Indonesia
NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: KEGAGALAN DALAM PROMOSI

Malam hari telah tiba. Di saat kebanyakan orang mulai bersiap untuk tidur, Raka masih terjaga di atas kasurnya. Jarum jam belum menunjukkan pukul sembilan malam, terlalu awal baginya untuk memejamkan mata.

​Sambil bersandar, Raka mengecek ponselnya. Sebuah notifikasi grup baru di WhatsApp mendadak muncul. Grup itu dibuat oleh Aira, beranggotakan Raka, Dimas, Alya, dan sang pembuat grup sendiri.

​Raka: Grup apa ini?

​Aira: Grup obrolan lah!

​Dimas: Emang mau ngobrolin apaan? Kan bisa pribadi.

​Aira: Aduh, ya bisa bahas apa aja lah! Sekolah, komik, atau apa pun biar sekali kirim kebaca semua, jadi gak usah PC satu-satu. Gimana sih lu, Mas! Masa gak ngerti!

​Dimas: Ohh... gitu.

​Raka: Btw, udah diunggah belum komik pertama kita?

​Alya: Udah, tadi aku yang unggah.

​Raka: Sip!

​Dimas: Gimana reaksi orang-orang?

​Aira: Duh, gimana sih lu, Mas! Kan baru banget diunggah.

​Dimas: Ohhh... iya juga ya.

​Raka: Ada-ada aja lu, Mas.

​Dimas: Udah nih, gini doang obrolannya? Bosenin banget, ya gak, Rak?

​Raka: Iya, ayo main game aja biar bisa tidur.

​Dimas: Gas!

​Dimas dan Raka langsung keluar dari aplikasi WhatsApp lalu membuka game favorit mereka: Free Fire.

​Begitu berhasil masuk ke dalam lobby dan naik ke pesawat, Raka tanpa ragu menandai titik terjun tepat di Zona Biru—area looting item langka yang terkenal padat dan banyak pemain lain.

​Melihat indikator terjun menuju tempat bantai tersebut, Dimas langsung protes keras lewat mikrofon game.

​"Woy! Jangan turun di tempat ramai!"

​Raka tertawa kecil di balik mikrofonnya. "Ayolah, Mas! Biar lu jago, latih fleksibilitas lu!"

​"Fleksibilitas apanya! Yang ada gue cepet mati, Rak!" seru Dimas lewat mikrofon.

​Benar saja, baru juga diomongin, karakter Dimas langsung diserbu oleh satu squad musuh yang mendarat di tempat yang sama. Suara tembakan membabi buta memenuhi pendengaran mereka. Karakter Dimas langsung knock dan tewas seketika.

​"Tuh, kan! Apa yang gue bilang!" omel Dimas frustrasi.

​"Duh, bentar! Gue revive dulu pakai koin," balas Raka santai sambil mengendalikan karakternya mencari mesin revive.

​"Nanti kalau udah hidup, cari tempat lain aja!"

​"Oke, oke!"

​Mereka pun melanjutkannya dengan penuh antusiasme. Keasyikan mabar membuat mereka lupa waktu, hingga akhirnya rasa kantuk berat menyerang dan keduanya tertidur lelap dalam keadaan ponsel masih tergenggam di tangan.

​Keesokan harinya, petaka tiba. Raka dan Dimas sama-sama kesiangan gara-gara keasyikan main game semalam.

​Alhasil, setibanya di sekolah, mereka berdua kena hukuman dari guru piket. Sepanjang jam istirahat pertama, Raka dan Dimas disuruh berdiri tegak dan hormat kepada bendera Merah Putih di tengah lapangan.

​"Duh... Gini amat ya. Padahal cuma main game bentar," keluh Dimas sambil menahan pegal di tangannya.

​"Udahlah, Mas. Udah bener kita dihukum, masih aja lu ngelak," sahut Raka tanpa menoleh.

​"Ye..."

​Melihat mereka berdua dijemur di bawah terik matahari, Aira yang melintas bersama Alya dari jauh malah tertawa puas.

​"Hahaha! Makanya jangan keasyikan main! Akibatnya dihukum kan, tuh? Kulit kalian makin cokelat deh, hahaha!" ejek Aira girang.

​Dimas mendelik kesal. "Apalah! Mending lu gak usah ikut campur!"

​"Yaudah, daripada makin menderita, kami pergi dulu ya. Bye!" pamit Aira melambaikan tangan.

​"Y."

​"Bye,"

​"Judes amat lu jawabnya, Mas. Cuma 'Y' doang?" protes Dimas.

​"Malas menanggapi, soalnya, Mas," balas Raka datar.

​"Ohh..." Dimas memperhatikan Raka dari samping. "Btw, gue lihat-lihat lu gak kepanasan ya? Lu nyerap panas, kah?"

​"Anjir, dikira ultraviolet kali gue! Ya gak lah!" Raka sewot.

