Indonesia
NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

I'm Standing Here

"Ara!!! Bara udah sadar!"

Sora yang sedari tadi menunggu di luar pintu kamar akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat Ara keluar bersama Marissa. Ia langsung berteriak antusias, memberitahukan bahwa Bara sudah sadar.

Sebenarnya, Sora sempat ingin mencari Ara dan Marissa di sekitar rumah sakit. Namun, ia takut kehadirannya justru akan mengganggu percakapan mereka. Karena itu, ia memilih menunggu di depan kamar.

"Serius?"

"Iya! Bara udah sadar!"

Tanpa menunggu lebih lama, Ara segera berlari masuk ke kamar.

Di dalam, masih ada seorang dokter yang sedang memeriksa kondisi Bara sekaligus melepaskan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Rupanya kondisi Bara sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Setelah dokter selesai memeriksa dan meninggalkan ruangan, Ara dan Marissa segera menghampiri Bara.

"Bara?"

Bara tersenyum tipis ketika melihat Ara dan kakaknya yang baru saja kembali dari Jepang. Sebenarnya ia ingin bangun dan menyambut mereka, tetapi sekujur tubuhnya masih terasa lemas.

"Kak Icha kapan datang?"

"Baru aja hari ini. Tadi Kakak juga ngobrol lama sama Ara."

Bara mengangguk pelan. Tatapannya kemudian beralih kepada Ara yang kini sibuk menciumi tangannya berkali-kali. Gadis itu bahkan terus menggumamkan rasa syukur dalam hati karena Bara akhirnya sadar dan baik-baik saja.

"Sayang?"

"Iya, sayang? Ada yang sakit? Atau kamu perlu sesuatu?"

"Peluk aku."

Marissa langsung tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah manja adiknya.

Sementara Ara justru tersenyum lebar. Tanpa ragu, ia langsung menyandarkan tubuhnya di dada Bara dan memeluknya erat.

Ia memejamkan mata, menikmati suara detak jantung Bara yang kini kembali berdetak dengan teratur.

Aku harap aku bisa terus mendengar suara detak jantungmu ini, Bara.

"Maaf, ya, Kak. Bara memang selalu bersikap manja akhir-akhir ini."

"Nggak apa-apa, Ara."

Marissa tersenyum.

"Kakak tadi juga sudah bilang, Kakak suka melihat hubungan kalian seperti ini. Kakak akan mendukung kalian sepenuhnya."

"Hmm..." Ara menoleh kepada Marissa. "Apa Kakak sekarang mau berdua aja sama Bara? Buat melepas rindu, mungkin?"

Marissa melirik Bara. Dari raut wajah adiknya, ia langsung tahu bahwa Bara memang ingin berduaan dengan Ara.

"Kakak masih ada urusan setelah ini. Kakak titip Bara dulu, ya? Besok Kakak mampir lagi sambil bawa makanan buat kalian semua."

"Oke."

Ara kemudian teringat sesuatu.

"Hmm, Kak?"

"Iya, ada apa, Ra?"

"Kakak mau diantar sama abangku nggak? Aku yakin Kak Marissa pasti capek karena baru aja datang dari Jepang, terus langsung ke sini."

Biru yang sedari tadi duduk sambil memandangi Marissa dari kejauhan langsung berdiri. Seolah-olah hanya menunggu kesempatan itu. Marissa sekilas melirik ke arahnya, lalu tersenyum.

"Oh, boleh. Kalau begitu Kakak pulang dulu, ya."

Ia menoleh kepada Bara.

"Bara, Kakak pulang dulu. Kamu jangan bandel."

"Astaga! Iya, Kak."

Marissa terkekeh, kemudian mengecup pipi Bara sekilas sebelum meninggalkan kamar bersama Biru yang sudah siap mengantarnya.

Samar-samar, Ara masih bisa melihat Biru mengatakan sesuatu kepadanya. Sepertinya ia mengucapkan terima kasih. Ara hanya tertawa kecil melihat tingkah kakaknya yang tampak begitu bahagia.

"Abang lo naksir Kak Marissa, ya, Ra?" Yohan tiba-tiba berkomentar. "Dari tadi ngeliatin mulu sampai matanya nggak kedip sama sekali. Gue kira dia tidur sambil melek."

"Iya, Han. Kayaknya dia memang udah tertarik sama Kak Marissa sejak waktu Kak Marissa jemput Bara di kampus."

"Oh, iya. Tadi dokter bilang udah waktunya Bara makan."

Yohan menunjuk ke arah Bara.

"Lo suapin, ya, Ra? Kan lo calon istrinya."

"Yohan!"

Mereka bertiga langsung tertawa melihat Ara yang mulai salah tingkah. Pada akhirnya, Sora, Yuvin, dan Yohan memilih keluar dari ruangan untuk memberikan kesempatan kepada Ara dan Bara menikmati waktu berdua.

Ara segera menaikkan posisi ranjang Bara agar ia bisa makan dengan nyaman. Setelah itu, ia mengambil makanan rumah sakit yang sudah tersedia di atas nakas.

"Kamu makan dulu, ya, sayang? Ini buburnya, mumpung masih hangat."

Bara mengangguk pelan. Retinanya terus mengikuti setiap gerakan Ara yang sedang mempersiapkan makanannya.

Ada sesuatu yang sebenarnya ingin ia katakan. Namun, niat itu kembali ia urungkan. Ia teringat bahwa dirinya harus merahasiakan semuanya. Ia tidak ingin seluruh usahanya berakhir sia-sia.

"Sayang."

