Tinggal dengan orang asing yang tidak diketahui identitasnya membuat gadis cantik dan mandiri bernama Kasih Aprilia mengenal cinta. Satu tahun silam, Ayahnya menemukan seorang pria tabrak lari terkapar di tepi jalan dengan luka parah di sekujur tubuhnya di tengah malam. Akibat dari kecelakaan tidak jelas itu membuat pria tampan itu mengalami amnesia, hingga berbulan-bulan di rawat di rumah sederhana itu.
Kesulitan ekonomi keluarga dan lilitan hutang, memutuskan Kasih dan kekasihnya nekat merantau ke Ibu kota. Kebetulan di sana ada sahabatnya yang bekerja sebagai Office Girls di perusahaan besar. Dari sanalah identitas pria itu terkuak.
"Aku yang mengalah karena pada dasarnya aku tidak mencintaimu El!" Kasih Aprilia
"Siapa yang harus aku pilih? Kalian berdua adalah wanita yang menempati hatiku. Jujur aku tidak bisa memilih!" Raja Baba Bahtiar
Siapakah yang akan menjadi pilihan sang amnesia? Ikuti kisahnya di 2 hati 1 cinta sang CEO.
Sekuel dari Perjanjian Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25. Malam Mingguan
"Tidak, Bu. Saya sudah terbiasa," sahut Kasih ikut beranjak dari kursi duduknya.
Tanpa ingin mendengar penolakan Kasih, Bu Rika langsung keluar dan menemui kembali suami dan putranya.
"Sayang, tolong antar pulang Kasih. Tidak ada salahnya bukan?"
Brama yang tadinya disibukan dengan sebuah laptop, mendongak ketika suara sang Mommy yang tengah mendatanginya. Lalu pandangannya juga tertuju pada Kasih yang tengah berdiri mematung.
"Sayang, kamu bisa antar Kasih pulang kan?" Mommy Rika kembali meralat ucapannya.
"Saya bisa pulang sendiri Bu," ucap Kasih sungguh merasa tidak nyaman.
"Bisa, Mom!" ujar Brama langsung merespon cepat, bahkan laptop yang berada di pangkuannya segera berpindah tempat. Baik Mommy Rika maupun Daddy Putra saling memandang dengan dahi mengerut.
"Terima kasih Pak, tapi saya bisa pulang sendiri." Kasih masih dalam pendiriannya.
"Tidak baik bagi seorang wanita pulang sendirian di malam hari," ujar Brama.
"Aku terbiasa pulang malam, bahkan larut malam." Batin Kasih, namun tak berani ia ungkapkan.
"Kali ini saja, biarkan Rama yang mengantar kamu. Kebetulan kami masih lama di sini, sementara Rama harus segera pulang ke apartemen," ucap Mommy Rika dengan hati senang karena putranya ternyata tertarik kepada Kasih, tapi ia akan berpesan satu hal sebelum mereka meninggalkan toko.
"Biarkan Rama yang mengantar kamu Nak, sepertinya akan turun hujan," ujar Daddy Putra, akhirnya ikut berkomentar juga. Ya, kelihatan dari kaca pintu cuaca malam itu mendung dan disertai angin kencang.
Karena merasa tidak enak hati untuk menolak para orang tua, Kasih luluh juga. Biarlah kali ini ia mengalah, meski sebetulnya ia merasa tidak nyaman.
"Baiklah Pak, Bu." Kasih pun mengiyakan dengan wajah tertunduk.
Usai berpamitan, baik Kasih maupun Brama berjalan keluar toko.
"Sayang, tunggu sebentar," panggil Mommy Rika kepada putranya, hingga membuat Kasih memilih melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam mobil.
Sementara Brama mendesis, ia sudah tahu apa yang akan di katakan wanita paruh baya itu. "Ada apa lagi Mom? Keburu nanti terjebak hujan," ujarnya seraya memeluk wanita itu dengan manja.
"Awas macam-macam! Kasih bukan wanita-wanita seperti di luar sana. Jika saja sesuatu buruk yang terjadi padanya, demi apapun Mom tidak akan memaafkanmu. Mom sudah terlalu sayang kepadanya," ucap Mommy Rika dengan serius.
Brama yang di cecar mengangkat salah satu alisnya. "Iya Mom, tenang saja. Dia spesial!" goda Brama dengan mengedipkan mata. Kemudian melanjutkan langkahnya, menyusul Kasih yang sudah masuk ke dalam mobil, namun duduk di belakang.
Brama menghela nafas karena Kasih memilih duduk di belakang, lalu ia berpikir sejenak, bagaimana cara untuk berpindah tempat duduk.
"Hmm, apa sebaiknya kamu duduk di sebelahku? Jika seperti ini sama saja aku sebagai supir," ujar Brama yang sedang bersandar di pintu sebelah Kasih, dengan jendela terbuka setengahnya, ia sengaja menekankan kata merendahkan diri.
