Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 : KEHADIRAN YANG MENGUBAH SUASANA

...BAB 25...

...KEHADIRAN YANG MENGUBAH SUASANA...

Sejak kunjungan terakhir Bunda Ranti, rumah Rian mulai kedatangan tamu yang sama.

Clarissa...

Awalnya, perempuan itu hanya datang sesekali. Alasannya pun selalu sederhana, kebetulan lewat setelah pulang kerja, sedang ada urusan di dekat komplek. Namun, karena tinggal di sebuah apartemen di kota yang sama dengan Rian, jarak bukan lagi alasan untuk tidak berkunjung.

Terlebih lagi, Ranti sudah beberapa kali menghubunginya. Bukan untuk menanyakan kabar Clarissa, melainkan untuk menanyakan perkembangan hubungannya dengan putranya.

"Gimana, Sa? Rian sudah mulai terbuka sama kamu?"

Pertanyaan seperti itu yang membuat Clarissa merasa punya alasan kuat untuk terus datang.

Clarissa sendiri tidak keberatan. Ia memang belum mengenal Rian dengan baik, tetapi laki-laki itu cukup menarik perhatiannya. Rian terlihat dewasa, bertanggung jawab, dan sangat menyayangi putrinya.

Berbeda dengan laki-laki lain yang pernah dekat dengannya yang hanya sibuk membicarakan diri sendiri, Rian justru lebih banyak diam dan terlihat memikirkan keluarganya.

Hanya saja, ada satu hal yang membuat Clarissa sedikit kesulitan. Rian ternyata tidak mudah didekati seperti yang ia bayangkan.

Sore itu contohnya...

"Selamat sore, Mbak Wulan."

Wulan yang sedang merapikan ruang keluarga menoleh ketika mendengar suara dari arah pintu. Di tangannya masih ada beberapa bantal sofa yang baru saja ia tepuk-tepuk.

"Selamat sore, Bu Clarissa."

Clarissa tersenyum sambil mengangkat sebuah paper bag kecil berwarna pastel. Penampilannya selalu rapi, bahkan untuk sekadar berkunjung di sore hari.

"Rian ada di rumah, Mbak?" tanyanya.

"Ada, Bu. Pak Rian sedang bersama anak-anak di ruang bermain," jawab Wulan ramah.

"Oh, begitu." Clarissa melirik ke arah paper bag yang dibawanya. "Aku membawa hadiah kecil untuk Rana. Boleh aku menemuinya?"

"Tentu, Bu. Silakan."

Wulan mengantarnya menuju ruang bermain.

Di sana, Rana sedang duduk di atas karpet bulu bersama Delon dan Astrid. Mereka menyusun balok warna-warni menjadi sebuah menara yang tinggi, sementara Rian duduk di dekat mereka sambil membaca sesuatu dari ponselnya.

Sesekali ia mengingatkan, "Hati-hati, jangan sampai jatuh."

"Papa!"

Rana langsung bangkit begitu melihat Clarissa masuk bersama Wulan. Wajahnya ceria.

Namun, bukannya menghampiri Clarissa, gadis kecil itu justru berlari ke arah Rian.

Rian segera mengangkatnya. "Kenapa, Sayang?"

"Gendong!"

"Lho, dari tadi juga Papa duduk di sini."

"Mau gendong!" Rana merengek manja.

Rian tertawa kecil dan mengangkat Rana ke pangkuannya. Ia memang tidak pernah bisa menolak jika putrinya sudah meminta seperti itu.

Clarissa memperhatikan mereka dengan senyum ramah yang tetap ia jaga.

"Halo, Rana."

Rana menoleh sebentar. "Halo."

Clarissa berjongkok di hadapannya agar sejajar.

"Rana masih ingat Tante Clarissa?"

Rana mengangguk kecil, meskipun tangannya tetap memeluk leher Rian erat.

"Tante bawa hadiah, nih."

Mendengar kata hadiah, mata Rana langsung berbinar. Semua anak kecil memang begitu.

