Aku masih selembut sutra sebelum mengetahui Papaku cheating dengan guru matematika yang kemudian akan kupanggil Maung peliharaan Papa. Hingga suatu hari, aku mendengar sesuatu. Terkait kehamilan Bu Marsya, si guru matematika.
"Jadi, Bu Marsya benar-benar hamil?" desisku marah.
"Kamu masih di sini?" Adiknya, Kak Anggi, terlihat sangat gugup.
"Emang kenapa kalau saya masih di sini?" tantangku. "Saya gak boleh tahu?"
Bu Marsya mundur saat melihat aku mulai marah. Anak perempuan mana yang bisa tertawa gembira mendengar kehadiran calon adik dari rahim orang lain? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Rasanya berat menerima kenyataan keluargaku hancur berantakan, tapi apakah aku salah jika bermimpi semua masih bisa diperbaiki? Sekalipun telah retak di berbagai sisi? Apakah sebagai anak, aku memiliki kemampuan untuk memaafkan dan merekatkan kembali pecahan beling itu?
Batinku terus bertanya, dan tak kunjung menemukan jawabannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NyaiHan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Fire
Api melahap gorden, memanjat plafon, menyambar lemari, memakan habis kayu-kayu jati, lalu tertawa seolah berkata, "Akulah penguasa kayu-kayu mati."
Gemeretak terdengar begitu memuaskan. Suaranya masuk dengan sopan ke telinga. Kutatap lelehan gorden sambil duduk memeluk lutut. Berpijar. Nyaris sama seperti kondisiku sore ini.
Sebentar lagi Magrib akan datang, dan nyala api semakin matang. Merahnya akan membara dan menghipnotis semua orang.
"Uhuk!" Aku menghalangi asap agar tidak menyentuh hidung.
"Untuk apa?" gumamku sambil menatap api dengan tatapan kosong.
Ya, untuk apa menghalangi asap masuk ke hidung, jika aku sengaja berlama-lama berada di dalam lingkaran api yang sangat mempesona. Lekas kuletakkan kembali tangan di lutut. Lalu, tertawa beriringan dengan air mata yang membanjir.
Tidak ada seorangpun datang menyusul. Mereka masih menikmati makanan enak di wedding Papa. Musik yang dimainkan oleh band lokal kota pasti sangat membuai jiwa.
Maka begitu sampai ke rumah dan mengusir Mbak Ute pulang, aku menyadari benar-benar tinggal sendirian. Api inilah satu-satunya teman. Tanpa kuminta pun, api menunjukkan eksistensinya pada kayu atau apapun yang siap dibakar. Ia berpijar, setelah kunyalakan pada ujung gorden yang meninggi hingga atap rumah.
Di sinilah aku sekarang. Duduk terdiam di dalam lingkaran panas. Derak plafon dilahap api semakin kuat terdengar, tapi aku tak ingin keluar.
Hatiku sakit. Sakit sekali. Bahkan setelah mengusahakan segala daya upaya untuk menjaga keutuhan keluarga, aku tetap kalah. Entah dikalahkan oleh keluargaku sendiri atau Bu Marsya dan Kak Anggi.
Tawaku terdengar lirih. Kehadiranku tidak diharapkan. Papa hanya menginginkan anak laki-laki. Alasan yang sangat klise sekali.
Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam lipatan tangan. "AAAAAAAAAAAARGH!" teriakku sekuat tenaga.
Belum, belum puas. Aku mengulanginya lagi hingga tiga kali. Tak hadir juga kepuasan yang aku harapkan itu. Kenapa? Orang bilang, berteriak adalah salah satu cara untuk melegakan sesak di dada. Kenapa aku tidak bisa? Apa karena aku berada di antara asap-asap tebal? Atau memang luka di hatiku sudah berkerak hingga sulit untuk dikikis?
Brak!
Satu kayu jatuh dari langit-langit rumah. Teronggok mengenaskan dimakan api. Letaknya sangat dekat dengan kaki. Mungkin, sebentar lagi rumah ini akan roboh bersamaku di sini. Ah, biarlah. Aku tidak ingin keluar. Berusia panjang karena luka amat mengerikan. Lebih baik aku mati membawa semua cinta dan sakit ini ke alam abadi.
"Woi, woi! Api! Tolong! Api!"
"Telepon pemadam kebakaran!"
Ramai. Aku mencoba mengangkat kepala, lalu batuk menghirup asap. Lewat jendela, tampak satu per satu tetangga berdatangan. Merekam, menelepon, memandang.
Semakin lama semakin banyak berkerumunan. Lalu, beberapa orang membawa ember dan berusaha memadamkan api dari luar.
Aku menatap kesal, kecewa pada pergerakan mereka. Berada di sini jauh lebih nyaman. Badanku enggan mengubah posisi, apalagi sampai berjalan.
