Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Catur Sang Patriatriks
Keheningan di ruang rapat utama Pratama Group bagaikan ketenangan sebelum eksekusi mati. Asap cerutu milik Kakek Silas membubung tipis, mengalir kaku di bawah sorotan lampu kristal megah. Di sepanjang meja mahoni raksasa, para direksi senior menahan napas dengan pelipis berkerat keringat dingin, menanti kehancuran Sang Patriark tua.
Namun, dugaan semua orang meleset total.
Kakek Silas tidak membelalak, tidak juga menunjukkan raut pucat pasi saat melihat stempel emas Vane & Co senilai lima puluh triliun rupiah yang dilempar Clarissa tepat di depan dadanya.
Sang Patriark tua justru bersandar santai di kursi kepresidensialnya. Bibir keriputnya perlahan terangkat, membiarkan tawa terkekeh bernada sarkastik yang amat dingin dan bergaung bagai gesekan pisau memecah ruangan.
Heh... heh... heh...
"Luar biasa, Clarissa. Benar-benar di luar perkiraanku," ujar Kakek Silas dengan suara berat yang dipenuhi daya tekan intimidatif luar biasa. Ia mengusap berkas itu dengan ujung jarinya yang keriput tanpa menyentuh stempel emasnya. "Kau membuktikan bahwa dirimu bukan lagi sampah tak berguna yang bisa dibuang ke danau, melainkan alat yang amat tajam bagi klan Pratama."
Tatapan mata Kakek Silas seketika berubah mematikan. Manik matanya yang membeku menusuk lurus ke dalam iris keemasan Clarissa.
"Tapi kau terlalu hijau untuk bermain catur denganku, Cucu Menantu," sambung Silas dingin. "Kau pikir hanya dengan selembar dokumen investasi ini, kau bisa langsung menundukkanku?"
Sret! Sret!
Tanpa keraguan sedikit pun, Kakek Silas membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen pengalihan sepuluh persen saham veto milik klan, lalu melempar berkas itu hingga mendarat tepat di hadapan Clarissa.
"Sepuluh persen saham veto ini resmi milikmu. Aku Silas Pratama, tidak pernah ingkar janji," desis Silas serak. Namun, sebelum Clarissa menyentuh kertas itu, Kakek Silas memajukan tubuhnya, menatap Clarissa dan Dominic dengan binar pancingan yang teramat beracun.
"Tapi sepuluh persen ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kendali mutlak perusahaan ini," sambung Kakek Silas, suaranya bergaung penuh penawaran mematikan. "Aku memberikan kalian berdua tantangan mutlak. Jika kau dan Dominic bisa memberikan seorang keturunan berdarah murni Pratama... aku akan menyerahkan seluruh pimpinan dan sisa saham kendaliku kepada Dominic!"
Deg!
Suasana ruangan seketika meledak oleh bisik-bisik kaget para anggota dewan!
Bukannya terkejut atau tersanjung, Clarissa justru mendongak. Tawa merdu yang teramat dingin dan sarat akan cemoohan meluncur dari bibir merah menyalanya. Tawa Ratu Victoria yang memecah keheningan dengan keanggunan yang menyengat.
"Dominic?" bisik Clarissa tajam, matanya berkilat penuh dominasi yang menindas. "Aku yang hamil? Aku yang melahirkan dan mempertaruhkan nyawaku... tapi Dominic yang menjadi pemenangnya dan mengambil alih perusahaan? Sungguh tidak adil..."
Kakek Silas menyipitkan matanya, tertawa terkekeh dengan nada meremehkan. "Lalu apa maumu, Clarissa? Kau ingin menjadi pemimpin utama perusahaan ini, begitu?"
Silas memajukan tubuhnya, menatap Clarissa dengan pandangan merendahkan dari balik kacamata tajamnya.
"Sadar diri, Clarissa!" bentak Silas dingin dan tajam. "Posisi Pemimpin Utama di Pratama Group HANYA untuk keturunan asli berdarah Pratama! Bukan untuk cucu menantu sepertimu! Tak peduli sehebat apa pun dirimu atau dari mana kau berasal, kau tetaplah orang luar!"
Dominic menegang di samping Clarissa, rahangnya mengetat kaku mendengar penghinaan terbuka dari sang Kakek, namun matanya tetap terkunci pada reaksi istrinya.
Clarissa tidak tersinggung sedikit pun. Ia justru tersenyum—sebuah senyuman paling memikat, dingin, dan berbahaya yang sanggup meremukkan pertahanan siapa pun.
