh dengan rak buku dan peta kuno, namun terasa damai. Begitu duduk, Angel langsung berdiri tegak, menatap Ellion dengan tulus dan penuh rasa hormat, lalu membungkuk sedikit.

"Paman Ellion… saya mohon maaf sekali," ucapnya dengan suara yang jelas namun sopan. "Saat ini saya belum bisa ikut serta dalam kegiatan pelatihan itu. Karena saya harus pergi mengunjungi orang-orang yang tersayang — Kakek dan Nenek saya, yang belum pernah saya temui. Saya berjanji akan datang begitu saya sudah kembali."

Ellion mendengarkan setiap kata itu dengan saksama, dan begitu Angel selesai berbicara, ia justru tersenyum lebar — seakan hal itu sudah ia duga sebelumnya. Ia mengangguk pelan, lalu menjawab dengan nada yang menenangkan.

"Tidak apa-apa, Angel. Sebenarnya, pelatihan tingkat lanjut itu baru akan dimulai minggu depan. Minggu ini hanyalah waktu untuk mengantar dan menata barang-barang perlengkapan, serta berkenalan dengan lingkungan asrama — bukan kegiatan wajib. Jadi kau sama sekali tidak terlambat, dan kau tidak perlu merasa bersalah sedikit pun."

Mendengar itu, mata Angel seketika berbinar cerah. Beban di dadanya seketika hilang sepenuhnya.

"Benarkah…? Terima kasih banyak, Paman Ellion!" serunya penuh rasa syukur. "Terima kasih sudah memaklumi!"

Ellion tersenyum melihat kelegaan gadis itu. "Pergilah dengan tenang. Temui kakek dan nenekmu, habiskan waktu bersama mereka. Aku akan menunggumu di sini minggu depan."

Mereka pun berpamitan dan melangkah berjalan meninggalkan gerbang Akademik dengan hati yang lega dan penuh harapan. Di saat yang sama, di puncak menara tinggi yang menjulang gagah di sisi gedung utama, seseorang berdiri diam di balik bayang-bayang tiang batu. Sosok itu diam-diam memperhatikan rombongan kecil di bawah sana — pandangannya tertuju lekat-lekat tepat pada sosok gadis kecil yang berjalan di samping Rebeca. Dialah Ezra. Sebuah senyum lembut namun bergetar perlahan terukir di wajahnya, seolah selama ini ia memang sedang menantikan detik-detik melihat adik kandungnya itu.

"Ternyata kau begini rupanya… Adikku…" bisiknya pelan, hanya angin yang mendengar. "Sebentar lagi… kita akan segera bertemu."

 

Setelah berpamitan dengan Ellion, mereka pun berangkat meninggalkan Akademik Langit. Sebuah kereta kuda yang sederhana namun kokoh telah menunggu di gerbang — disiapkan atas bantuan langsung dari Ellion, sebuah kebaikan yang dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapa pun, agar perjalanan keluarga ini tetap tenang dan aman tanpa menarik perhatian. Di samping kereta, Kael dan Lazark menunggangi kuda masing-masing, siap mendampingi dan menjaga keselamatan keluarga sepanjang perjalanan yang jauh itu.

Di dalam kereta, suasana terasa hangat dan penuh tanya. Angel menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang perlahan berubah, lalu menoleh kepada ibunya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Ibu… menurut Ibu, Kakek dan Nenek orangnya seperti apa?"

Rebeca tersenyum lembut sambil mengusap kepala putrinya.

"Nenekmu itu orang yang sangat baik dan penuh perhatian, persis seperti Ibu. Sedangkan Kakekmu… beliau orangnya tegas, bijaksana, namun juga keras pendiriannya. Dulu saja Ibu sendiri pernah dilatih olehnya sampai Ibu menyerah dan pasrah untuk hidup! Hahahaha…" ucap Rebeca sambil tertawa renyah, berusaha menyampaikannya dengan canda agar tidak menakutkan hati putrinya.

Yofaith pun ikut tersenyum, lalu menatap Angel dengan lembut dan mulai berbicara.

