-Tamat-
Ardiaz, seorang Dokter Magister Hukum dan Ilmu Forensik terpaksa terpaut takdir benang merah dengan Freya, Mahasiswi jurusan S1 Hukum yang tiba tiba terlibat dalam kasus pembunuhan saat sedang KKN.
Cinta yang hadir di setiap kejadian, merubah kebohongan menjadi degupan jantung yang tanpa di sadari semakin terjun ke dalam lubang berpangkut nyawa. Apa yang akan terjadi pada keduanya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasangan Konyol
Mencoba untuk mengalihkan pikiran disaat hati masih belum bisa melapangkan dada, akan sangat sulit untuk dilakukan walau sekuat apa pun keinginan untuk melupakan.
“ Ardiaz, maaf.. Aku terpaksa datang karena ti...”
“ Kita bicarakan nanti di rumah.”
Tatapan Ardiaz hanya menatap lurus dengan tetap membiarkan tangan Freya bersandar pada lengan kirinya.. Mencoba untuk mengatur jarak langkahnya agar seirama dengan Freya yang berjalan menggunakan HighHeels, tak urung Ardiaz membantunya untuk berjalan tegap..
“ Kamana saja kalian?!” Ucap Tante Talita sedikit kesal dengan nada berbisik.
“ Om, apa benar kali ini dia akan bekerja kembali di Rumah sakit?”. Tanya Ardiaz pada Pamannya yang juga merupakan salah satu Dokter Senior.
Tanpa berkata, Om Gibran hanya sedikit menundukkan kepalanya seraya mengatakan pembetulan atas pertanyaan yang diajukan Ardiaz.. Freya yang melihat Ardiaz menahan amarahnya, mencoba menggenggam tangan Ardiaz dan melonggarkan kepalan tangannya yang mengeras..
Kekesalan Ardiaz akhirnya mereda saat menatap pada Freya yang tersenyum dan berpenampilan begitu cantik.. Ardiaz sedikit menundukkan kepalanya dan mendekatkan kepalanya kearah Freya dengan berbisik mengatakan,
“ Kau cantik sekali, seolah sengaja berhias untukku.” Ucap Ardiaz.
Tak ingin kalah, Freya menarik sedikit Jas Tuxedo yang di kenakan Ardiaz dan juga semakin mendekatkan wajahnya disamping Ardiaz untuk berbisik mengatakan,
“ Memang benar, aku berhias untukmu. Agar kau tidak melihat wanita lain, yang BERDADA BESAR dengan Gaun terbuka yang tinggal tarik dan terlepas!.”
Mendengar perkataan Freya, Ardiaz tiba tiba terkejut dengan terbatuk batuk tak jelas.. Tak urung pandangan sinis Freya pun mengarah tajam pada Ardiaz seolah berkata, Pikirmu aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh laki laki?!.
Seolah mengabaikan dengan apa yang ada di sekitar mereka dan tidak ingin berlama lama, Ardiaz memilih untuk membawa Freya pulang setelah jamuan makan malam selesai dan tidak ikut melanjutkan untuk acara selanjutnya.
Mengorbankan Tante Talita dan Om Gibran untuk menggantikan mereka untuk acara selanjutnya, mereka pun hanya menggeleng gelengkan kepala merasa malu, seolah Hasrat terpendam yang sudah Ardiaz dan Freya pendam keluar meluap.
“ Kau mau membawaku kemana?”. Ucap Freya saat masuk ke dalam mobil Ardiaz.
“ Aku tahu kau tidak ingin mencari masalah dengan Winda dan Groupnya, jadi bukankah lebih baik kita pergi dari sini. Serta ada yang ingin aku tunjukan padamu.”
“ Tengah malam begini, mau kemana?... Terlebih pakaianmu dan aku pun tidak mungkin berjalan di tengah kota..” Tanya Freya sembari tersenyum malu.