"Ini karena gue udah sering panas-panasan, jadi lama-kelamaan tubuh gue beradaptasi."

​Dimas malah terkekeh. "Ohh, gitu. Tapi bener loh yang lu bilang, muka lu kayak ultraviolet, hahaha!"

​"Apalah! Lu aja kali yang ultraviolet!"

​"Lu aja!"

​Melihat pertengkaran kecil itu, seorang guru yang melintas di koridor mendadak menghentikan langkah dan menegur keras.

​"Hey! Yang bener tangannya! Jangan malah ngobrol!"

​"Siap, Pak!" sahut mereka serempak, mengencangkan posisi hormat.

​Setelah guru tersebut melengos pergi, barulah mereka bisa bernapas lega.

​"WTH... Untung Pak Guru tadi gak nambah durasi hukuman. Kalau ditambah bisa berabe kita, Rak."

​"Haa... Iya. Makanya jangan nyenggol-nyenggol gue mulu," gumam Raka pelan.

​"Duh, kalau diam doang bosan dong!"

​"Tahan makanya, Mas. Kayaknya sehari lu diam gak bisa deh. Ada aja cara lu buat cari masalah."

​"Nah, itu tahu!" balas Dimas bangga.

​"Bikin capek aja lu, Mas..."

​Mereka melanjutkan hukuman sampai bel tanda istirahat berakhir akhirnya berbunyi. Kedua cowok itu langsung merosotkan tangan yang sedari tadi rasanya mau copot.

​"Gila, lama banget! Pengen rebahan aja rasanya. Kita ke taman aja yuk, Rak!" ajak Dimas memegangi bahunya.

​"Gaskan lah! Gue juga lelah nih."

​Mereka melangkah gontai menuju taman sekolah, lalu tanpa ragu menjatuhkan diri dan rebahan di atas rumput yang teduh.

​"Wah, enak banget di sini ya, Rak?"

​"Iya lah. Kalau gini mah gue bisa gak tidur di rumah, tidur di sini aja biar gak telat lagi, hahaha!" seloroh Raka.

​"Bisa aja lu, Rak," tawa Dimas. "Omong-omong, habis ini mau langsung ke klub atau gimana?"

​"Hmm, ke klub aja. Tapi nanti dulu, habis istirahat bentar lima menit baru kita ke sana."

​"Sip."

​Mereka memejamkan mata sejenak sambil mengobrol santai mengusir lelah. Tepat setelah lima menit berlalu, langkah kaki mendekat. Alya dan Aira menghampiri mereka.

​"Widih, enak banget kalian rebahan di sini! Bukannya rebahan di klub aja sekalian ngerampungin tugas!" nasihat Aira sambil berkacak pinggang.

​"Aduh, enakan di sini, Aira! BISA REBAHAN DAN BEBAS!" seru Dimas membela diri.

​Aira menghela napas panjang, namun rasa kesalnya mendadak mereda seolah teringat sesuatu. "Ohh... Yaudah, kalian cepetin rebahannya. Gue tunggu kalian di klub!"

​"Iya," sahut mereka berdua.

Dimas: “Hmm, enaknya ngobrol apa lagi, Rak?”

Raka: “Hmm, udahlah. Nggak ada topik yang muncul di kepala gue. Mending kita ke klub.”

“Okelah.”

Mereka bangun dari rebahannya, lalu menyusul Aira dari belakang yang masih terlihat meskipun sudah agak jauh.

“Oi!”

“Apaan sih, Mas?!”

“Ngagetin aja!”

“Hahaha, biar seru lah!”

Melihat mereka saling bertengkar kecil, Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. lalu melerai mereka.

“Udahlah, jangan bikin ribut. Nanti kalau udah sampai koridor, malu kalian!”

Dimas: “Hmm, oke lah, Rak.”

Mereka mulai memasuki koridor. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka pun tiba di klub mereka.

Namun, begitu masuk, mereka langsung melihat Alya yang sedang panik.

“Wah, syukurlah kalian datang!”

Aira: “Kenapa, Al? Nggak biasanya lu panik.”

“Ini akun yang kita gunakan buat promosi komik pertama kita... dibajak!”

Aira: “Lah, serius?!”

Aira langsung mendekat.

“Terus gimana? Ada yang lihat nggak? Kalau nggak ada, kita bikin lagi aja!”

“Ada...”

Alya menarik napas sebentar.

“Udah ribuan malah. Dan kita bahkan bisa dapat sekitar satu jutaan.”

Dimas: “ANJIR, SERIOUSLY?! Wah, nggak nyangka!”

Raka: “Bagus sih, ada yang lihat. Tapi gimana cara balikin akunnya?”

Mereka semua terdiam.

Mereka mulai berpikir sejenak, mencoba mencari cara untuk mendapatkan kembali akun tersebut.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung menemukan jawabannya.

Suasana klub yang sebelumnya ramai pun mendadak menjadi tegang.

Masalah mereka ternyata belum selesai.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!