"Hadiah?" tanyanya antusias.

"Iya. Coba lihat."

Clarissa membuka paper bag itu dan mengeluarkan sebuah kotak berisi boneka kelinci berbulu lembut berwarna putih dengan pita pink di lehernya.

"Ini untuk Rana," kata perempuan itu sambil menyodorkannya.

Rana tampak sangat tertarik. Ia mengulurkan tangan, tetapi sebelum mengambilnya, ia menoleh kepada Rian. Sebuah kebiasaan yang diajarkan Wulan.

"Papa, boleh?"

Rian tersenyum. "Boleh. Bilang apa dulu?"

"Terima kasih, Tante."

Clarissa menyerahkan boneka itu. "Sama-sama, Sayang."

Rana memeluk boneka tersebut erat, lalu kembali bersandar pada Rian. Ia belum mau turun.

Clarissa tidak memaksanya untuk turun dari pangkuan ayahnya. Ia hanya duduk di dekat mereka dan mulai mengajak Rana berbicara dengan sabar.

"Rana suka kelinci?"

"Suka."

"Kalau begitu, nanti Tante bawakan buku cerita tentang kelinci, ya. Ceritanya seru."

Rana mengangguk.

Namun, beberapa saat kemudian, ia kembali mencari sosok yang lain.

"Mama Wulan!"

Wulan yang sedang berdiri di dekat pintu, merapikan sisa mainan, langsung menoleh.

"Iya, Sayang?"

"Lihat! Boneka kelinci!"

Rana mengangkat bonekanya tinggi-tinggi dengan bangga, seolah ingin menunjukkan piala kemenangannya.

Wulan tersenyum tulus. "Wah, lucu sekali. Rana suka?"

"Suka!"

"Kalau begitu, dijaga baik-baik, ya. Jangan sampai kotor."

Rana mengangguk bersemangat.

Clarissa memperhatikan percakapan mereka dalam diam.

Ia mulai memahami bahwa Rana memang sangat dekat dengan Wulan. Bahkan terlalu dekat untuk ukuran pengasuh.

Setiap kali mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, gadis kecil itu selalu ingin menunjukkannya kepada perempuan tersebut terlebih dahulu, bukan kepada ayahnya sendiri.

"Rana memang dekat sekali dengan Mbak Wulan, ya?" tanya Clarissa kepada Rian, mencoba terdengar biasa saja.

Rian mengangguk tanpa berpikir panjang. "Iya. Wulan sudah banyak membantu mengurus Rana sejak Nita sering pergi. Rana sudah anggap dia seperti mamanya sendiri."

"Oh, begitu." Clarissa tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk dan menyimpan informasi itu di kepalanya.

Ia tahu bahwa Rian baru saja bercerai dan tidak ingin membuat suasana menjadi tidak nyaman dengan membahas mantan istrinya. Ia cukup pintar untuk tidak menyentuh luka lama.

Kunjungan Clarissa berikutnya terjadi tiga hari kemudian.

Kali ini, ia datang membawa beberapa kue dari toko yang berada di dekat apartemennya. Kotaknya besar, terlihat mahal.

"Mbak Wulan, ini ada kue. Aku beli agak banyak. Sebagian untuk anak-anak," katanya sambil menyerahkan kotak itu di dapur.

"Wah, terima kasih, Bu." Wulan menerima dengan kedua tangan.

"Panggil Clarissa saja. Rasanya aneh kalau kamu terus memanggilku Bu."

Wulan tersenyum canggung. "Baik, Bu Clarissa."

Clarissa tertawa kecil. "Masih pakai Bu juga."

"Em... maaf, Clarissa."

"Nah, begitu lebih enak."

Mereka berbincang sebentar di dapur sebelum Clarissa bertanya tentang Rana. Nada suaranya dibuat seolah hanya basa-basi seorang tamu yang peduli.

"Rana biasanya suka makan apa, Mbak?" tanya Clarissa.

