Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Menggagalkan Perjodohan
Seminggu setelah ciuman itu, Vanessa meminta Lia mengantar sekotak kue ke sebuah kafe di PIK Avenue.
“Untuk Tante Lenny,” katanya. “Beliau menunggu dekat jendela.”
Lia tidak curiga. Ia pergi setelah memberi tahu Cornelia dan mencatat tujuan pada pos keamanan seperti kesepakatan dengan Sebastian.
Namun, ketika tiba di kafe, bukan Tante Lenny yang menunggu.
Rudy berdiri dari meja untuk menyambutnya.
“Mbak Lia?”
Lia berhenti sambil memegang kotak kue. “Pak Rudy. Tante Lenny di mana?”
Kebingungan yang sama muncul di wajah Rudy. “Mbak Vanessa bilang Anda bersedia bertemu minum kopi. Katanya kotak kue hanya alasan supaya tidak canggung.”
Lia langsung memahami jebakan itu.
Vanessa tidak hanya ingin menjauhkannya dari Sebastian. Ia ingin membuat pertemuan ini tampak seperti keputusan Lia sendiri.
“Saya tidak tahu soal ajakan itu,” katanya jujur.
Rudy tampak malu. “Kalau begitu saya minta maaf. Saya sungguh mengira Anda setuju.”
“Bukan salah Pak Rudy.”
“Karena sudah datang, boleh saya pesan kendaraan untuk mengantar Anda pulang?”
Lia melihat hujan mulai turun di luar. Duduk lima menit di tempat umum lebih aman daripada berdiri menunggu kendaraan di pintu mal. Ia mengangguk.
“Kopi saja. Setelah itu saya pulang.”
Rudy memesan kopi untuk dirinya dan teh hangat untuk Lia. Ia menjaga percakapan tetap ringan, membahas proyek jalan, masakan Singkawang, dan rencana mencari katering. Tidak ada rayuan murahan.
“Saya memang tertarik mengenal Anda,” katanya akhirnya. “Tapi saya tidak mau memanfaatkan kebohongan Mbak Vanessa. Kalau Anda tidak punya rasa, saya akan berhenti.”
Kejujuran itu membuat Lia menghargainya.
“Pak Rudy tidak marah sudah dijebak datang?”
“Marah kepada yang berbohong, bukan kepada Anda.” Rudy mengaduk kopi. “Saya juga pernah hampir dijodohkan keluarga dengan anak rekan bisnis. Kami berdua datang karena tidak enak menolak, lalu menghabiskan satu jam saling minta maaf.”
Lia tertawa kecil.
“Setelah itu saya belajar bertanya langsung,” lanjutnya. “Kalau kita bertemu lagi, saya ingin karena Anda setuju. Bukan karena ada orang yang menyusun tempat dan waktu.”
“Saya menghargai itu.”
Rudy menunjukkan daftar menu yang benar-benar sudah ia siapkan untuk tim proyek. Dengan begitu Lia tahu ketertarikannya tidak membuat semua alasan bisnis menjadi palsu. Ia menawarkan nomor kepala dapur dan menjelaskan kapasitas pesanan secara jujur.
“Pak Rudy orang baik. Tapi hati saya...” Lia terdiam, belum siap menyebut nama siapa pun. “Hati saya sedang tidak kosong.”
Rudy tersenyum tipis. “Saya sudah menduga.”
“Dari apa?”
“Cara Anda melihat pintu setiap kali Sebastian belum pulang.”
Lia memegang cangkir lebih erat.
“Tenang. Saya tidak akan cerita.” Rudy mengangkat ponsel. “Saya hanya akan panggil mobil.”
Di Rumah Wijaya, Bryan mendadak rewel menjelang waktu minum susu. Pengasuh mencoba menggendong, Cornelia mengganti popok, dan Popo menyanyikan lagu lama. Bayi itu tetap menangis sambil memalingkan wajah dari botol.
“Lia ke mana?” tanya Cornelia.
“Mengantar kue untuk Tante Lenny,” jawab Vanessa.
“Tante Lenny sedang di Bandung,” kata Edwin dari sofa.
Ruangan membeku.
Sebastian baru saja pulang dan mendengar kalimat itu. Ia segera mengeluarkan ponsel. Pesan tujuan dari Lia menunjukkan PIK Avenue, tetapi tak ada kabar bahwa Tante Lenny tidak datang.
“Siapa yang menyuruh?” tanyanya.
Vanessa mengangkat bahu. “Mungkin saya salah ingat. Rudy kebetulan di sana. Mereka kan perlu kesempatan bicara.”
Tangisan Bryan makin keras.
Sebastian mengambil tas perlengkapan bayi. “Saya bawa Bryan menjemput Lia.”
Cornelia menatapnya. “Bayi dibawa ke mal malam-malam?”
