Yang seharusnya menikah dengan seseorang yang menjadi pilihannya, justru harus menerima kenyataan pahit untuk menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya.
Siapa lagi kalau bukan Zevila, perempuan yang ingin fokus dengan masa depannya, kini harus menikah paksa dengan lelaki yang akan dijodohkan dengan saudara sepupunya.
Selain itu, tujuan menikah dengan Razan yang tidak lain untuk membalaskan dendam atas kematian ayahnya.
Penasaran dengan kisahnya? yuk ikutin jalan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti mendapat sindiran
Zevila yang terasa remuk sekujur badannya, rasanya benar-benar sulit untuk dijelaskan. Ditambah lagi kehormatannya yang sudah dimiliki oleh suaminya, terasa dongkol dan juga marah. Namun, dirinya bisa apa? semua sudah terjadi, dan tidak lagi bisa untuk ditarik kembali.
"Sudah jam berapa ini? buruan mandi, biar badan kamu tidak semakin pegal-pegal, cepetan."
Razan langsung melemparkan handuknya yang ia ambil dalam lemari, Zevila sendiri mendengkus kesal ketika melihat suaminya.
Razan yang melihat istrinya yang tidak juga segera bangkit dari posisinya, ia segera mendekatinya.
"Jangan bilang kalau kamu pingin nambah lagi, gak usah malu, kita sudah menikmatinya tadi malam, benar 'kan?"
Razan dengan sengaja meledek istrinya, Zevila sendiri napasnya terasa panas, dan mencengkram seprainya sangat kuat.
Dengan berani, Razan mengangkat dagu milik istrinya, lalu mendekatkan bibirnya tepat didekat bibir istrinya yang tidak lagi memiliki jarak.
Dengan kuat, Zevila mendorong tubuh suaminya hingga mundur ke belakang. Untungnya tidak sampai jatuh terjungkal. Justru, Razan langsung menarik tubuh istrinya dan melintir tangannya hingga posisi Razan menindih tubuh istrinya yang sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Razan langsung membalut tubuh istrinya dengan selimut. Tatapan dari seorang Razan benar-benar membuat Zevila kalang kabut.
Detak jantung miliknya terasa berdegup sangat kencang. Susah payah si Zevila mendorong tubuh suaminya.
"Jangan memancingku di pagi hari seperti ini, karena otakku terkadang bisa korslet kapan pun, kamu ngerti." Rey memberi ancaman kepada istrinya.
Zevila yang tidak ingin menatap wajah suaminya, langsung membuang muka ke sembarang arah.
Bukannya segera bangkit dari posisinya yang menindih tubuh sang istri, Razan membelai wajah ayu milik istrinya tepat di bagian pipi untuk menyilakan rambutnya.
"Padahal kamu itu cantik, dan beruntung memiliki suami seperti ku yang sangat cerdik ini, tapi sayangnya, otakmu sudah dikotori oleh orang orang yang kurang waras." Disela sela mengusap pipi mulus milik istrinya, Razan dengan terang-terangan mengatakannya.
Zevila langsung menatap suaminya dengan seringainya yang terlihat begitu sinis.
"Kamu memang cerdik, tapi licik!" ucap Zevila dengan sungut dan tatapan penuh kebencian.
Razan justru tersenyum, dan membenarkan posisinya, dan menutup tubuh istrinya yang polos.
Sambil duduk, Razan menggoyangkan kedua kakinya yang menggantung dari tempat tidur.
"Kalau aku gak ikutan licik, mana bisa aku bertahan sampai sekarang ini, istriku," jawab Razan begitu santai ketika menanggapi ucapan dari istrinya yang kedengaran pedas.
"Aku mau mandi, minggir!" Zevila berucap dengan ketus.
Razan langsung menoleh, dan tersenyum tipis kepada istrinya. Kemudian, ia bangkit dari posisinya dan keluar dari kamar.
Zevila yang terasa remuk badannya, dan pegal-pegal tidak karuan, ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Razan sendiri sudah berada di ruang santai sambil duduk dan menikmati gerimis di pagi hari lewat kaca yang lumayan lebar dengan posisi duduk bersila sambil merebus teh untuk menemaninya di kala badan terasa dingin.
Kemudian, datang lah Tuan Arta yang juga ikutan duduk saling berhadapan.
"Tumben udah bangun pagi-pagi, tidurnya kurang nyenyak kah?" tanya Tuan Arta sambil menuangkan teh panas ke gelas kecil.
"Tidurku malam ini justru sangat nyenyak, Paman. Mana mungkin aku bangun kesiangan, karena aku tidak sendirian lagi," jawab Razan yang hendak menyeruput teh panasnya.
"Sukur lah kalau gitu, Paman ikut senang melihat mu yang terlihat bahagia menikah dengan putri dari keluarga Arigama," ucap Tuan Arta.
Razan tetap menunjukkan sikap dinginnya di hadapan pamannya. Tidak lama kemudian, Rivan ikutan duduk saat baru keluar dari kamarnya.
"Kak Razan udah bangun rupanya, aku kira pengantin baru akan bermalas-malasan untuk bangun pagi." Sapa Rivan basa-basi, meski ucapannya sangat tidak disukai.
