Indonesia
NovelToon NovelToon
Boleh Liar, Tapi Tak Boleh Kau Ganggu

Boleh Liar, Tapi Tak Boleh Kau Ganggu

Status: tamat
Genre:Penikahan Kontrak / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / CEO / Berbaikan / Wanita perkasa / Percintaan Konglomerat / Office Romance / Healing / Dark Romance / Tamat
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Vanessa Wijaya punya satu prinsip: **jangan pernah main di kandang sendiri.**

Sekretaris andalan di Meridian Global ini tahu betul cara menjaga benteng kariernya—dibangun dari nol, dengan kerja keras, bukan dengan menjual diri. Akhir pekan itu, ia hanya ingin satu malam tanpa beban di sebuah klub privé eksklusif, Bilquis—tempat di mana segala hasrat boleh terjadi, asal **atas dasar persetujuan.** Pria yang masuk ke ruangannya malam itu sempurna di setiap titik: tampan, dominan, dan tahu persis cara membuatnya melupakan seluruh dunia.

Sampai Senin pagi, pria itu berdiri di ruang rapat sebagai **Direktur baru-nya.**

"Salam kenal, Nona Sekretaris," ujar Damian Hartono sambil mengulurkan tangan—pewaris tersembunyi konglomerat Surya Sentosa Group yang memilih jalannya sendiri.

Vanessa bersumpah akan menguburnya sebagai "kebetulan satu malam." Tapi Damian punya rencana lain. Dan ketika seorang petinggi mitra perusahaan menyudutkannya di toilet pesta gala dan berdalih *"dia sendiri yang menggoda"*, Damian-lah yang mendobrak pintu itu—lalu mengucapkan kalimat yang mengguncang seluruh ruangan:

**"Dia boleh seliar apa pun. Itu haknya. Tapi selama dia tidak setuju, yang kau lakukan tetap kejahatan. Boleh liar, tapi tak boleh kau ganggu."**

Di antara kontrak rahasia tiga bulan, gosip "naik jabatan lewat ranjang", tekanan perjodohan dari keluarga konglomerat, dan luka lama *"keluargamu tak sederajat denganku"*—Vanessa harus menjawab satu pertanyaan yang paling ia takuti:

*Bisakah ia mencintai seseorang tanpa kehilangan dirinya sendiri?*

Sebuah kisah tentang perempuan yang menolak tunduk, cinta yang menolak kompromi, dan seorang pria konglomerat yang rela melawan seluruh dunianya—asalkan ia boleh mencintai dengan bebas.

**Dari dahaga, menuju cinta. Mawar yang pergi, akhirnya pulang untuk mekar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Serigala Memangsa Si Kucing

Di dalam kepala Vanessa, pagar kawatnya masih berdiri. Hanya saja malam itu, untuk pertama kalinya, ia membiarkan seseorang duduk di sisi luar pagar, cukup dekat untuk berbagi selimut.

Paginya, pagar itu mendapat ujian berupa Damian Hartono yang memasak telur.

Vanessa terbangun oleh aroma mentega dan kopi. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana dirinya. Langit-langit bukan kamar kost. Seprai terlalu halus. Udara terlalu sunyi. Lalu tubuhnya mengingat malam sebelumnya, celemek merah, tawa, pita hitam yang kini entah berada di mana, dan Damian yang berkali-kali bertanya apakah ia masih nyaman.

Ia menarik selimut menutupi wajah.

"Jangan jadi perempuan yang tersenyum sendirian di ranjang pria," gumamnya.

"Terlambat."

Vanessa membuka selimut. Damian berdiri di pintu kamar dengan tray sarapan, kaus hitam, rambut sedikit berantakan, dan ekspresi terlalu puas untuk orang yang baru saja tertangkap mendengar gumamannya.

"Kau menguping?"

"Aku tinggal di rumah ini."

"Tidak berarti boleh menguping."

"Aku datang membawa kopi."

"Pembelaan diterima sebagian."

Sarapan mereka berlangsung di balkon kecil yang menghadap taman. Telurnya lembut, roti panggangnya sedikit gosong di satu sisi, dan kopi Damian terlalu pahit untuk standar manusia biasa. Vanessa memakan semuanya dengan rasa lapar yang membuatnya malu sendiri.

"Kamu makan seperti orang yang kemarin tidak diberi makan," kata Damian.

"Kamu tahu energi yang dibutuhkan untuk menghadapi pria Hartono?"

"Aku mewakili keluarga meminta maaf."

"Permintaan maaf diterima dalam bentuk sarapan."

Damian tersenyum, lalu mengusap remah roti di sudut bibir Vanessa dengan ibu jari. Gerakan itu kecil, terlalu domestik, dan justru membuat Vanessa lebih panik daripada semua aksesori absurd semalam.

Ia menepis tangannya. "Jangan terlalu natural."

"Apa?"

"Itu. Sarapan. Balkon. Mengusap remah. Ini jebakan romansa."

