BEBAS PROMOSI!! NOVEL JADUL. DITULIS TAHUN 2015.
Persahabatan lima remaja, Bunga, Pretty, Titian, Nay, dan Lili. Mereka satu tim. Sebut saja geng di sekolah.
Bunga: Dia keras dan penuh keinginan. Dilatarbelakangi keluarga yang tidak harmonis.
Prety: Anggota geng yang paling cantik. Meski dia remaja yang suka berkelahi, ternyata dia memanggil orang tuanya dengan sebutan abah dan umi.
Nay dan Titian: Mereka berdua hadir sebagai pelengkap.
Lili: Anggota yang paling gendut dan tidak bisa berkelahi.
Awalnya, Bunga membuat sebuah perjanjian jangan sampai di antara mereka berlima ada yang sampai berpacaran. Padahal, pada saat itu Prety sebagai anggota paling cantik, ya wajar jika dia sudah memiliki pacar. Bahkan, dia sangat serius ingin berkomitmen. Begitu juga dengan anggota lainnya. Sayangnya, mereka harus menyembunyikan itu.
Hingga suatu ketika di tengah problematika geng yang entah sampai kapan akan berakhir, Lili, anggota yang paling gendut harus menghilang. Dia tidak tahan karena fisik yang dia miliki, dia sulit mendapatkan pacar.
Lantas dikabarkan Lili meninggal. Tentu saja itu kabar yang membuat Prety, Titian, Nay, terutama bunga menjadi sangat kalut. Sudah seperti keluarga sendiri.
Beberapa bulan kemudian, mereka bertemu dengan gadis yang memiliki sikap dan kebiasaan seperti Lili. Hanya ada satu anggota yang menyadari. Gadis itu mencoba untuk menawarkan supaya mereka berempat bermain ke rumahnya.
Apa yang terjadi? Rumah yang ditempati adalah rumah Lili yang dulu. Bedanya sudah direnovasi. Sampai suatu ketika mereka dipertemukan dengan problematika mawar dari gadis psikopat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuni Umdatun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prety Diteror
Dua minggu yang lalu, kabar hangat kematian seorang laki-laki dewasa yang sudah beristri itu, mati mengenaskan. Namun, siapa pelakunya belum berhasil ditangkap polisi karena terlalu cerdiknya si pembunuh menghilangkan seluruh jejak-jejaknya. Hampir tidak ada jejak sekalipun yang ditinggalkan bahkan sekedar sidik jari.
Sekarang ada seorang pemuda yang hampir bernasib sama. Selama dua hari dia telah dikurung di tempat tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali perempuan berjubah merah. Pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya gelap tersikap kain hitam dan pemuda itu hanya bisa mengenali d tu dari suaranya. Mulutnya tertutup lakban dan seluruh badannya diikat kuat oleh rantai.
“Silakan kalau kamu ingin pergi dari sini. Pastikan kamu bisa selamat. Jangan biarkan aku bisa menangkapmu dan memotong-notong tubuhmu dengan pisau ini.” Perempuan jubah merah itu memukul-mukulkan pisau itu ke palang besi agar pemuda itu tahu kalau apa yang dikatakannya bukan kebohongan.
“Uh, uh.” Pemuda itu berteriak-teriak dalam keadaan mulutnya terbungkam.
Perempuan jubah merah itu membiarkan pemuda itu bergerak-gerak ingin melepaskan diri. Dia yakin bahwa seseorang yang sudah berada di tangannya tidak akan pernah bisa melepaskan diri. Ruang bawah tanah ini terlalu sulit untuk dijangkau seseorang yang tidak biasa melewati. Berkelok-kelok dan membingungkan. Sekali lagi hanya perempuan berjubah merah itu yang berkuasa. Ia sengaja membangun terowongan itu untuk misi besarnya yang sudah disusunnya sejak setahun yang lalu.
“Jangan bodoh karena kamu ingin melarikan diri. Dengarkan aku!” Perempuan berjubah merah membentak-bentak dan mencengkram pipi pemuda itu. Dia mengancam. Dia melakukan itu karena bosan dengan pemuda yang suka bertindak semaunya sendiri.