“ Apa ada yang mengatakan akan membawamu ke tengah kota?”. Balas Ardiaz jahil.
Freya menatap sinis pada wajah dan pikiran Ardiaz yang terlihat bermaksud melakukan hal kotor dengannya.. Sontak Ardiaz tertawa dan hanya mencubit pelan hidung Freya.. Ardiaz kembali mengendalikan kemudinya dan mereka pun berlalu pergi meninggalkan Acara Pesta.
Terhenti pada sebuah taman kota yang terbuka untuk umum, terlihat masih banyak penjual makanan ringan atau minuman hangat berjejer di sepanjang gerbang masuk taman dengan keramaian yang belum pernah Freya lihat sebelumnya.
“ Jangan bilang aku wanita kesekian yang kau bawa kemari.” Ucap Freya dengan tatapan menyudutkan Ardiaz.
“ Kau memang wanita kedua yang ku ajak kemari.” Ardiaz kembali menjahili Freya.
“ APA?!”.
“ Setelah, I B U K U. Jika Ibuku ingin melepas penat setelah bekerja, pasti kami kemari untuk sekedar membeli susu hangat dan sebuah Kue manis..”
Ardiaz melepas Jas yang dikenakannya lalu diberikan kepada Freya untuk menutupi tubuh Freya dan penampilannya yang menarik perhatian.. Bergandeng tangan dan berjalan membeli minuman hangat dan cemilan, Ardiaz mengajak Freya pada suatu tempat di dalam Taman kota..
Menyadari keindahan lampu taman dimana terdapat danau kecil dan pepohonan rindang layaknya dalam sebuah Dogeng, yang tak kalah indah dengan adanya Air Mancur melingkar dimana siapa pun dapat terduduk dan menikmati pemandangan malam..
“ Kue yang enak.. Aku tidak menyangka kau juga suka jajanan kaki lima..” Ucap Freya sembari sibuk mengunyah dalam mulutnya.
“ Berapa banyak isi Tanki dalam perutmu?, bukankah tadi sudah makan malam?”. Ardiaz menyapu segaris coklat dari samping bibir Freya dan juga remahan Roti.
“ Pikirmu aku bisa menelan makanan disaat mereka menatapku dengan Aura membunuh?. Dapat sekali kulihat mereka berteriak dalam hati, Menjauhlah darinya!. Ardiaz milik kami!. Kurang lebih seperti itu..” Ucap Freya sembari mempraktekkan gaya wanita hantu menaruh dendam.
“ Film Horor apa yang selalu kau tonton?”. Ardiaz menatap dengan kedua alis yang terangkat.
Keduanya tertawa dan tersenyum bersama.. Dengan menikmati pemandangan malam, tanpa sadar Freya menyandarkan kepalanya pada bahu Ardiaz yang masih tegap terduduk disebelahnya dengan membelai lembut kepala Freya..
“ Siapa Tony?”. Tanya Freya bernada lembut.
“ Dia adalah Ayah Bastian. Dia yang memutar balik cerita sampai aku sempat berada dalam penjara selama hampir 3 bulan.”
“ Apa karena kasus anaknya Bastian yang menjalin hubungan dengan wanita yang memiliki tunangan?”. Freya langsung terduduk tegap dan menatap pada Ardiaz.
“ Ya. Di Luar negeri, adat kebiasaan kita berbeda. Seorang Tunangan memiliki arti dalam karena kau sudah hidup berdua dengannya layaknya suami istri. Bastian tertangkap menjalin hubungan dengan wanita itu yang Bodohnya, aku malah membela Bocah tengik itu yang tiba tiba menghilang!.”
Ardiaz yang kembali terlihat kesal dengan Freya yang langsung menggenggam tangan Ardiaz, mencoba membayangkan kerasnya hidup Ardiaz saat itu, dimana dia harus berjuang seorang diri di tempat asing dan tidak ada orang tua yang sanggup untuk membelanya..
