“Kami akan menikah.”
Kata-kata sederhana, tetapi penuh makna itu meluncur dengan enteng dari bibir Oh Yoonjae. Siapa mengira ucapan itu justru keluar bukan karena Yoonjae memang ingin menikahi Lim Airin, gadis malang yang terjebak keadaan dan diharuskan untuk mengambil keputusan dengan cepat.
Lim Airin terpaksa harus menjadi ibu pengganti, karena kesalahan fatal yang menimpanya. Bukan hanya dihadapkan dengan kehamilannya yang ternyata cukup bermasalah. Lim Airin yang sedang lari dari Paman dan bibinya juga terpaksa mengiyakan ajakan Yoonjae untuk menikah. Tanpa mengetahui masalah kompleks akan menimpanya satu persatu nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oh_Riandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Airin mengetuk pelan pintu kamar Yoonjae. Dia sudah siap pergi bekerja, sedangkan Yoonjae sendiri belum keluar kamar.
“Yoonjae_ssi,” panggil Airin pelan dari luar.
Tidak ada jawaban dari Yoonjae, Airin sedikit khawatir. Dia takut Yoonjae kenapa-kenapa dan dia sendiri tidak tahu.
“Yoonjae_ssi, aku masuk ya?” pamit Airin yang kemudian membuka pintu kamar Yoonjae pelan.
Airin masuk dengan hati-hati, dia melihat Yoonjae masih berbaring di atas ranjangnya. Airin mengerutkan keningnya heran.
“Tidak biasanya dia masih tidur di jam ini. Apa dia masih sakit?” tanya Airin bermonolog sembari menghampiri Yoonjae.
Airin lalu duduk di tepi ranjang Yoonjae, dan mengusap pelan lengan Yoonjae.
“Yoonjae_ssi, apakah kau masih sakit?” tanya Airin pelan.
Yoonjae tidak menjawab, laki-laki itu hanya bergerak pelan dan mengganti posisi tidurnya. Airin lalu menarik napas dalam lalu menempelkan tangannya ke kening Yoonjae.
“Kau, tidak demam, Yoonjae_ssi. Bangunlah dulu! Sarapan sudah siap dan aku juga harus pergi bekerja. Aku, harus memastikan kau makan dan minum obat dulu,” ucap Airin yang mengira Yoonjae sedang ingin bermalas-malasan saja hari ini. Mungkin badannya masih belum terlalu fit, setelah pulang dari rumah sakit.
Yoonjae membuka matanya dan melihat ke arah Airin yang masih menunggu tanggapan dari Yoonjae. Laki-laki pucat itu menghela napas dalam, lalu kemudian mengambil posisi duduk. Airin sendiri tersenyum tipis dan membantu Yoonjae untuk duduk.
“Kau, masih ingin di rumah saja hari ini?” tanya Airin lagi.
Yoonjae menganggukkan kepalanya mengiyakan, tapi dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dan hanya menatap Airin saja.
“Baiklah kalau begitu, aku akan membawakan sarapanmu kesini lalu aku akan pergi bekerja. Eo?” ujar Airin lagi.
“Em,” singkat Yoonjae mengiyakan.
Airin sedikit heran dengan tingkah Yoonjae, tapi gadis itu tidak terlalu mengambil pusing dengan itu. Airin lalu beranjak dari duduknya, dan akan meninggalkan kamar Yoonjae. Namun, tiba-tiba saja Yoonjae menahan tangan Airin. Gadis itu kembali memalingkan wajahnya melihat ke arah Yoonjae.
“Wae?” tanya Airin kemudian.
“Kau, juga harus sarapan,” ujar Yoonjae mengingatkan.
Airin tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya mengiyakan. Airin lalu melepaskan tangan Yoonjae pelan, lalu benar-benar pergi meninggalkan kamar Yoonjae sekarang.
Tidak lama Airin kembali dengan nampan yang berisi makanan dan juga obat Yoonjae. Airin meletakkannya di meja, gadis itu lalu kembali duduk di tepi ranjang dan tersenyum ke arah Yoonjae yang terus memandanginya.
“Makanlah! Aku, akan pergi bekerja dulu,” ujar Airin.
“Kau, tidak sarapan?” tanya Yoonjae menanggapi.
“Aku, sudah menyiapkan bekal untuk sarapan di kantor. Tidak apa-apa aku meninggalkanmu sendirian?” tanya Airin yang tiba-tiba tidak nyaman meninggalkan Yoonjae sendirian.
