"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Niat hatinya padahal tadi cuma ingin mengantarkan rantang nasi makan siang untuk bapaknya di sawah, tapi malah berujung kena apes terpeleset. Mana jatuhnya persis di depan Abi lagi.
Ia mencoba membilas tanah liat di roknya menggunakan air mengalir dari irigasi sawah di dekat pematang. Tapi bukannya bersih, noda cokelat basah itu justru makin melebar dan menempel erat di kain rok sederhananya.
Kayla akhirnya memilih melangkah pulang dengan baju dan rok belakang yang kotor belepotan.
Baru saja melintas di pinggir jalan desa dekat pemukiman, kang Pardi yang sedang memperbaiki pagar bambu rumahnya mendadak menghentikan pekerjaannya. Pria itu menatap heran ke arah Kayla dari atas sampai bawah.
"Kenapa, Neng? Kotor amat itu roknya," tanya Kang Pardi sambil melangkah mendekati pinggir jalan. Senyum menggodanya terkembang.
"Aa tebak... pasti Neng Kayla habis jatuh ya?"
Bulu kuduk Kayla mendadak merinding mendengar nada suara Kang Pardi yang sok perhatian itu.
"Iya, kang. Kepleset..." sahut Kayla singkat dan bernada datar. Tanpa mau berlama-lama, ia mengangguk pelan.
"Mari, kang"
Namun Kang Pardi malah maju satu langkah, menatap Kayla dengan raut wajah yang dibuat-buat khawatir.
"Kalau ada apa-apa bilang sama Aa ya, Neng. Ada yang sakit ndak? Nanti Aa ajak berobat ke mantri."
Kayla makin tidak nyaman dengan perhatian berlebihan itu.
"Makasih, ndak perlu, kang. Saya baik-baik aja," tolak Kayla.
Tanpa menunggu balasan dari Kang Pardi lagi, Kayla langsung ngeloyor pergi bergegas menuju rumahnya, meninggalkan Kang Pardi yang masih berdiri menatap punggungnya dari belakang.
Sesampainya di rumah, Kayla buru-buru menutup pintu depan dan mengembuskan napas lega. Ia melangkah cepat menuju area belakang, berharap bisa langsung ngacir ke kamar mandi tanpa ketahuan.
Namun takdir berkata lain. Bu Sulastri yang sedang mengulek bumbu di meja dapur mendadak menoleh mendengar langkah kaki terburu-buru putrinya. Pandangan mata Bu Sulastri langsung tertuju pada rok bawah Kayla yang basah dan berlepotan tanah cokelat pekat.
"Lho! Kamu kenapa toh, Nduk?" tanya Bu Sulastri terkejut, menghentikan ulekkannya dan mengamati Kayla dari ujung kepala sampai kaki.
"Kok rokmu berlepotan lumpur gitu?"
"Kepeleset di jalan dekat pematang sawah tadi, Bu..." bisik Kayla pelan, menyembunyikan rasa malunya.
Bu Sulastri menggeleng-gelengkan kepala, antara kasihan dan ingin tertawa melihat raut pias putrinya. "Duh, Nduk... Nduk... jalan kok ndak tatan-tatan. Lah terus bapakmu sudah makan belum tadi?"
"Sudah, Bu. Rantangnya diserahin dulu baru Kayla kepeleset pas mau jalan pulang," jawab Kayla.
"Ya sudah, sana cepat mandi dan ganti baju," suruh Bu Sulastri seraya melambaikan tangan ke arah kamar mandi.
"Roknya langsung direndam pakai detergen, biar nodanya ndak membekas."
"Nggih, Bu," sahut Kayla cepat, langsung ngacir membawa pakaian gantinya sebelum sang ibu bertanya lebih banyak lagi.
......................
Abi memarkirkan sepeda motornya tepat di samping teras rumah sang ibu. Setelah mematikan mesin, lalu mengambil kantong plastik bening berisi pisang goreng hangat yang masih mengepul.
Dengan langkah santai dan bibir menyunggingkan senyum tipis, Abi melangkah menuju pintu depan sambil bersiul pelan menirukan alunan nada lagu yang sering diputar di radio.
"Assalamu'alaikum," sapa Abi seraya mendorong pelan pintu rumah kayu yang tidak terkunci.
"Wa'alaikumsalam..." sahut Bu Marni dari balik meja makan.
Belum sempat Abi menaruh pisang goreng di meja, dua pasang kaki mungil sudah terdengar berlari cepat dari arah kamar tengah.
"Ayah datang! Jajanannya mana, Ayah?!" pekik Akbar antusias sambil menghampiri ayahnya.
Di belakangnya, Aqil menyusul dengan langkah sedikit sempoyongan karena baru bangun tidur, tapi matanya berbinar melihat kantong plastik di tangan Abi.
"Pisang golengnya Aqil, mana Ayah?"
"Iya, ini pesanannya. Cuci tangan dulu sama nenek di dapur, baru makan bareng-bareng, ya."
"Jangan lari-lari, le! Nanti jatuh lagi!" seru Bu Marni dari dapur.
Tak lama kemudian, Bu Marni keluar dari dapur membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis, disusul Akbar dan Aqil yang masing-masing sudah memegang sepiring kecil pisang goreng hangat.
"Diminum dulu tehnya, Bi," ujar Bu Marni seraya meletakkan nampan di atas meja kayu.
"Nggih, Bu. Matur nuwun," jawab Abi. Ia meraih cangkir tehnya.
Aqil duduk di sebelah Abi, melahap pisang gorengnya dengan lahap sampai belepotan di sekitar bibirnya. Sementara Akbar makan dengan lebih tenang di dekat sang nenek.
"Ayah..." panggil Aqil menengadah, menatap ayahnya dengan mata bulatnya yang polos.
"Opo, Jagoan?" sahut Abi mengusap pipi anak bungsunya.
"Besok Kakak Kayla ke sini lagi ndak?" tanya Aqil pelan. "Aqil mau main sama Kakak Kayla lagi..."
Akbar yang mendengar nama itu ikut menoleh dan mengangguk cepat. "Iya, Ayah. Mas Akbar juga mau."
Mendengar celetukan polos kedua cucunya, Bu Marni melirik Abi dengan senyum-senyum sendiri. Abi sendiri sempat tertegun sejenak.
"Kok malah senyum-senyum sendiri toh, Bi. Ditanyai anak-anakmu lho iku."
Abi dengan cepat menetralkan raut wajahnya, meraup wajahnya sebentar untuk menutupi rasa canggung. "Nanti kalau Kakak Kayla ndak sibuk, tak suruh mampir ke sini ya," jawab Abi menenangkan kedua putranya.
"Makasih ayah!" seru Aqil senang, kembali melanjutkan kunyahan pisang gorengnya.
Abi + Kayla
Abi+ Dinda.
Kayla+ Pardi
Abi + Yanti