Tentang Arumi, gadis manis yang di jual Ibunya sendiri ke seorang mami pemilik club. Dia di bawa keluar dari negaranya dan harus tinggal di tempat yang berbeda dari Ibunya sendiri.
Hingga selama dia menjadi seorang kupu-kupu malam, dia di sekap oleh seorang pria mengerikan yang ingin memilikinya.
Dia adalah Martin, seorang pria muda yang terjerumus dalam bisnis hitam. Seorang ketua gengster terkenal kejam yang jatuh cinta pada seorang gadis yang menyelamatkannya di 10 tahun lalu. Dan sekarang dia menemukan gadis itu. Hingga tidak akan pernah melepaskanya lagi.
"Kau akan menjadi milikku selamanya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhutang Penjelasan Padaku!
Tidak selesai begitu saja, semua pertarungan diantara Cammora of Naples dan Cossa Nostra sudah hampir berakhir. Namun keberadaan Michael masih belum diketahui sampai saat ini. Jejaknya seolah menghilang begitu saja bak ditelan bumi.
Martin tidak ambil pusing tentang itu untuk saat ini. Karena yang terpenting sekarang adalah dirinya yang bisa menemukan Arumi dan menjaganya dengan sepenuh hati.
Hari ini, Arumi sudah diperbolehkan pulang dengan banyak aturan yang diberikan oleh Dokter. Kandungannya yang masih bertahan saja sampai hari ini sudah sangat beruntung. Jadi, Arumi diminta oleh Dokter agar menjaga kandungannya dengan baik. Bahkan dirinya juga tidak diizinkan untuk keluar dari kamar oleh Martin sekarang. Semua yang Arumi butuhkan akan dilayani oleh pelayan yang sengaja Martin tugaskan untuk menjaganya.
"Mau kemana?"
Martin yang sedang duduk di sofa dengan sebuah laptop di depannya, langsung menyadari pergerakan Arumi. Dia langsung berdiri dan menghampirinya.
Arumi menghela nafas pelan, dia menatap Martin dengan matanya yang masih terlihat sayu. "Sayang, aku bisa ke kamar mandi sendiri kok. Kalau kamu sedang kerja, kamu lanjutkan saja. Jangan khawatirkan aku"
Martin menggeleng ppelan, dia langsung menggendong tubuh Arumi dan membawanya ke kamar mandi. Saat ini Martin benar-benar berubah menjadi sosok suami yang begitu overprtektive.
"Selama aku berada disamping kamu, maka aku harus melindungi kamu dan memastikan kalau kau dan bayi kita akan baik-baik saja" ucap Martin, menatap Arumi yang berada di dalam gendongannya.
Arumi hanya tersenyum mendengar hal itu, mungkin semua ini bentuk rasa trauma Martin atas kejadian kemarin yang menimpa Arumi. Bagaimana seorang Martin yang bisa kecolongan oleh musuhnya sendiri.
Arumi melingkarkan tangannya di leher Martin, lalu dia memberikan kecupan di pipi pria itu. "Aku tidak akan pergi kemana pun, terima kasih karena sudah mau menjagaku"
Martin tersenyum tipis, mendapatkan ciuman kejutan seperti ini sungguh membuat hatinya berbunga. Karena jarang sekali Arumi akan menunjukan perasaannya seperti ini.
Martin menurunkan Arumi dari gendongannya dengan perlahan. Menatapnya dengan penuh arti. "Apa mau aku bantu buka celananya?"
Mata Arumi langsung terbelalak mendengar hal itu. "Aku bisa sendiri, tidak perlu bantuan kamu. Sekarang sana keluar"
Martin hanya tertawa lucu melihat tingkah Arumi ini. Terkadang dia sering tidak percaya jika wanita itu adalah bekas wanita malam. Melihat tingkahnya yang lebih sering malu-malu. Jauh sekali dengan semua sikap seorang kupu-kupu malam yang liar.
"Sayang, aku tidak perlu keluar. Aku sudah melihat semuanya, apalagi yang akan kamu sembunyikan dariku" teriak Martin saat Arumi mendorong tubuhnya keluar kamar mandi.
Arumi hanya terkekeh pelan mendengar teriakan Martin yang terdengar sambil merengek itu. Dia tidak akan bisa menahan gairah pria itu, karena nyatanya dia tidak bisa melayaninya dulu untuk saat ini. Dokter jelas melarang hubungan keduanya karena kondisi kandungan Arumi yang begitu lemah.
