Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengganggu
"Pak Kaivalya meeting pukul dua siang di perusahaan Adiwinata grup, pukul empat ada meeting bersama rekan bisnis dari Canada dan malam hari ada undangan pernikahan Putri dari pak Rafka Haikal Prayoga" ucap Diandra yang sedang di telpon seseorang.
"Jadi tidak ada jadwal yang kosong untuk hari ini?" tanya orang itu
"Tidak ada Bu Nathalie, jadwal pak Kaivalya penuh selama satu bulan ini" jawab Diandra
"Aku hanya ingin bertemu dengannya, kami akan bertunangan kenapa dia tidak bisa meluangkan waktu untukku, kamu kan sekertarisnya, apa tidak bisa kamu menyisipkan jadwal bertemu denganku meski hanya satu jam?" tanya perempuan bernama Nathalie itu
"Maaf Bu, saya hanya di gaji untuk mengatur jadwal kerja pak Kaivalya saja, jadi saya tidak berani korupsi waktu, apalagi pak Kaivalya ini orangnya perfeksionis, waktu itu sangat berharga untuk beliau" ungkap Diandra
"Alah bilang saja kalau kamu juga naksir Kaivalya kan? kamu yang selalu bersama dia setiap hari jadi pasti kamu menggunakan kesempatan itu untuk menggodanya" sinis Nathalie
"Saya tahu batasan saya Bu, saya ke kantor ini untuk bekerja, bukan untuk menarik perhatian orang" jawab Diandra merasa kesal lalu menutup sambungan telepon tanpa peduli akan di marahi atau akan di pecat, itu lebih bagus dan pastinya Diandra akan lebih senang kalau di pecat.
"Dasar lampir, dia pikir aku tidak tahu kalau dia itu hanya mengada ada mengatakan akan bertunangan dengan bos jahat itu! mana mau dia sama perempuan, dia kan .... astagfirullah, tutup mulut kamu Diandra!" gumam Diandra memukul mulutnya karena takut di dengar oleh Kaivalya.
Ceklek.
"Pak" sapa Diandra berdiri dan menunduk hormat pada Kaivalya yang akan istirahat makan siang.
"Kamu tidak makan siang?" tanya Kaivalya
"Saya makan di sini pak, kan Bapak yang minta saya untuk tidak turun ke kantin supaya saat bapak butuh saya, saya ada di tempat" jawab Diandra
"Bagus kalau kamu masih ingat, saya mau makan siang di kafe Om Zaidan, kamu mau ikut?" tanya Kaivalya
"Hah..?"
"Ya sudah kalau tidak mau, kamu pasti tidak punya teman di sini ya, saya tidak melihat ada yang menemani kamu di kantor ini?" tanya Kaivalya lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Diandra.
"Mana bisa aku punya teman kalau mau berdiri dari kursi saja dia sudah sewot" gerutu Diandra
Tujuh bulan bekerja di sana Diandra tidak memiliki satu teman pun kecuali keluarga Danendra yang ada di kantor itu yang memang mengenalnya, bahkan kebanyakan karyawan di sana menyebutnya sombong karena berhasil menjadi sekretaris Kaivalya setelah dua tahun posisi itu kosong karena Kaivalya yang tidak suka jadwalnya di urus orang lain.
Dia mendapatkan perlakuan seperti itu juga bukan tanpa alasan, Kaivalya melarangnya untuk pergi dari mejanya meski hanya sekedar makan siang, itu karena pernah satu hari saat Diandra istirahat makan siang, Kaivalya sedang membutuhkan sebuah berkas dan Diandra tidak ada di sana, jadilah Kaivalya harus menunggu dan pertemuan penting harus di tunda bahkan sampai batal karena rekan bisnisnya sudah berangkat ke luar kota.
"Buka bekal dari mama dulu, masak apa ya, wah.... tempura udang, semua lelahku hilang setelah melihat ini" ungkap Diandra berbinar
Baru saja Diandra mau memakan makanannya, Kaivalya sudah berjalan ke arahnya sambil membawa dua kotak bento di tangannya, membuat Diandra kembali berdiri dan menunduk hormat pada Kaivalya.
"Kamu beli di mana itu? kamu kan belum turun untuk ke kantin?" tanya Kaivalya menatap kotak bekal Diandra.
