Gadis cantik dengan surai rambut panjang dengan postur tubuh yang terbilang ideal yang masih berumur 18 tahun, dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang bernama Calista Ratu Ayudiya dan dia mempunyai teman yang bernama Panji Prayudya dan Kiara Putri.
Ada beberapa yang harus di revisi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Calista menatap jengah ke arah Liam yang tengah sesekali menggodanya. "Stop yah om jangan memancing emosi saya lagi!."
"Okey maaf Calista, kamu mau saya temenin sampai depan pintu apa mau keluar sendiri?," tanya Liam menawarkan kebaikannya.
"Saya keluar sendiri," cetus Calista dengan suara datarnya.
Calista tengah melepaskan seat belt di badanya namun tangan Liam tiba-tiba menahan lengan Calista.
"Sebelum keluar saya mau membicarakan yang tadi sempat tertunda," ujar Liam yang tengah menggenggam tangan Calista.
Calista menghela nafasnya kasar. "Apa lagi sih om? Ngak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Ada! Saya tegaskan sekali lagi bahwa saya suka sama kamu," ucap Liam dengan lantang.
"Ya terus saya harus apa om, kita aja baru kenal dan ngak mungkin saya langsung suka sama om, dan satu lagi om kayanya ngak suka sama saya cuma om penasaran aja sama saya. Tanyakan lagi pada hati om jangan terlalu gegabah menyatakan rasa suka! Karena saya ngak terlalu bodoh buat menerima semua hal yang sudah om katakan," jelas Calista menatap Liam.
Liam tidak akan menyerah begitu saja untuk meyakinkan kembali ke Calista. "Calista tolong dengerin saya sekali lagi, saya suka sama kamu saya sudah tanyakan sama hati saya beberapa kali dan nyatanya setiap saya bertemu sama kamu lihat senyum kamu hati saya tiba-tiba berdebar."
"Kalau masalah hati berdebar, mungkin om lagi sakit jantung kali," ujar Calista dengan asal membuat Liam menghela nafasnya sabar.
"Saya ngak punya riwayat penyakit Calista," jawab Liam dengan suara lembutnya.
"Kalau gitu coba om deket sama tiang listrik terus peluk tuh listriknya pasti hati om akan berdebar lebih kencang melebihi om melihat saya."
"Calista saya serius."
"Saya juga serius," timpal Calista yang tak mau kalah.
Tangan Liam hanya mampu mengelus dadanya sabar menghadapi Calista yang sednag mengujinya, Stok kesabaran Liam setebal isi dompetnya. "Hufttt okey kalau kamu masih belum suka sama saya, saya akan buat kamu suka sama saya!," tegas Liam dengan penuh keyakinan.
"Terserah om aja, dah lah saya mau keluar, makasih untuk hari ini om walaupun om sudah bikin kesel saya tapi saya harus berterimakasih karena om mau mendengar curhatan saya."
"Tidak masalah selagi itu kamu," Liam tersenyum manis ke arah Calista tamun tak dibalas senyum oleh Calista, dia hanya menatap acuh.
Setelah perbincangannya Calista memilih untuk keluar dari mobil Liam yang di ikuti oleh Liam.
"Kamu langsung masuk ke rumah yah jangan keluar malem lagi kalau mau keluar hubungi saya saja," suara Liam lembut selembut suara mesin atm.
"Hem," jawab Calista dengan singkat.
"Ya sudah saya mau pulang kamu langsung masuk terus istirahat," pamit Liam ke arah Calista tak lupa pula tangan Liam terulur untuk mengusap kepala Calista.
Setelah kepergian Liam, wajah Calista tiba-tiba merasa panas entah kenapa detak jantung yang begitu cepat.
"Kyakk ngak mungkin gwe beneran suka sama tuh om-om!," Teriak Calista yang masih berada di halaman rumahnya.
"Gwe harus jual mahal ngak boleh keliatan langsung mau! Siapa tahu tuh om-om punya banyak simpanan bukan gwe aja! Liat aja tuh tampangnya pasti banyak simpanan tante-tante!," Calista tak mau kisah cintanya yang belum mulai terulang kembali seperti sedia kala dimana lelaki tersebut sudah mempunyai pasangan lalu Calista memilih untuk mundur dari pada terus berjuang yang ujung-ujungnya membuat dirinya merasakan sakit hati.
"Intinya gwe harus jual mahal! Ngak boleh keliatan suka di depan om Liam! Gwe harus membentengi diri gwe bila perlu gwe bikin benteng takeshi di hati gwe!," tegas Calista kepada dirinya sendiri sengan penuh keyakinan.
Calista memilih untuk masuk ke dalam rumah besarnya langsung menuju ke arah kamar miliknya yang sudah tertata rapih dengan harum lavender yang menyeruak di dalam kamarnya.
Tak lupa Calista menuju ke arah kamar mandi guna membersihkan diri dari noda-noda kehidupan.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, tubuhnya di hempaskan ke atas kasur King size miliknya. Dengan tatapan ke atas melihat atap kamarnya dengan fikiran yang masih penuh oleh percakapannya dengan Liam sore tadi.
"Gwe jadi kepikiran Panji deh, kalau Panji tahu siapa dia sebenarnya bakal gimana yah?," gumam Calista yang masih mengkhawatirkan Panji.
Sedangkan sekarang Panji tengah duduk manis di depan tv seraya matanya tak berhenti menatap ke arah Liam ayahnya yang tengah senyum-senyum tak jelas.
