Aksara dan Bintang teman masa kecil. Namun, karena ayah Aksara pindah tugas akhirnya mereka terpisah.
Sebelum pergi, Aksara memberikan gantungan kunci yanh bertuliskan namanya. Aksara sangat menyukai Bintang, kecupan di pipi ia daratkan sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Setelah dua puluh tahun, mereka dipertemukan kembali dalam konteks yang berbeda.
Keduanya tidak pernah bertukar kabar dan tidak tanu wajah masing-masing ketika dewasa.
Saling menyukai saat kecil, tidak membuat keduanya saling jatuh cinta ketika dewasa. Justru sebaliknya.
Ingin tahu kelanjutannya?
Yuk, ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Mobil atau Gue Cium!
"Lagu-lagu lo mau nikahi Bu Bintang, urus kucing beranak aja lo masih gelagapan!" oceh salah satu mahasiswa yang lain. Bian menyikut perut teman di sampingnya itu.
"Oke, stop! Perkenalan cukup sampe di sini."
"Yyyaaahhhh," seru semuanya kompak. Bintang menjelaskan materi pelajaran yang akan ia bawakan, tipis-tipis saja. Setelahnya Bintang hanya berkeliling memperhatikan mahasiswanya satu persatu.
Jam pulang usai mengajar tiba. Resti juga Bintang keluar bersamaan. Bintang berlawanan arah dengan Resti. Dia berjalan menuju halte bis, berbeda dengan Resti yang membawa sepeda motor.
"Tang, yakin nggak mau bareng aja?" tanya Resti sebelum akhirnya benar-benar berpisah.
"Enggak, Res. Biar aku naik angkot aja."
"Oke, Dokter gantengmu nggak jemput, tah?"
"Lagi sibuk kayaknya. Udah bilang juga, sih tadi," ucap Bintang yang tertunduk malu.
"Ciee, yang lagi masa pendekatan. Manis banget. Mana buketnya dipeluk terus lagi. Orangnya, dong!" goda Resti yang semakin membuat Bintang jadi tengsin.
"Sini," ucap Aksa tiba-tiba yang merentangkan kedua tangannya. Sontak Resti juga Bintang memutar bola mata malas.
"Iyeuh...." Keduanya kompak berjijik ria. Haha. Aksa menatap keduanya tajam dan bergantian.
"Lo nolak pelukan gue? Jangan nyesel kalau seandainya nanti gue yang ogah peluk lo!" ancamnya yang membuat Bintang semakin jengah.
"Udah, ah, Tang. Malas gue lama-lama sama ini orang. Heran! Munculnya udah kayak setan!" kata Resti yang lalu berjalan meninggalkan keduanya.
"Ngapain lo ke sini?" Bintang masih memeluk buket bunga yang dibelikan Safar pagi tadi. Meski sudah sedikit layu, tapi itu bunga pertama dari cowok yang dia suka.
Ah, hatinya memang sedang berbunga-bunga. Sayang harus dirusak dengan kehadiran Aksa yang mengurangi kadar sempurna harinya.
"Woi, kok lo malah bengong!" ucap Aksa yang tidak terima diacuhkan.
"Apaan, sih. Kehadiran lo itu nggak gue harapin. Pulang aja sana!" usir Bintang yang sama sekali nggak mempengaruhi Aksa.
"Ogah! Gue mau dekat-dekat sama lo!" jawab Aksa enteng.
"Gue nggak mau pulang bareng lo. Lo nyeremin!" Bintang teringat apa yang dilakukan Aksa tempo hari.
"Halah! Lo nikmatin juga, buktinya nggak melawan!" ucap Aksa seenak jidat. Bintang yang geram langsung memukul kepalanya dengan buket bunga yang ada di genggamannya.
Kelopak mawar itu berhamburan di tanah juga kepala Aksa. Aksa berusaha menangkisnya, tapi Bintang bertubi-tubi memukulnya.
"Lo bilang gue nikmati? Endasmu!" ucap Bintang geram dan berlalu meninggalkan Aksa sendirian di sana.
Aksa yang sadar ditinggal sendiri, mengejar dan menarik pergelangan tangan Bintang hingga dia kehilangan keseimbangan.
Alhasil, mereka berdua terjatuh di tanah dengan posisi Bintang menindih Aksa. Bibir mereka kembali menyatu meski tanpa sengaja. Keduanya sama-sama melotot tidak percaya.
Dug ... Dug ... Dug
Jantung keduanya berdebar sangat cepat dan tidak beraturan. Bintang yang sadar akan degupan jantung Aksa langsung bangkit. Aksa masih mematung di sana.
"Masuk mobil gue, Tang!" ucap Aksa yang bangkit dan melangkah cepat ke arah mobilnya yang tidak jauh dari sana.
Bintang diam. Dia nggak mengikuti perintah Aksa. Aksa yang berjalan dengan meletakkan kedua tangan di saku celana kainnya berhenti dan menoleh ke belakang.
"Bintang!" panggilnya sedikit berteriak. Para mahasiswi yang lewat terjengkit kaget dan berbisik-bisik. Bintang masih dosen baru di kampus itu, jelas jadi pusat perhatian untuk sekarang ini.
"Apa!" bentaknya yang masih malu dengan adegan barusan.
"Masuk mobil gue!" perintahnya lagi dari jarak kurang lebih satu meter.
"Nggak!"
"Bintang, lo datang ke sini, masuk mobil gue atau gue cium bibir lo di situ!" ancam Aksa yang membuat Bintang menatapnya tajam dan masih enggan beranjak dari sana.
"Lo bener-bener mancing gue, ya! Berarti bener lo menikmati manisnya bibir gue kemarin dan hari ini!" tandas Aksa yang kembali melangkah ke arah Bintang.
Bukan Aksa namanya jika mengikuti peraturan atau norma yang ada. Dia menarik tengkuk leher Bintang dan kembali mendaratkan ciuman di sana. Bintang berusaha melepaskan diri, tapi sebelah tangan Aksa menarik pinggang rampingnya untuk menahan gerak Bintang.