Martin bersandar di dinding samping pintu kamar mandi yang tertutup. Rasanya masih terlalu bingung baginya yang sekarang bisa bersama dengan Arumi lagi, namun hilangnya Michael semakin membuatnya gelisah. Takut jika nanti akan menghancurkan hidupnya dan Arumi lagi.
"Sayang, aku mau makan buah" ucap Arumi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Martin langsung menoleh pada kekasih hatinya itu. Ingin menggendongnya kembali, namun Arumi langsung menghindarinya.
"Aku bisa sendiri, kenapa juga harus di gendong. Kamu jangan berlebihan Sayang. Lagian kalau ke kamar mandi, aku bisa" ucap Arumi.
Martin hanya menghembuskan nafas pelan, setidaknya memang Arumi ini paling tidak bisa bermanja pada siapapun. Dia terbiasa menjalani semuanya sendiri. Bahkan di saat tersulit dalam hidupnya pun, dia hanya mencoba menyelesaikan semuanya sendiri. Tidak ada seseorang yang bisa dia mintai bantuan apapun.
"Sayang, aku hanya tidak mau kalau sampai kamu kenapa-napa" ucap Martin.
Arumi duduk di sofa, dia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Martin barusan. "Sebenarnya aku baik-baik saja dan tidak kenapa-napa, asalkan ada kamu disampingku"
Martin langsung duduk disamping Arumi, dia merangkul bahu wanitanya dan mencium pipinya dengan lembut. "Aku janji akan selalu bersama dengan kamu sampai kapanpun. Tidak akan lagi membiarkan kamu pergi dari hidupku seperti kemarin-kemarin"
Arumi tersenyum saja, dia menyandarkan kepalanya di dada Martin. Rasanya masih seperti mimpi jika sekarang dirinya sudah kembali bersama Martin, setelah beberapa bulan kemarin Arumi hanya terkurung di sebuah ruangan minim cahaya.
"Sebenarnya semuanya akan baik-baik saja, karena ada kamu disini. Waktu itu aku juga kira kalau Jolie memang akan benar-benar membantu aku untuk lari, karena katanya perperangan ini akan membunuh siapapun yang ada disana. Jelas aku takut, jadi menurut saja. Sampai seseorang membekap mulutku dan langsung tak sadarkan diri" ucap Arumi.
Martin langsung mengecup puncak kepalanya dengan lembut. Mengeratkan pelukannya, merasa jika sekarang wanitanya ini sedang merasakan ketakutan karena semua yang pernah dia alami.
"Maafkan aku karena membuat kamu mengalami hal seperti ini" ucap Martin.
Arumi hanya mendongak dan menatap Martin dengan lekat. Dia tersenyum tipis. "Sekarang ini bisa kembali bersama denganmu saja sudah membuat aku bahagia"
Martin tersenyum mendengar itu, dia mengelus perut Arumi yang terasa tendangan kecil dari dalam sana. "Sayang, apa kamu mengetahui kehadiran bayi kita ini sejak berada dalam sekapan Mike?"
Arumi mengangguk, bahkan dia juga tidak menyangka jika dirinya itu sedang hamil. Namun setiap bulannya perutnya yang membesar dan juga dia yang tidak kunjung datang bulan. Dan Arumi menceritakan semua pengalamannya itu selama berada dalam sekapan Martin. Sungguh dia yang tidak pernah bisa menutupi apapun lagi dari Martin.
"Aku sudah menambah penjagaan disini, jadi kamu tenang saja karena aku tidak akan pernah membiarkan apa yang terjadi kemarin akan terulang kembali" ucap Martin.
Arumi hanya mengangguk saja, dia percaya kalau memang Martin pastinya akan memberikan penjagaan yang terbaik untuk Arumi setelah kejadian yang menimpanya kemarin.
"Tunggu sebentar" ucap Martin yang langsung berdiri dan berjalan ke arah ruang ganti.
Arumi hanya diam saja dan menatap ke arah Martin yang menghilang di balik pintu ruang ganti. Hingga beberapa saat kemudian, Martin kembali lagi menghampirinya dengan membawa tas Arumi yang hilang sejak dia berada di rumah ini bersama Martin.
"Sayang, kamu yang simpan tas aku ternyata" ucap Arumi dengan antusias dan langsung mengambil tasnya dari tangan Martin.
Arumi mengambil ponselnya dari dalam tas dan langsung mengotak-ngatiknya. "Ya ampun, aku tahu pasti Andi akan khawatir"
"Siapa Andi itu sebenarnya? Kau berhutang penjelasan padaku!"
Deg...
Bersambung