Pemuda itu ingin berbicara dan meminta penjelasan kenapa dia harus terjebak dalam situasi mengerikan seperti ini, tapi bagaimana? Jika dia terus bergerak bisa-bisa pisau itu dengan mudahnya akan menggores kulitnya. Jantungnya terus berdetak tidak karuan. Perempuan berjubah merah itu bagaikan malaikat pencabut nyawa yang berada tepat disampingnya. Tidak pernah membiarkannya pergi selangkah pun. Matanya bergerak-gerak tajam selalu mengawasi.
Krek!
Suara lepasnya lakban dari mulut pemuda itu.
Perempuan berjubah merah itu kemudian mengeluarkan setangkai bunga dari belakang tubuhnya dan meletakkannya di dekat hidung pemuda itu.
“Bau apa ini?” tanya pemuda itu dengan nada bergetar.
“Bodoh,” bentak perempuan berjubah merah itu.
“Kenapa kamu memberiku bunga mawar ini?”
“Aku menginginkan kamu hidup tenang, Wahai Pemuda. Aku mencintaimu,” katanya pelan.
Saat pemuda itu menyeringai kebingungan apa maksudnya, tiba-tiba pemuda itu memuntahkan darah dari mulutnya. Badan pemuda itu semakin membungkuk lemas ketika peluru pistol itu menyusup ke dalam dadanya. Tepat pada jantung. Mati. Pemuda itu akhirnya mati terbunuh perempuan jubah merah yang menjadi misteri saat ini.
“Hahaha, aku tidak akan pernah mencintai laki-laki sepertimu,” tawa perempuan jubah merah itu terdengar amat keras menggaung ke seluruh sudut terowongan. Emosi dan keinginannya telah membuatnya berambisi. Sejak saat itu, dia berubah menjadi perempuan yang sangat kejam. Dia akan membunuh siapapun orang yang menghalangi jalannya.
***
Sejak Nay dan Titian bertemu dengan Yudha, mereka menjadi sering bertiga. Jadwal ujian akhir telah usai dan saatnya happy holiday.
“Yud, mau kemana liburan ini?” tanya Nay.
“Ke mana aja. Pokok nggak di kampus dan di rumah. Bagiku, itu sudah liburan. Sama saat kita bertiga nongkrong seperti ini.”
“Kalau gitu kita ke rumah temanku, yuk! Nanti kita bertiga bisa makan gratis disana. Gimana?”
“Boleh. Gimana kalau kita ajak Sonya juga?” Yudha bersemangat dengan idenya.
“Boleh juga. Kita ke rumahnya Sonya dulu kalau gitu,” ujar Nay.
“Iya, tapi aku tanyain dulu dia mau apa nggak. Aku punya nomornya kok. Biar kutelepon. Hehe.” Yudha terkekeh sambil mengangkat ponselnya.
“Uh, niat banget pengen kenalannya.” Titian mengejek,” ngebet,” katanya kemudian.
“Sonya, ada waktu nggak sekarang?”
“Oh, kebetulan nggak, Yudha. Kenapa, ya”
“Aku mau ngajak kamu keluar. Tenang aja. Sama Nay dan Titian juga, kok. Katanya mau ke rumah temannya. Mau, ya?” kata Yudha agak memaksa.
“Iya. Tunggu bentar, ya. Aku tutup, ya, teleponnya. Bye. Sampai ketemu nanti.”
“Dia siap-siap. Kita berangkat aja sekarang, Nay.”
Setengah jam kemudian.
“Kita ke rumah siapa ini, Nay, Titian?”
“Ini rumahnya Prety yang dulu aku ceritain ke kamu. Nanti kamu bisa kenalan langsung dengannya,” jawab Nay.
Sonya mengangguk-angguk.
“Assalamu’alaikum, Prety.”
“Wa’alaikumsalam, Nay, Titian. Tunggu bentar,” teriak Prety dari balkon.
“Lama banget, sih, nggak kesini. Aku mau menghubungi takutnya kalian berdua repot sama ujian.” Prety tersenyum. ”Semuanya silakan duduk. Akan kuambilkan minumannya.”
“Iya. Makasih, Pret. Nggak, kok. Ini ujiannya udah selesai dan tinggal holiday.”
“Itu siapa, Nay, Tit? Teman baru kalian?” tanya Prety sembari mengambil posisi duduk.
“Kenalkan, Mbak. Aku Yudha. Masih semester enam satu kampus dengan Nay dan Titian,” jawab Yudha sambil menjabat telapak Prety.
“Oh, tapi jangan panggil mbak gitu. Aku masih muda seumuran Nay dan Titian. Justru kamu lebih tua dariku lo. Aku Prety.”
