Selama 25 tahun, Rashaka Nareswara setia menjaga cintanya. Ia tetap bertahan, dan berharap pada satu nama yang tak pernah berubah di hatinya. Hingga akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis.
Ia berhasil mempersunting wanita yang ia cintai sejak dulu, memulai kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna.
Namun, kebahagiaan itu tak pernah benar-benar utuh. Di balik senyum sang istri, tersimpan bayang-bayang masa lalu yang belum selesai. Masalah demi masalah yang perlahan meretakkan kehangatan yang mereka bangun.
Akankah cinta yang bertahan selama seperempat abad itu mampu melawan luka yang belum sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI S2 — BAB 25
Malam sudah lewat tengah malam ketika Gayatri akhirnya keluar dari ruang rawat Shakira. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, tetapi pikirannya justru semakin penuh. Langkahnya pelan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai sepi.
Lampu-lampu putih di sepanjang koridor memantulkan bayangan wajahnya yang tampak pucat dan kehilangan banyak tenaga. Begitu sampai di area luar ruang perawatan, ia melihat Shaka duduk sendirian di kursi tunggu sambil memandangi layar ponselnya yang mati.
Pria itu langsung mengangkat kepala begitu menyadari kehadiran Gayatri.
“Kau belum pulang?” tanya Gayatri lirih.
Shaka tersenyum tipis meski matanya dipenuhi kekhawatiran. “Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu dan pulang sendirian dalam keadaan seperti ini?”
Gayatri terdiam sesaat sebelum akhirnya duduk di samping suaminya perlahan. Ia menarik napas panjang, membuang semua kepanikan yang sempat bersarang di dada.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Keheningan di antara mereka justru terasa nyaman dibandingkan kekacauan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Shaka menoleh pelan ke arah Gayatri. “Bagaimana keadaan Shakira?”
Gayatri langsung menundukkan wajah. “Dia sudah sadar,” jawabnya pelan. “Tapi dia belum tahu yang sebenarnya.”
Shaka mengernyit kecil. “Dalam kondisinya yang sekarang, kurasa keputusan yang tepat adalah tidak memberitahunya lebih dulu.”
Gayatri mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menceritakan bagaimana dirinya dan Nayana memilih berbohong demi menjaga kondisi mental Shakira yang masih terlalu lemah.
“Kami bilang bayinya baik-baik saja,” ucap Gayatri lirih, matanya tampak berkaca-kaca.
Shaka terdiam, satu tangannya tergerak untuk meraih bahu istrinya dan mengusapnya pelan. Ia bisa memahami alasan keputusan itu diambil, tetapi tetap saja situasinya terasa begitu menyakitkan.
“Dokter bilang kondisi emosional Shakira masih belum stabil,” lanjut Gayatri dengan suara melemah. “Kalau dia shock sekarang, kami takut kondisinya justru memburuk.”
Shaka perlahan menggenggam tangan istrinya erat. “Kau sudah melakukan yang terbaik,” katanya lembut.
Namun Gayatri justru menggeleng pelan. “Aku merasa seperti orang jahat,” bisiknya lirih. “Aku tidak pernah membayangkan harus berbohong tentang hal seperti ini.”
Matanya mulai memanas lagi. “Dia begitu bahagia waktu tahu dirinya hamil,” Suara Gayatri mulai bergetar. “Tapi sekarang aku harus melihat dia kehilangan anaknya.”
Shaka menatap wajah istrinya lama. Ia tahu Gayatri sangat terpukul dengan semua ini. Bukan hanya karena Shakira adalah menantunya, tetapi juga karena Gayatri terlalu mencintai keluarganya sampai ikut menanggung semua rasa sakit mereka.
Tanpa banyak bicara, Shaka menarik tubuh Gayatri perlahan ke dalam pelukannya. Gayatri langsung memejamkan mata begitu kepalanya bersandar di dada pria itu. Untuk pertama kalinya malam itu, ia membiarkan dirinya terlihat lemah.
“Nares, aku takut,” bisiknya lirih.
Shaka mengusap rambut istrinya pelan. “Takut tentang apa?”
“Aku takut keluarga ini perlahan mulai hancur. Apa yang akan terjadi nanti jika Shakira tahu kebenarannya? Akankah dia meminta bercerai? Dan … Keenan. Bagaimana kita harus mengurus masalahnya? Anak-anak kita … mengapa rasanya sekarang aku mulai sulit menjangkau mereka?”