"Appa habis dari mana? Kok bisa pulang-pulang kaya orang kesurupan."
"Habis keluar sebentar cari angin, appa ngak kesurupan kok," jawab Liam seraya menatap ke arah anaknya yang tengah menatap dirinya dengan tatapan heran.
"Ngak kesurupan ngapain senyum-senyum dari tadi," ujar panji dengan menatap curiga ke arah ayahnya.
"Masa sih ngak ah appa lagi senam mulut aja biar ngak kaku," elaknya yang membuat Panji menatap tak percaya.
"Dasar pak tua," hardik panji menatap malas ayahnya.
.
.
.
.
Cuaca siang hari ini sedang panas, seperti panasnya hati Calista yang sedari pagi tengah diteror oleh Liam dengan berbagai notif chat di ponselnya yang tak pernah diam. Dia bertanya berbagai hal kepada Calista, seperti "lagi ngapain Calista?." "Hari ini sibuk ngak?." "Mau jalan sama saya." "Jangan abaikan saya! Saya ngak suka diabaikan!." Dan masih banyak lagi notif yang berdatangan dari Liam. Namun Calista tetap berpegang teguh pada pendiriannya dia tak mau goyah dengan semua godaan dari ayahnya panji tersebut. Dia masih memikirkan tentang panji. namun tak ditanggapi oleh Calista.
Namun dengan tiba-tiba ponsel Calista berdering, membuat Calista yang tengah bermalas-malasan terganggu dengan dering ponsel miliknya. Dengan suasana hati yang sedang bad mood dia memilih mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera yang memanggilnya di ponsel tersebut.
"Halo dengan siapa disana," ucap Calista dengan suara yang malas seperti seseorang yang baru bangun tidur.
"kamu bisa turun sebentar," ucap seseorang di sana.
"Loh sapa nih," ucap Calista seraya melihat layar ponselnya, dan betapa terkejutnya wajah Calista melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Yaps ternyata Liam yang tengah menelfon dirinya.
"Halo Calista kamu masih di sana? Boleh turun sebentar?."
"Duh ada apa sih om aku lagi mager," keluh Calista dengan suara malasnya.
"Pilih turun atau saya samperin kamu ke kamar?," tanya Liam yang kemungkinan dia sedang berada di rumah Calista. Membuat Calista terkejut mendengarnya.
Dengan cepat Calista menolaknya. "Ehhh jangan-jangan! Iya saya turun om di situ aja jangan naik kesini," teriak Calista yang membuat Liam menjauhkan telefonnya.
Dengan cepat-cepat Calista keluar dari kamarnya, dia memakai pakaian santai dengan kaos lengan pendek serta celana cargo. Dia dengan langkah cepat menuruni anak tangga.
"Calista jangan lari!," teriak Liam yang tengah melihat Calista sedang menuruni anak tangga dengan langkahnya yang terlihat seperti tengah berlari yang membuat Liam panik.
"Om kenapa kesini ngak bilang?," tanya Calista seraya duduk berhadapan dengan Liam di ruang tamu, dia tak mau duduk di sampingnya dikira kegatelan nanti.
"Gimana saya mau bilang, kamu aja ngak balas pesan dari saya kok," ucap Liam dengan wajah kesalnya.
"Duh gini deh om saya tuh lagi mager panas-panas gini enaknya rebahan sambil halu dan ngak mau diganggu."
"Ya tapi saya mau gangguin kamu gimana dong?," ucap Liam dengan menunjukkan puppy eyes nya membuat Calista terkejut dan menatap ngeri ke arah Liam.
"Dih jelek kek gitu!," ketusnya seraya memutar bola matanya jengah.
"Kita keluar yuk," ajak Liam ke arah Calista.
Namun Calista dengan cepat menggelengkan kepalanya seraya bersedekap dada.
"Tahan Calista tahan lo haus jual mahal!," gerutu Calista di dalam batinnya, dia sebesar mungkin menahan keinginannya yang sebenarnya ingin pergi bersama Liam. Gengsinya terlalu gede.
"Gimana kalau kita ke taman ada banyak yang jualan jajan di sana loh, ada telor gulung, ada bakso, ada mi ayam ada banyak lah di sana kamu bisa jajan sepuasnya di sana, kamu ngak perlu khawatir kalau kamu lapar." jelas Liam yang membuat Calista semakin goyah.
"Duh kalau soal makanan sih ini ngak bisa di biarin nih! Logika boleh menolak tapi perut berkata LAPAR!," seru Calista yang tengah membatin.
"Okey let's go!," teriak Calista dengan penuh semangat seraya tangan kanannya naik ke atas membuat Liam terkekeh melihat tingah menggemaskan dari Calista.
Segampang itu ajakin Calista pergi? Padahal cuma disogok makanan udah girang banget. Katanya bangun benteng takeshi kok malah bentengnya roboh cuman gara-gara disogok makanan, emang aneh makhluk satu ini.
hahhaha selain prianya bodoh, wanita ya juga lemah.
untung gw bacanya lompat" karena terlalu berbelit" lama masalahnya selesai ..malah tambah dibuat bodoh prianya.
skip..bye, 😪
bodoh!
njirr. bodoh! kek gak ada alasan lain aja yang masuk akal
jadi maksudnya Thor, jika kiam tau perbuatan jahat Laurel dia tetap mau berteman dengannya?
jerkkk! pembodohan
pengusaha kok tolol