"Hmm?"

"Aku mau ngasih kamu sesuatu."

Ara mulai menyuapi Bara bubur secara perlahan. Setelah beberapa suapan, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah buku harian yang kini selalu ia bawa ke mana-mana.

Untung saja ia masih sempat menuliskan semua kebersamaannya dengan Bara setiap hari. Meskipun sebagian besar ditulis dengan sistem kebut semalam. Dan hari ini, ia ingin memberikan buku itu kepada Bara.

"Buat aku?"

Ara mengangguk.

"Kamu ngasih aku buku diary kamu? Apa nggak masalah kalau isinya aku baca?"

"Baca aja."

Ara tersenyum gugup.

"Tapi kamu jangan kaget."

Bara membuka halaman pertama buku harian tersebut. Kemudian ia mulai membaca.

Ara berusaha menyembunyikan kegugupannya sambil tetap menyuapi Bara. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia benar-benar penasaran seperti apa reaksi Bara ketika mengetahui bahwa gadis yang berada di hadapannya ini bukan sekadar Ara yang ia kenal dari masa lalu.

Melainkan Ara yang datang dari masa depan. Ara yang kembali hanya untuk menyelamatkannya.

Sesekali Ara mencuri pandang ke arah Bara. Ekspresi wajah laki-laki itu sulit dijelaskan.

Ada keterkejutan. Ada kebahagiaan. Namun, entah kenapa, ada pula sesuatu yang membuat Ara merasa bingung. Seolah-olah Bara sedang membaca sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui.

Beberapa saat kemudian, Bara menutup buku harian tersebut. Ia kembali menatap Ara dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ara mendadak teringat perkataan Marissa sebelumnya.

"Bara sudah berhasil melakukan semua keinginannya, meskipun hanya diberi waktu sedikit untuk kembali."

Kembali? Apa maksudnya?

Pikiran Ara mulai berkelana ke mana-mana.

Jangan-jangan... Bara juga mendapatkan kesempatan untuk kembali ke masa ketika ia masih hidup? Mungkin Bara hanya diberi waktu beberapa hari untuk mengungkapkan perasaannya kepada Ara, membahagiakannya, lalu kembali ke tempat di mana ia seharusnya berada setelah waktunya habis.

Ara mengerutkan kening. Gila. Efek terlalu banyak nonton film dan drama fantasi. Otaknya mulai mengarang teori yang aneh-aneh.

Padahal, kalau dipikir-pikir, kejadian yang dialaminya sendiri sudah jauh lebih aneh dan tidak masuk akal daripada cerita film mana pun.

"Gimana?"

Ara berusaha menutupi kegugupannya.

"Khayalanku aneh banget, ya?"

Bara tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju kepada Ara. Sedari tadi, ia bahkan tidak melepaskan pandangan sedikit pun dari wajah gadis itu.

Ara mulai salah tingkah. Ia kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil kembali buku hariannya. Namun, Bara dengan cepat menyembunyikan buku tersebut di bawah bantal.

"Ara, buku ini udah jadi milikku."

Senyumannya mengembang lebar.

"Kamu mau ngambil buku ini lagi? Nggak bisa, sayang."

"Bara!"

Ara mengerucutkan bibir. Namun, Bara justru semakin tersenyum. Entah karena sangat bahagia atau karena alasan lain, yang jelas, Ara sama sekali tidak bisa membaca pikiran laki-laki itu.

Let's meet in the future and wait for me, Ara.

"Bara!"

"Ada apa, sayang?"

"Kenapa kamu nggak ngomong apa-apa setelah baca diary-ku?"

Ara menatapnya penasaran.

"Apa kamu nggak punya pertanyaan sama sekali?"

"Buat apa aku nanya?"

Bara menggenggam tangan Ara dengan lembut.

"Semuanya udah jelas, sayang. Apa yang perlu aku tanyakan lagi, hmm?"

Ara terdiam.

"Emangnya kamu percaya sama ceritaku itu?"

Bara tersenyum.

"Apa pun kalau itu menyangkut kamu, aku percaya."

Ia mengusap punggung tangan Ara dengan ibu jarinya. Ara masih menatapnya dengan kebingungan. Bagaimana bisa Bara mempercayai ceritanya semudah itu?

Teman-temannya saja sempat kesulitan menerima cerita tentang perjalanan waktu yang dialaminya. Bahkan Biru pun masih menganggap semua itu tidak masuk akal.

Lalu, kenapa Bara bisa begitu mudah mempercayainya? Pasti ada sesuatu yang tidak beres.

"Sayang."

"Hmm?"

"Apa kamu mau mengabulkan permintaanku?"

Ara mengerutkan kening.

"Aku punya tiga permintaan. Dan aku bakal menyebutkan permintaanku satu per satu setiap harinya."

Ara membeku.

Tiga permintaan? Kenapa seakan-akan dia tahu kalau tiga hari ke depan adalah waktu terakhirku di sini? Bara... apa kamu juga diberi kesempatan yang sama seperti aku?

Namun, Ara memilih menahan semua pertanyaannya.

"Oke."

Ia mencoba tersenyum.

"Sebutkan permintaan pertama kamu."

Bara ikut tersenyum.

"Besok ajak aku jalan-jalan, ya, sayang?"

Ia menggenggam tangan Ara sedikit lebih erat.

"Ada yang mau aku katakan sama kamu. Tapi jangan di sini."

Bara menatap Ara lekat-lekat.

"Di taman aja."

Ara mengangguk.

"Oke. Siap, Kapten."

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!