"Dia suka puding dan buah-buahan, tapi kalau sedang tidak mau makan, biasanya harus dibujuk dulu. Agak susah kalau lagi asyik main." jawab Wulan.

"Pantas waktu itu dia lebih banyak bermain daripada makan."

Wulan tertawa pelan. "Memang begitu. Kalau sudah asyik bermain, makan pun kadang lupa."

Clarissa mulai bertanya lebih banyak tentang kebiasaan Rana, makanan kesukaannya, sampai permainan yang biasa dilakukan anak itu.

Wulan menjawab dengan ramah.

Ia tidak punya alasan untuk bersikap tidak baik kepada Clarissa. Perempuan itu juga tidak pernah memperlakukannya dengan kasar seperti yang kadang dilakukan Bunda Ranti.

Namun, setiap kali Clarissa datang, ada sesuatu yang membuat Wulan merasa sedikit canggung.

Terutama ketika Rian berada di dekat mereka.

Seperti sore itu.

Rian baru pulang dari kantor ketika Clarissa sedang duduk di ruang keluarga bersama Wulan dan Rana. Ia masih memakai kemeja kerja yang lengan atasnya sudah digulung.

"Rian!" sapa Clarissa dengan ceria.

Rian menghentikan langkahnya di ruang tengah.

"Clarissa? Kamu datang lagi?"

"Iya. Kebetulan aku sedang lewat, habis meeting di dekat sini. Sekalian mengantarkan kue untuk anak-anak."

Rian mengangguk. "Oh, terima kasih."

Clarissa tersenyum. "Kamu baru pulang?"

"Iya. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Rapatnya molor."

"Pasti melelahkan, ya?"

"Lumayan."

Percakapan mereka sebenarnya biasa saja. Singkat dan formal.

Namun, Wulan yang sedang duduk di karpet bersama Rana mendadak merasa salah tingkah ketika Rian duduk di sofa yang tidak jauh darinya. Jarak mereka hanya sekitar dua meter.

Biasanya Rian akan langsung menggoda Rana atau ikut duduk di lantai bersama mereka. Kali ini tidak.

Ia berusaha tetap fokus pada mainan Rana.

"Mama Wulan, lihat!" Rana menunjukkan boneka kelincinya.

"Iya, Sayang. Boneka barunya lucu sekali."

"Dari Tante Clarissa!"

"Iya. Rana harus berterima kasih, ya."

"Udah!"

Rian tersenyum melihat putrinya. "Rana senang sekali dengan boneka itu."

Clarissa mengangguk. "Syukurlah kalau dia suka."

Lalu ia melirik Rian. "Kalau kamu sendiri suka kue yang tadi kubawa?"

"Aku belum mencobanya."

"Kalau begitu, nanti dicoba, ya. Aku sengaja memilih rasa cokelat karena kupikir kamu mungkin suka. Bunda Ranti bilang kamu suka cokelat."

Rian mengangguk sopan. "Terima kasih."

Wulan mendengar percakapan itu, tetapi memilih tidak ikut menanggapi. Ia hanya membantu Rana menyusun balok menjadi rumah-rumahan.

Anehnya, suasana yang biasanya terasa santai dan hangat ketika hanya ada dirinya, Rian, dan anak-anak kini terasa berbeda.

Lebih kaku. Lebih hati-hati. Rian pun merasakan hal serupa.

Ia beberapa kali hendak berbicara kepada Wulan, menanyakan apakah Rana sudah makan siang atau apakah Delon dan Astrid tidak rewel, tetapi ia mengurungkan niatnya karena Clarissa berada di dekat mereka.

Padahal, biasanya ia bisa dengan mudah menggoda Wulan atau ikut bercanda dengan anak-anak.

Sekarang, ia justru lebih banyak diam dan memainkan ponselnya agar tidak canggung.

Hari-hari berikutnya, Clarissa semakin sering datang.

