Indonesia
NovelToon NovelToon
If You Love Me

If You Love Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Chicklit
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Nafa

Kisah CEO-CEO muda mengikuti tour keliling dunia dengan kapal pesiar dengan salah satu tujuan mencari pasangan. Ada Revan seorang CEO muda mengikuti tour akhir tahun di sebuah kapal pesiar bersama dua sahabatnya, sebuah insiden membuatnya mengenal Arinda dan terus teringat kepada selegram cantik yang multi talenta itu, namun memiliki kisah cinta menyakitkan, ia juga seorang janda muda yang tidak bisa memikirkan pria lain kecuali mantan suami yang masih dicintainya.
Sebuah peristiwa aneh membawa Revan dan Arinda ke dunia kasat mata yang membuat mereka harus berjuang untuk bertahan. Lalu ada Nick yang bertemu Cindy, gadis model yang seksi namun memiliki prinsip hidup berbeda dengan penampilannya, juga Albert yang sudah bertunangan namun hampir terjebak dengan seorang wanita yang hampir saja merusak hubungannya dengan sang tunangan.
Apakah takdir akan menyatukan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Nafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25 Petualangan Revan-Arinda

Sudah berminggu-minggu Arinda dan Revan memilih pohon dengan rimbunan daun lebat itu sebagai tempat bernaung mereka berdua.

Revan dan Arinda juga menggali lubang dengan peralatan seadanya, dari kayu-kayu kering yang dibentuk seperti linggis atau sekop untuk menggali tanah, hasilnya cukup dalam setelah beberapa minggu.

Dengan adanya lubang itu, menjadi tempat persembunyian mereka yang cukup aman, karena tertutup batu besar, ketika seseorang duduk diatas batu tersebut siapapun tidak akan menyangka, dibawah batu ada satu lubang panjang yang menjadi tempat persembunyian Dua orang manusia.

Itu adalah keahlian Revan, pria itu cukup bangga dan mengapresiasi dirinya sendiri karena memiliki banyak kreatifitas serta mampu bernalar kritis dalam setiap kondisi.

Revan mengeksplorasi berbagai benda yang ditemuinya untuk dijadikannya barang berguna untuk memenuhi keperluan mereka yang kini seolah hidup di jaman primitif.

Untuk urusan perut, untunglah mereka melihat beberapa ekor burung terbang diatas tanaman merambat diatas rumput-rumputan, sedang mematuk biji-bijian, dari sana mereka menyadari jika buah-buah kecil mirip ceri itu dapat mereka makan juga.

Dari sanalah mereka mendapat asupan makanan sekedar untuk mengganjal perut mereka dari rasa lapar.

Jangan tanya bagaimana mereka minum karena tidak ada sumber mata air yang mereka temukan, karena masih takut bergerak lebih jauh.

Mereka menampung air minum dari daun-daun yang berembun setiap pada pada sebuah daun lebar yang dibentuk menyerupai sebuah cawan.

Beberapa hewan kecil yang menyerupai rusa maupun kelinci beberapa kali mereka temukan berlarian diantara rerumputan, namun Arinda melarang Revan untuk menangkap apalagi memburunya.

Selain Karena tidak memiliki benda tajam untuk menguliti hewan itu, mereka juga tidak memiliki sumber perapian untuk membuat daging panggang.

Keadaan tersebut sebenarnya lebih baik, karena kalaupun ada, maka asap perapian mereka akan mengundang datangnya makhluk mengerikan seperti beberapa jenis makhluk berbeda yang beberapa kali lewat

Mereka beruntung, tidak ada yang menyadari ataupun mencurigai keberadaan mereka, makhluk-makhluk yang melintas sepertinya berasal dari tempat yang jauh.

Padang luas dimana mereka kini berada sepertinya hanya sebuah jalan tempat para makhluk itu lewat untuk pergi atau pulang dari suatu tempat.

Beruntungnya lagi, mereka jarang menemukan makhluk buas seperti harimau, singa atau Biaya, kecuali ular besar.

Tapi ada satu keanehan yang hingga kini membuat Revan dan Arinda sangat heran, karena setiap kali makhluk mengerikan mirip binatang itu muncul dan nyaris mengetahui keberadaan mereka, saat itu pula datang kawanan ular besar yang seakan mengalihkan perhatian para monster tersebut, hingga mereka selamat dan tidak ketahuan.

Aneh bin ajaib, binatang yang seharusnya mereka takuti, justru menjadi penyelamat disaat-saat dibutuhkan dan lebih aneh lagi, ular-ular itu ikut hilang bila makhluk tersebut sudah menjauh.

Sejak tinggal di pohon, Revan maupun Arinda tidak mendapatkan gangguan dari ular manapun, kecuali Arinda yang suka melompat ketakutan dan berlari cepat kearah Revan, bila tiba-tiba muncul ular kecil secara tiba-tiba didekatnya.

Padahal ular itu sama sekali tidak mengganggu, namun Arinda sudah sangat ketakutan, sementara Revan akan menertawai dirinya.