“Benarkah? Kamu kelihatan dewasa sekali. Aku menyukainya,” jawab Yudha sambil menundukkan lehernya sekali.
“Hush. Dia sudah punya suami kali, Yud. Jangan ngomong sembarangan. Nanti kalau suaminya tahu bisa gawat, tuh,” seru Nay.
“Nggak, kok. Mas Galih masih di restonya.”
“Kalau kamu siapa?” Prety menoleh ke Sonya dan memberinya senyum bersahabat.
“Aku Sonya.” Sonya berdiri dan memeluk Prety. Prety pun membalasnya. Dia mengelus-elus pundak Sonya.
“Kamu hamil?” Sonya melepaskan pelukannya.
“Benarkah, Pret?” tanya Nay dan Titian bersamaan. Mereka berdua terkejut sampai ikut berdiri.
“Ya, aku bersyukur banget. Masih dua bulan, kok.” Prety tersenyum malu.
“Selamat, ya. Duh, temanku, kok, udah mau jadi ibu. Kapan aku nyusul yah?” Nay berseru. Jadi, kebawa perasaan.
Semua tersenyum senang menatap Prety yang sedang bahagia.
“Oh, ya, gimana kamu sama Dirlan? Masih aman, kan?”
“Masihlah, tapi kalau aku empat atau lima tahun lagi aja, Pret. Nunggu siap. Hehe.” Nay terkekeh.
“Kalau kamu, Tit?”
“Aku juga masih sama Arga, tapi nggak tahu, tuh. Aku nggak mikir terlalu berat kaya Nay. Itu dipikir belakangan aja. Yang penting sekarang hubungannya lancar. Tinggal dijalanin aja,” jawab Titian santai.
“Jadi, kalian berdua udah punya pacar?” tanya Yudha agak kaget.
“Lebih dari sekedar pacar kali, Yud. Dia calon masa depanku, kok. Kamu pasti ngiri, kan?” jawab Nay percaya diri.
“Alah, nggak. Biasa aja. Aku bisa nyari cewek kalau aku mau, aku aja yang belum pengen,” balas Yudha agak jaim.
***
Malam hampir larut. Prety masih belum tidur. Dia menatap Galih yang sudah tertidur pulas. Malam ini dia sulit tidur. Padahal, dia juga tidak sedang memikirkan sesuatu. Tapi, ada yang mengganjal di pikirannya. Entah apa itu. Kelopak matanya enggan tertutup. Dia menyentuh pipi Galih perlahan. Dia tersenyum.
Tiba-tiba jendela kamarnya terbuka. Dengan perasaan was-was, Prety bangkit dari tempat tidur dan menutup jendela. Saat dia hendak merapatkan bingkai jendela, dia berteriak hingga membangunkan Galih. Dia ketakutan.
“Ada apa, Sayang?” Galih bangkit dan memeluk Prety.
“Tulisan di jendela itu, Mas.” Prety menunjuk dengan jari bergetar.
Galih pun mencoba memastikan tulisan apakah itu. Dia terkejut. Apa maksudnya dan kenapa Prety yang menjadi sasarannya. Dia mencolek tulisan dan diciumnya. Tulisan itu ditulis dengan darah. Teksturnya seperti darah, tapi baunya tidak seperti darah. Justru agak wangi seperti bau bunga.
Jangan kamu lupakan kesalahan yang dulu pernah kamu lakukan. Aku akan menuntut balas.
“Kamu salah apa, Dik?” Galih menyentuh pipi Prety.
“Jujur aku sendiri tidak tahu apa yang dimaksud. Siapa yang melakukan ini padaku, Mas?” Prety segera memeluk tubuh Galih.
“Hanya ada satu kesalahan besar dalam hidupku, tapi apakah mungkin itu yang dimaksud? Kalaupun benar, berarti yang melakukan ini padaku adalah... Tidak, tidak. Aku tidak percaya ini.” Prety semakin erat memeluk.
untung pretty yaa , klo bca'y g tliti dsgka pret dut cuih Looooh... !! 🤪🤣
salam hangat
Dibalik emoticon cinta 1515
gak sabar nunggu Up-nya
salam dari
1. cinta Aurora
2. dukun manten ya..
semangat 🙏🙏🙏👌
bdw mampir juga ya kak di novel Ku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA