“Dia mantan terindahku, separuh ku ada bersamanya. Sedangkan kekasihku dia orang yang selama ini menjagaku, memberiku semangat, mengangkatku dari keterpurukan. Apa iya aku harus meninggalkan dia demi belahan jiwa ku, atau aku harus memilih dia dan meninggalkan belahan jiwaku untuk kedua kalinya , tapi rasanya sakit jika harus berpisah lagi dengannya” Dafa sangat dilema akan pilihannya.
“Ikutin saja apa kata hatimu” seseorang yang menghampirinya dan merangkul bahunya.
“Jika kamu mau bersama dia pergilah tinggalkan aku, aku sudah ikhlas dengan semua ini. Bukankah aku yang salah dalam hal ini? Aku yang telah meninggalkan kamu dan menyuruh kamu untuk bersama wanita lain.” Air matanya berjatuhan hati tak kuasa menahan rasa bersalah.
“Aku gak bisa ninggalin kamu aku juga gak bisa ninggalin dia, kamu belahan jiwa aku, separuh aku ada bersamamu. Aku ini memang egois aku gak bisa menentukan pilihanku aku gak bisa ninggalin kalian berdua, kalian berdua orang terpenting dalam hidupku setelah orang tua ku.” Menangis tersendak-tersendal dan memeluk mantannya
Dafa akhirnya memilih untuk menikah dengan Amanda.Dad
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safa Cantika humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
****
Aldi dan Kiki juga sedang mendaftar
“Ki coba lihat cewek itu” menunjuk seorang cewek yang berjalan sendirian di depan mereka
“Kaya Rara ya”
“Ah masa Rara kan dia di bali”
“Kembarannya kali ya”
“Bisa jadi kan kita di dunia punya 7 kembaran”
“Coba kita samperin yuk, mana tahu kan Rara beneran sekarang balik ke jakarta”
“Iya juga ya” Aldi dan Kiki berjalan ke arah cewek tersebut
“Hai” Aldi menyapa cewek itu memastikan ia benar - benar Rara
“Hai juga” sapa balik
“Iya kan ki mirip sicantik” bisik Aldi di telinga Kiki
“Iya mirip banget sama cantik” jawabnya pelan
“Cantik, kok kalian tahu nama panggilan aku”
“Iya ki benaran si cantik ini mah”
“Aku Aldi dan ini Kiki masak kamu lupa sama kita berdua”
“Ya ampun kiki aldi, guwe kangen banget sama lo, kalian gimana kabarnya”
“Baik baik banget ya bro” menepuk punda Aldi
“Lo kapan ke sini”
“Baru kemaren, guwe daftar kuliah di sini, lo berdua ngapain ke sini”
“Guwe dan kiki juga kuliah di sini, di jurusan apa lo”
“Ekonomi manajemen, lo”
“Wah sama kita juga”
“Yaudah guwe lanjut keliling dulu ya”
“Iya by Ra”
Rara pergi meninggalkan Aldi dan Kiki.
“Makin cantik ya si Rara”
“Iya, eh gimana tu ya kalau Rara sampai tahu kalau Dafa udah tunangan”
“Pasti sakit banget Ki, guwe aja gak sanggup bayangin”
“Iya pasti berat banget jadi Rara”
Rara dan yang lainnya sudah resmi menjadi mahasiswa universitas Bina Nusantara, Ospeknya sudah mereka lewati. Hari ini adalah hari pertama mereka semua masuk kuliah.
Rara berjalan sendirian menuju kelas. Dafa yang turun dari mobil berlarian menuju kelas, alhasil ia bertemu dengan Rara di tangga
“Kok kamu di sini” sapa Dafa yang melihat Rara
“Aku kuliah di sini, kenapa kamu gak suka kalau aku juga kuliah di sini” jawabnya ketus
“Gak kok aku suka, kamu masuk di kelas mana”
“Itu di ruang ix c”
“Aku juga di ruang itu, kamu ambil jurusan ekonomi manajemen juga”
“Iya”
Ya allah gimana ini, manda juga kan ambil jurusan itu sama kaya aku, nanti gimana kalau mereka bersama, pasti membuat Rara bakalan sakit hati lagi, batin Dafa
“Aku senang kamu bisa kuliah bareng aku jadi bisa dekat lagi sama kamu, jadi ingat waktu SMP dulu aku sering banget lihat wajah kamu ketika guru lagi menjelaskan”
“Oh ya, ya ampun sampai segitunya kamu, aku juga senang banget bisa satu kampus sama kamu satu jurusan lagi, aku minta maaf ya Daf udah ninggalin kamu” air matanya keluar
“Iya cantik semua udah lewat, sekarang kita lewatin apa yang ada di depan kita, yang jelas di hati aku sampai detik ini masih ada kamu”
“Makasih ya”
Dafa menghapus air mata di pipi Rara. “Kamu senyum dong, aku kangen senyum manis kamu”
Rara tersenyum melihat Dafa. Ya Allah terima kasih aku masih diizinkan dekat dengan Dafa walaupun ada pembatas diantara kami yaitu tunangannya Dafa, batinnya. “Kamu ganteng ya pakai style kaya gini” melihat Dafa memakai kemeja panjang tangannya digulung setengah, celana kain ngepas, tas ransel di bahu.