"Putriku… Ayah harap kau tidak merasa bosan di perjalanan ini. Sebenarnya, kediaman orang tua Ibu lumayan jauh dari sini. Rumah Kakek dan Nenek berada di Wilayah Timur, sedangkan kita sekarang berada di Wilayah Barat. Perjalanan ini akan memakan waktu cukup lama."

Angel mengangguk mantap, wajahnya bersinar cerah.

"Tidak akan, Ayah! Aku tidak akan pernah merasa bosan. Karena ada Ayah, Ibu, Paman Kael, dan Paman Lazark bersamaku."

Namun seketika itu juga, tatapan Angel berubah menjadi serius. Sesuatu yang sejak lama tersimpan di benaknya kini kembali melintas jelas di pikirannya — saat di acara kelulusan, ketika Lazark hendak mengerahkan kekuatannya, tiba-tiba Ibu sendiri yang melangkah maju menghadangnya. Saat itu, di tangan Ibu muncul sebilah sabit yang memancarkan kekuatan luar biasa, dan langit yang tadinya cerah seketika berubah kelam, muncul bulan merah yang menyinari seluruh penjuru. Selain itu, masih ada hal lain yang membuatnya bingung — hari pertama ia masuk ke Akademik, saat Valerian memandangnya dengan pandangan penuh hinaan, begitu ia melihat Paman Kael, wajahnya seketika berubah pucat dan penuh ketakutan. Semua hal itu saling berhubungan, dan kini keingintahuan itu tak lagi bisa ditahan.

Angel menarik napas pelan, lalu menatap ibunya dengan tulus.

"Ibu… bolehkah aku bertanya sesuatu lagi? Sebenarnya… siapakah Ibu? Aku selalu bingung saat Ibu tiba-tiba maju sendirian menghadang Paman Lazark waktu itu, padahal orang lain saja sampai ketakutan melihat kekuatan yang muncul. Dan juga saat hari pertamaku di sekolah… Valerian yang memandangku dengan hinaan, seketika ia melihat Paman Kael, ia tampak sangat ketakutan. Apa sebenarnya yang terjadi saat itu?"

Rebeca terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia terdiam sejenak, menatap putrinya yang menunggu dengan tatapan polos namun serius. Ia tahu, kebenaran ini pasti akan ditanyakan oleh Angel suatu hari nanti.

Yofaith meremas lembut tangan istrinya, seakan memberi kekuatan, lalu menatap putrinya dan berbicara dengan suara yang tenang namun penuh makna.

"Putriku… apakah kau masih ingat cerita Ayah saat kita duduk bersama di tepi sungai? Ayah pernah bercerita bahwa selama ini Ayah selalu berjuang melawan para Perusak Dunia untuk melindungi seluruh ciptaan… namun Ayah tidak pernah berjuang sendirian. Di samping Ayah, selalu ada Ibumu. Dan ada juga Paman Kael serta Paman Lazark yang bersedia mendampingi dan berdiri bersama Ayah sejak dahulu kala."

Angel terbelalak mendengar itu. Selama ini di matanya, Ibu hanyalah seorang wanita lemah yang bekerja keras demi melindunginya. Namun kenyataannya ternyata jauh berbeda. Ia menatap Rebeca dengan mata berbinar kagum, lalu berseru penuh kekaguman.

"Jadi… Ibu ternyata sangat kuat sekali ya!"

Mendengar ucapan putrinya itu, hati Rebeca terasa hangat dan penuh kebanggaan. Air matanya berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena kesedihan — melainkan karena rasa bahagia. Ia merangkul putrinya erat, merasa bahwa meskipun selama ini ia menyembunyikan segalanya, kini saatnya kebenaran itu perlahan mulai terungkap kepada putri yang dicintainya.

Perjalanan itu berlangsung selama tiga hari penuh. Sepanjang jalan, Kael dan Lazark menunggangi kuda di sisi kiri dan kanan kereta, menjaga agar tidak ada gangguan apa pun. Langit yang berubah warna, hutan yang berganti rupa, serta pemandangan yang perlahan berubah dari wilayah barat menuju wilayah timur — menjadi saksi perjalanan keluarga ini, yang menuju bukan hanya sekadar sebuah tempat, melainkan menuju asal-usul sejati Rebeca, dan menuju pertemuan pertama Angel dengan kakek serta neneknya.

 

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!