“ Aku membalas dengan Lulus S2 lebih cepat dan nilai akademik yang memuaskan dari Bastian. Namun, kredibilitasku di pertanyakan dan butuh waktu untukku membuktikan kepada mereka. Freya, Tony dan Bastian bukan orang sembarangan yang bisa kau hadapi begitu saja.”
“ Apa ada hal lainnya?”.
“ Tony adalah Rekan kerja ayahku, mereka terkenal sebagai 2 Dokter Ahli Bedah terbaik. Namun saat Ibuku menemukan Obat Kecantikan yang masih dalam tahap uji coba yang dapat menyamarkan bekas luka bakar, Tony meminta obat itu di patenkan dan dibeli olehnya.”
Penjelasan panjang lebar pun Ardiaz jelaskan dimana pertikaian dan perdebatan hingga berujung pada Ibu Ardiaz yang mengundurkan diri bekerja di Rumah sakit hanya karena ingin agar obat itu tidak jatuh ke tangan orang yang tidap tepat..
Tak lama Ardiaz kembali menjelaskan kasus Ayahnya yang menyebabkan kedua orang tuanya terbunuh akibat kecelakaan.. Dengan masih menjelaskan, Ardiaz memperlihatkan beberapa foto yang terlihat sudah dia potong agar lebih nyaman untuk di lihat oleh Freya.
“ Ardiaz, ini.. Tidak mungkin, apa mereka juga korban dari...”
“ Ya. Itulah salah satu alasanku menjadi Dokter Forensik. Dulu aku tidak mengerti dan tidak ada yang bisa aku lakukan, salah satu Rekan Dokter yang juga teman baik ayahkulah yang mengirimkan foto foto ini padaku tak lama setelah orang tua di kuburkan.” Jelas Ardiaz.
“ Jadi mereka bisa terbebas dari jerat hukum karena terlihat seperti kecelakaan biasa, padahal... Mereka membunuh orang tuamu?”. Tanya Freya dengan terkejut.
“ Prasangka ku mengatakan Tony berhasil membuat rekayasa obat yang hampir menyerupai obat Ibuku. Karena itu saat aku pertama kali melihat Video yang diam diam kau ambil, aku terkejut akan Fakta dengan bukti yang sangat kuat.”
“ Kalau begitu tunggu apa lagi?, Ardiaz kita harus segera kembali ke kepulauan.. Siapa tahu dengan aku melihat sendiri, aku bisa menemukan lokasi Gudang penyimpanan yang mereka sembunyikan..” Ucap Freya dengan begitu Antusias.
Ardiaz tak berkata dan hanya menatap kepada Freya.. Salah satu tangannya bergerak menyentuh bagian wajah Freya dimana mata dan bibir Freya, Ardiaz sentuh dengan sangat lembut dan semakin mendekatkan tubuhnya hingga jarak tak beradu tanggap di antara mereka.
Dengan lembut tangan Ardiaz lainnya menarik rambut panjang Freya yang menjuntai ke arah belakang agar mudah baginya untuk mengecup leher Freya dan kembali tegap menatap Freya dengan kening yang beradu untuk berbisik pelan mengatakan,
“ Akan sangat berbahaya Freya. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.” Bisik Ardiaz.
Freya tersenyum manis dengan kedua tangannya yang meraih tangan Ardiaz dengan masih menyentuh lembut wajahnya.. Menatap Ardiaz penuh arti, Freya pun berbisik dengan mengatakan,
“ Jika begitu, kau lindungi aku seperti sebelumnya..” Bisik Freya dengan tersenyum layaknya anak kecil.
Tak kuasa menahan dirinya, Ardiaz mencium Freya dengan penuh hasrat dan tak segan bagi Freya yang juga membalas ciuman itu hingga tanpa sadar Freya mengeluarkan suara yang belum pernah terdengar oleh Ardiaz sebelumnya..