Yoonjae menganggukkan kepalanya mengiyakan.
“Pergilah! Sebentar lagi sekretarisku juga kesini untuk melakukan beberapa pekerjaan denganku,” ujar Yoonjae menjawab dengan nada datar dan Airin mulai menyadarinya.
Airin diam dan menatap Yoonjae sekarang, keduanya saling menatap satu sama lain. Lalu sejurus kemudian Airin menarik napas dalam.
“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Airin.
“Kesalahan apa?” tanya Yoonjae dengan kening yang mengkerut bingung.
“Kalau aku tidak melakukan kesalahan, kenapa kau datar sekali? Aku, bisa merasakannya, Yoonjae_ssi,” ucap Airin lagi masih menatap Yoonjae lekat.
Yoonjae terdiam, dia juga hanya menatap Airin saja sekarang. Airin sedikit frustasi melihat tingkah Yoonjae, dia lalu menarik napas dalam dan beranjak dari posisinya sekarang.
“Baiklah kalau memang tidak mau bicara apa salahku. Bukankah kau memang selalu menganggapku ini tidak penting, makanya apapun tidak harus aku ketahui,” tukas Airin lalu pergi meninggalkan Yoonjae begitu saja.
Yoonjae tidak berniat untuk menahan Airin pergi, dia hanya memandangi Airin yang sudah menghilang di balik pintu sekarang. Yoonjae menghela napas dalam, lalu mengusap wajahnya pelan sekarang.
“Apa yang aku lakukan?” gumam Yoonjae bermonolog.
***
Malam sudah cukup larut saat Airin pulang, banyak pekerjaan yang dia tinggalkan sejak menjaga Yoonjae di rumah sakit kemarin. Belum lagi dia harus dapat teguran dari Pak Jung ketua timnya. Airin menghela napas dalam, lalu meletakkan sepatunya di rak dengan rapi. Melihat sepatu Yoonjae tidak ada kening Airin mengkerut bingung.
“Apa dia pergi? Tapi pergi kemana dia selarut ini?” tanya Airin sembari melihat ke arah kamar Yoonjae.
Airin berjalan masuk sembari merogoh saku celananya, mengambil ponsel miliknya. Airin lalu mencari nomor Yoonjae, dan menekan tombol hijau kemudian.
“Kau, dimana? Ini sudah malam, kenapa masih di luar?” tanya Airin to the point ketika panggilannya sudah Yoonjae angkat.
“Aku, di rumah orang tuaku. Maaf, aku harus menginap disini,” ujar Yoonjae di seberang sana.
“Menginap? Kenapa mendadak? Ada ap…”
Airin memutus ucapannya sendiri, gadis itu lalu kembali menghela napas berat.
“Baiklah kalau kau ada di rumah orang tuamu, aku tutup teleponnya.”
Setelah berkata seperti itu, Airin lalu memutus sambungan teleponnya dengan Yoonjae sepihak. Dia sama sekali tidak menunggu Yoonjae menjawab pertanyaannya dulu. Airin lalu berjalan ke kamarnya dengan perasaan kesal, dan juga campur aduk.
Yoonjae sendiri menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan menghela napas dalam.
“Aku mengkhawatirkannya sendirian, tapi aku tidak bisa melihatnya saat ini. Pikiranku sedang kacau dan aku tidak bisa berpikir positif,” ujar Yoonjae bermonolog.
“Apa yang membuatmu kacau? Ada apa?” tanya Seo Jin yang tidak sengaja mendengar ucapan Yoonjae.
Yoonjae terkejut dan melihat ke arah Seo Jin.
“Oh,,,Hyung,” ucap Yoonjae kemudian.
“Apa yang mengganggu pikiranmu? Kau, khawatir pada Airin?” tebak Seo Jin kemudian.
Yoonjae terdiam dan menatap sekilas sang kakak. Kepala Yoonjae lalu mengangguk pelan.
“Bagaimana bisa, Hyung tahu kalau aku mengkhawatirkan Airin?” tanya Yoonjae kemudian.
“Kalau bukan Airin siapa lagi? Sena? Yang tiba-tiba saja menghilang dari hidupmu?” tanya Seo Jin sedikit kesal pada sang adik yang sangat aneh menurutnya.
Seo Jin lalu duduk di sofa, tepat di samping Yoonjae. Seo Jin lalu menepuk pundak Yoonjae pelan, dan tersenyum.