“Dia tidak mau minum tanpa Lia.”
Alasan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, Edwin melihat cara rahang kakaknya mengeras dan memilih tidak berkomentar.
Pak Kelik mengemudi. Sebastian duduk di belakang bersama Bryan yang terus merengek, sesekali menepuk punggung kecilnya dengan canggung.
Ketika mereka sampai, Sebastian melihat Lia dan Rudy melalui dinding kaca kafe. Mereka tidak berdekatan. Rudy sedang menunjukkan layar aplikasi kendaraan, sementara Lia mengangguk.
Pemandangan yang sangat wajar.
Tetap saja Sebastian masuk sambil menggendong Bryan.
Tangisan bayi membuat beberapa pengunjung menoleh. Lia langsung berdiri.
“Kenapa Bryan dibawa ke sini?”
“Dia mencari kamu.”
Begitu berada dalam pelukan Lia, Bryan mengendus dekat lehernya dan perlahan tenang. Sebastian menyerahkan botol. Lia duduk kembali untuk memberi susu.
Rudy memandang ketiganya, lalu tersenyum kecil seolah sebuah jawaban baru saja dikonfirmasi.
“Mobil untuk Mbak Lia sudah dipesan,” katanya. “Tapi sepertinya tidak diperlukan.”
“Saya antar pulang,” jawab Sebastian.
“Tentu.” Rudy berdiri dan menatap Lia. “Terima kasih sudah jujur.”
“Terima kasih juga sudah mengerti.”
Sebastian menangkap pertukaran itu. “Jujur tentang apa?”
“Bukan urusan saya untuk menjelaskan,” kata Rudy tenang. Ia lalu menjabat tangan Sebastian. “Jaga mereka baik-baik.”
Kata mereka membuat Sebastian terdiam.
Dalam mobil pulang, Lia duduk di belakang bersama Bryan yang sudah kenyang dan tertidur. Sebastian duduk di sebelahnya. Pak Kelik menaikkan pembatas suara agar mereka punya privasi.
“Vanessa berbohong kepada saya dan Pak Rudy,” kata Lia sebelum ditanya. “Saya tidak datang untuk kencan.”
“Tapi kamu tetap duduk minum.”
“Hujan. Dia sedang memesan kendaraan. Dan dia tidak berbuat salah.”
“Saya tidak bilang dia salah.”
“Wajah Ko Sebas mengatakan begitu.”
Sebastian menahan jawaban. Bryan tidur di antara mereka, satu tangan kecil menggenggam jari Lia.
“Apa yang kamu katakan kepadanya sampai dia berterima kasih atas kejujuranmu?”
Lia menatap lampu jalan di balik kaca. “Saya bilang hati saya tidak kosong.”
Sunyi memenuhi mobil.
Sebastian menatap profil Lia yang diterangi lampu jalan. Kalimat yang ia tunggu selama berminggu-minggu akhirnya datang, tetapi ia masih takut menafsirkan terlalu jauh.
“Rudy menerima begitu saja?”
“Dia menghormati jawaban saya.”
“Dia lebih baik daripada yang ingin saya akui.”
Lia menoleh, terkejut mendengar pujian itu. “Ko Sebas tidak perlu bersaing dengan orang yang sudah mundur.”
“Saya tidak bersaing.”
“Membawa Bryan ke kafe termasuk apa?”
“Keperluan bayi.”
Pak Kelik yang mendengar samar dari depan menahan batuk agar tidak terdengar seperti tawa.
“Siapa yang mengisinya?” tanya Sebastian.
“Ko Sebas sudah tahu.”
“Saya ingin dengar.”
Lia menoleh. “Sebelum bertanya, Ko Sebas jawab dulu. Ko Sebas mau menikah dengan Pak Rudy kalau jadi saya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak mencintainya.”
“Kalau keluarga Ko Sebas menyuruh?”
“Tetap tidak.”
Sebastian menatapnya lekat. “Kamu sendiri mau menikah dengannya?”
Lia tertawa pahit. “Saya ini siapa? Cuma pembantu. Kalau ada insinyur baik mau menikahi saya, orang akan bilang saya harus bersyukur. Apa lagi pilihan saya?”
Tatapan Sebastian mengeras.
“Jangan katakan cuma pembantu lagi.”
“Itu kenyataan.”
“Bukan seluruh kenyataan.” Ia merendahkan suara agar tidak membangunkan Bryan. “Dan tentang pilihan, kamu punya. Selama kamu berani memilihnya.”
“Kalau pilihan saya membuat semua orang marah?”
“Biar saya yang menghadapi mereka.”
Lia menahan napas.
Sebastian mendekat sedikit, terhalang tubuh kecil Bryan di antara mereka.
“Kamu hanya perlu berani mengatakan siapa yang ada di hatimu.”