"Oh, tenang Kakek Silas... aku tidak senaif itu," desis Clarissa amat merdu, melangkah satu titik mendekati meja kepresidensial. "Aku paham betul aturan main berdarah di klan ini. Namun..."
Clarissa menopang kedua tangannya di atas meja, menatap Silas dari atas dengan aura kepemimpinan yang meluap pekat.
"...aku ingin anakku nanti yang menjadi Pemimpin Utama perusahaan ini. Bukan Dominic."
DUAK!
Kata-kata itu menghantam ruangan bagaikan petir di siang bolong!
Kakek Silas terpana sejenak sebelum akhirnya tertawa marabahaya yang amat keras.
"Ha ha ha! Luar biasa! Sombong sekali kau, Clarissa!" seru Kakek Silas dengan tawa mengejek. "Bahkan hamil pun kau belum tentu bisa... tapi kau sudah bertingkah seolah-olah rahimmu memegang kendali atas perusahaan ini!"
Clarissa mengambil berkas sepuluh persen sahamnya, mengusap permukaannya dengan keanggunan mutlak tanpa memedulikan tawa Silas.
"Kita lihat saja nanti, Kakek Silas..." bisik Clarissa amat halus namun mematikan. "...siapa yang akhirnya bersujud di depan anakku."
Dalam Mobil Rolls-Royce Phantom (Perjalanan menuju Rumah Sakit).
Kaca tebal berpenyekat suara telah diturunkan. Di dalam kabin penumpang yang remang dan melaju kencang, ego dan rasa penasaran yang membakar dada Dominic meledak tanpa kendali.
Dominic mencegat bahu Clarissa, menghempaskan tubuh anggun wanita itu ke sandaran kursi kulit mahal dan menguncinya rapat dalam cengkeraman kedua tangannya yang tegap. Matanya memerah dipenuhi rasa terancam yang mendalam.
"Anakmu yang akan jadi Pemimpin Utama? Bukan aku?" desis Dominic serak, suara beratnya menyapu bibir merah menyala Clarissa yang berjarak hanya beberapa senti. "Kamu baru saja mengesampingkanku di depan Kakek Silas dan seluruh dewan, Clarissa!"
Di bawah tekanan gairah dan emosi Dominic yang membara, Clarissa tidak menghindar atau bersikap dingin. Tatapan matanya yang tajam perlahan melunak, menyisakan kehangatan manipulatif yang amat memikat.
Jemari lentiknya yang dingin naik perlahan, merayap lembut menyentuh rahang tegas Dominic, mengusap garis wajah suaminya dengan kelembutan yang melumpuhkan seluruh pertahanan Sang CEO.
"Suamiku..." bisik Clarissa amat lembut, suaranya mengalun hangat tepat di dada tegap Dominic, menyentuh titik paling sensitif di dalam diri pria itu. "Anakku... adalah anakmu juga."
Cengkeraman Dominic di bahu Clarissa mendadak melemah, matanya terkunci pada binar lembut namun sarat akan pengaruh mutlak dari manik mata istrinya.
"Anak kita baru bisa menduduki puncak perusahaan kelak atas perintahmu dan di bawah naungan kekuasaanmu," lanjut Clarissa amat manis, menyusupkan jemarinya ke selipan rambut belakang Dominic, menarik napas pria itu makin mendekat. "Aku tidak pernah berniat mengesampingkanmu, Dominic. Aku hanya ingin mengamankan posisi keluarga kita untuk ke depannya... Bukan untuk diriku saja, tapi juga untuk dirimu, Sayang."
Kata "Sayang" yang terucap begitu sensual dan matang dari bibir Clarissa seketika menghantam dada Dominic bagaikan sengatan listrik. Rasa curiga dan amarah pria itu lebur sepenuhnya, berganti menjadi gairah dan keterikatan emosional yang kian pekat.
Sudut bibir Dominic terangkat membentuk senyuman tipis yang berbahaya. Cengkeraman tangannya yang semula menahan bahu kini turun perlahan, melingkari pinggul halus Clarissa dan menarik tubuh wanita itu merapat tanpa jarak.
"Kamu pandai sekali memutarbalikkan jiwaku, Clarissa..." bisik Dominic serak, menundukkan kepalanya hingga bibirnya menyapu lembut garis leher halus sang istri. "Kalau begitu, mari kita amankan posisi perusahaan itu bersama-sama."
Clarissa menyunggingkan senyuman Ratu yang paling memikat di balik bahu Dominic. "Selesaikan dulu urusan di rumah sakit, Suamiku. Aku tidak suka ada kecoa seperti Helena yang masih bernapas lega sementara kita bersiap menguasai perusahaan ini seutuhnya."
sangat menarik sekali