Kemudian, kulihat sebuah mobil berhenti di sela-sela orang yang berbaik hati memberi jalan. Bang Jack dan Bang Udin keluar. Tanpa menunggu lama, Bang Jack berlari masuk ke dalam, meninggalkan Bang Udin yang melongo sendirian.
"Zahra!" panggilnya, kencang. "Zahra, lo di mana?!"
Brak!
"Kayu sialan!" makinya dalam asap tebal.
"Zahra! Gue tahu lo di dalam! Jawab gue!"
Aku menggeleng sambil menahan batuk agar tidak terdengar. Kuharap, asap-asap itu semakin tebal dan dia tidak pernah menemukan keberadaanku.
"Zahra, please! Answer me! Gue minta maaf soal hari ini, tapi tolong jawab gue!"
Minta maaf, katanya. Air mataku mengalir lagi mengingat betapa jahatnya dia menyembunyikan pernikahan Papa.
Andai Bang Udin tidak bermulut ember, pasti sampai sekarang aku tidak tahu apa-apa. Masih berpikir bahwa semuanya masih bisa diselamatkan, paling tidak pecahan-pecahan berserakan bisa dipungut kembali untuk direkatkan ulang. Setelah semua rasa sakitku mencapai puncak, Bang Jack meminta maaf dengan mudah? Persetan!
"Uhuk!" Suaraku lolos dari bekapan tangan. "Sialan!"
"Zahra?"
Derap langkah Bang Jack terdengar mendekat setelah memanggil namaku sekali lagi. Di sinilah dia sekarang. Batuk sialan ini membuatnya datang.
"Hei, kenapa gak jawab gue?" tanyanya lembut.
"Pergi!" kataku lemah sambil membuang muka.
"Kita pergi sama-sama, oke? Gue gak akan tanya apapun. Janji!"
"Lo aja yang keluar dari sini. Nanti kalau lo mati, keluarga lo bisa nangis," ucapku, gemetar.
"Mama lo juga bakal nangis darah liat anaknya mati gosong, Ra."
Aku tertawa, lalu menggeleng. "Kata siapa? Mama gue gak bakal nangis. Toh, bentar lagi dia punya anak cowok. Papa pasti mau kongsi anak sama Mama. Jadi, lo jangan ngarang cerita seolah-olah kehadiran gue masih diharapkan sama mereka."
"Kenyataannya begitu."
"Gak, bukan! Kalau gue emang diharapkan, kenapa gak ada satupun yang peduli sama gue? Gak ada yang ngejar gue!"
"Itu karena mereka gak tahu rumah kebakaran, dan lo pulang pakai taksi."
"Apa aja bisa kejadian. Gak cuma ... uhuk! Gak cuma kebakaran. Bisa aja truk semen nabrak taksi terus gue kegencet ban, atau taksinya nyemplung ke sungai, nabrak pembatas terus terjun ke bawah. Gak ada yang mikir kayak gitu? Emang gak ada yang peduli sama gue! Gue aja gak ada kerjaan mikirin perasaan mereka! Gue ... "
"Jangan egois, Zahra! Kita keluar sekarang!"
Aku terdiam, tertawa kencang, dan menangis di waktu bersamaan.
"Keluar!" perintahku sambil menunjuk ke arah pintu.
"Zahra, gue minta maaf. I'm so sorry, gue gak ada maksud ... "
"KELUAR GUE BILANG!" Aku menatapnya tajam.
Brak! Brak!
Kayu-kayu terus berjatuhan. Bang Jack semakin belingsatan. Mungkin, dia gelisah karena tak bisa menyentuhku. Andai bisa, pasti sudah diseret keluar.
"Apinya makin besar, kita bisa mati di sini," kata Bang Jack, tertekan. "Gue gak mau lo mati, Zahra. Oke, lo bilang gak ada yang peduli sama lo. Gak ada yang bakal nangis liat lo mati. Gue, Ra. Gue yang gila karena kehilangan lo!"
Mataku memanas. Kata-katanya terdengar manis, tapi hatiku sedang gerimis. Ia tak lagi berdebar, melainkan gemetar.
Terdengar raungan sirene pemadam kebakaran serta mobil polisi, tapi mereka terlambat. Sebentar lagi, rumah ini akan roboh beserta orang yang mendiaminya.
Di sela-sela sesak yang semakin kuat, aku berusaha menyalurkan sedikit dari rasa sakitku padanya.
"Lo tahu? Awalnya, gue kira Papa suka sama Bu Marsya karena dia cantik. Ternyata bukan, Papa mau anak cowok. Awalnya, gue sakit karena ngira Mama juga sakit. Ternyata salah lagi, Mama tahu skandal itu dan milih diam kayak orang bego. Mereka terus bilang gak sakit dan gak menyakiti, tapi gak ada yang nanya pendapat gue, perasaan gue. Saking gak diharapkannya gue di sana, Bang. Berkali-kali gue dihantam luka yang sama."
