Aku mencintai sahabat ku sendiri memang Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini apakah aku hanya bisa mempertahankan perasaan ini atau mungkin membuang perasaan ini jauh-jauh
Apakah ini perasaan salah atau Mungkin takdir Tuhan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Rahasia yang terbongkar
Tanggal batas terakhir pengiriman materi untuk lomba fotografi sudah dekat Raga dan Senja sibuk membantu Bianca memilih foto untuk kompetisi tahun ini, yang diusung dengan tema lokalitas. Tadinya, Bianca enggan untuk ikut, merasa bahwa foto-fotonya masih belum pantas untuk dijagokan dalam lomba bertaraf nasional, bersaing dengan ribuan bahkan jutaan remaja lain yang sama-sama punya bakat di dunia fotografi.
Namun, tentu saja Senja mendesaknya untuk ikut mendaftar. Belum lama ini, dia
melihat selembar flyer yang mengiklankan lomba ini di mading sekolah, dan dengan persuasif diajaknya Bianca Bikut. Hampir separuh siswa dari grup ekstrakulikuler fotografi di sekolah mereka akan berpartisipasi, katanya, dan tidak ada alasan bagi Bianca untuk menolak ikut. Bianca sengaja mengulur-ulur waktu hingga waktunya dekat, berharap mereka akan melupakannya. Namun Raga dengan netral sempat
berkata padanya, “ Kalau lo merasa terbebani untuk ikutan, lebih baik gak usah, dari pada terpaksa. Tapi, menurut gue, foto-foto lo nggak kalah dengan milik fotografer andal, dan lo harus percaya pada kemampuan lo sendiri.”
Akhirnya, Bianca pun memutuskan untuk ikut. Hanya saja, hingga sekarang dia masih belum bisa memilih foto mana yang akan diikutsertakannya dalam lomba. Tema lokalitas adalah subjek yang tricky baginya, karena fotonya harus mencerminkan kepribadian bangsa dan kultur negara, tetapi juga harus memiliki sisi emosional yang mampu menangkap perhatian para juri. Karena itulah mereka bertiga kini mengobok
obok seluruh isi lemari foto Bianca mencoba menemukan sebuah shot yang sempurna, sekaligus memikirkan objek yang menarik untu dijadikan fokus utama.
“Kalau candi-candi atau kerajinan tangan gimana? Senja mengusulkan, keningnya berkerut selagi ia membuka album demi album foto lama milik Bianca
“Misalnya batik, tanah liat, kendi atau anyaman.”
“Terlalu biasa,” Raga berkomentar singkat dari sudut ruangan, berkutat dengan rol flm lama yang disimpan dalam kotak.Pasti banyak banget karya serupa, nanti jadi kurang menonjol.”
“Kalau pemandangan alam? Senja melempar ide lagi, kali ini mengangkat beberapa tumpuk foto sekaligus dan mengaduk-aduknya di lantai.
“Biasa juga, kecuali ada fenomena yang fantastis.” Sahut Raga
Bianca tidak terlalu memperhatikan, sedang sibuk menyortir foto-foto hitam putih yang dulu sempat menjadi obsesi eksperimennya bertahun-tahun lalu
“Sawah dan pedesaan? Senja memutar otak lagi, berusaha keras untuk memikirkan sebuah tema yang unik. Perkampungan kan sekarang sudah lebih maju, tapi kita bisa menampilkan sisi modern sekaligus tradisional yang gak ditemukan di kota.”
“Lumayan sih. Tapi takutnya banyak peserta lain yang memikirkan ide yang sama.”
Senja mengerut. “Semua ideku nggak ada yang kamu anggap bagus.”
Raga Terserah. “Habisnya kita butuh sesuatu yang bener-bener „beda‟, yang bisa bikin Orang tertegun dalam sekali lihat.”
“Iya juga, sih.” Senja setuju, lalu memasukkan hasil sortirannya ke dalam sebuah folder plastik. Ia beralih ke sebuah kotak sepatu tua yang cukup ringan dan tersembunyi di balik lemari, lalu membuka tutupnya perlahan. Isinya adalah Puluhan lembar foto
Dengan fokus sebuah siluet Wajah, dan beberapa benda lainnya. Penasaran Senja menumpahkan seluruh isinya ke dalam pangkuan dan mulai menelitinya
Wajah Raga memenuhi setiap lembaran foto. Ada foto mereka semasa pentas seni Catur lalu, foto Raga ketika sedang memegang gitar dan menulis tangga lagu di buku tulisnya, figurnya dari kejauhan saat lomba basket sedang berlangsung, Raga yang sedang tertidur di kelas, juga Raga yang sedang duduk di atas Reremputan beberapa menit
sebelum matahari terbenam Senja menahan napas, berusaha mengingat-ingat setiap kejadian saat foto-foto itu diambil tanpa sepengetahuan mereka karena hampir di setiap foto, Raga sepertinya tidak sadar sedang dipotret dan tidak melihat langsung ke arah lensa.