"Mengapa ular sekecil itu membuat mu begitu takut, sementara kita bahkan di tolong oleh ular-ular besar. " Revan tidak habis fikir, dan Arinda akan memonyongkan bibir akibat kesal pada Revan.

Tapi Arinda tidak benar-benar marah pada Revan, karena ia tahu pria itu hanya bercanda, pria itu sering menggodanya.

"Van, tolong keluar dulu, aku mau melepas bajuku, aku mau mengeringkan baju sebentar. " ucap Arinda pelan

"Kau mau ku bantu melepaskan ? " Canda Revan, setiap kali Arinda meminta Revan menjauh karena kegiatan yang sama setiap dua hari sekali.

Begitulah kebiasaan Arinda, bila merasakan sudah sangat gerah dengan baju yang tak pernah diganti, ia akan melepaskan gaunnya yang nyaris disebut kain pel karena sudah sangat lusuh dan kotor.

Revan yang sangat mengerti, akan memilih berbaring di rerumputan menanti Arinda menyelesaikan kegiatannya, meski sesekali ia melancarkan godaan atas perilaku wanita itu.

Sangat berbeda dengan Revan, karena sebagai pria, ia tidak perlu melepas seluruh bajunya saat gerah, sehingga lebih mudah baginya.

Revan cukup melepas kemejanya karena ia memakai baju dalam, selain itu ia juga memakai celana pendek boxer, hingga tetap aman sekalipun melepas celana jeansnya untuk dijemur.

Sesungguhnya, Revan teramat prihatin dengan kondisi Arinda, situasi mereka bukan sedang piknik atau berkemah di padang rumput.

Jika demikian tentulah mereka akan membawa bekal makanan, pakaian ganti dan alat masak yang memadai yang bisa dimasukkan di ransel.

Sayangnya mereka berada di tempat ini bukan kemauan mereka, melainkan sesuatu yang misterius telah mengantarkan mereka menjauhi peradaban manusia, mungkin saja mereka telah terlempar ke kehidupan sebelum ada manusia.

Apakah benar ada istilah pergi ke masa lalu? jika demikian semoga ada pula istilah back to the future, sehingga mereka dapat hidup layaknya manusia di jaman mereka dengan normal.

Tidak seperti sekarang, mereka berdua layaknya manusia dalam film The Flintstones, bahkan Mr. Flintstones and family lebih baik karena memiliki banyak kelengkapan hidup meski terbuat dari batu.

Mereka lebih mirip manusia purba yang baru memulai mencari-cari alat yang bisa digunakan untuk makan dan minum, termasuk mencari bahan yang bisa dipakai untuk mengganti baju kotor mereka.

Revan berbaring diatas sebongkah batu, pikirannya menerawang ke saat dimana bertiga dengan Nick dan Albert, sudah pasti saat ini kehebohan terjadi karena tidak menemukan mereka.

Revan cukup menyesali, beberapa hari sebelumnya, ia lupa menghubungi mama dan papanya, kedua orangtuanya tentu sangat mengkuatirkan dirinya.

Meskipun Revan sudah dewasa dan mandiri, mama dan papa tetap rajin mengontrol dan mengingatkan dia untuk berbagai hal, sekarang ia merasa begitu rindu pada keduanya.

Revan cukup menyesali dirinya, mengapa belakangan ia jarang mengunjungi mama dan papanya dengan alasan kesibukannya.

Kini setelah tidak dapat mengunjungi keduanya, jiwanya begitu meronta, merasakan kesedihan akibat tidak dapat menemui kedua orang tuanya tercinta.

Revan dian-diam menitikkan airmata, pria itu menyembunyikan wajah dengan menutup muka menggunakan lengannya, ia seorang pria, terlebih dengan tubuh tinggi dan body sixpack miliknya akan sangat lucu bila terlihat menangis.

Seharusnya ia tidak boleh menjadi lemah, apalagi ada Arinda, wanita itu tampak begitu tegar dan pasrah, tidak sekalipun ia mengeluarkan ucapan berupa keluhan atau rintihan.

"Van... " sebuah suara halus di dekat telinganya disertai sentuhan lembut di permukaan kulit lengannya.

Revan membuka mata sambil pura-pura mengucek matanya, ia tidak ingin dipergoki menangis.

"Van... " Sekali lagi suara itu memanggil, Revan bangun dan melihat Arinda yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Boleh aku memelukmu? " Bisiknya parau karena menahan airmata, Arinda sudah berpakaian lengkap.

"Kenapa? " Revan sedikit bingung, apakah Arinda melihatnya menangis atau dia juga teringat keluarga nya?

1
Salsabila Arman
lanjut
Fitriah
thank you masukannya
@¥u &@n!
Hmmm dasar lemah amat sih thor MC nya gemeesss dech ah
@¥u &@n!
Ayo dong thor bikin kuat MC nya jgn cengeng kya gtu
@¥u &@n!
Lanjut
@¥u &@n!
Hmmm emang rumit beda keluarga beda peraturan
@¥u &@n!
Pov
@¥u &@n!
Wow awal yg bagus thor aku mampir
Fitriah
thankyu
atik
lanjut
atik
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!