Cerita ini berkisah tentang seorang wanita muda yang cantik bernama Dinda Odelia.
Dia adalah seorang wanita sederhana dan pintar tetapi hidupnya tiba-tiba berubah saat keadaan memaksanya untuk menikah dengan teman masa kecil yang begitu di bencinya.
Meskipun awalnya ragu,Dinda akhirnya mencoba menerima takdirnya.
Meski begitu Ia tetap tegar.Dia bertekad untuk menemukan kebahagiaan di tengah keadaan yang sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simillikity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Takdir yang Mempertemukan
Sore itu udara terasa lembut,menyapa ringan saat Dinda melangkah keluar dari kantor bersama bosnya,Jerome.Awalnya ia mengira mereka akan berbicara di sebuah kafe seperti kebanyakan orang-orang yang mengobrol seusai pulang kerja.
Namun mobil yang dikemudikan Jerome tidak mengarah ke pusat kota melainkan melaju ke sebuah kawasan perumahan elit,Dinda duduk dengan diam sembari bertanya-tanya dalam hati ke mana mereka akan pergi.
Di tengah perjalanan,Dinda akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Pak kita sebenarnya mau ke mana?" Tanya Dinda penasaran.
Jerome tidak segera menjawab,matanya tetap fokus pada jalan di depannya.
"Nanti kamu juga akan tahu." Jawab Jerome singkat dengan nada suara yang terdengar misterius.
Hampir satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke tempat yang di tuju,Dinda mulai menyadari bahwa mereka sedang berada di sekitaran rumah milik bosnya.Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dan megah dengan suasana yang sunyi.
Jerome turun dari mobilnya lalu kemudian membuka pintu mobil untuk Dinda sembari mempersilakan Dinda turun dari mobil,Jerome berjalan dengan langkahnya yang begitu mantap sementara Dinda berjalan dengan penuh keraguan.
Bagi Dinda rumah itu terasa dingin dan kosong seperti menyimpan kenangan yang sudah lama tertinggal.Ia mengikuti langkah kaki Jerome menuju ke sebuah ruangan kosong,di sana dinding-dindingnya berwarna kusam tanpa hiasan yang hanya menyisakan bayangan samar dari masa lalu.
Jerome berdiri di tengah ruangan lalu menatap Dinda dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Kamu tahu ruangan ini?" Tanya Jerome tiba-tiba.
Dinda menggeleng meskipun hatinya mulai mengingat sesuatu yang terasa akrab namun menyakitkan.Ia merasa ruangan itu seperti sesuatu yang lebih dari sekadar dinding dan lantai kosong.
"Ini dulu tempat kamu menyatakan cinta padaku namun yang aku berikan malah sebuah penghinaan." Kata Jerome pelan namun penuh penyesalan.
Dinda menatap Jerome dengan mata membelalak.Ia ingat sekarang,ruangan ini adalah tempat ia pernah dihina di depan semua tamu undangan namun sebelum Dinda sempat merespons,Jerome mengeluarkan sebuah foto usang dari dalam jasnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar,Jerome menyerahkan foto itu kepada Dinda.
"Ini kamu,bukan?" Tanya Jerome lembut.
Dinda memandangi foto itu dengan jantung yang berdegup kencang.Itu adalah foto masa kecilnya bersama seorang bocah lelaki yang merupakan sahabat masa kecilnya,namun lagi-lagi Dinda berbohong dan berpura-pura tidak mengenali.
Maaf pak,maksudnya apa ini?" Tanya Dinda dengan mencoba mengendalikan suaranya yang bergetar.
Namun Jerome menatapnya tajam.
"Tolong jangan berpura-pura,aku sudah tahu kamu adalah Dindin kecilku."
Perkataan itu menghantam Dinda seperti gelombang pasang.Ia mencoba membantah namun air matanya mulai mengalir tanpa bisa ia tahan.Jerome juga menangis.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal? Kenapa kamu tidak jujur kalau kamu adalah Dindin?" Tanya Jerome dengan suara tercekat.
"Bagaimana aku bisa jujur kalau kamu saja tidak pernah memberiku kesempatan untuk berbicara sedangkan yang kamu berikan hanya penghinaan." Jawab Dinda terisak.
Tangis mereka pecah di ruangan kosong itu. Semua perasaan yang selama ini terpendam mengalir tanpa henti,Jerome terduduk lemas di lantai sembari menampar pipinya sendiri menyesali atas sikapnya sementara Dinda masih termenung tidak percaya bahwa Jerome telah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
"Maafkan aku." Ucap Jerome lirih,memegang tangan Dinda dengan gemetar.
"Aku tidak tahu itu kamu,aku benar-benar bodoh." Ucap Jerome pilu sembari menarik lembut Dinda dalam pelukannya.
Dalam pelukan emosional namun hangat itu, semua kenangan masa kecil mereka muncul kembali dalam bayangan Jerome seolah membawa harapan baru untuk hubungan yang pernah retak oleh waktu dan kesalahpahaman.
Di dalam ruangan yang remang hanya sinar senja yang masuk samar melalui celah tirai.Di sana dua orang yang hanya duduk dalam diam saling berbagi keheningan.Tanpa lampu yang menyala, ruangan terasa luas sekaligus sempit. Bayang-bayang yang bergerak saat sesekali mereka berpaling atau menarik napas dalam-dalam.
Udara terasa hening nyaris berat tidak ada suara selain denyut jam dinding yang pelan,seolah menghitung waktu yang berjalan tanpa tergesa. Pandangan mereka tidak bertemu namun mata sibuk mencari sesuatu dalam gelap,entah jawaban atau sedikit keberanian untuk bicara.
Perlahan dengan lembut Dinda melepaskan pelukan erat dari Jerome.