“Ada apa? Apa kalian bertengkar?” tanya Seo Jin ingin tahu.
Yoonjae tertawa kecil lalu menggeleng pelan.
“Untuk apa kami bertengkar, Hyung. Kami sudah sama-sama dewasa,” sahut Yoonjae.
“Lalu? Maksudmu dengan pikiran kacau? Sena? Apakah, kau masih mengharapkannya disaat Airin hamil anakmu seperti sekarang?” tanya Seo Jin mencecar Yoonjae.
“Hyung, kenapa membawa-bawa Sena? Aku, sama sekali tidak memikirkannya sekarang. Untuk apa?” sanggah Yoonjae sedikit kesal dengan pertanyaan sang kakak.
Seo Jin tergelak dengan respon Yoonjae, dia lalu menepuk pundak Yoonjae lagi.
“Aku bercanda, Yoon! Kenapa jadi seserius itu?” ujar Seo Jin.
“Sena sudah tidak disini, Hyung. Jangan membahasnya lagi, fokusku sekarang hanya pada perusahaan, Airin dan bayi di dalam kandungannya,” terang Yoonjae tanpa ditanya.
Seo Jin terdiam mendengar ucapan Yoonjae, adiknya ini memang tidak pernah main-main saat memilih sesuatu. Hanya saja satu hal yang Seo Jin pikirkan, bagaimana Airin bisa hamil dengan Yoonjae. Mengingat mantan kekasihnya itu begitu pendiam dan polos.
Melihat ekspresi wajah Seo Jin yang berubah, Yoonjae tersenyum kecil lalu memalingkan wajahnya ke depan.
“Apa, Hyung masih memikirkan Airin? Apa sekian tahun kalian berpisah, tidak serta merta membuat kalian melupakan satu sama lain?” tanya Yoonjae kemudian.
Mendengar pertanyaan sang adik, sukses membuat Seo Jin melebarkan matanya tidak percaya.
“Apakah ini yang membuatmu kacau dan meninggalkan Airin sendirian di apartemen?” tebak Seo Jin yang mulai memahami ada apa dengan sang adik.
Yoonjae kembali melihat ke arah sang kakak. Kepalanya mengangguk pelan membenarkan. Seo Jin semakin ternganga karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang dari sang adik.
“Ya! Bagaimana bisa, kau berpikir seperti itu? Kami sudah berpisah bertahun-tahun. Aku, bahkan sudah melupakannya sejak dulu. Bertemu dengannya lagi juga tidak serta merta membuatku menyukainya lagi. Kenapa kau berpikiran sangat dangkal, Yoon?” tukas Seo Jin tidak percaya dengan pemikiran sang adik.
Yoonjae tidak menanggapi, dia menatap lekat sang kakak lalu kemudian menghela napas dalam.
“Aku cemburu, Hyung melihat kedekatan kalian waktu itu di apartemenku,” tandas Yoonjae akhirnya mengakui perasaannya sekarang.
Mata Seo Jin melebar semakin tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Siapa yang kalian bahas ini? Airin? Lim Airin mantan Seo Jin orang yang sama dengan pembantumu, Yoon?”
Pertanyaan dari Nyonya Oh yang tiba-tiba ada di ruang tengah itu, mengejutkan Seo Jin dan Yoonjae. Keduanya sama-sama melihat ke arah asal suara sang ibu sekarang.
“Eomma,” lirih Yoonjae terkejut.
“Benarkah yang kalian bahas ini Airin mantan kekasih Seo Jin? Gadis itu juga gadis yang sama dengan yang menjadi pembantumu?” tanya Nyonya Oh lagi meyakinkan pemikirannya.
“Eomma, tenanglah! Kami akan menjelaskannya padamu,” ucap Seo Jin yang kemudian berdiri dan memegang lengan sang ibu.
Nyonya Oh melihat ke arah Seo Jin lalu melepas pegangan tangan Seo Jin. Nyonya Oh kembali menatap Yoonjae dengan mengintimidasi.
“Jawab, Yoon! Mereka orang yang sama?” tanya Nyonya Oh lagi.
Yooki menghela napas lalu menganggukkan kepalanya pelan. Nyonya Oh berdecak tidak percaya sekarang, dia lalu melihat ke arah Seo Jin sebentar lalu kembali melihat ke arah Yoonjae.
“Lalu kenapa, kau cemburu? Kau, menyukai Airin itu? Menyukai pembantumu begitu?” cecar Nyonya Oh mulai emosi.
***