Patah hati melihat gadis yang di cintai lebih memilih pria lain membuatnya bertemu dengan seorang gadis keturunan kerajaan luar Jawa, gadis yang berbeda dari trah garis darahnya.
Perbedaan di antara mereka dalam segi apapun membuat mereka sering berselisih pendapat dan tidak akur namun siapa sangka waktu telah membuat mereka sering berjumpa.
Seiring berjalannya waktu, ada benih rasa yang sedang bermekaran namun hati yang masih tertambat pada sang mantan kekasih membuatnya melukai hati sang putri. Mampukah mereka bersatu dalam perbedaan dan keadaan atau mereka menyerah begitu saja?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Patah hati.
"Syilaa..!!! Ya Allah dek..!!" Bang Anom langsung menepis pelukan Elma dengan kasar bahkan sangat kasar.
Syila menolak Bang Anom tapi penolakannya tidak cukup kuat, hanya tangis saja yang mewakili perasaannya.
"Astaghfirullah.." Bang Anom menggigit bibirnya melihat darah segar mengalir deras dari kubangan suci. Tangisnya langsung meluncur tanpa komando. Tak pikir panjang Bang Anom langsung mengangkat tubuh Syila.
"Maas..!!" Elma masih berusaha mencegah Bang Anom pergi tapi Bang Teo menarik tangannya.
"Urusanmu dengan saya..!!!"
...
Mata Syila nyaris terpejam tidak sanggup menahan rasa sakit. Mobil Bang Anom sudah kotor dengan banyaknya darah yang berceceran.
Hati Bang Anom semakin terluka saat Syila lagi-lagi menolak sentuhannya.
"Saya akui saya salah dek, tapi semua hanya sekedar rasa kemanusiaan dan tidak lebih dari itu. Kamu istri saya, apa tidak paham dengan sifat saya??" Bang sudah frustasi memikirkan tragedi hari ini. Andai saja detik bisa di ulang mungkin ia akan menjadi psikopat saja dan mendorong Elma yang terus mengganggu rumah tangganya.
"Aaaaarrghhh.." Syila semakin merintih tanpa jawaban.
Bang Anom melajukan mobil dinasnya dengan cepat hingga tiba di rumah sakit tentara.
:
Bang Anom melihat tangannya, pakaiannya pun masih penuh noda darah yang membuatnya ketakutan. Tak lama dokter keluar dari ruang tindakan.
"Baang.. bagaimana keadaan istriku Bang??" Suara Bang Anom parau dalam kekalutannya.
"Yang tabah ya Anom.. yang sabar, istrimu keguguran. Bakal bayi perempuan, usia kandungan sepuluh Minggu." Jawab dokter.
Mata Bang Anom terpejam. Lukanya, sakitnya semua harus di tanggungnya sendiri. Kakinya gemetar seakan tidak sanggup menopang beban tubuhnya sendiri. Bang Anom terduduk kasar sampai bersandar lemas.
'Apa aku membunuhnya?? Aku membunuh gadis kecilku?? Darah daging ku sendiri??'
"Lailaha illallah.. Astaghfirullah hal adzim..!!!" Bang Anom meremas dadanya. Detakan jantungnya menekan ulu hati, nafasnya seakan terhenti, Bang Anom pun terhempas setengah sadar tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini.
//
"Kau memang benar-benar wanita ular. B****b kau Elma..!!" Bentak Bang Teo, setelah meneliti baik-baik pil yang di minum Elma, amarahnya semakin menjadi karena ternyata pil tersebut adalah vitamin penguat kandungan. Ulah Elma sudah membuat Syila celaka.
Ponsel Bang Teo berbunyi, ia membaca kabar dari seniornya, seorang Danki yang jabatannya akan di gantikan Letnan Anom beberapa hari lagi setelah acara kenaikan pangkat. Kabar yang menyatakan Letnan Anom tengah berduka karena istrinya mengalami keguguran.
Bang Teo menyerakan seisi meja hingga berantakan dan membuat Elma begitu ketakutan hingga menjerit dalam tangisnya.
"Kau menghilangkan satu nyawa Elma..!! Mungkin saat ini kau bisa selamat dariku tapi jangan harap kau akan selamat dari Anom..!!!!" Ancam Bang Teo dengan amarah yang memuncak.
"Ampun Mas, maksudku bukan begitu..!!"
"Pantaskah kau menjadi seorang ibu???? Kenapa tidak kau saja yang mengalami musibah ini?????" Bentakan Bang Teo begitu mengena di hati Elma.
...
Syila belum sepenuhnya sadar dari pengaruh obat bius. Mulutnya membaca semua do'a dan surat pendek yang pernah Bang Anom ajarkan padanya membuat hati Bang Anom semakin sakit saja rasanya.