"Aku sudah memaafkanmu." Bisik Dinda dengan suara bergetar menahan tangis.
"Sekarang jangan bersedih lagi."
Jerome terdiam,matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak akan bersedih lagi," Jawab Jerome dengan suara serak.
"Karena sekarang ada sahabat masa kecilku di sisiku." Jerome meraih tangan Dinda dan menciumnya, "Kita bisa memulai dari awal."
Dinda dengan cepat menarik tangannya dengan ragu.
"Aku tidak bisa." Jawab Dinda dengan suara lirih.
"Sekarang di hatiku ada hati lain yang harus kujaga."
Jerome terkejut,rahangnya mengeras.
"Siapa dia?" Tanya Jerome,menahan gejolak di dadanya.
Dinda menunduk,matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa mengatakannya."
Jerome semakin penasaran namun matanya tertuju pada kalung yang tergantung di leher Dinda.
"Apakah hati yang kamu jaga adalah Dante?" Tanya Jerome penuh harap dan kecewa.
Dinda terdiam,matanya menatap kalung itu.
"Ya."
"Kenapa harus dia?" Tanya Jerome,suaranya semakin bergetar.
"Karna dia adalah orang pertama yang menghiburku di saat hatiku hancur menerima penghinaan yang kamu berikan." Jawab Dinda, suaranya teredam oleh isak tangis.
Mendengar jawaban Dinda,Jerome terdiam,matanya membesar seolah mencoba memastikan apa yang baru saja didengarnya adalah sebuah kenyataan.
Di tengah percakapan mereka,hujan mulai turun perlahan seolah langit ikut menangisi percakapan mereka yang penuh dengan luka. Dinda menatap Jerome dengan mata berkaca-kaca bukan karena benci melainkan karena rasa bersalah.
"Aku sudah memaafkanmu." Kata Dinda lirih.
"Tapi hatiku sudah menjadi milik orang lain sekarang."
"Carilah seseorang yang bisa mencintaimu seperti aku dulu,jangan tunggu aku."
Kalimat itu seakan menghantam seperti badai yang tak terduga.Rasanya Jerome ingin memohon dan berlutut meminta waktu kembali berputar tapi ia tahu itu mustahil.
" Sudah malam,aku harus pulang." Gumam Dinda.
"Aku antar ya." Ujar Jerome menawarkan.
"Tidak usah,kamu istirahat saja lagian aku bisa kok pesan taxi."
"Jangan keras kepala,biarkan aku mengantarmu lagipula di luar sedang hujan deras."
***
Hujan mengguyur deras,menampar kaca mobil dengan ritme yang tak beraturan.Di dalam mobil, suasana terasa hampa hanya suara wiper yang bergerak maju mundur memecah keheningan.
Jerome menggenggam erat setir,matanya lurus menatap jalan yang basah dan licin sementara Dinda duduk diam di sampingnya memandang tetesan air hujan yang mengalir di jendela.Tak ada kata yang terucap di antara mereka seolah setiap kata yang ingin keluar terhalang oleh sesuatu yang berat,sesuatu yang tak berani dihadapi.
Sesekali Jerome melirik ke Dinda,berharap ia akan berkata sesuatu tentang apa saja namun ia tetap terdiam.
Hawa dingin dari AC yang menyala bercampur dengan udara lembap dari luar,menciptakan rasa sesak yang tak terlihat.Pikiran mereka penuh dengan kenangan masa lalu dan percakapan konyol di setiap momen-momen kecil yang dulu terasa biasa tapi kini menjadi sebuah beban.
Jerome ingin mengatakan sesuatu,ingin memecahkan kebekuan tapi kata-katanya terasa lumpuh.Di sisi lain,Dinda memeluk dirinya sendiri tak ingin menunjukkan bahwa hatinya juga bergemuruh.Ia tahu malam ini akan menjadi kenangan terakhir yang takkan pernah sama lagi namun ia tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya tanpa menyakiti lebih dalam.
Ketika mobil akhirnya berhenti di dekat rumah Dinda,suasana masih sunyi.Hujan terus turun dengan deras seakan ikut menyembunyikan emosi mereka.
"Aku antar sampai rumah ya." Ucap Jerome lembut.
Jerome membuka pintu mobil,payung kuning terulur menyapa hujan yang semakin deras. Mereka berjalan beriringan bersama payung itu menjadi satu-satunya penghalang dari derasnya air yang membasahi bumi.
Langkah mereka terhenti di depan pintu rumah, senyum samar terukir di wajah Dinda.
"Terima kasih." Ucap Dinda pelan,suaranya nyaris tenggelam oleh hujan.
Jerome hanya mengangguk,menahan setiap emosi yang ingin meledak lalu menatap punggung Dinda yang pergi ke dalam rumah, membawa pergi bagian dari dirinya yang tak bisa ia tahan.
Jerome kembali ke dalam mobil.Ia tetap duduk, menatap ke depan dengan mata yang mulai berkaca-kaca,menyadari keheningan itu kini bukan lagi milik mereka berdua tetapi hanya miliknya seorang.
sebelumnya mohon maaf, aku kalau mampir emang suka beginii dan begituuu...
koreksi yaa...
1. Setelah tanda baca agar tulisan kamu enak dibaca dan dinikmati beri spasi baru next kalimat.
2. ada beberapa kalimat yang harus disempurnakan penempatannya.
3. ada typo wajar sih aku pun sukaa typo 🤣🤣
4. so jalan cerita awalnya masih rancu next narasinya di perjelas arahnya cerita🤣🤣🤣
sekian 🙏
Mau followan? nanti kuback. Main ke tempatku ya kalau sempet🫶🏻✨