Ardiaz semakin terbawa suasana dengan menyandarkan Freya pada sebuah patung Air Mancur yang berdiri kokoh di belakangnya.. Ciuman mereka semakin memanas dengan aliran nafas yang terasa berat hingga membuat mereka untuk mengatur nafas sejenak.
“ Tunggu Ardiaz... Kita.. Sedang, berada... Di luar...” Ucap Freya dengan nafas tersenggah.
Seolah tidak perduli, Ardiaz tidak membalas perkataan Freya dengan kembali menarik tubuh Freya dan memaut bibirnya.. ******* Freya kembali terdengar di saat Ardiaz menaruh salah tangannya pada dada Freya dan mulai meraba mempelajari lekuk tubuh Freya..
(BRUUAAKKK) Bunyi suara patung yang terjatuh dan hancur.
“ Aaaarrdiaz.. Apa itu tadi suara....”
( PRRIITTTTT PRRIITTTTT) Suara Peluit yang nyaring di tiup oleh seseorang.
“ HEY APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”. Teriak salah satu Petugas Keamanan Taman kota yang berlari dengan kedua rekan lainnya ke arah Freya dan Ardiaz.
Melihat 3 orang Petugas Keamanan yang berdiri di hadapan mereka, Ardiaz dengan sigap menutupi Freya yang terlihat berantakan dengan Jas dan membalikkan tubuh Freya ke belakang.. Dapat terlihat jelas pandangan sinis yang di berikan oleh mereka kepada Ardiaz dan Freya.
“ Maaf Pak. Kami tidak bermaksud untuk...”
“ Anak muda, apa tidak ada tempat lain untuk kalian melakukan hal itu?!. Ucap Kesal salah satu Petugas Keamanan melihat kedua rekan lainnya mencoba membetulkan patung yang hancur.
“ Maaf Pak, kami...”
“ Mana kartu identitas kalian?, berikan padaku!.”
Freya dan Ardiaz terdiam membatu mengingat Tas dan juga dompet Ardiaz yang tertinggal di dalam mobil. Dengan terhuyung merasa malu, Freya menundukkan sedikit tubuhnya untuk meminta ijin kembali ke mobil untuk memberi persyaratan yang mereka pinta.
“ Ardiaz, kenapa?, buka kunci mobilnya..” Ucap Freya kepada Ardiaz yang terlihat sibuk meraba seluruh tubuhnya.
“ Freya, sepertinya....” Balas Ardiaz dengan nada memelas dan malu.
“ Ardiaz, berapa umurmu?. BAGAIMANA BISA KAU LUPA MEMBAWA KUNCI MOBILMU SAAT TURUN TADI?!. KAU SANGAT MENYEBALKAN!.”. Freya meninggikan suaranya merasa kesal.
“ Aku hanya berniat membelikan Cemilan itu untukmu.. LAGIPULA KENAPA KAU TIDAK MEMBAWA KUNCI MOBIL ITU SAAT AKU LUPA?!. Jelas jelas kau melihatnya tergeletak di Dasboard.”
“ Apa??, jadi sekarang kau menyalahkanku?!”.
“ HEY ANAK MUDA!. Kami sudah sering melihat anak muda sepertimu yang melakukan hal tak senonoh di Taman kota dan mencoba melarikan diri dengan mengakui mobil milik orang lain sebagai mobil milik kalian..” Ucap salah satu petugas keamanan taman.
“ Apa?. Tidak Pak, sepertinya anda salah paham.. Ini benar mobil milikku.” Ucap Ardiaz.
“ Pak, kami juga sudah menikah..” Balas Freya yang ikut menanggapi.
“ Menikah?. Mobil milikmu?. HA HA HA HA... Kalian hanya baru pulang selepas acara malam dari sebuah Bar bukan?. Tunggu, apa kalian juga mabuk?”. Balas Petugas itu.
