Tiga orang pemuda Tampan yang keras kepala ingin mencoba hidup mandiri dengan penghasilan masing-masing. Mereka meninggalkan keluarga dan menyambung study-nya di luar negeri sehingga mereka dipertemukan dan terbentuklah Trio Badboy. Kehidupan mereka dipenuhi dengan hanya bermain seperti huru hara, balapan motor, bergadang dan berantem. Hidup mereka dikelilingi oleh wanita-wanita seksi dan penggoda. Mereka selalu gonta ganti pacar tidak pernah bertahan lama, sehingga mereka selalu gagagl dalam percintaan. Meskipun mereka memiliki perilaku yang buruk tapi mereka tidak pernah melakukan sifat yang dilarang oleh agama ataupun hukum seperti masuk club malam, main judi, minum minuman keras, bermain wanita, narkoba ataupun membunuh. Mereka mempunyai prinsip menghormati orang lebih tua, menghargai teman sebaya, menjaga wanita cantik dan melindungi anak-anak. Mereka juga mempunyai keinginan untuk mendapatkan seorang pendamping hidup yang soleha dan bisa mengubah sifat buruk mereka. Akankah ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon serli restu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Mendadak
Semua memberikan ucapan selamat pada Susan dan memberikan hadiah. Kemudian mereka melanjutkan untuk makan makanan yang sudah mereka pesan.
Pandu mendekati mereka “bagaimana kita main game?”.
“Game apaan Yah?” tanya Andra.
“Terserah aja” jawab Pandu.
Disisi lain Luna sedang menyuapkan Bian makan. Bian kelihatan lemas, mungkin dia sangat kecapekan karena kerja terlalu banyak akhir-akhir ini.
“Kenapa?” tanya Luna.
“Nggak kenapa-napa kok” Bian berusaha tersenyum diantara mereka.
Jadi selesai makan mereka tidak jadi main game. Mereka hanya mengencengi teman Bian yang menaruh hati pada Luna. Mereka juga melihat video lama mengenai temannya itu. Mereka semua langsung mengejeknya sambil tertawa-tawa bersama.
***
Hendry sedang siap-siap mau pergi ke tempat reading. Dia sedang menunggu asistennya di kostannya.
Bima datang “bos, pergi sekarang?”.
“Iya, ayo” Hendry dan Bima keluar dari kost.
Mereka langsung pergi, tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di tempat reading. Mereka langsung turun dan masuk ke ruangan. Sebelum masuk mereka ketemu dengan beberapa kru dan sutradara dalam film tersebut.
Setlah itu Hendry langsung masuk ke ruangan yang disana sudah ada Chelsi sama pemain lainnya. Hendry duduk disebelah Chelsi.
“Apa kabar Chel?” Hendry bersalaman dengan Chelsi.
“Gue baik kok, lo bagaimana?”
“Oke, udah siap?”
“Siap apaan nih?” Chelsi tidak paham.
“Nothing” Hendry membaca skrip yang diberikan sutradara.
Chelsi tersenyum dan lanjut membaca skripnya. Beberapa menit kemudian sutradara dan produser langsung masuk dan mulai proses reading.
Beberapa jam mereka melakukan proses reading bersama. Kemudian mereka melanjutkan untuk makan siang bersama. Setelah itu mereka langsung kembali ke rumah masing-masing.
Minggu berikutnya mereka langsung memulai syuting. Hendry begitu dekat dengan Chelsi, mereka juga sering bersama. Tapi Chelsi tidak menganggap lebih hubungan mereka tersebut. Meskipun Hendry merasa nyaman dengan Chelsi, dia juga tidak bisa memaksakan Chelsi.
Chelsi adalah seorang aktris terkenal yang sangat bertalenta. Chelsi juga sangat cantik dan baik hati. Chelsi juga mempunyai mantan yang sangat hebat dan bertalenta. Tidak mungkin juga Chelsi menyukai Hendry yang hanya baru dalam dunia akting.
Meskipun Chelsi tidak memandang Hendry seperti itu tapi pemikiran Hendry terhadap sifat dan tatapan Chelsi padanya sudah tahu apa perasaan Chelsi padanya. Semenjak itu Hendry hanya menganggap Chelsi teman kerja saja.
***
Bian datang ke rumah Luna tanpa memberitahunya sebelumnya. Bian datang ketemu dengan ayahnya yang sedang berkebun di depan rumah.
“Assalamualaikum yah” ucap Bian.
Ayah melihat ke sumber suara “waalaikummussalam, Bian..”.
Bian langsung salaman dengan ayah “kok gak bilang mau kesini?” tanya ayah.