Senja melarikan ujung jarinya memutari garis Wajah Raga di atas foto, memperhatikan dalam-dalam tegas Raut matanya, tulang pipinya yang tinggi, dan hidungnya yang sedikit mancung. Kedua ujung bibirnya yang tipis, sedikit melengkung ke bawah ketika tidak sedang tersenyum. Ikal rambutnya yang halus melingkari wajah, lalu bentuk telinganya
yang lebar dan berdaun keras. Apakah Bianca mengambil foto-foto ini untuk
mengambil detail yang sama? Apakah
Gimana kalo Pecinan? Foto pasar malam dan wihara di daerah kota pasti menarik, ya kan ? Tiba-tiba Raga berseru, mengganggu konsentrasi Senja sehingga gadis itu menjatuhkan foto-foto di tangannya. Secara otomatis Bianca mendongak, dan begitu melihat apa yang ada di pangkuan Senja Wajahnya memucat.
“Ah, iya, ide kamu bagus juga...,” Senja menjawab, mencoba mengumpulkan kembali barang-barang pribadi milik Bianca yang tidak seharusnya dilihatnya.
“Lagi lihat apa, sih ?” Raga yang kebosanan bangkit dan menjulurkan kepala untuk melihat foto-foto yang masih berserakan di sekitar Senja. Gerakan ini membuat Senja gugup, dan Raga semakin Curiga. Ia tertegun ketika melihat apa yang ada di sana.
Bianca pun tampak salah tingkah. Itu....”
Raga segera mengerti. Ia mencari-cari kebenaran di Wajah Bianca ingin mengetahui
apa tebakannya tidak salah, tetapi Bianca menghindari tatapannya dan malah berlari keluar dari ruangan.
“Bianca...? Senja yang kebingungan segera berdiri, lalu memandang Raga dengan raut bersalah. Maaf, aku nggak sengaja....”
Raga menghela napas. Dia membungkuk untuk membereskan foto foto yang berantakan di atas lantai. Apakah Bianca menyukainya? Ia tidak pernah menyangka, karena selama ini Bianca selalu bersikap netral di hadapannya, bahkan lebih sering menjadi
tempat Curhatnya mengenai Senja
Dia memandang lekat-lekat Wajahnya dalam foto—Wajah yang sama sekali tidak menyadari apa-apa.
Senja berdiri dengan serbasalah di antara hamparan foto-foto yang seharusnya tidak
Pernah dilihatnya, sedangkan Raga menuruni tangga untuk mencari Bianca Gadis itu
sedang terpaku di balik pantry dapur, dengan posisi membelakanginya. Kedua bahu itu tampak rapuh. Bahasa tubuh Annalise membuatnya tidak berjalan kian dekat.
“ Bianca ” Raga memanggil lembut,
“foto-foto itu...” Dia tidak bisa menyelesaikan pertanyaan itu, takut salah bicara.
Bianca memejamkan mata, merasa malu pada dirinya sendiri. Jika selamanya dia bisa bersahabat dengan Raga, dia tidak akan pernah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada pemuda itu. Sebisa mungkin dia berusaha menghindari kejadian seperti ini, saat mereka berdua akan berubah canggung dan melupakan kedekatan mereka ketika sedang berteman. mungkin dia memang munafik ketika Raga tidak ingin berkata jujur pada Senja mengenai Cintanya karena alasan yang sama dia justru menasihatinya untuk tidak berbuat demikian. Sedangkan dia sendiri dengan pengecut menyembunyikan
Perasaannya baik-baik. Tapi salahkah, bodohkah, jika dia hanya berharap Raga ada di sampingnya dan Cukup puas dengan diam-diam menyayanginya
Masih dengan membelakangi Raga Bianca menarik napas pajang. Kini mungkin yang terbaik adalah mengatakan yang sebenarnya.
“Gue....,”
Bianca berbalik dan tersenyum, kali ini lebih pasti dari sebelumnya. “Aku sayang kamu, Raga .”
Raga tidak jadi menyelesaikan kalimatnya, terdiam dan menganga setelah pernyataan simpel itu keluar dari mulut Bianca
“Maaf kalau aku membuat kamu merasa nggak nyaman. Bianca meregangkan
pegangannya pada gelas di tangannya, yang tanpa terasa sudah menyisakan bekas di kulit Kamu nggak usah bilang apa-apa Aku nggak butuh jawaban, karena aku lebih suka kita berteman seperti biasa. Bisa, kan ?”
Raga mengangguk, senyumnya perlahan mengembang Bianca lega melihatnya.
“Ini pertama kalinya ada Cewek yang nembak gue langsung seperti ini. I appreciat that, Bianca makasih karena lo Udah jujur sama gue.”
Bianca membalas senyuman, walau matanya berkaca-kaca untuk sebuah penolakan yang tidak terucapkan, namun sudah diketahuinya dengan jelas.
“Kamu berhak tahu yang sebenarnya.”
" Friends ?”
Bianca mengulurkan tangannya untuk menyetujui janji itu, tapi Raga mendekat dan membuat gestur seakan sedang memeluknya Bianca menegang ketika kulit mereka bersentuhan ringan, lalu ia menyandarkan kepalanya pada bahu Raga dan membiarkan
Pundaknya ditepuk lembut, canggung, tetapi bersahabat Raga memang tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaannya barusan, tapi pelukannya yang kikuk sudah Cukup untuk mengenyahkan ketidak nyamanan di antara mereka.Tidak perlu ada penjelasan. Tidak perlu ada kata maaf. Baik Raga maupun Bianca sama-sama mengerti.
#I'm A Special Girl