Tangan Bang Anom mengusap perut Syila yang kini sudah lebih pipih dari sebelumnya karena buah hatinya tidak ada lagi.
Bang Anom cemas dan was-was menunggu Abang iparnya datang sebab berita ini sudah sampai pada telinga Abang iparnya.
"Jangan tinggalkan Mas Anom ya dek..!! Sungguh saya tidak sanggup melawan kerasnya hidup ini sendirian tanpa kamu." Gumamnya sesenggukan, ia meringkuk tepat di samping perut Syila dalam kesesakan batinnya dan meletakan tangannya di atas kepalanya. "Hatiku juga sakit. Aku juga kehilangan, sungguhkan Tuhan tidak percaya padaku untuk menjadi seorang Ayah?? Suami macam apa aku ini."
Tak jauh di sana, Bang Suta sudah berdiri dan melihat semuanya. Marahnya memang ada, tapi jiwanya sebagai seorang pria pun juga terusik. Pria yang meneteskan air matanya adalah pria paling jujur merasakan kejamnya benturan dunia. Bang Suta melanjutkan langkah dan berdiri di samping Bang Anom.
Untuk beberapa saat Bang Anom tidak menyadari kehadiran Abang iparnya. Ia terus menangis meluapkan tangis yang begitu menyesakan dada.
"Jika hal ini menjadi suatu pelajaran yang seakan menghukum mu, maka jangan pernah lagi mengulang kesalahan yang sama. Kali ini saya maafkan tapi tidak untuk lain kali." Tegur Bang Suta.
Bang Anom membuka matanya dan menoleh. Dirinya berdiri dan berhadapan dengan Abang iparnya, ingin sekali mengatakan seluruh isi hatinya namun segalanya tidak sampai di ujung pita suara. Wajahnya sudah teramat sangat kehilangan dan penuh duka.
Bang Suta memeluk Bang Anom bagai adik kandungnya sendiri dan menenangkan Bang Anom.
"Aku kehilangan anakku Bang. Hukuman Tuhan terlalu berat, tidak cukupkah aku menjadi anak haram sampai anak ku pun diambilNya juga."
"Hhstt.. istighfar Anom. Tidak boleh bicara begitu. Perbanyak do'a. Mudah-mudahan Allah segera memberimu penggantinya." Hibur Bang Suta.
"Aku melihat anak ku, sangat kecil sekali. Diam putri kecilku yang cantik Bang, aku tidak tega menguburnya."
Bang Suta menepuk bahu Bang Anom. "Nanti Abang bantu, setelah itu segera selesaikan urusan pernikahan mu sama Syila agar hatimu juga tenang..!!"
...
Syila tersadar dari pengaruh obat bius, ia meraba perutnya dan tau apa yang terjadi dengan calon bayinya.
Ia pun mendengar Bang Anom tengah memaki Bang Teo. Mata suaminya itu semu merah menyala namun juga basah dan nanar, hampir saja Bang Anom menghantam Bang Teo jika tidak ada Abangnya menengahi mereka.
"Saya tau saya salah tapi kau yang membuat Elma datang kesini tanpa konfirmasi ku. Sekarang anakku sudah tidak ada lagi, rasanya aku ingin membunuhmu Teo..!!!!" Bentak Bang Anom. "Dan kamu Elma, busuk sekali kelakuanmu..!! Tunggu kau ya.. saya akan menjebloskanmu ke dalam penjara..!!!!"
"Tahan emosi mu Anom..!!! Semua sudah terjadi..!!" Begitu sulitnya Bang Suta mengendalikan emosi juniornya. Ia takut Bang Anom akan kelepasan sampai menghajar Teo dan Elma sekaligus.
"Mas An..!!" Panggil Syila dan saat itu juga emosi Bang Anom mereda.
Syila melihat ada pakaian Bang Anom masih tersampir pada sandaran kursi, lusuh.. penuh noda darah yang pekat. Air matanya pun berlelehan.
"Kenapa belum singkirkan pakaiannya?" Tanya Syila.
Bang Anom segera menyambarnya lalu membuangnya asal di bawah ranjang.
"Masih sakit?? Dimana yang sakit??" Bang Anom ingin menyentuh Syila tapi ia cukup takut akan menyakiti Syila.
"Semuanya sakit. Hati Syila juga sakit. Bisakah Abang kembalikan anak Syila??"
Bang Anom menghambur memeluk Syila. Tangisnya kembali pecah meskipun sudah sekuatnya ia menahannya.
"Insya Allah.. akan mas usahakan." Ucap Bang Anom begitu berat sebab Opa Daluman memintanya agar Syila mengosongkan kandungan selama kurang lebih enam bulan. Benturan yang tidak ringan membuat sisi rahimnya bengkak dan membutuhkan cukup waktu agar benar-benar sehat.
.
.
.
.
selalu kutunggu karya²mu kak