“Sengaja yah, Luna ada kan Yah?” tanya Bian.
“Ada, ayo masuk dulu” ajak ayah. “Sama siapa aja kesini?” tanya ayah sambil jalan masuk rumah.
“Sama Ray dan Aldi yah, mereka bentar lagi kesini” Bian mengikuti ayah masuk.
“Yesi.. Yesi...” panggil ayah.
Yesi keluar dari dapur “bilang sama teteh kalau Bian datang” ucap ayah pada Yesi.
“Iya yah” Yesi langsung ke kamar Luna.
“Duduk Bi, kalau ayah boleh tahu ada apa?” tanya ayah.
“Saya mau ajak Nana ke suatu tempat yah, boleh kan?” ucap Bian.
“Boleh aja, mana dia kok belum juga turun” ayah melihat Luna yang belum turun dari kamarnya.
Datang bundanya Luna, Bian langsung salaman “sehat bun?”.
“Sehat, belum ada minum ya. Bentar ya bunda buat dulu” bunda langsung kedapur membuat minum.
***
Yesi masuk dalam kamar Luna “Na, Bian datang”.
Luna kaget “kak Bian, kok gak bilang mau datang”.
“Mana mbak tahu, tuh ayah panggil suruh turun” ucap Yesi.
Luna langsung memakai hijabnya dan turun bersama Yesi. Ayah melihat Luna turun “itu teteh udah turun”.
“Kak, kenapa datang gak bilang?” tanya Luna sampai dibawah.
“Kejutan..” Bian tersenyum.
“Pergi sana siap-siap, Bian udah izin sama ayah dan bunda. Kalau dia mau ajak kamu pergi” ucap bunda yang juga duduk disana.
“Mau kemana sih kak?” Luna penasaran.
“Kejutan dong, siap sana” jawab Bian.
“Ayo mbak, mbak juga ikut” Luna mengajak Yesi.
“Kamu aja yang siap-siap, kalau mbak udah siap dari tadi” kata Yesi pada Luna.
“Tunggu bentar ya kak, Nana siap dulu bentar” Luna naik kembali kekamar siap-siap.
Satu jam kemudian Luna turun, sampai dibawah dia tidak melihat Bian ada disana. “Kemana dia” gumam Luna.
“Mbak.. mba Yesi..” panggil Luna.
Yesi datang dari kamarnya “iya Na, kenapa?”
“Kakak mana?” tanya Luna.
“Udah di luar bicara sama a Caka, di luar juga udah bang Ray sama mas Aldi” jawab Yesi.
“Ayo mbak” Luna pergi keluar.
Luna melihat Bian sedang bicara sama Caka sambil tertawa-tawa begitu juga dengan Ray dan Aldi.
“Ngomong apaan tuh?” tanya Luna.
“Ini si Bian cerita waktu dia main bola kaki, kok lama kali siapnya” ucap Caka.
“Ya teteh mandi dulu a, lagian teteh belum mandi dari tadi. Ayah sama bunda mana a?” Luna mencari orang tuanya.
“Pergi ke rumah paman, kalian pergi sama mobil itu aja. Itu lebih besar dan bisa muat semuanya” ucap Caka.
“Mobil kakak bagaimana?” tanya Luna.
“Mobil kakak tinggal aja disini dulu” ucap Bian.
“Ini Ray kunci mobilnya, setelah itu masukan sekalian mobil Bian kedalam” Caka memberikan kunci mobil.
“Emang Aa gak pergi dengan mobil?” tanya Bian.
“Kalau gue gak suka pergi dengan mobil Bi, lebih suka pakai motor” jawab Caka.
“A kapan-kapan mau ikut sama kita touring gak?” ucap Bian.
“Kamu suka motor juga?” Caka.
“Bian ini anak motor a, dia semenjak sekolah sudah pakai motor. Sekarang saja dia yang jarang pakainya” ucap Aldi.
“Beneran Bi?” Caka tidak percaya.
“Iya a, sekali seminggu kita ada jadwal touring ke puncak. Aku ikut hanya sekali-kali aja, sebab sibuk syuting sekarang” jelas Bian.
“Jadi pergi gak nih, tuh mobilnya udah siap” Luna memberhentikan mereka.
“Kamu ini, orang lagi cerita dulu. Sana pergi Bi, nanti bocah ini lebih bawel lagi” Caka menyuruh mereka pergi.
“Iya a, kapan-kapan lagi kita cerita” Bian salaman dulu sebelum pergi. Begitu juga dengan semua orang yang ada disana.
Mereka langsung masuk mobil Luna yang dibawa oleh Ray. Mereka akan pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh Luna.
Bersambung