Namun, mau bagaimana lagi, sebisa mungkin untuk menutupi rasa cemburunya dihadapan saudara sepupunya.
"Memangnya mentang-mentang pengantin baru, itu harus bangun kesiangan, gitu kah?" tanya Razan sambil menikmati teh panasnya sebagai penghangat disaat cuaca dingin karena kini semakin deras hujannya.
"Enggak juga sih, tapi 'kan kata kata yang familiar biasanya memang begitu. Oh iya, Kakak ipar mana? gak kelihatan, belum bangun kah?"
"Ngapain kamu tanya-tanya Kakak ipar, kamu mencemaskan dirinya kah? kamu tidak perlu khawatir, Zevila aman bersamaku, dan pastinya dia akan bahagia bersama ku." Dengan tegas, Razan langsung bicara berterus terang kepada Rivan agar tidak lagi mengharapkan istrinya.
"Aku cuma basa-basi aja, gak ada hal yang lebih, lagi pula aku ini cuma temannya, bukan siapa-siapanya, Kak Razan gak perlu khawatir. Hanya saja, kalau sampai Zevila tidak bahagia, aku tidak akan terima jika Zevila menderita." Kata Rivan yang tanpa sadar memberitahu jika dirinya memang ada rasa dengan Zevila.
"Sudah sudah, kalian berdua jangan sampai bertengkar. Sekarang hujannya udah mulai reda, juga sudah jam berapa ini, mendingan kalian bersiap-siap untuk berangkat ke kantor," ucap Tuan Arta yang tidak ingin ada pertengkaran antara Razan dengan Rivan.
Razan sendiri tetap berada ditempat duduknya, begitu juga dengan Rivan, sama sekali tidak menanggapi ucapan dari ayahnya sendiri.
Di lain sisi, Zevila yang baru saja mengenakan pakaiannya, buru-buru menyisir rambutnya yang baru saja dikeringkan. Ditatap lah cermin yang ada di hadapannya terlihat tampak jelas pantulan gambar dirinya, Zevila teringat dengan tujuannya untuk membalaskan dendamnya.
Saat itu juga, ponselnya tengah berdering dan dilihat siapa orangnya yang menelpon. Mengetahui siapa yang menghubungi dirinya pagi-pagi, terasa malas untuk menerima panggilan. Namun, karena berurusan dengan sebuah rencana yang dibuat oleh dirinya bersama Sang Paman, Zevila memilih untuk mengirimkan sebuah pesan.
Cukup lama sedari tadi saling kirim pesan, tidak disadari jika suaminya sudah berdiri didekatnya. Zevila yang begitu fokus, suaminya yang mencoba menyenggol istrinya, pun tidak direspon.
Satu-satunya cara agar Zevila menerima respon, Razan mengecup langsung sudut bibirnya. Zevila melotot. Kedua bola matanya benar-benar membulat dengan sempurna. Takut, gugup, cemas, was-was, kini tengah bercampur menjadi satu. Tentu saja Zevila kepikiran dengan pesan yang ia kirim, juga yang tengah dibicarakan.
Zevila mendadak menjadi tegang. Tubuhnya terasa terkunci dan sulit untuk digerakkan.
Razan yang mendapati istrinya seperti shock, melambaikan tangannya agar Zevila tersadar dari lamunannya. Benar saja, Zevila langsung menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya perlahan.
"Kamu sedang ngapain? kelihatannya kamu sangat sibuk dengan ponsel mu, kenapa dan ada apa?" tanya Razan.
Zevila kembali bengong, antara takut karena udah ketahuan, juga gugup. Zevila hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia menoleh ke suami.
"Kamu ada masalah kah? katakan saja, apa masalahnya?" tanyanya kembali.
"Gak ada, aku cuma kepikiran aja, em- sudah lah, aku mau nyari udara segar, mungkin masih ada walau hanya tinggal sisanya," jawab Zevila masih gugup.
"Kamu gak sedang korsleting, 'kan? kamu gak bisa lihat, tuh masih gerimis,"
"Oh iya, bener juga, aku sampai gak tahu kalau pagi ini hujan," ucap Zevila yang menyadari jika pagi hari tengah turun hujan.
"Ini, aku bawakan minuman jahe, biar badan kamu agak enakan dikit. Juga, cuaca dingin, minum yang hangat hangat baik untuk tubuh. Ini, minum lah, jangan takut, tidak ada racunnya, karena aku bukan pembunuh." Kata Razan menyodorkan satu gelas minuman jahe.
Zevila yang mendengar kalimat bak sindiran, sebisa mungkin untuk tidak memikirkan yang aneh-aneh, pikirnya.
"Terima kasih," jawabnya dan menerimanya.
Kemudian, Zevila duduk di sofa dan minum minuman jahe dari suaminya hingga tandas tidak ada lagi sisa.
oke deh lanjutt...
yok gassss up next...
makin seruuuu
ayo thor semanggad up terus...
makanya dia bener2 waspada tingkat dewa...
gue mah ogah...
ckckckkckc
udah razan aku pndukungmu nomer wahid deh...
siapa yg paling kuat y kira kira pemirsahhh...