Kalimat itu membuat Shaka ikut terdiam.
Gayatri menggenggam kemeja suaminya erat sebelum kembali berkata pelan, “Keenan dan Shakira sedang di ambang kehancuran. Keandra masih sendirian di Korea. Kaluna mulai berubah sejak hidup berkecukupan.” Ia menarik napas panjang. “Aku merasa gagal menjaga semuanya.”
Shaka langsung menggeleng pelan. “Jangan menyalahkan dirimu untuk semua hal,” ucapnya lembut namun tegas. “Kau bukan penyebab semua masalah mereka.”
“Tapi aku ibu mereka.”
“Dan kau sudah melakukan lebih banyak hal yang kau bisa sebagai lebih daripada siapapun. Anak-anak kita sudah dewasa, Gayatri. Mereka kini memiliki pandangan hidup mereka sendiri dan memutuskan semuanya sendiri.”
Gayatri menatap Shaka perlahan. Sorot mata pria itu begitu tenang hingga sedikit demi sedikit membuat dadanya yang sesak mulai terasa lebih ringan.
“Kau tahu?” lanjut Shaka pelan sambil tersenyum tipis. “Jika ada orang lain di posisimu sekarang, mungkin dia sudah menyerah menghadapi semua kekacauan ini.”
Gayatri tertawa kecil meski matanya masih berkaca-kaca. Tawa itu terdengar lemah, seolah lahir dari kelelahan yang terlalu lama ia pendam sendiri. “Aku juga hampir menyerah,” bisiknya pelan.
“Tidak,” sahut Shaka cepat sambil menatapnya lembut. “Kau itu kuat, sekarang kau hanya merasa lelah menghadapi semuanya.”
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Gayatri menghangat. Tidak ada nada menghakimi dalam suara Shaka, tidak pula tuntutan agar dirinya tetap kuat. Pria itu hanya memahami dirinya dengan cara yang selama ini selalu berhasil membuat Gayatri merasa tenang.
Shaka memang selalu seperti itu. Tenang, bijaksana dan entah bagaimana, pria itu selalu tahu cara membuatnya merasa tidak sendirian meski dunia di sekeliling mereka sedang berantakan.
Beberapa saat kemudian, Gayatri kembali menundukkan wajah. Tatapannya jatuh pada jemari mereka yang masih saling bertaut erat sejak tadi.
“Aku takut Shakira membenci Keenan setelah tahu yang sebenarnya,” ucapnya lirih.
Shaka terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Kemungkinan itu pasti ada,” jawabnya jujur.
Mendengar itu, Gayatri langsung memejamkan mata perlahan. Dadanya kembali terasa sesak hanya dengan membayangkan bagaimana hancurnya Shakira nanti saat mengetahui kenyataan bahwa anak yang begitu ia tunggu ternyata sudah tidak ada.
“Tapi jika Keenan benar-benar mencintainya,” lanjut Shaka tenang, “Maka ini adalah saatnya bagi Keenan untuk membuktikan semuanya.”
Gayatri tidak langsung menjawab. Ia tahu Shaka benar.
Selama ini Keenan terlalu sibuk melarikan diri dari rasa takut dan tanggung jawabnya sendiri. Putranya selalu ingin hidup tetap mudah tanpa menyadari bahwa pernikahan tidak pernah berjalan seperti itu. Dan sekarang, cepat atau lambat, Keenan memang harus menghadapi akibat dari semua sikap dan keputusannya.
“Menurutmu mereka masih bisa bertahan?” tanya Gayatri pelan setelah beberapa saat.
Shaka memandang lorong rumah sakit di depan mereka cukup lama sebelum akhirnya menjawab. “Aku tidak tahu.”
Gayatri kembali terdiam, ia tahu benar bahwa tidak ada jaminan pasti bahwa semuanya akan kembali membaik.
“Tapi satu hal yang aku tahu,” lanjut Shaka sambil kembali menggenggam tangan Gayatri lebih erat, “Selama mereka masih mau berjuang untuk satu sama lain, semuanya belum benar-benar berakhir.”
Gayatri menatap jemari mereka perlahan. Lalu tanpa sadar, ia membalas genggaman tangan suaminya sedikit lebih erat.
Karena di tengah semua kekacauan yang sedang menghantam keluarganya, Shaka masih menjadi satu-satunya tempat di mana ia merasa bisa pulang, bernapas, dan bertahan.
“Sama seperti kita, yang akan tetap bertahan sampai akhir.”