"Aku pikir ini jebakan karbohidrat."

"Lebih berbahaya."

Damian tertawa, tapi matanya menyimpan sesuatu. "Kuning?"

Vanessa menghela napas. "Bukan kuning. Aku hanya sedang mencatat gejala."

"Gejala apa?"

"Jangan sok tidak tahu."

Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Itu yang paling menyebalkan. Damian tidak menertawakan ketakutannya, tapi juga tidak membiarkannya berpura-pura semua ini hanya permainan. Ia duduk di seberang Vanessa, menunggu apakah ia akan melanjutkan.

"Aku mulai terlalu nyaman," kata Vanessa akhirnya.

"Itu buruk?"

"Untuk orang yang punya aturan, iya."

"Aturan bisa direvisi."

"Kamu benar-benar pria kontrak."

"Aku belajar dari sekretaris terbaik."

Vanessa ingin melempar roti. Ia malah tersenyum.

Mereka tidak pergi ke mana-mana hari itu. Damian membatalkan rencana latihan golf keluarga dengan alasan pekerjaan. Vanessa menertawakannya karena orang kaya bahkan punya alasan mewah untuk menghindari keluarga. Ia sendiri mengirim pesan kepada Lina bahwa ia butuh istirahat, lalu mematikan notifikasi kantor selama tiga jam penuh. Tindakan radikal.

Siang menjelang sore, mereka menonton film buruk di ruang tengah. Damian duduk di sofa, Vanessa di ujung lain, awalnya menjaga jarak seperti aturan tidak tertulis. Lima belas menit kemudian, kakinya sudah berada di pangkuan Damian karena pria itu memijat telapak kakinya dengan tekanan yang jauh lebih sopan daripada tukang refleksi kemarin.

"Kalau kamu begini terus, aku bisa jadi malas pulang," kata Vanessa.

"Itu rencana jahatku."

"Setidaknya jujur."

"Aku belajar."

Film itu membosankan. Mereka lebih banyak berbicara daripada menonton. Vanessa bercerita tentang bagaimana ia dulu belajar bahasa Jerman dari podcast gratis sambil naik TransJakarta. Damian bercerita tentang apartemen kecil pertamanya di Amsterdam, jauh sebelum orang kantor tahu ia Hartono. Ia pernah mencuci baju sendiri dan membuat semua kemejanya berubah warna abu-abu.

"Aku sulit membayangkannya."

"Aku juga sulit membayangkanmu menawar cabai di pasar."

"Aku hebat. Bu Sri bilang aku masih perlu latihan, tapi potensial."

"Aku ingin lihat."

"Jangan jadikan pasar Kramat Jati objek wisata konglomerat."

"Aku ingin lihat hidupmu, bukan wisata."

Kalimat itu membuat kaki Vanessa berhenti bergerak di pangkuannya.

Damian menyadari, lalu tidak memaksa. Ia hanya mengusap pergelangan kakinya sekali, pelan. "Terlalu cepat?"

"Sedikit."

"Baik. Aku tunggu."

Kata tunggu semakin sering muncul di antara mereka. Vanessa takut suatu hari ia akan percaya sepenuhnya.

Sore itu, mereka kembali ke kamar bukan karena skenario, melainkan karena ciuman di sofa berubah lebih dalam daripada rencana. Vanessa yang memulai. Ia menarik kerah kaus Damian saat pria itu masih bertanya apakah filmnya perlu dihentikan.

"Filmnya jelek," kata Vanessa.

"Alasan yang valid."

"Kamu juga terlalu tenang."

"Itu keluhan?"

"Tantangan."

Damian menatapnya. Sesuatu yang lebih gelap dan main-main muncul di wajahnya. "Kau yakin?"

"Hijau."

"Batas?"

"Jangan terlalu lembut sampai aku tertidur."

"Catatan diterima."

Mereka tertawa saat berjalan ke kamar. Namun tawa itu perlahan berubah menjadi napas yang lebih berat ketika Damian menutup pintu. Kali ini tidak ada celemek, tidak ada pita, tidak ada properti. Hanya mereka berdua dan tubuh yang sudah mulai saling mengenali.

Damian tetap bertanya. Vanessa tetap menjawab. Kadang hijau, kadang kuning, kadang tunggu sebentar karena rambutnya lagi-lagi tersangkut di jam tangan Damian. Mereka tertawa, mengomel, mencoba lagi. Vanessa menyadari di tengah semua panas itu bahwa keintiman yang baik ternyata tidak selalu harus sempurna. Justru karena boleh kacau, boleh berhenti, boleh mengulang, ia merasa lebih aman untuk menyerahkan diri pada rasa.

Ketika detail paling privat akhirnya dibiarkan meredup di balik selimut dan suara napas, Vanessa tidak merasa dimangsa. Aneh, mengingat Damian beberapa kali bercanda bahwa ia seperti serigala yang sedang menahan diri.

"Serigala?" katanya setelahnya, pipi menempel di bantal.