“Makasih cantik kamu juga makin cantik”
“Amin”
“Kamu masuk duluan Daf” Dafa masuk ke kelas duduk di sebelah Manda. Rara nyusul kemudian duduk di sebelah Dafa
“Kok bareng Dafa” bisik Winda yang duduk di belakang Rara
“Iya tadi ketemu di tangga”
Dosen masuk memberikan bahan belajar.
“Ki lihat deh Dafa duduk di tengah sebelah kirinya Manda tunangannya sebelah kanan Rara mantan terindahnya” bisik ke Kiki. Ia melihat Dafa dengan kedua wanitanya duduk di depan mereka
“Iya rumit sekali itu” bisik kiki
“Kalian di belakang kenapa bisik - bisik” tegur dosen yang sedang menjelaskan tugas. Semua mahasiswa melihat ke arah kiki dan Aldi
“Gak pak, saya lagi tanya caranya”
“Kalau gak tahu tanya ke saya”
“Baik pak”
Kelas berakhir, dosennya keluar ruangan
“Ra, manda kita ke kantin yuk” winda mengajak Rara
“Kamu kenal Rara juga win”
“Iya dia sahabat aku di SMP”
“Dia teman sekost aku tahu, ya kan Ra”
Apa jadi Rara sama manda sekost, ya allah kasian Rara, batin winda
“Aku gak deh win, aku mau di sini aja”
“Oke yawdah, yang lain kita ke kantin dulu yuk sebelum kelas kedua dimulai”
“Oke”
“Kalian duluan aja guys” Dafa memilih di kelas dulu
Aldi, Kiki, Denis, Winda dan Manda pergi ke kantin.
Di kelas hanya tersisa Dafa dan Rara
“Kamu kenapa gak ikut ke kantin bareng mereka” tanya Rara
“Aku mau di sini nemanin kamu” Dafa menarik kursinya mendekati Rara
“Tapi nanti ketahuan sama manda aku gak enak”
“Gak biasa dia lama kalau sama mereka”
“Kamu hafal banget ya sama kelakuan dia”
“Gak juga, aku lebih hafal sama kebiasaan kamu” memegang tangan Rara
“Kita salah gak sih Daf kaya gini”
“Udah gak usah dipikirin ya, aku mau sama kamu sekarang aku kangen sama kamu” mengelus tangan Rara
“Aku juga” menyenderkan kepalanya di bahu Dafa
“Kamu jangan merasa sedih ya kalau aku gak bisa di samping kamu selalu”
“Iya aku akan berusaha tegar kok atas semua yang terjadi” air matanya keluar
“Aku yakin kamu wanita yang kuat dan aku janji gak akan ngebuat hal yang bikin kamu cemburu kalau aku lagi sama manda”
“Iya Daf”
Dari luar terdengar suara jejak kaki. Dafa menggeser kursinya ke tempat semula. Rara mengambil bindernya mencari kesibukan.
“Sayang aku beliin kamu makan, kamu makan dulu ya” Manda memberikan kotak makan ke Dafa
“Aku ke toilet bentar ya guys” Rara berjalan ke toilet
“Kamu temani Rara” bisik Denis ke winda
“Ra tunggu aku juga mau ke toilet”
Di toilet
“Ra, kalau kamu mau nangis, nangis aja aku tahu kamu pasti nyesek kan”
“Win” memeluk winda “aku gak nyangka semua ini bakalan seperti ini, aku gak nyangka Dafa udah tunangan dan tunangan dia sekarang menjadi sahabat aku juga dan aku sekost sama dia”
“Kamu yang sabar ya” mengelus punggung Rara “aku yakin kamu pasti bisa ngelewatin ini semua”
“Iya win aku harus kuat” melepas pelukan “Dafa juga memintaku untuk kuat dan ngejalanin ini semua”
“Iya benar kata Dafa, karena kita belum tahu jawaban ke depannya, aku akan selalu ada di samping kamu ya jadi kamu jangan pernah merasa sendiri”
“Makasih ya win, kamu memang sahabat terbaik aku yang aku miliki”