"Iya, gue ngerti sekarang. Sorry udah gak peduli sama rasa sakit yang lo alami."
"Bukan lo yang harus minta maaf, Bang."
"Gini, terserah lo gak mau ... uhuk!" Dia terbatuk. "Gak masalah lo gak mau ketemu sama mereka, asal keluar oke?"
Aku menggeleng. Ini bukan soal bertemu mereka, aku hanya ingin membawa kenangan manis di rumah ini pergi bersamaku ke alam baka.
"Tolong, jangan biarin gue bertingkah layaknya Qais yang kehilangan Layla! Kita keluar sekarang! Ya?"
Aku tak mau repot-repot menatapnya. Di saat pendirianku berusaha dikukuhkan, dadaku bertambah sesak. Kututup hidung dengan jilbab dan berusaha tenang.
Sebentar lagi, aku akan mati. Akan tetapi, kalau Bang Jack masih di sini, dia juga bisa mati. Tanpa berpikir panjang, aku berdiri. Sempat sempoyongan, tapi segera normal kembali. Aku berlari menembus asap menuju tangga.
Awalnya tangga itu tak kelihatan, tapi ternyata ingatanku masih tajam. Aku naik ke atas, lalu menjerit tertahan saat asap pedih menusuk mata dan membakar tenggorokan.
Kurasakan hawa panas semakin mendekat. Senyumku tersungging lebar. Di tengah-tengah kesadaran yang kian menipis, sempat kuusahakan meminta maaf pada Tuhan.
"Maaf, Ya Allah. Caraku pulang harus begini, tapi aku punya satu permintaan. Tolong, bawa Bang Jack pergi ... dari ... neraka ... ini."
🦋
Saat aku membuka mata, dua dokter laki-laki berbeda usia menunggu dengan senyum ramahnya. Dokter paling dewasa berkulit putih, wajahnya oval, hidung standar, bibir tipis pucat, mata tajam, alis melengkung bak semut berbaris, dan memiliki tubuh bagus.
Satunya lagi tampak masih muda. Mungkin residen. Dia jauh lebih tampan dengan tubuh sedikit kurus, wajah berbentuk diamond, hidung mancung, bibir merah yang tipis, mata yang selalu berbinar, dan alis cantik menyerupai alis perempuan.
Satu yang tampak sama, binar mata menunjukkan mereka amat mencintai pekerjaannya
Dokter paling dewasa bertanya namaku, alamat rumah, usia, sekolah, dan sialnya aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku sakit. Sebagai gantinya, dia memintaku berkedip sekali sebagai jawaban 'masih ingat' dan dua kali untuk 'tidak'.
Kemudian, mereka memberi penjelasan bahwa aku mengalami trauma inhalasi. Ada bara api di saluran pernapasanku. Bara itu masih menyala hingga menyebabkan luka bakar saat aku ditemukan.
Dokter dewasa bernama Rusli itu mengungkapkan rasa syukur karena paru-paruku masih baik-baik saja. Jadi, penanganan bisa dilakukan secepat mungkin, serta bisa mencegah kemungkinan lain.
Terlambat sedikit saja, tenggorokanku menguning karena terpanggang dan pita suaraku akan lengket satu sama lain. Jika itu terjadi, tidak ada opsi kedua selain memotong pita suara serta beraktivitas dengan leher bolong seumur hidup.
"Untung usiamu masih muda, Dek. Kalau di atas 50-an, mungkin sudah lewat," gumam dokter muda di sebelah Dokter Rusli.
Aku mendengarnya, tapi tak perlu bersyukur sampai segitunya. Tujuanku memang lewat! Bukan hidup!
"Sebentar lagi, kamu akan dipindahkan ke ruang rawat. Tetaplah sehat, ya? Saya permisi!" Dokter Rusli keluar setelah meninggalkan senyum hangat seorang ayah.
Benar saja. Tak sampai lima belas menit, perawat datang. Mendorong brankar ke luar dan memasuki ruang rawat inap VVIP kelas dua.
Aku bersiap tidur. Namun, pintu ruang rawat kembali terbuka. Papa, Mama, Bu Marsya, dan Bang Udin masuk ke dalam. Hatiku yang rapuh, perlahan mengalami pengeroposan. Mereka mendekat dan menunjukkan sorot terluka. Tak ada Ameena.
Saat pintu sudah tertutup, seseorang kembali membukanya. Ternyata, Abdul datang bersama Muhammad. Keduanya masih memakai seragam sekolah.
"Ini terlalu rame gak, sih?" ucap Muhammad.
Abdul menatap ke sekitar. Mengangguk ramah sebagai sapaan. Ia meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan. Aku ingin memanggil Abdul dan Muhammad. Kenapa mereka harus keluar, sih?