Damian mengusap punggungnya. "Aku tidak pernah bilang begitu."

"Wajahmu bilang."

"Lalu kamu apa?"

"Kucing yang mahal perawatannya."

"Aku sanggup."

"Sombong."

"Realistis."

Vanessa tertawa, lalu diam terlalu cepat. Kata sanggup terdengar terlalu enak. Terlalu mudah dipercaya.

Damian menoleh. "Apa yang berubah?"

"Tidak ada."

"Nessa."

Ia benci bagaimana satu panggilan itu bisa membuatnya jujur.

"Aku takut mulai menunggu weekend," katanya.

Damian tidak langsung menjawab. Ia menarik selimut menutupi bahunya, lalu mencium rambutnya.

"Aku sudah mulai sejak sebelum Jumat."

Vanessa memejamkan mata.

Ini masalah, pikirnya.

Bukan karena Damian menyentuhnya terlalu banyak. Justru karena pria itu tahu kapan harus berhenti. Bukan karena rumahnya terlalu besar. Justru karena ia membuat rumah itu terasa tidak menelan. Bukan karena seksnya terlalu cocok. Justru karena setelahnya, ia masih menanyakan apakah Vanessa mau teh jahe atau air biasa.

Menjelang malam, Vanessa pulang dengan mobil sampai lobby kost, sesuai kesepakatan. Damian tidak turun berlebihan, tidak mencium di depan tetangga, tidak membuat panggung. Ia hanya menyerahkan tote bag berisi sisa sup jamur dan satu kotak kecil.

Senin setelahnya, mereka kembali menjadi Pak Damian dan Bu Vanessa seolah weekend itu dilipat rapi lalu disimpan di laci terkunci. Di kantor, Damian tetap menegur revisi angka yang kurang jelas. Vanessa tetap membalas dengan data yang lebih tajam daripada pisau. Tidak ada pesan genit di jam kerja. Tidak ada panggilan pribadi lewat interkom. Kalau mereka berpapasan di pantry, Damian hanya bertanya soal laporan, bukan soal tubuhnya. Justru disiplin itu membuat Vanessa semakin sulit pura-pura semua ini hanya permainan. Damian tidak mengambil ruang kerjanya. Ia menjaga ruang itu tetap milik Vanessa, lengkap dengan reputasi yang ia bangun sendiri.

"Apa ini?"

"Bukan aksesori."

Vanessa membuka sedikit. Isinya earplug baru, bagus, warna gelap.

"Untuk pasar pagi. Kalau kau ingin tidur lebih lama."

Hadiah kecil itu membuat pagar kawatnya bergetar lebih keras daripada semua rayuan.

"Damian."

"Ya?"

"Ini curang."

"Aku tahu."

Ia tersenyum tanpa penyesalan, lalu mobilnya pergi.

Vanessa naik lima lantai dengan tote bag di tangan dan dada yang terasa terlalu penuh. Di depan pintu kamar, ia berhenti, menyadari satu fakta menyebalkan.

Ia sudah menunggu Jumat berikutnya.

Dan itu, bagi perempuan yang selalu mengaku tidak menunggu siapa pun, jauh lebih berbahaya daripada semua aksesori di rumah Damian yang terlalu tenang itu, terlalu mudah dirindukan diam-diam oleh tubuh dan hatinya sendiri.

1
Elin Erliana
🙏👍💪
Afrilho
aku suka Analogi di setiap kata saat Nessa dan Damian berbicara menurut ku novel ini lumayan berat makanya kurang peminatnya tapi aku cukup salut dengan Authornya dia tetap menulis menyajikan bacaan yg beda yg membuat kita readers harus meneliti,menghayati, sekaligus mencermati apa yg di sampaikan penulis untuk pembaca yg di kemas dengan anologi atau deskripsi setiap chapter atau babnya terus lanjutkan jangan berhenti karena seperti kata Damian ini belum bukan berarti tidak kata belum hanya sebuah koma dari akhir kalimat yg tak tau ada berapa kata lagi menuju titik.🙏
Afrilho
aku terharu 🥹🥹
Afrilho
nyesek dengar kata2 Damian, untuk pertama kalinya Nessa merasa di Hargai dan di perlakukan seistimewa itu tanpa paksaan di mengerti meski Damian harus menekan Ego demi kenyamanan Nessa
Irsyad
sulitnya memahami ini novel tapi ketika sudah paham jadi menarik.
Afrilho
wahh🤭🤭🤭 aku terhanyut ol h tatapan mu pak direktur 🤭 makanya cakar dan tubuh ini maju dan mulai menerkammu🤭🤭
Afrilho
novel pertama yg ku baca yg kalau di baca perlu berulang ulang di karenakan terkadang terlalu sulit di pahami karena banyak istilah di dalamnya yg harus di teliti maknanya salut si sama kakak authornya cerdas👍👍
Afrilho
padahal bagus loh, gak typo juga awal mula yg bagus semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!