“ Tidak Pak. Kami sama sekali tidak mabuk. Tunggu, akan saya hubungi Paman saya serta salah satu rekan saya di kepolisian yang... ”
“ Ya..Ya..Ya..Ya. Sekalian kalian bawa satu RT RW kemari, oke?. IKUT KAMI!!”.
“ Apa?, ikut kemana Pak?”. Tanya Freya polos.
“ Ke POS PENJAGAAN!.” Balas Petugas itu dengan menarik paksa Ardiaz dan Freya.
Perlawanan yang diberikan kedua sungguh percuma karena adanya rekaman CCTV yang berhasil merekam mereka saat melakukan hal tidak senonoh serta terhalang sebuah Truk yang terparkir sehingga hanya terlihat mereka yang berjalan melewati perkiran mobil.
Tidak mempunyai pilihan lain, dengan sangat malu Ardiaz menghubungi Om Gibran untuk datang dan membawa kunci mobil cadangan yang Ardiaz simpan di rumah.. Tak hayal Freya pun menghubungi Tante Maya untuk memintanya sebagai saksi agar mereka bisa pulang..
*******
-Mendekati dini hari-
( BRRAAAKKK ) Suara pintu yang terbuka dengan sangat keras.
“ Pak Polisi.. Maaf, apa yang terjadi?”. “ Freya, Ardiaz.. Ada apa ini?”. Tanya Tante Talita dan Tante Maya yang terlihat panik saat memasuki Pos Keamanan Taman kota.
Tanpa menjelaskan sebelumnya, Petugas itu pun langsung memperlihatkan rekaman CCTV yang memperlihatkan kelakuan bodoh mereka hingga menghancurkan 1 buah Patung Air Mancur dan tidak dapat menunjukan kartu identitas serta mengakui mobil orang lain sebagai mobilnya.
Sontak Tante Talita dan Tante Maya pun memandang tajam pada Ardiaz dan juga Freya yang menundukkan kepalanya terduduk pada sebuah bangku yang berada di sudut ruangan seperti anak kecil yang mendapat hukuman.
“ Mereka benar sudah menikah, ini buktinya Pak.. Lalu, ini kunci mobil cadangan yang Bocah nakal itu simpan dalam kamarnya!.” Ucap Om Gibran dengan nada sedikit kesal memperlihatkan sebuah kunci mobil dan sebuah Foto pernikahan dari layar handphonenya.
Dengan ditemani Om Giibran, Ardiaz berjalan dengan salah seorang Petugas Keamanan menuju Mobilnya dan akhirnya dapat memperlihatkan kartu identitas dirinya dan juga Freya..
Dengan membayar denda dan adanya Saksi, Ardiaz dan Freya pun bebas dengan bersyarat yang terlihat begitu menyita waktu dan tenaga tidak berarti. Berjalan keluar menuju parkiran mobil, akhirnya emosi orang terkasih pun meluap bagai gunung api.
“ Kau!. Masih saja!. Ardiaz berapa umurmu...” Ucap Tante Talita yang mencubit dan menjewer telinga Ardiaz.
“ Anak ini juga.. Ibu tidak mengajarkanmu menjadi wanita seperti ini!.” Tante Maya yang juga kesal dengan memukul pelan punggung Freya.
“ Tunggu Bu, Freya tidak salah. Pukul aku saja.” Balas Ardiaz dengan langsung menutupi Freya di balik punggungnya.
“ Tidak Bu, Freya yang salah.. Tubuh Ardiaz berat, jadi aku tidak bisa menahan berat badannya karena itu Patung itu terjatuh dan hancur..” Ucap Freya dengan wajah polos mencoba untuk menjelaskan.
“ K A L I A N . . . !!”
Pukulan dari Tante Maya dan Tante Talita terasa lebih keras dari sebelumnya, Om Gibran yang hanya menggeleng gelengkan kepalanya karena merasa malu, sepertinya cukup menjadi alasan untuk kami sebagai Pasangan Konyol yang bisa membuat kami tertawa bersama..
mampir juga yuk😄