"Maaf," ucap Kasih dengan rasa tidak enak hati, lalu kemudian keluar dari pintu sebelahnya. Seketika senyuman tipis di bibir seksual itu. Tidak ingin menghabiskan waktu untuk berdiri, Brama segera menyusul masuk ke dalam mobil.
"Pasang seatbelt, atau aku bantu pasangkan?" goda Brama yang berhasil membuat Kasih kelabakan karena tadi ia hanya memandang ke luar jendela. Tidak ingin hal itu terjadi dengan spontan ia memasangkan sendiri. Sekali lagi senyuman tipis itu terukir, Brama merasa tingkah wanita cantik itu sangat lucu dan berhasil menarik perhatiannya.
Karena mobil tak kunjung jalan membuat Kasih memutuskan perhatiannya ke luar jendela, kemudian melirik Brama yang tengah memperhatikannya dengan tatapan sungguh intens, seperti sedang menguliti seluruh tubuhnya.
Kasih menjadi kikuk, kemudian membuang muka, pura-pura tak terjadi apapun pada perasaannya saat ini. Perasaan tidak nyaman dan ingin segera keluar dari dalam mobil mewah itu.
"Pak, apa sebaiknya segera jalan? Sepertinya hujan akan turun," ucap Kasih, sengaja menekankan kalimat cuaca.
"Apa tak sebaiknya kita ke cafe? Sekedar minum yang hangat-hangat. Hmm, sepertinya sangat cocok dengan cuaca mendung seperti ini," usul Brama dengan was-was. Sementara Kasih terdiam, mencari cara untuk menanggapi usulan itu. "Ayolah, hmm anggap saja kita malam mingguan," sambung Brama seperti memohon.
"Tapi—"
"Kali ini saja."
Kasih kembali berpikir, gaya Brama membuatnya tidak bisa menolak.
"Baiklah, tapi tolong jangan begini Pak."
Seketika Brama menarik tangannya kembali, sebelumnya tangan lelaki penebar pesona kepada setiap wanita cantik dan seksi itu menangkup, seperti sedang memohon.
"Tapi, apa Bapak tidak malu membawa saya dengan—" ucapan Kasih terpotong.
"Sama sekali tak masalah," ujar Brama seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Kasih. Dengan Kasih memperhatikan penampilannya saja ia sudah tahu.
Kasih hanya mampu menghela nafas panjang seraya meremas jari-jemarinya, kembali mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.
Ya, Kasih saat ini mengenakan baju kaos seragam toko, dengan dipadukan celana warna hitam. Walaupun mengenakan baju kaos, namun tidak mengurangi kecantikan dan bahkan menjadi permasalahan pada penampilannya.
Tanpa ingin membuang waktu lagi dengan semangat empat lima Brama menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang, membelah kepadatan kendaraan lainnya.
Cafe yang ingin dikunjungi adalah cafe tempat banyaknya muda mudi yang sedang menghabiskan malam mingguan mereka, yang hanya berjarak dua ratus meter dari toko bunga orang tuanya.
Sementara itu, dua orang paruh baya menatap mobil itu hingga menghilang dari pandangan mereka. Senyuman itu kian memudar, kemudian sang lelaki merangkul pinggang ramping itu, membawanya kembali duduk.
"Sayang, Daddy lihat, Mom sangat senang. Hmm, apa karena wanita itu?"
"Benar sayang, Mom sangat menyukai Kasih. Bahkan Mom sangat mendukung jika mereka punya hubungan."
"Sepertinya mereka tak memiliki hubungan selain atasan dan bawahan," ujar Daddy Putra seraya menyeruput kembali minumannya.
"Jika begitu, Mom yang akan bertindak langsung. Mom, lihat Rama bersikap beda dengan wanita itu, sangat berbeda dengan wanita-wanita di luar sana."
Mendengar rencana sang istri membuat lelaki paruh baya itu manggut-manggut. Ikut mendukung karena hingga sekarang, putra mereka masih ingin bermain-main dengan setiap wanita. Sementara putra sulung mereka sudah berkeluarga, bahkan sudah memberikan dua cucu kembar sekaligus.
Mommy Rika dulu adalah orang yang sana sekali tak peduli dengan siapapun, termasuk orang yang tak sederajat dengannya. Memiliki masa lalu yang kelam, masa lalu yang tidak baik membuat wanita yang memiliki dua anak ini menjadi pembelajaran.
Berkat memiliki seorang pendamping yang baik dan sangat perhatian membuatnya lebih baik lagi. Menghargai dan peduli dengan sesama. Buktinya sekarang ia sangat peduli dan bertanggungjawab dengan seluruh karyawannya. Memberikan gaji yang maksimal, bahkan setiap bulannya mereka menyumbangkan hasil kerja keras mereka di beberapa panti asuhan.
Daddy Putra sebagai suami, serta kepala rumah tangga sangat beruntung, memiliki seorang istri yang baik untuk keluarga, terutama dia dan anak-anak.