"Ini saya bawa dari rumah pak, dari mama" jawab Diandra
"Kamu tidak perhatian sama bos sendiri, saya padahal sudah menyempatkan waktu saya yang sibuk untuk membeli bento ini dan kamu di sini makan sendiri tanpa menawari saya" ucap Kaivalya datar
"Tapi kan tadi bapak yang bilang mau makan di kafe Om Zaidan" jawab Diandra
"Ya harusnya..... ah sudahlah, tukar dengan ini, bekal kamu akan saya makan sebagai hukuman karena kamu tidak peka sama bos sendiri" ucap Kaivalya mengambil bekal Diandra dan memberikan bento yang dia bawa untuk Diandra.
"Pak... itu di buat mama khusus untuk saya pak, saya belum makan satupun" keluh Diandra tapi...
Brak.
Pintu ruangan Kaivalya langsung di tutup kasar dan Diandra hanya bisa pasrah kembali duduk sambil menatap bento di depannya dengan wajah memelas.
"Udangkuuuuu... mama, papa!" rengek Diandra menghentakkan kakinya.
••••••••••••
Di lobi kantor.
"Kamu tidak tahu siapa saya! saya ini calon tunangan pemimpin perusahaan ini!" bentak Nathalie yang memaksa ingin masuk tanpa membuat janji terlebih dahulu.
"Maaf Bu, tapi pak Kaivalya dan pak Langit sudah memerintahkan semua satpam dan penjaga untuk tidak mengijinkan orang yang tidak berkepentingan masuk ke dalam, itu berlaku sejak dua hari yang lalu" jawab satpam
"Hei! kamu resepsionis kantor ini kan, cepat hubungi Diandra, katakan kalau saya ada di sini! ini jam makan siang tidak mungkin Kaivalya masih bekerja!" bentak Nathalie
"Maaf Bu, pak Kaivalya mengatakan kalau tidak boleh ada yang menganggu Bu Diandra saat jam kerja ataupun istirahat, karena beliau banyak pekerjaan" jawab resepsionis itu
"Siapa dia sampai di perlakukan istimewa, aku yang calon istrinya! orang tua kami bahkan sudah bertemu!"
"Maaf sekali lagi Bu, kami hanya menjalankan perintah saja"
"Diandra pasti sengaja melakukan ini, tadi dia menutup panggilan seenaknya seperti dia seorang bos saja padahal posisinya di sini hanya seorang sekretaris" kesal Nathalie
"Ada apa ini?" Tanya Langit Arka Danendra yang merupakan CEO perusahaan Danendra grup.
Ada beberapa perusahaan yang di pegang keluarga Danendra, mulai dari yang bergerak di bidang ekspor impor, bidang properti, bidang teknologi dan juga konstruksi, dan kebetulan Langit mengurus perusahaan di bidang ekspor impor. Kaivalya Rajasa Danendra mengurus perusahaan konstruksi dan properti bersama keluarga Danendra yang lain, lalu ada Maadhava Malaka Danendra, adik bungsu Mahesa dan Mandala yang mengurus perusahaan teknologi yang dulu di miliki oleh Mandala.
"Om Langit, tolong Nathalie dong, Nathalie mau bertemu dengan Kaivalya tapi di tahan sama mereka" ucap Nathalie membuat Langit mengernyitkan alisnya.
"Kamu siapa? Saya tidak kenal kamu jadi jangan so kenal, saya tidak mau istri saya mengira saya selingkuh, pergi dari sini!" sinis Langit segera masuk bahkan meminta tisu basah untuk membersihkan tangannya yang di pegang Nathalie.
"Om Langit! Aku Nathalie anaknya Daddy Mizwar Bramantyo!" Panggil Nathalie tapi Langit tidak peduli.
"Katanya calon istri, ko pak Langit nggak kenal sama dia sih"
"Iya, pasti dia mengaku ngaku, pak Kaivalya itu kan terkenal dingin sama perempuan, mana mungkin dia mau sama bu Nathalie yang modelan Tante Tante"
"Ssttt.. dia melotot ke sini"
"Kalian lihat saja nanti kalau aku sudah menikah dengan Kaivalya, kalian akan aku pecat!" Kesalnya pergi dari sana