Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Kavano tidak lagi membiarkan amarah mendikte langkahnya. Setelah diskusi intens dengan Frans, ia memilih untuk melipat emosinya dalam-dalam dan memainkan peran sebagai pihak yang kalah dan tunduk di hadapan publik.
Ia tahu betul cara kerja pria seperti Luca Oliver: semakin musuhnya terlihat tidak berdaya, semakin rapuh pula kewaspadaan pria itu.
Langkah pertama yang diambil Kavano adalah menarik seluruh anak buahnya yang selama setahun terakhir berkeliaran mencari Ruby di jalanan. Ia membuat pergerakan buatan seolah-olah keluarga Archelio telah pasrah, fokus mengurus sisa-sisa aset bisnis yang pincang, dan mulai menyetujui draf peralihan saham yang diajukan oleh Luca. Ini adalah umpan agar Luca percaya bahwa gertakannya kemarin berhasil melumpuhkan mental Kavano sepenuhnya.
Namun di balik layar, Kavano merajut jaring perangkapnya dengan sangat rapi.
Ia menyewa peretas tingkat tinggi dan jaringan tentara bayaran independent.
"Biarkan dia merasa menang untuk sementara waktu," gumam Kavano dingin saat mengamati peta perimeter luar mansion Oliver yang berhasil dipetakan secara diam-diam.
Kavano sadar, Luca adalah seorang grandmaster dalam permainan catur ini. Setiap gerakan terburu-buru hanya akan berakhir pada kematian. Maka dari itu, Kavano memutuskan untuk memakan umpan yang diberikan Luca, mengikuti alur permainan yang dibuat sang master, sambil perlahan menyisipkan bidak beracunnya sendiri di papan pertempuran.
Saat Luca berpikir ia sudah mengendalikan seluruh papan permainan, di situlah Kavano akan menarik tali jeratnya dan merebut kembali Ruby dari genggaman Oliver.
...----------------...
Di tempat lain, di sebuah kubikel kantor bertumpuk berkas yang remang oleh lampu meja, Tisa mengusap wajahnya yang lelah dengan kasar. Helaan napas panjang berulang kali lolos dari bibirnya seraya menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka, kode transaksi, dan skema kepemilikan saham yang amat rumit.
"Gila. Ini bos beneran udah kehilangan akal sehatnya apa gimana, sih?" gerutu Tisa pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara dengung AC ruangan.
Sejak pagi tadi, atasannya memberikan sebuah tugas dadakan yang aneh sekaligus memusingkan. Tisa diperintahkan untuk merapihkan dan pembongkaran struktur kepemilikan saham dari sebuah entitas bisnis raksasa. Lucunya, seluruh nama pemilik utama, pemegang saham pengendali, hingga nama perusahaan induknya dihitamkan secara sengaja dalam berkas fisik maupun file digital yang ia terima.
Identitas pemiliknya benar-benar dirahasiakan rapat-rapat.
Tisa hanya diberi instruksi tunggal: menyalin, mengelompokkan aset, dan merapikan alur dividennya ke dalam bentuk laporan ringkas agar mudah dipahami saat presentasi tertutup bosnya nanti.
"Kalo cuman menyalin doang mah gampang," gumam Tisa seraya mengetikkan deretan angka transaksi dengan cepat di *keyboard*.
"Tapi alur asetnya ini aneh banget. Kenapa ada pemindahan saham secara privat dari sektor properti ke nama satu individu yang dokumen hukumnya menggantung begini?"
Pembongkaran dokumen saham rahasia ini terasa terlalu rumit untuk sekadar transaksi bisnis biasa. Tanpa Tisa sadari, berkas rahasia yang sedang ia rapikan di meja kantornya malam ini adalah draf alih saham yang sama, yang baru saja ditandatangani oleh Kavano Archelio di bawah tekanan Luca Oliver.
Tisa menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya pada kursi kerja ergonomis nya. Lampu-lampu kota terpancar indah dari jendela kaca lantai paling atas gedung pencakar langit itu.
Sebuah papan nama kecil berbahan kuningan berkilat di atas meja kerjanya menegaskan posisinya: **Tissa Timothy– Sekretaris Eksekutif Presdir**.
Ya, bos besar yang selama ini memberinya perintah dingin, serba cepat, dan tak tersentuh itu tidak lain adalah Luca Oliver.
Sebagai sekretaris pribadi Luca, Tisa sudah terbiasa memegang dokumen-dokumen berkerahasiaan tingkat tinggi. Namun malam ini, kepalanya benar-benar serasa mau pecah.
"Pantas saja Tuan Luca sangat tegas soal dokumen ini," gumam Tisa seraya membenarkan letak kacamata yang agak melorot di hidungnya. "Peralihan sahamnya agresif banget. Ini bukan cuma investasi... ini namanya pembantaian bisnis secara halus."
Tisa memindai ulang barisan nama yang tersisa dalam draf rahasia itu.
Takdir bekerja dengan begitu rapi di balik bayang-bayang.
Tisa yang siang malam bekerja keras di bawah kendali Luca untuk memproses kehancuran keluarga Archelio, sama sekali belum menyadari bahwa sahabat tercintanya berada di tempat yang sangat dekat—hidup di bawah perlindungan mutlak dari pria mematikan yang dipanggilnya "Tuan Bos" setiap hari.