Padahal, walaupun tak ada Ameena, kehadiran mereka berdua cukup membuatku nyaman. Berada di tengah-tengah keluarga sendiri dengan atmosfer mengerikan seperti ini, rasanya aku tidak tahan.
"Dek." Suara Mama lemah sekali.
Apa, Ma? Mama mau memarahiku karena membakar rumah dan semua dokumen penting dilalap api? Tapi, perasaanku masih belum pulih, Ma. Api itu tidak cukup untuk menghilangkan perih di dada.
"Kenapa Adek gak keluar, Nak? Apa yang ada dalam pikiran kamu sampai nolak dibawa keluar sama calon mantu Mama?"
Isi pikiranku, tentu saja kekecewaan. Usiaku masih delapan belas tahun, tapi harus menampung semua kesakitan ini. Datangnya secara dadakan. Menghantam telak tepat di ulu hati.
"Mama rasanya pengen terbang dari hotel waktu tahu Adek masuk rumah sakit gara-gara kebakaran rumah. Untung gak ada luka bakar. Kalau sampai ada luka sedikitpun, hati Mama pasti remuk, Dek."
Loh, terus yang aku alami sekarang bukan luka? Luka bakar luar tidak perlu operasi, sedangkan luka bakar dalam, terutama saluran pernapasan beresiko pengangkatan sebelah paru-paru. Bahkan, aku terancam hidup dengan leher bolong sampai mati. Apa itu belum cukup?
Satu lagi pesan tersirat dalam kata-katanya, kalau bukan karena kebakaran, dia akan tetap di sana sampai acara selesai. Setidak penting itukah diriku, Ma?
"Zahra." Papa mendekat. "Papa minta maaf udah bentak kamu di hotel. Papa gak sengaja, dan Papa minta maaf kalau insiden ini terjadi karena kesalahan Papa juga."
Bagus kalau Papa sadar.
"Papa janji bakal tebus kesalahan Papa. Papa akan lebih merhatiin kamu lagi. Oke?"
Oh, bukan itu yang aku perlukan, tapi akte perceraian kalian semua. Papa, Mama, dan Bu Marsya.
"Papa, kenapa diam aja?" tanya Mama tak tahan.
Sebenarnya, aku tidak berani berbicara. Takut lukaku bermasalah. Ah, kenapa Dokter Rusli tidak memberitahu boleh bersuara atau tidak, sih?
"Zahra." Bu Marsya mencoba mendekat.
Aku langsung menunjuk pintu. Tadi, darahku normal-normal saja. Mendengar suaranya, rasanya aku ingin mengamuk sekarang. Pada Bu Marsya, pada Papa, dan Mama sekalian. Mataku menatap tajam dan terus menunjuk pintu.
"Dek, Bu Marsya itu guru kamu, Sayang. Dia juga ibu kamu sekarang. Mama gak pernah ajarin kamu bersikap gak sopan," tegur Mama halus.
Api dalam diriku semakin membara. Sekuat tenaga kuupayakan suara agar ia keluar dan membantuku mengusir mereka semua, kecuali Bang Udin.
"Ingat, Dek. Gak hormat sama ... "
"Keluar!" desisku, tajam.
Sadar kemarahan mulai melalap habis tubuh lemah putrinya, Mama mendorong Bu Marsya dan Papa keluar dari ruangan ini. Bang Udin ingin menyusul, tapi lambaian tanganku membuatnya tinggal.
Lewat sorot mata, kutanyakan keberadaan Bang Jack. Bang Jack, kuharap dia selamat. Terakhir kali sebelum udara panas terhirup, Bang Jack masih ada bersamaku. Pertanyaan itu sedari tadi tertahan oleh gumpalan muak akibat pasutri lama dan baru masuk ke mari.
"Bang Jack mana?" Kutanyakan itu dengan desisan yang hampir tidak terdengar.
Bang Udin terdiam. Lalu tersenyum kecil. Senyum terpaksa.
Apa Ameena marah gara-gara abangnya terjebak api terlalu lama, dan melarang Bang Jack datang menjenguk? Kutepis
segala praduga dan berharap jawaban dengan penuh permohonan. "Bang Jack mana?"
kadang yg tau kesalahan kita keegoisan kita adalah orang disekitar kita
apalagi klo hatinya sdh dimatikan
maka timbulnya jd orang yg merasa paling benar paling semuanya
dan walau ada karma buat Umar Ama maung pun.
mereka berdua ga bakal tau klo itu karma
karena itu tadi merasa yang "PALING"
Memang ibu juga mau bernasib sama kayak Mamanya Zahra??? Pasti gak mau kan. Penginnya hidup dan di cintai sempurna gak harus mengorbankan kebahagiaan orang lain demi ambisimu