Kadang ia membawa buku cerita bergambar untuk Rana. Kadang membawa camilan mahal, atau sekadar mampir untuk mengajak gadis kecil itu bermain selama setengah jam sebelum kembali ke apartemennya.

Ia berusaha mengenal Rana dengan lebih dekat, dan memang ada kemajuan.

Ketika Rana mau duduk di sampingnya, Clarissa akan mengajaknya membaca buku dengan suara yang lembut. Ketika Rana berlari menghampiri Wulan, Clarissa tidak memaksa.

Ia pura-pura tidak keberatan. Ia tahu kedekatan tidak bisa dibangun hanya dengan memberikan hadiah.

Suatu sore, Clarissa mencoba mengajak Rana bermain boneka dengan lebih intens.

"Tante punya boneka baru, nih. Rana mau main bersama Tante? Kita bikin dramanya."

Rana yang sedang duduk di dekat Wulan menoleh. "Boneka lagi?"

"Iya. Kita bisa pura-pura jadi keluarga kelinci. Mama kelinci, Papa kelinci, dan anak kelinci."

Rana tampak tertarik dengan ide keluarga kelinci. Ia mengambil boneka kelincinya, lalu berjalan mendekati Clarissa.

Clarissa tersenyum senang, merasa usahanya berhasil. "Nah, sini. Kita main bersama."

Rana duduk di sampingnya. Mereka mulai bermain, meskipun beberapa kali Rana tetap memanggil Wulan untuk menunjukkan sesuatu.

"Mama Wulan, ini anak kelincinya lagi bobok!"

"Iya, bobo yang pules, ya," jawab Wulan dari kejauhan.

Dari sofa, Rian memperhatikan mereka.

Ada rasa lega melihat Rana mulai nyaman dengan Clarissa. Setidaknya putrinya tidak menolak kehadiran perempuan itu.

Itu poin penting jika memang ibunya ingin menjodohkannya.

Namun, saat pandangannya beralih kepada Wulan, ia mendapati perempuan itu sedang merapikan mainan yang berserakan di pojok ruangan sendirian.

Keringat kecil terlihat di pelipisnya.

Entah mengapa, ia merasa ingin mengajaknya duduk dan beristirahat.

"Wulan," panggilnya pelan.

Wulan menoleh.

"Iya, Pak?"

"Sudah selesai beres-beresnya?"

"Sebentar lagi, Pak. Tinggal yang ini."

"Kalau begitu, nanti istirahat saja. Biar aku yang bereskan sisanya. Kamu dari pagi belum duduk."

Wulan tampak terkejut dengan perhatian itu.

"Tidak perlu, Pak. Saya bisa menyelesaikannya. Sudah biasa."

"Sudah, nggak usah dipaksakan. Dari tadi kamu sibuk terus."

Clarissa yang sedang bermain dengan Rana menoleh ke arah mereka.

Tatapannya berhenti sejenak pada Wulan.

Wulan menyadari hal itu dan langsung merasa canggung. Ia menunduk.

"Terima kasih, Pak. Tapi saya memang tinggal menyelesaikan sedikit lagi."

Rian akhirnya mengangguk.

"Baiklah." Ia kembali bersandar di sofa, tetapi pikirannya tidak di sana.

Diam-diam, ia merasa ada jarak yang muncul setiap kali Clarissa berada di rumah.

Bukan karena Clarissa melakukan sesuatu yang salah atau kasar.

Hanya saja, kehadirannya membuat Rian lebih berhati-hati dalam bersikap kepada Wulan.

Ia tidak ingin perhatian kecilnya disalahartikan oleh Clarissa.

Terlebih lagi, ia tahu ibunya berharap Clarissa menjadi perempuan yang kelak mendampinginya dan menjadi ibu untuk Rana.

Dan tanpa disadari, kehati-hatian itu justru membuat suasana rumah yang biasanya terasa hangat menjadi sedikit berbeda.

Bersambung...

1
Lisa
Moga dgn berjlnnya waktu..Wulan dpt menerima Rian.
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!